
Cuaca mendung, suara petir bersautan seolah sedang memberikan sinyal tidak baik tentang apa yang akan terjadi hari ini. Ayu sedang merapalkan shalawat dan do’a sambil memegangi perutnya yang hebatnya sudah tidak lagi merasakan sakit.
Dia memberikan kekuatan dan kepercayaan diri pada Mommy nya agar bisa bertahan dan terus berharap untuk bisa melalui semua ini. Menunggu janji suaminya untuk datang menjemputnya kembali pada keluarganya, pada anak-anak yang pasti saat ini sedang menunggunya.
Rasa syukurnya begitu besar, tubuh lemahnya bisa bertahan dengan gagah berani demi tetap bertahan dan kembali pada orang-orang yang pasti saat ini sedang berusaha keras menemukan keberadaannya.
Tok...tok...tok...
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya laki-laki yang sejak kemarin memperhatikan Ayuna dan membuatnya sedikit tidak takut padanya. “Maaf....aku hanya tahu sedikit jika kau tidak suka suara petir.” Ayu mengangkat wajahnya. Menatap dengan takut-takut.
“Aku baik-baik saja.” Padahal dada nya berdegub cukup kuat.
Entah apa yang dirinya rasakan, debaran jantungnya selalu sekencang ini jika bertatapan langsung dengan orang-orang yang saat ini menahan dirinya. Jelas sekali mereka bukan orang baik. Masala lalu menahan nya tidak bisa lupa dengan kisah nya yang sudah lalu.
“Mau menghirup udara segar sebentar? Di luar sangat sejuk, udara sebelum hujan sangat indah.” Tawarnya yang ingin mebantu Ayu menghirup udara segar. Tidak tega dengan kondisi Ayu yang hamil besar terkurung di ruangan yang kotor dan udaranya tidak bersih.
“Aku di sini saja.” Tolaknya karena merasa takut, padahal ingin sekali keluar dari ruangan pengap yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.
“Tidak akan terjadi apapun aku janji. Hanya sebentar.” Bujuknya lagi berharap Ayu mau ikut dengannya keluar sebentar saja.
Ayu berdiri dari duduknya, langkah kakinya sedikit demi sedikit mendekati laki-laki yang cukup baik mengurusnya selama di sekap. Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan yang menjadi tempat Ayu dua hari ini.
“Mau kau bawa kemana?” Tanya penjaga lain yang melihat mereka kelar dari kamar. Matanya menatap penuh curiga.
“Hanya menghirup udara segar. Bayi nya butuh udara sejuk.” Ucapnya sambil terus melangkah, tangan Ayu yang berjalan di belakang laki-laki itu di cekal kuat oleh penjaga yang menanyainya tadi. “Lepaskan! Ikut saja dengan kami jika kau mau.” Melepaskan cekalan tangan yang cukup kuat.
Ayu takut sekali melihat mereka bertikai, dirinya sungguh paling tidak bisa berhadapan dengan situasi mengerikan seperti saat ini. Ayu mencoba menarik nafasnya kuat-kuat.
Dirinya harus bertahan, demi semua orang yang mencintainya. Matanya berbinar saat melihat pemandangan hutan yang asri, hijau dan sangat segar. Ayu tersenyum kecil pada laki-laki yang dalam situasi seperti ini masih Tuhan kirimkan untuk menenangkan dirinya.
“Terimakasih banyak.” Ucap Ayu dengan tulus.
“Nikmati waktumu. Jangan macam-macam karena aku mengawasimu.” Ayu duduk menimati pemandangan yang sangat indah. Senyumnya terpancar indah, beruntung masih ada yang memiliki hati nurani meski keadaan seharunya tidak sebaik ini.
Tidak lama dirinya kembali masuk karena semua penjaga sudah meneriakinya untuk masuk. Mereka tidak mau di salahkan jika Baskoro kembali dan melihat tawanannya dengan bebas menikmati udara hutan yang sangat sejuk.
Ayu sudah duduk di kasur kecil yang cukup nyaman untuk dirinya istirahat.
__ADS_1
“Ku harap suara petir tidak lagi membuat mu takut. Ingat hutan yang hijau jika mendengar suara petir seperti sekarang.” Ucap laki-laki yang benar-benar Ayu merasa dia adalah orang baik. Dia hanya salah tempat dan berakhir di pekerjaan yang membuatnya menjadi laki-laki brengsek.
“Aku tidak akan lupa dengan jasa mu Pak. Akan aku sampaikan pada suami ku tentang kebaikan mu.” Ucapan Ayu hanya di balas senyuman.
Sendirian lagi, Ayu kembali duduk bersandar meluruskan kaki nya yang ternyata mengalami bengkak yang cukup besar. Pantas saja kaki nya terasa kebas dan terasa begitu besar. Mencoba berpikir banyak hal baik agar tidak terbawa emosi dan menguras tenaganya menjadi kekesalan. Dirinya ingin tetap tegar di situasi yang saat ini dirinya hadapi.
Terlelap karena tubuhnya cukup lelah, tapi tidurnya tidak begitu nyenyak. Suara berisik terdengar begitu mengganggu.
Gubrak......gubrak......gubbrakkkkk....
Ayu yang tengah memejamkan mata begitu terkejut mendengar keributan di luar ruangannya yang semakin keras. Suara teriakan yang begitu jelas membuat dirinya beringsut menarik selimut menutupi sekujut tubuhnya yang bergetar ketakutan. Air matanya berderai begitu deras, ketakutan akan ingatan masa lalunya begitu membekas.
Brakkkkk....
Pintu ruangannya jelas sekali terbuka. Suara hentakan dari sepasang sepatu yang mendekati dirinya membuat sekujur tubuh Ayu merinding. Takut sekali laki-laki yang datang berniat tidak baik dan ingin mecelakainya.
Srakkkkkkk.....
Selimut yang menutupi tubuh Ayu di tarik cukup keras. Wajah Baskoro yang tertawa penuh amarah sedang berdiri di depannya. Ayu mecoba menghindar dan bergerak menjauh.
Kakinya di tarik sampai tubuhnya terjatuh ke lantai dari kasur yang untungnya tidak tinggi. Ayu memegangi perut besarnya, Baby menendang dengan keras.
Dia tahu Mommy nya sedang terancam.
Plakkkkk......
Tamparan keras mendarat di pipi Ayuna setelah di seret di tengah-tengah ruangan yang di penuhi anak buah Baskoro. Wajahnya penuh amarah, Ayu mengatupkan tangannya meminta pengampunan.
Hanya isakan tangis yang keluar dari mulut Ayuna yang sedikit bengkak dan sudut bibirnya berdarah.
Ini bukan tamparan pertama yang dirinya terima, Baskoro pernah melakukanya karena mengingat Putri nya yang berada di tangan Malik. Kekesalannya di lampiaskan pada Ayu yang tidak bersalah. Baskoro merasa Malik sudah merampas harta berharga yang seharusnya saat ini ada di tangannya.
Nikita meninggalkan Hanum cukup banyak warisan, perusahaan kecantikan, uang asuransi, rumah, mobil mewah dan beberapa tanah yang dimilikinya. Baskoro terkecoh karena Nikita mengujinya untuk mencari tahu kepantasannya menjadi wali Hanum setelah dirinya tidak ada.
Baskoro ternyata masih menjadi laki-laki gila harta seperti dulu. Nikita akhirnya menetapkan Malik sebagai wali Hanum yang sah. Mengurus segala peninggalannya sebelum di serahkan pada Hanum setelah dia dewasa. Baskoro kesal sekali, dirinya ingin membalas Malik lewat wanita yang sangat dirinya sayangi.
“Bos....jangan menyakitinya. Kita bisa kehilangan uang tebusannya jika Malik tahu istrinya terluka.” Ucap laki-laki yang menjaga Ayu agar tetap aman.
Plakkkkk....
__ADS_1
Jawabannya adalah tamparan. Ayu memejamkan matanya, di hadapannya ada laki-laki bengis yang suka sekali melakukan kekerasan pada siapa pun yang mebantahnya.
“Jangan mengaturku! Jangan sampai isi pistol ku berkurang satu untuk menghabisimu.” Baskoro mengusak rambutnya merasa kesal.
Kali ini pun Ayu tidak tahu kesalahan apa yang sudah dirinya perbuat sampai tega melakukan kekerasan pada dirinya yang selama di sekap tidak melakukan perlawanan.
Anak buah Baskoro yang menjaga pos sebelum masuk hutan sampai dengan motor tril nya yang melaju cukup kencang.
“Bos.....kita melihat beberapa mobil memasuki hutan Bos.” Baskoro menyipitkan matanya. “Sepertinya keberadaan kita di ketahui oleh Malik.” Suaranya tersenggal-senggal. Ayu merasa senang mendengarnya. Semoga saja suaminya benar-benar datang untuk menyelamatkannya.
“Bagaimana bisa kita ketahuan! Kalian melakukan hal bodoh yang membuat mereka tahu keberadaan kita?!” Semuanya menunduk. “Bodoh kalian. Aman kan dia.” Laki-laki yang menjaga Ayu bergerak paling cepat, meraih tangan Ayu membawanya ke bangunan lain yang masih terhubung dengan bangunan utama.
“Mau kemana Pak?” Tanya Ayu takut-takut. Ayu melihat pipi laki-laki yang mencoba menyelamatkannya memerah. Dia disakiti karena mencoba menyelamatkan nya. Ayu merasa bersalah atas apa yang terjadi. “Maaf kan aku.” Dia hanya menatap sebentar mata ayu dan kembali fokus dengan jalan menuruni tangga yang cukup panjang. Ruangannya cukup gelap.
“Dengar! Baskoro berniat membakar tempat ini jika misinya gagal. Kau akan terjebak di dalam sini.” Ayu spontan limbung, takut sekali. “Hey....” Menahan tubuh Ayu agar tidak jatuh. “Dengarkan. Gunakan ini, buka pintu yang ada di sana sebelum api berkobar dan cepat keluar. Aku yakin misinya gagal. Keluarlah.” Ayu terisak ketakutan.
“Kau tidak bisa membantuku?” Dia menggelang. Posisinya saat ini saja sudah mencurigakan. Dia bisa di bunuh Baskoro.
“Cepat berusaha keluar dari sini. Aku harus segera kembali.” Ayu mengangguk, mencoba percaya pada dirinya jika pintu bisa dirinya buka.
“Baskoro....!!!!” Suara keras di luar bangunan. “Kau tidak akan bisa keluar dari manapun, kau terkepung.” Masih mencoba membujuk dengan baik.
“Tidak bisakah kita masuk saja?” Malik sudah tidak sabar ingin menyelamatkan Ayuna nya dari orang jahat yang menculiknya.
Baskoro dan anak buahnya sudah kabur meninggalkan bangunan yang sudah mereka pasang peledak. Anak buah Baskoro tidak ada satupun yang ada di sana. Mereka keluar dari bangunan lewat jalan lain yang tidak akan Malik temui. Bangunanya rumit dan sulit di temukan karena memiliki beberapa pintu keluar yang terhubung dengan ruang bawah tanah.
“Ku mohon, tenang Al. Kita jangan gegabah. Dia akan keluar jika memang menginginkan uangnya.” Malik mondar-mandi karena tidak mendapati sinyal dari dalam sana.
“Baskoro! Jika kau mempersulit kami, kami tidak akan segan-segan berbuat nekat.” Ayu mendengar suara dari speaker yang cukup keras. Tapi dirinya terkunci.
Tangannya yang lemah dan gemetar masih berusaha dengan keras membuka pintu lain yang di tunjukkan oleh laki-laki yang membantunya tadi. Ayu berusaha keras sambil sesenggukan karena dirinya sangat ketakutan.
“Aku tidak bisa lagi menunggu. Kita harus masuk. Pelase.” Malik melawan semua orang, melangkah dengan gegabah karena takut jika menunggu lama Ayu akan celaka.
Duuaaarrrrrr.......
Langkah kakinya terhenti saat dentuman yang begitu hebat mengejutkan semua orang termasuk dirinya yang sontak mematung. Bangunan yang dirinya tahu ada Ayunya di dalam nya terbakar karena ledakan.
__ADS_1
Malik di tahan oleh Riyan dan Adam yang tidak mau Malik menerjang kobaran api yang cukup besar. Malik meraung mencoba melawan karena ingin menyelamatkan Ayu dari kebakaran yang disaksikan matanya.
Malik hancur, dirinya merasakan seolah dunianya runtuh tidak berbentuk. Semesta nya berada di tampat yang begitu menakutkan, Malik kesakitan, raganya tidak berdaya melawan semua orang yang juga bingung harus apa.