Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Dua Hari Ini Untukku


__ADS_3


Malik menyewa villa milik sahabatnya yang cukup luas. Membawa semua keluarganya liburan menikmati momen bahagia sekaligus mengikuti mau Ayuna yang ingin bersama Mahesa sebelum dia pergi ke Inggris dua hari lagi.


Meski mencoba menerima, tidak semudah itu melepaskan Putra pertamanya. Dia yang banyak mengisi banyak momen bahagia Ayuna selama ini, mengusir sepi saat Malik tidak punya banyak waktu di tuntut pekerjaan nya yang menumpuk.


Mahesa kecil yang selalu menyembuhkan luka di hati Ayuna, mereka begitu saling menyayangi. Meski bukan darah dagingnya sendiri, Ayuna sudah mengurusnya sejak bayi. Sarah sibuk karena tuntutannya menjadi dokter, waktunya banyak di habiskan berdua dengan Mommy nya.


Sarah juga sangat di cintai Mahesa, dia wanita yang selalu punya banyak cinta kasih di sela-sela kesibukanya. Dia tidak pernah lupa memberikan perhatian pada Mahesa agar dia selalu ingat ada wanita hebat yang selalu menyayanginya meski sibuk bukan main.


Mahesa mengerti, dia bahagia Mamih nya selalu percaya diri dengan profesinya. Dia bangga, tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian karena Ayu selalu mengisi kekosongan itu. Dia lengkap, tidak ada celah untuk Mahesa merasa tidak beruntung.


Ada wanita hebat lain yang cintanya begitu tulus pada Mahesa. Wanita yang tanganya tidak pernah lelah membuat makanan enak dan bergizi untuk dirinya. Wanita yang begitu cantik sampai Mahesa punya keinginan memiliki wanita secantik Mamah Anna yang selalu mempesona di matanya.


Mahesa selalu bisa membicarakan kelebihan ketiga wanita yang begitu hebat dalam mengisi hidupnya. Butuh apalagi? Tidk ada. Mahesa sangat merasa bahagia, tidak mau menukar posisinya dengan hal berharga lain.


Malik dan Ayu berada di kamar yang mereka pilih untuk istirahat. "Aku senang bisa liburan, tapi ...." Malik menatap wajah Ayu yang sedikit sendu. "Kapan lagi ya Dad bisa liburan bareng Kakak? Pasti dia akan sibuk." Bibirnya manyun merasa sedih.



"Sini Love, sini dulu." Ayu meletakkan pakaian yang sedang dirinya kemas, mendekat pada Malik yang tengah sibuk dengan laptopnya namun segera meletakkannya di atas meja yang ada di depannya.


"Mommy sedih nya gak ilang-ilang Dad. Harus bisa kan Dad?" Malik tersenyum. Mencium setiap jengkal wajah Ayuna yang cantik sempurna tanpa makeup.


"Wajar sayang, aku sudah katakan berulang kali. Kalau Mommy mau Kakak bisa pertimbangkan katanya Mom." Ayu menggeleng. “Anak nya tidak memaksa harus bisa kesana, dia sampai sakit memikirkan perasaan kalian semua.” Ayu ingat, dia yang menemani Mahesa sampai demamnya reda. Dia mengigau mengutarakan sayangnya pada dirinya. Ayu menghela nafasnya, dadanya terasa sedikit berat. “Mom....”


"Tidak Dad, dia harus pergi ke mana dia mau. Tidak boleh memikirkan perasaan ku yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa siap melepaskannya." Ayu berdiri, melanjutkan mengemasi baju-baju nya. Malik mengikuti Ayu yang memang butuh perhatiannya saat ini. Malik akan lega kalau Ayu sudah terlihat baik-baik saja.


Malik duduk di samping Ayu yang berdiri, subuk melipat baju-baju. "Daddy belum bisa merasakan nanti rumah kita tanpa Kakak, melihat Mommy seperti ini Daddy jadi khawatir." Ayu yang menunduk beralih menatap wajah suaminya yang masih tersenyum padanya. Matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Sepi pasti Dad, tangan jahil nya akan sangat aku rindu kan." Malik menarik Ayu duduk di pangkuannya. Tangan jahil yang suka membuat Malik marah dan kesal. “Mommy pasti rindu Dad, dia suka peluk-peluk aku. Anaknya lembut sekali sampai Mommy suka kaget Dad.” Ayu sedang menggoda Malik yang cemburu.


"Kalau yang itu Daddy rela, aku suka cemburu kalau anak-anak terlalu menempel pada mu. Kau kan cuma milikku Mom." Ayu merona mendengarnya. Suaminya tidak pernah berubah, dia selalu kesal dan marah saat dia jadi rebutan anak-anaknya.


"Anak nya sudah empat sekarang Dad, jangan begini. Malu kalau daa yang lihat." Ayu mencoba melepaskan diri, tidak berhasil tentu saja. Malik masih memeluknya dengan erat, tangan besarnya menahan Ayu yang mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


"Mereka yang harus malu lihat-lihat kita yang lagi mesra-mesraan." Ayu kalah mau bicara apapun. Suaminya dalam mood pemangsa, dirinya harus pasrah agar tidak bekepanjangan dramanya.


"Daddy.....!!!!!" Suara Mahes membuat Malik membola, baru juga di bicarakan. Sudah ada gangguan datang. "Mommy ku tidak bisa bernafas, bahaya Dad." Malik menaikkan satu alisnya.


“Bicara sembarangan!.” Mahesa berdiri menyilangkan kedua tangannya, matanya menatap tajam ke arah Daddy nya. “Mommy mu paling suka kalau Daddy peluk-peluk.” Ayu memukul pelan lengan Malik, suaminya suka tidak mengontrol bicaranya.


"Kakak sudah selesai beresin bajunya?" Mahes mengangguk. Mahes tersenyum begitu hangat padanya, tatapan garangnya hilang beganti senyum manis.



"Dua hari ini untuk ku ya Mom." Pintanya dengan nada begitu manis. Gula jawa kalah dengan untaian kata yang keluar dari mulut Mahesa.


"No....Big No Kak. Daddy bagaimana kalau Kakak minta semua waktu Mommy." Ayu meraih tangan Mahesa yang berdiri di hadapannya. “Mom.....jangan jahat ya kalian berdua, Daddy cemburu ya kalau kalian semanis ini!” Rengek Malik yang tidak di indahkan Putranya.


“Mengalah lah Dad, Kakak cuma minta dua hari ini saja. Kakak jauh nanti akan susah peluk-peluk Mommy kalau rindu Dad.” Ayu jadi sedih mendengarnya, dia benar sekali.


Akan sulit sekali minta pelukan nanti. "Banyak juga tidak apa Kak, kenapa cuma minta dua hari?" Mahes berjongkok di depan Mommy nya. Wajahnya manis sekali. Tidak mau Mommynya sedih karena waktunya pergi sudah begitu dekat.


"Setelah aku selesai, nanti aku minta waktu Mommy sebanyak mungkin. Tapi Dad, please. Dua hari ini untuk ku." Ayu tersenyum malu, dia seperti sedang bicara dengan calon mertuanya, meminta Putri nya di restui sebagai


pasangannya. Bahagia sekali wanita yang nanti jadi belahan jiwanya. Semoga tetap Hanum, dia wanita baik hati yang sangat cocok dengan Mahesa.


"Ok, sekarang ikut Kakak ke bawah. Aku dan Abang sudah buat sarapan." Ayu berdiri, mengikuti Putra nya yang terlihat begitu manis.


"Daddy tidak di ajak kah?" Ucap Malik pura-pura kesal. Padahal dirinya hanya ingin menggoda Putra nya yang hanya memperhatikan Mommy nya. Malik juga mau diperhatikan tapi gengsi.


"Apa Kakak pernah makan tanpa Daddy? Yang benar saja Daddy ini, tentu saja Kakak masak untuk semua orang." Malik ikut berdiri, senang mendengar nya. "Jalan nya satu menit dari aku keluar ya Dad. Aku mau jalan berdua Mommy."


"Mulai sekarang Kak dua harinya?" Mahes mengangguk, selanjutkan dia segera pergi dari hadapan Malik yang menatap punggung keduanya. Mereka berjalan bergandengan tangan, mengayunkanya tinggi sesekali.


Kelak Malik tidak perlu khawtir, Ayu punya anak-anak manis yang akan selalu bisa dirinya andalkan untuk menjaganya tetap aman. Menjaga keluarganya tetap hangat dan tetap berlimpah kasih sayang.


Bukan hanya Ayu yang kesulitan melepaskan, anaknya merasakan hal yang sama. Mereka punya ikatan yang begitu kuat, bahkan Sarah saja tidak bisa menempati tempat Ayu saat ini. Mommy nya nomor satu di hati Mahesa.


Tidak lama Malik berjalan turun dari kamarnya, mencari keberadaan semua orang karena ruang makan begitu tenang.

__ADS_1



“Loh Bang, mana Mommy? Kok tidak ada di meja makan? Tadi Kakak bilang mau bawa Mommy sarapan.” Wajah Ranu terlihat kuyu, baru bangun tidur dan sedang menikmati sarapan yang dirinya buat bersama Mahesa.


“Tidak boleh di ganggu katanya, mereka di danau. Daddy jangan ke sana, Kakak nanti berubah jadi Singa Dad.” Malik tertawa. Bisa-bisanya Mahesa melarang semua orang mendekati dirinya.


“Mamah dan Mamih mana?” Sepi sekali. “Kak Hanum juga tidak ada.” Malik hanya melihat Putranya makan sendirian.


"Di taman Dad, mereka sedang persiapkan alat-alat barbeque untuk nanti malam." Malik mengangguk paham.


Ponsel Ranu bergetar beberapa kali, ada pesan masuk.


Melani : Bang dimana?


Melani : Tante Melan ingin di temani Abang boleh?


Melani : Tante Melan takut Bang.


Ranu memicingkan matanya, villa mereka terpisah. Berada di pondok yang agak jauh menghindari gangguan dari anak-anak yang suka menempel pada Melan.


Ranu : Aku sedang sarapan. Takut apa Aunt?


Melan : Takut Om Riyan, serem Bang.


Ranu : Mau Abang jemput?


Melan : Iya Bang. Tante Melan mau keluar, Tante Melan susah bernafas Bang.


Ranu : Di apain? Abang jalan kesana.


Malik menatap wajah serius Putra nya yang tengah membalas pesan. Mencekal langkah nya yang sedang ingin pergi dari tempat nya saat ini.


"Mau kemana sayang?" Tanya Malik penasaran.


"Selamat kan Aunty ku. Dia bilang sulit bernafas tapi cuma di lihatin Om Riyan." Malik tertawa.

__ADS_1


"Lebih baik jangan GANGGU." Ranu membolakan matanya, bukan membela. Daddy nya malah membiarkan aunty Melan begitu saja.


"Dad, tidak bisa begitu. Kasihan Aunty ku." Malik menggeleng, menyeret Putra nya ke taman belakang menemui yang lain.


__ADS_2