
Selesai makan malam dan bercengkerama. Malik membawa anak-anak untuk pulang. Mereka harus istirahat karena sekolah pagi dan kegiatan mereka cukup banyak di sekolah.
Anak-anak nya giat belajar, mereka tidak pernah punya nilai jelek di segala bidang. Menurun mungkin dari orang tuanya yang memang kecerdasannya di atas rata-rata.
Hanum saja sempat kewalahan menyesuaikan jadwal kegiatan di luar sekolah.
Malik menjadwalkan beberapa ekstra kurikuler yang cukup menguras waktu Hanum. Meski lelah, Hanum senang karena dirinya diperlakukan seperti Mahesa dan Ranu, tidak di bedakan.
"Anak-anak minum susu dulu yah, Mommy sudah buatkan." Mahes malam ini ijin tidur di apartemen Mamih. Sebelum itu Ayuna memastikan semua jadwal rutin merek sebelum tidur sudah dikerjakan.
Ketiganya menghampiri Ayuna, Hanum yang malu-malu ikut mencium pipi Mommy nya mengikuti Mahes dan Ranu. Ayu tersipu malu dapat ciuman dari anak perempuannya.
Mahes paling cepat menghabiskan susunya. Menghampiri Mommy nya ingin manja-manja. "Mom, Kakak ingin peluk dulu boleh?" Ayu merentangkan tangannya.
"Kenapa bertanya begitu Kak, kan biasanya juga langsung nempel." Heran sekali melihat tingkah Mahesa. Sudah besar tapi masih seperti Bayi jika dekat Mommy nya.
"Mana boleh." Membuat kontak mata dengan Mommy nya. Ada dua pasang mata yang mengawasi mereka berdua.
"Hehehe.....Kakak yakin Bobo sendiri? Mommy tidak tenang." Mengusap lembut Pipi Mahes yang menyandarkan tubuh besarnya di badan Ayu.
"Ak...."
"Anakmu itu laki-laki Mom. Dia harus bisa jaga diri dengan baik, nanti kan harus jaga Mommy, jaga anak istrinya. Jangan terlalu berlebihan. Harus mandiri." Mahes menutup mulutnya rapat-rapat.
Malik sengaja bicara tanpa menatap wajah istrinya. Dia sedang menggoda Ayu. Dia paling tidak suka Malik terlalu tegas saat anak-anaknya ada di rumah. Kalau di sekolah Malik boleh bersikap demikian, tapi di rumahnya Ayuna tidak mengijinkan. Anak-anak manisnya tetap di perlakukan seperti bayi olehnya.
"Bicaranya sembarangan Daddy ini. Jangan dengarkan Bayi Mommy. Kakak jika sudah sebesar dan sehebat apapun akan tetap Bayi. Jadi jangan pernah berubah dengan Mommy ya Kak." Matanya memelas. Mahes mengecup punggung tangan Mommy kesayangnya.
"Apa sikap Kakak ada yang membuat Mommy tidak nyaman? Kakak tidak sadar terkadang." Ayu tersenyum, dirinya saja yang suka berlebihan. Anak-anak nya bersikap sangat baik.
"Tidak, Mommy hanya ingatkan saja. Takut Kakak lupa punya Mommy." Mahes mengeratkan pelukkannya.
Tring......
Ayu meraih ponselnya. Memeriksa pesan yang masuk di ponselnya
"Ihhhh.....enak Kak. Aku mau makan coklat." Mahes tersenyum lebar. "Mommy mau ini." Menunjuk ponselnya dengan antusias.
"Sudah malam Mom. Anak-anak juga mau istirahat. Mereka sudah sikat gigi." Padahal belum, Ranu dan Hanum masih menyeruput susu hangatnya, menikmati setiap tegukan.
Mahes meraih tangan Mommy nya yang terlihat bingung. Mahes ingin tertawa, seperti melihat anak kecil di larang makan coklat oleh ayahnya. Mommy nya memang menggemaskan.
"Gak boleh yah. Padahal enak sekali. Mulutku sampai berliur Dad." Masih merayu. Matanya tidak berbohong, dia begitu menginginkan coklatnya.
"Jangan sekarang Mom. Tomorrow Mom, Daddy antar Mommy. Daddy janji." Menyodorkan jari kelingkingnya.
Mengangguk tapi matanya berkaca-kaca. Menautkan jarinya dengan terpaksa, sudah malam dan dirinya tidak mungkin memaksa. "Ok." Ayu berjalan ke kamarnya. Sedih sekali tidak di ikuti kemauannya.
Ayu melihat dirinya di cermin, cengeng sekali hanya karena coklat wajahnya berderai air mata. Tapi emosinya tidak bisa di bendung, sungguh dirinya sangat menginginkan coklat yang Sandra kirimkan fotonya.
"Jahat Daddy, padahal rumah uncle dekat sekali dari sini." Mahes kesal lihat Mommy nya sad.
"Mommy sad loh Dad. Abang tidak akan bisa tidur juga teringat wajah sad Mommy." Imbuh Ranu yang juga menyimak.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita pergi saja. Kita biarkan Mommy makan coklatnya malam ini." Mahes bicara dengan manis.
"Tadi Kakak kan ijin tidur di rumah sendiri, kenapa sekarang malah mau ke rumah Om Jofan." Malik belum menyerah.
"Mommy nya sedih Daddy, Kakak gak akan bisa nyenyak bobo nya. Kita harus ikuti maunya. Tidak bahaya, tidak ketempat dingin. Hanya ke rumah Om Jofan." Mahesa masih keras dengan inginnya juga.
"Dan Daddy janji akan ikuti jika minta nya Mommy hal yang wajar. Ke rumah Om Jofan, makan coklat. Wajar sekali Dad." Kedua Putranya memang selalu jadi garda terdepan jika menyangkut kebahagiaan Mommy nya.
"Lihat Han, mereka selalu main keroyokan kalau membela Mommy nya. Padahal kalian semua kelelahan seharian ini ada di luar dan baru pulang larut malam." Malik sedikit kesal, tapi juga tidak tega. Kedua Putra nya benar,mereka bisa mampir sebentar saja. Hanya makan coklat.
"Demi Mommy, Kakak tidak tidur dan tidak punya waktu untuk istirahat juga tidak apa." Mahes tahu, kalau pergi. Mommy pasti akan membawa anak-anaknya.
"Berlebihsn sekali Kak. kalian masih anak-anak, harus banyak istirahat." Menolak argumen Putranya.
"Berdebat seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah." Ranu menangahi, tapi ada di pihak Kakaknya.
"Bagaimana kalau menginap di rumah Om Jofan. Kita berangkat sekolah dari sana besok." Mahes dan Ranu tersenyum. Cemerlang sekali ide nya.
"Putri Daddy cerdas sekali. Daddy setuju, kalau begitu sekarang kemas barang-barang kalian." Ketiganya berlari penuh semangat.
Malik berjalan perlahan memasuki kamarnya. Mendapati istrinya yang sudah berada di bawa selimut tebal yang menutupi sekujur tubuhnya.
Malik memeluk tubuh Ayuna dari luar selimut. Tangan kekarnya membelai lembut perut buncit istrinya. Tidak ada penolakan, Ayu menikmati belaian tangan suaminya yang nyaman.
"Anak Daddy mau makan coklat yah? Nanti gendut loh." Menirukan suara anak kecil. "Tidak papa kalau gendut? Baby gendut lucu Dad." Ayu tidak tahan ingin tertawa. Duduk memperhatikan wajah suaminya yang manis sekali tertawa pada dirinya.
"Bukan Baby yang mau. Mommy yang mau." Nadanya sepeti anak kecil mengikuti Malik.
"Ya sudah, semua sudah menunggu Mommy di depan. Kita menginap di rumah Jofan." Matanya berbinar, selimut tebal yang membungkus tubuhnya sudah terjatuh di lantai.
"Maafkan Daddy ya Mom. Daddy suka egois tidak mendengarkan dulu mau mu Mom." Ayu menggeleng. "Sekarang bersiap Mom." Malik meraih jaket tebal dan hijab instan untuk Ayuna.
Memastikan jaket menutupi seluruh tubuh Ayu agar tidak kedinginan. Hijabnya Malik pilih yang bahannya tebal tapi tetap nyaman.
"Jangan drama, ayo Dad. Aku sudah tidak sabar ingin mencoba coklat yang Mas bawa." Ayu menggandeng tangan suaminya keluar. Jika di biarkan, Malik akan bolak balik mengganti jaket atau yang lainnya agar tubuhnya tetap hangat.
"Kau tahu sekali aku mau melakukan apa ya Mom?" Suaminya tersenyum geli. Ayu sudah begitu paham kebiasaan suaminya yang suka aneh, dia akan kebingungan padahal semua pakaian yang ada di lemari Ayuna pilihan dirinya.
"Sudah siap? Tidak ada yang tertinggal untuk sekolah besok?"
"Sudah lengkap Dad." Ranu.
"Aman Dad." Mahes
"Sudah lengkap semua Daddy." Hanum.
"Good, sekarang kita berangkat." Malik mengandeng Ayu dan Hanum. Hanum sudah mengenakan jaket cukup tebal, ulah Mahesa sepertinya. Dia mengikuti kebiasaan Malik yang selalu memastikan Mommy nya hangat.
"Sorry ya anak-anak, Mommy membuat kalian repot yah malam-malam begini ke rumah Om Jofan." Suaranya tidak sedih, dia sedang bahagia.
"It's ok Love." Mahes mengecup pipi kiri Ayu.
Ranu mengecup pipi kanan Mommy nya. "Minta apapun, akan kita semua usahakan untuk Mommy." Pasti seperti itu jawabannya.
Ayu mengecup kening Hanum. "Seharusnya Hanum yang kecup kening Mommy Nak." Hanum tersenyum malu-malu. Mereka sangat hangat satu sama lain.
__ADS_1
Tidak heran Mahes dan Ranu begitu baik, hangat dan penuh kasih sayang. Ada wanita sehebat ini yang menjaga mereka selalu baik.
"Sedang apa sayang?" Tanya Jofan pada Sandra yang senyum-senyum sendiri.
"Kirim foto oleh-oleh yang kita bawa pada Ayu." Tanpa rasa bersalah. Jofan menepuk jidatnya. "Kenaoa? Ayu juga belum tidur kok." Semakin gawat.
"Akan datang mereka sebentar lagi." Jofan sangat tahu adik nya pecinta coklat. Ditambah dia sedang hamil, pasti tidak tahan melihat coklat yang Sandra foto.
"Kan sudah malam Fan, mana mungkin." Tidak menghiraukan. Dia masih asik memilah milah coklat di depannya.
"Lihat saja, tunggu beberapa menit." Jofan menggelengkan kepalanya. Padahal sudah diperingatkan tadi.
Tapi Jofan juga suka kalau Sandra sedang ceroboh seperti ini. Dia akan membawa rumah menjadi ramai malam ini. Biarlah, paling kena amuk penjaganya.
Ting ....tong....tingg...tongggg.....
Jofan dan Sandra saling bertukar pandang. Seperti peramal yang hasil ramalanya tidak meleset.
Riyan yang terlelap di ruang tamu terkejut mendengar bunyi belum larut malam.
"Mbak....tumben sekali malam-malam." Ayu mengecup pipi adiknya yang tertegun. Wajahnya lucu sekali masih mengantuk.
"Ulah Kakak iparmu Dek." Riyan hanya tersenyum.
"Hayyyyy.......kangen......" Saling memeluk seolah sudah sangat lama tidak bertemu.
"Anak-anak ke atas, istirahat. Tunjukkan kamar Hanum ya Kak." Malik mengecup kening Hanum sebelum memintanya beranjak naik ke atas.
"Ok Dad." Mahes menggandeng tangan Hanum.
"Peluk dulu anak-anak ku sayang." Mereka saling memeluk. Sandra juga rindu mereka semua.
Ayu menikmati coklat sambil melihat-lihat foto yang berkeliaran di berandanya. Ada foto yang memikat hatinya. Indah sekali.
Ayu menemukan foto-foto pemandangan pantai yang menawan. Indah sekali sampai matanya tidak mengerjap beberapa saat. Senyum indahnya begitu mencurigakan di mata Malik.
"Lihat apa sayang?" Ayu duduk di pangkuan Malik, kalau sudah begitu Malik tahu akan ada yang istrinya minta.
"Hmmmmmm......."
"Apa kali ini Mom? Jangan aneh-aneh." Ayu tersenyum sambil memilin ujung baju suaminya.
"Boleh tidak?" Belum juga bicara, dia sudah meminta ijin.
"Untuk apa? Bicara yang betul Mom." Ayu mengecup pipi suaminya.
"Lihat, indah kan Dad. Aku ingin berlibur ke sini." Malik tersenyum, padahal belum lama mereka liburan ke pantai.
"Ini pulau Kak, lautnya sangat indah." Ayu menyanjung setiap sudut pemandangan yang begitu menawan di sana.
__ADS_1
"Kalau begitu Daddy akan jadwalkan. Mommy harus banyak makan supaya bisa kesana dengan anak-anak." Ayu mengecup kanan kiri pipi Malik. Suaminya tentu saja girang, Ayu hanya bertingkah menggemaskan jika ada yang sedang dirinya inginkan.