
Adam, Malik, Ranu dan Mahesa sedang menikmati makanan yang Malik beli malam tadi. Jarang-jarang Daddy nya membeli makanan cepat saji yang sangat di larang nya karena tidak mengandung banyak manfaat bagi penikmatnya. Hanya menghilangkan rasa lapar saja menurut Malik.
“Setelah makan kalian harus banyak minum ya Nak, jangan lupa makan sup buatan Mommy setelah ini. Ingat Nak, nanti kalian bisa batuk.” Ranu dan Mahes hanya mengangguk, masih sibuk dengan makanan yang sangat mereka gemari.
“Sekali-kali tidak apa Al, anak-anaku tidak akan sakit hanya makan makanan cepat saji sesekali sayang.” Malik tersenyum pada Sarah yang sedang ada di dapur membuat bubur ayam bersama Ayuna.
Adam tidak sehat, dia hanya sedang berpura-pura baik-baik saja agar dirinya dan yang lain tidak khawatir dengan keadaannya.
Anak-anak juga tidak tahu jika keadaan Papih mereka tidak baik, anak-anak tidak di ijinkan memikirkan urusan orang tua yang bisa menganggu nyaman dan tenang nya mereka. Anak-anak harus tetap bahagia bagaimanapun keadaan orang tua mereka dengan segala masalah yang sedang mereka hadapi.
Anak-anak adalah bahagia yang mereka usahakan untuk selalu bisa merasa saling nyaman saat bersama. Adam tidak akan bisa memperlihatkan lemah nya di hadapan belahan jiwanya.
Setelah makan mereka berempat duduk di ruang tamu menikmati jus yang sudah Ayuna siapkan. Hari ini mereka berkumpul di rumah Papih Mamih mereka.
Malik meminta mereka bertiga datang karena dirinya ingin suasana baru saat sarapan pagi sekaligus menemani Adam yang sedang butuh banyak cinta dan perhatian.
Sarah yang ingin makanan pedas memutuskan memakan mie instan yang ada di dalam deretan daftar menu makanan cepat saji yang terngiang kelezatannya.
Sarah sedang mengaduk mie instan, sudah sangat lama dirinya tidak makan mie instan kesukaannya.
“Kamu mau sayang?” Ayu menggeleng, dirinya ingat beberapa hari lalu sudah makan mie bersama Mahesa. “Tidak apa sayang, aku yang ijinkan pada suami mu.” Ayu masih menggeleng. Segera pergi ke ruang tamu sebelum mulutnya membongkar rahasia makan mie diam-diam nya.
“Aku makan bubur buatan Dokter saja, aku juga masak sup untuk anak-anak.” Padahal liur di dalam mulutnya mengalir deras membayangkan rasa mie instan yang meleleh di dalam mulutnya.
Malik melihat istrinya yang wajahnya sangat lucu menahan inginnya makan mie instan. Malik mendekat, duduk di sisi Ayuna memeluknya dengan mesra.
“Mau makan mie sayang?” Ayu menggeleng. Mahes memberikan kode agar Mommy nya tidak membongkar kelakuan mereka yang makan mie diam-diam di tengah malam. “Tidak apa sekali kali sayang.” Malik menciumi pipi Ayu dengan gemas. Istrinya sangat penurut, Malik sampai gemas melihat mata istrinya yang berbinar malu.
"Aku makan bubur saja." Memakan buburnya dengan lahap.
Ayu meraih ponselnya di atas meja. Ada pesan masuk dari sahabatnya.
Iin : Yu, itu foto Mahes bukan yah? Anak mu ganteng sekali Yu.
Ayu : Hahahah, foto nya kenapa hanya sedikit Iin? Tapi jelas sekali itu Putra ku In.
Iin : Iya, itu aku lihat di ponsel anak ku diam-diam. Ada di group sekolahnya.
Ayu : populer ya anak ku?
__ADS_1
Iin : Menurut Putri ku, dia termasuk pria idaman katanya. Banyak yang mengejar anak-anak mu termasuk Putriku.
Ayu : Ya Tuhan, aku sampai tidak sadar punya anak-anak yang cukup populer In.
Iin : Semangat Yu, kita sebagai orang tua harus bisa merelakan mereka kelak Yu.
Membacanya Ayu menjadi malas sekali menghabiskan bubur nya. Ada sedih di binar mata indahnya. Malik dengan cepat menyadarinya.
Tangannya membelai lembut perut bucitnya yang cukup membuatnya kesulitan bergerak saat ini. Ayu tersenyum menatap suaminya. Sedih hatinya jika anak-anak nya sudah punya pacar dan lupa akan dirinya.
“Apa sudah mulai berat sayang?” Ayu mengangguk.
"Dia mungil Dad, Mommy Kuat." Ucapnya dengan mata masih terlihat kecewa.
"Dia kecil tapi sudah membuat mu sulit bergerak sayang." Malik menggoda Ayu ingin melihat reaksinya.
“Tapi aku menikmatinya. Aku bahagia sekali sampai tidak bisa berkata-kata.” Malik memeluk istrinya yang tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang kesulitannya.
Dia selalu menjadi orang yang bisa meredam segala khawatir yang menghantui dirinya. Malik bahagia sekali di hadiahi wanita cantik baik hati yang penuh cinta kasih. Memenuhi dirinya dengan bahagia dan menjadikannya laki-laki yang punya banyak arti.
“Anak-anak kalau sudah punya pacar apa akan punya waktu untuk kita Kak?” Malik tersenyum, pertanyaan yang membuat perhatian anak-anaknya tertuju padanya.
“Mom....kenapa bicara tentang anak nya seperti itu? Kakak tidak suka Mom. Kita tidak akan berubah dengan Mommy dan dengan keluarga kita.” Mata Mahes menakutkan sekali.
“Cinta Abang paling besar untuk Mommy. Jangan takut Mom.” Ranu tersenyum manis pada Ayuna dan kembali fokus pada ponsel nya. Tidak mau Mommy nya bertanya lebih banyak.
“Kalian belum saja ketemu dengan wanita yang kalian sukai. Mommy takut sekali perhatian kalian teralihkan. Sad pasti Mommy Nak.” Mahes bangkit dari duduknya.
Mendekat dan meraih tangan Mommy nya. Menciumya dengan lembut memberikan perhatian pada wanita yang tengah khawatir akan kasih sayang anak-anaknya kelak. Mahesa tersenyum, matanya indah sekali menatap Ayuna yang menunduk sedih.
“Mommy kalian sepertinya butuh udara sejuk, bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah Papah Rey yang di pinggir hutan. Ingat kan kalian?”
“Setuju Dad, kita bisa menginap di sana dan makan mie intsan di tengah hutan.” Ranu antusias sekali dengan ide Daddy nya.
“Boleh aku jalan dengan mobil Dad? Cukup jauh loh Dad.” Ayu tidak kuat duduk terlalu lama sekarang.
“No sayang, kita naik hely.” Malik mengecup kening Ayuna yang kegirangan.
“Ayo sayang. Siap-siap kalian semua.” Mereka berlari ke apartemen Malik untuk mengemasi perlengkapan yang biasa mereka bawa saat jalan-jalan.
“Ayo sayang, kita ganti baju saja. Tidak menginap karena anak-anak besok sekolah. Dam, ayo siap-siap. Kau butuh udara segar Dam."
"Aku dan Adam akan siap-siap Al.” Malik menggandeng tangan Ayuna menyusul anak-anak yang sudah lari lebih dulu setelah memastikan Sarah dan Adam akan ikut dengan nya.
Sarah tersenyum lembut melihat suaminya yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari dirinya. Sarah mengulurkan tangannya, Adam menyambutnya dengan hangat. Pelukkan yang sangat dirinya rindukan.
__ADS_1
“Maaf sayang, maaf aku membuat mu kecewa. Maaf tidak mengikuti maumu sayang.” Sarah menggeleng.
“Aku yang harus minta maaf, aku yang bersalah karena memaksamu bicara hal yang jelas-jelas ingin kau lupakan. Maaf kan aku Dam.” Adam mengangguk. “Aku berjanji tidak akan memaksa apapun yang tidak ingin kamu bagi. Aku janji.” Adam memeluk Sarah lebih dalam.
Dirinya belum siap jika harus membicarakan kesakitan yang begitu dalam menusuk sanubarinya. Adam belum bisa membiarkan luka yang sudah coba sekuat tenaga di lupakannya di buka kembali. Adam tidak mau, Adam tidak mau lukanya kembali menganga.
Menolak degan keras otak nya yang sering teringat sendiri akan kepedihan yang pernah dirinya lalui. Adam tidak akan sanggup menanggungnya. Mengingatnya saja Adam sudah keringat dingin.
“Sekarang ayo kita siap-siap, lupakan kepedihan mu dan kita harus bahagia bersama anak-anak kita Pih. Jangan sakit, aku tidak sanggup melihat mu seperti ini.” Sarah membelai lembut wajah suaminya.
Adam mengangguk. Belaian tangan istrinya mampu membuat dirinya menjadi lebih kuat. Sarah percaya pada dirinya meski Adam menutup diri untuk tidak menceritakan masalahnya.
Adam mendekap Sarah merasakan begitu besar cinta yang Sarah berikan pada dirinya. Adam bersyukur punya wanita yang begitu hebat menjaga cintanya.
***
Mereka sudah sampai di rumah Anna dengan suasana hijau, rumahnya dikelilingi pepohonan besar seolah berada di tengah hutan. Indah sekali, suasana asri dan sejuk penuh kehijauan. Suara kicau burung bersautan menambah ke asrian suasana rumah menjadi begitu hangat.
Malik dan yang lain menyalakan api untuk memanggang daging yang sebelumnya sudah Rey dan Anna siapkan. Mereka menyiapkan berbagai makanan enak yang selalu jadi sajian kesukaan anak-anak dan semua anggota keluarganya.
Anna menyiapkan makanan di dekat perapian, dirinya kembali ke dalam karena para kesayangannya melarang dirinya yang ingin ikut membantu memanggang daging. Anna sudah biasa dengan tingkah mereka yang sangat protektif pada dirinya, sudah tidak heran.
Tidak lama mereka berkumpul bersama, menikmati sajian makanan yang begitu menggugah selera.
“Fan, boleh tidak minta mereka semua berkumpul sebentar. Aku ingin foto kalian semua. Pelase.” Bisik Sandra yang tengah duduk menikmati daging panggang.
“Sekarang? Kan kita sedang makan sayang.” Wajah nya langsung berkerut-kerut merasa kesal. “Baiklah.” Jofan berdiri. “ Perhatian, semua tolong berkumpul di tengah lapangan. Cintaku ingin mengambil foto kita bersama.” Sandra menggeleng.
“Hanya para lelaki saja Fan.” Giliran jidat Jofan yang berkerut. Aneh sekali permintaanya. “Tolong jangan tanya kenapa, aku ingin saja.”
“Sudah Om, ayo kita lakukan aja, lagian tidak ada ruginya.” Sandra senang sekali Ranu memberikan pembelaan.
Semua sudah berkumpul, senyum merekah di wajah mereka bertujuh yang tengah menikmati kebersamaan.
“Satu...dua.....” Bunyi ponsel Sandra yang sedang memotret tujuh laki-laki kesayangannya.
Mereka kembali ke tenda menikmati makanan yang sudah menanti untuk di nikmati para pembuatnya.
“Sudah puas sayang?” Tanya Jofan yang sedang memperhatikan Sandra yang sibuk menggeser-geser slide foto di ponselnya.
“I love you sayang.” Jofan mencium kesayangannya yang selalu mengikuti semua inginnya yang unik.
Jantung Jofan berdegub riang penuh bahagia. Sekian lama dirinya baru mendengar lagi ungkapan cinta dari wanita tercintanya. Tangan Jofan memeluk erat tubuh Sandra yang bersandar di pundaknya.
__ADS_1