Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Bad Girl Part 2


__ADS_3

"Siapa dia?" Sama kah dengan Hanum yang Mahes nya bicarakan? Malik masih belum paham dengan semua ini.


"Beberapa korban mengalami hal yang sama, mendengar suara tangisan yang menggiring mereka ke sisi belakang gedung yang cukup sepi jika sudah malam."


"Gadis ini diceritakan Putra ku gadis yang manis." Malik masih menolak informasi yang Biru sampaikan.


"Sedang kita selidiki lebih dalam Bos." Malik menghela nafasnya panjang, bagiamana Putra nya akan bisa menerima kenyataan menyakitkan ini.


"Umpan!" Biru mengangguk.


"Gadis ini bekerja sama dengan para preman untuk memancing mangsanya." Malik mulai paham. Tapi kenapa Hanum? Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa gadis ini mempermainkan Putranya.


"Siapa gadis ini sebenernya?" Aldo menyerahkan biodata lengkap Hanum.


“Benarkah? Apakah Ibunya orang yang kenal dengan kita Al?” Aldo


mengangguk, tapi Aldo tidak berhasil menemukan dimanapun keberadaan Ibu dari Hanum untuk memastikan kebenarannya.


Nama Ibunya Malik sangat kenal. Bagiamana Putri nya bisa hidup seperti ini. Malik memutuskan mencari tahu lebih jauh. Apa hubugan Hanum dengan masa lalu nya.


"Apa lagi Biru?." Malik merasa Biru ingin bicara lebih lanjut pada Malik, wajahnya masih belum berdamai dengan keadaan. Urat wajahnya masih tegang.


"Apa tidak apa membiarkan Mahesa dekat dengannya Bos?"


"Cari tahu dulu lebih jauh, setelah itu aku bisa putuskan bisa menerima Hanum atau menyingkirkannya." Mudah sekali bagi Malik. Ancaman sekecil apapun akan Malik hapus demi kebahagiaan anak-anaknya.


"Baik Bos." Biru menjauh dari Malik dan segera menyelesaikan tugas yang diberikan Malik padanya.


“Al, benarkan Putri Nikita yang aku kenal?”


“Dari namanya sepertinya iya Bos, tapi aku belum bisa memastikanya karena tidak menemukan keberadannya.”


“Pantas saja wajahnya tidak asing." Malik memijat pelipisnya. "Sekarang dimana Istriku Al?”


“Masih di ruangan Hanum menemani Mahes.”


“Ya sudah, biarkan istriku di sana. Aku belum siap melihat wajahnya Al. aku lemas Al.” Malik masih tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, jawabanya masih belum utuh. Dia tidak mau malah membuat Ayu berpikir keras dan membuatnya sakit.


Malik kembali memasuki ruangan Ranu, Adam sedang rebahan di sisi Ranu. Memeluk Putranya yang sudah besar dengan hangat.


"Kalau dia di peluk kamu Dam, nanti yang ada akan semakin sakit Dam." Ledek Malik.


"Diam kau, aku mana punya banyak kesempatan seperti ini.” Tidak menghiraukan, Ranu yang tidak bisa bergerak pasrah saja. Papih nya sepertinya sedang melepaskan rasa khawatirnya. Ranu paham sekali sentuhannya.


"Dasar kau ini....." Malik duduk di depan brangkar. "Abang, Daddy penasaran, darimana kalian kenal Hanum?"

__ADS_1


"Satu bulan yang lalu, Abang dan Kak Mahes bertemu dengannya lagi setelah kelulusan sekolah dasar."


"Kalian teman dekat?"


"Tidak, kami sekolah di tempat yang berbeda, kami hanya bertemu beberapa kali saat lewat depan sekolahnya. Tapi Kak Mahes suka sekali dengan Hanum." Adam tersenyum.


“Jadi kalian kenal sejak SD?” Ranu mengangguk.


“Tidak mengenal baik, aku dan Kak Mahes mengenal dia saat SD, karena suka bertemu saat pulang sekolah. Tapi sekolah kita tidak sama.”


“Ok…lalu.”


“Lalu satu bulan yang lalu kami bertemu lagi dengannya, Kak Mehes nya sangat girang. Karena selama ini mencari keberadannya tapi tidak ketemu.”


“Benarkah, sesuka itu Kak Mahes pada Hanum?” Tanya Malik lagi begitu penasaran, kenapa ada dirinya dalam diri Mahes.


“Iya, dia wanita yang baik. Kak Mahes suka dia sangat sederhana.” Ya Tuhan mirip lagi dengan dirinya. Malik sampai terperangah.


"She is Bed girl." Ranu mengernyitkan dahinya. "Dia komplotan geng yang menyerang kalian."


"Mana mungkin Dad, Hanum baik. Abang dan Kak Mehes kenal kok." Menolak pernyataan dari Daddy nya.


"Iya, aku pernah melihatnya juga beberapa kali Al." Tidak terima dengan pernyataan Malik.


Mana mungkin anak-anaknya kenal dengan gadis tidak baik, apalagi sampai menyukainya. Malik hanya tersenyum, dirinya juga sampai kaget kecolongan.


"Kalau Hanum tidak baik, dia akan manfaat kan Kak Mahes. Dia bahkan tidak mengenali Kakak saat mereka bertemu kembali. Hanum Baik Dad." Ranu berusaha duduk.


"Daddy juga bingung. Bagaimana kalian bisa kenal Gadis nakal seperti Hanum."


"No Dad, Hanum is good. Tidak pernah memanfaatkan kami. Dia tulus Dad." Ranu masih yakin Hanum tidak seperti yang Daddy nya pikirkan.


“Coba lihat, ini laporan dari Dokter yang menanganinya tadi.” Ranu membaca dengan seksama.


“Mana mungkin Dad, kak Hanum baik. Ranu yakin Dad, dia tidak berpura-pura Dad. Dia sungguh baik.” Ranu masih tidak percaya.


Ranu terkejut saat membaca semua luka yang nampak di wajah, lengan tangan, dan kakinya hanya make up. Luka sungguhannya hanya ada di punggung belakang karena pukulan keras.


"Sementara jangan katakan apapun pada orang lain. Ini rahasia kita bertiga. Daddy sedang cari tahu lebih jauh tentang Hanum. Kalau memang dia tidak baik, sorry. Daddy akan singkirkan dari hidup kalian."


***


Ayu segera lari ke kamar mandi saat perutnya terasa sangat mual, sepertinya lagi-lagi asam lambungnya naik.


Uwekkkk....uwekkk...

__ADS_1


Ayu mengunci pintu kamar mandi dari dalam.


"Mom buka, please, Kaka Bantu. Buka Mom." Hanya ada dirinya dan Mahes. Sarah sedang keluar mencari makan untuk mereka.


"Mom....buka Mom. Mommy sakit kan? Mommy...." Mahes merogoh saku celanaya, ponsel, tidak menemukannya dimanapun.


"Mommy ok Kak, cuma mual saja." Teriaknya dari dalam.


"No, Mommy tidak ok. Kak Mahes minta maaf buat Mommy sakit, ku mohon buka Mom, tolong buka."


Terdengar suara Mommy nya yang kembali muntah.


Mahes yang kebingunga akhirnya mengubungi resepsionis agar segera meminta Daddy nya datang. Resepsionis segera menyambungkannya dengan ruangan Ranu dan meminta Malik segera datang ke ruangan Hanum.


Malik lari saat dengar Ayu tiba-tiba muntah-muntah, dia pasti berpikir keras. Dia tidak bisa terguncang sedikit saja, rapuh, Ayu mengalami banyak luka yang membuat dirinya rapuh.


Tidak lama Malik masuk ke ruangan Hanum.


"Diman Mommy Nak?" Mahes menuntunnya ke depan pintu toilet. "Sudah lama Mommy di dalam Nak?"


"Baru 5 menit." Malik bangga sekali anak-anak nya selalu sigap.


"Sayang....buka pintunya, anak mu khawatir Mommy nya muntah-muntah. Buka Mom please." Ayu kesal sekali mendengar suara suaminya, dia menyembunyikan kesakitan Putranya.


Dirinya berhak tahu.


"Mom.....please Mom." Mahes juga membujuknya.


"Mommy ok kok." Membuka pintu kamar mandi dan melangkah, Ayu memeluk Mahes mengindari Malik.


Malik yang merasa di cueki tidak tinggal diam. Duduk di sisi Ayu memeluknya dengan mesra. "Ayuna." Ayu paling tidak bisa kalau Malik sudah bicara dengan nada seperti ini. "Marah saja tidak apa, aku memang tidak becus menjaga kalian semua. Tidak apa marah, tapi ku mohon katakan kalau Ayuna merasa tidak baik-baik saja, apalagi merasa sakit." Ayu mengangguk. Tidak jadi marah, takut.


Suaminya sudah mengalami banyak kesulitan, tidak mau menambah beban pada laki-laki yang selalu tulus menjaganya.


"Aku hanya mual Kak. Aku baik-baik saja." Memang mual nya sudah hilang.


"Jangan berbohong, aku paling tidak suka. Ayuna tahu itu." Tegasnya ingin memastikan kesayangannya baik-baik saja.


"Ok, tapi aku sungguh baik-baik saja Kak. Tadi hanya tiba-tiba mual Kak." Sendu sekali wajahnya, ingin marah tapi tidak punya keberanian. Mahes juga lega melihat Mommy nya baik.


"Daddy, Abang Ranu bagaimana keadaanya? Kak Mahes akan jaga Mommy tenang ya Dad." Tahu sekali kalau Daddy nya pasti sangat lelah.


"Abang ok, hanya butuh istirahat." Mendengar nya membuat Ayu kesal.


Apanya yang baik-baik saja, jelas-jelas Ranu masuk ruang operasi tadi. Bagaimana Bisa Malik bersikap biasa saja seolah semua memang normal. Ayu kesal sekali.

__ADS_1


"Syukurlah, Kaka khawatir. Maaf tidak jaga Adik dengan baik Dad, Mom." Ayu sudah tidak kuat lagi ingin menangis . Berkaca-kaca.


"Sekarang Mommy ikut Daddy, Mommy harus istirahat. Daddy akan suruh Papih jaga Kaka di sini yah. Kaka sementara sama om Aldo sebentar." Mahes mengangguk. Mommy nya memang harus segera istirahat, wajahnya pucat.


__ADS_2