
Mentari pagi mulai menyeruak menampakkan kilatan cantik sinarnya, menembus dinding-dinding kaca menyinari setiap sudut ruangan yang gelap. Gelap perlahan mulai berganti dengan terang.
Ayuna sudah kerkutat dengan bahan-bahan makanan ditemani pembantu rumah tangga yang bertugas menyiapkan makan untuk para penghuni rumah.
Sudah di ingatkan beberapa kali kalau pekerjaannya tidak perlu bantuan namun Ayu menolaknya, pagi-pagi dirinya akan melakukan pekerjaan yang paling digemari. Menyiapkan sarapan untuk semua kesayangannya.
“Sup nya sudah saya masukkin sayur ya Non, sedikit lagi matang.” Ayu mengangguk, tangannya masih sibuk mengaduk masakannya yang lain.
Masak besar hari ini, Jofan dan Sandra rindu masakan Indonesia katanya. Lama di luar negeri, mereka ingin makan makanan lokal yang lebih cocok di lidah mereka. Ayu tentu saja dengan senang hati menyiapkannya.
“Setelah ini tolong bawa ke meja makan ya Bi, sebentar lagi anak-anak akan turun Bi.” Meminta bantuan dengan sangat sopan.
“Baik Non, setelah ini Non istirahat yah. Sudah dari subuh Nonna masak.” Bibi bangun sedikit lama. Ayu sudah masak setengah jalan saat dirinya datang.
Tak....tak...tak....
Suara hentakan sepatu yang nyaring menuruni tangga. Ayu berjalan menghampiri sumber suara. Mendapati adiknya yang sudah berpakaian rapih siap untuk bekerja.
“Pagi sekali Dek? Sarapan dulu yah, Mbak sudah masak banyak.” Mengulurkan tangannya yang tidak di lihat Riyan yang sedang mengaduk isi tasnya.
“Kunci mobil ketinggalan, aku tidak sempat sarapan Mbak.” Riyan kembali naik ke atas, ke kamarnya.
Ayu masih menunggu saat Riyan turun. Matanya mengawasi dan seolah meminta dirinya untuk duduk di sisinya.
“Please.....” Riyan mengecup pipi Ayuna dengan lembut. “Aku ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Aku harus siapkan bahan meeting dan selesaikan semuanya dengan cepat.” Ayu tahu semua itu hanya alasan saja.
“Sarapannya gimana Dek? Masa tidak makan sedikit saja.” Ayu sedih karena Adiknya begitu keras berusaha melupakan semuanya.
“Ada sekertaris Adek, nanti Riyan minta dia belikan roti untuk sarapan.” Riyan pergi begitu saja, meninggalkan Ayu yang masih menatap punggungnya penuh kesedihan.
Pantas saja kurus begitu, makannya tidak teratur. Kerjanya banyak dan waktunya habis untuk memulihkan rasa sakitnya. Ayu merasa sesak melihat Adiknya berusaha terlihat baik-baik saja ditengah kekacauan yang ada di dalam kepalanya.
Ayu ingin sekali jadi tempat nyama untuk berbagi suka dan duka. Tidak banyak yang bisa dirinya lakukan, menunggu. Ayu hanya bisa menunggu sampai mereka datang sendiri mencari sandaran.
Tidak mau fokus pada perasaan sedihnya, Ayu membuka pintu samping. Disana banyak bunga-bunga bermekaran yang indah, tangannya memang sangat cocok jika menyentuh berbagai macam tanaman. Mereka akan tumbuh dengan subur dan cantik.
Ayu berjala perlahan menuruni beberapa anak tangga sebelum sampai ke taman. Wangi nya sudah menusuk penciumannya dengan lembut. Ayu menghirup panjang nafasnya, melepaskan segala sesak yang memenuhi dadanya.
Ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Menciumi tengkuknya penuh sayang. Ayu kenal betul wangi siapa yang ada di belakangnya.
__ADS_1
“Bangun jam berapa Mom?” Tanya Malik yang masih nyaman memeluk Ayuna. “Setelah shalat subuh Mommy tidak tidur lagi kah?” Ayu mengangguk.
Ayu diminta Malik yang harus menyelesaikan pekerjaanya istirahat. Malik tidak bisa menemani Ayu istirahat setelah subuh karena dirinya harus menyelsaikan koreksi materi meeting yang akan dirinya pimpin pagi ini.
“Tidak bisa tidur lagi Dad. Mommy bantu Bibi masak tadi.” Suaminya akan marah jika tahu dirinya yang masak dari subuh. “Hanya membantu Bibi, aku tidak banyak bergerak Dad.” Sudah paham arti hembusan nafas suaminya.
“Jangan kelelahan ya Mom. Satu bulan ini kita banyak sekali kegiatan. Aku bahkan terkejut melihat perut Mommy sekarang sudah mulai berisi.” Malik memang merasa dirinya tidak memperhatikan dengan benar.
“Iya, kan Baby makannya banyak Daddy. Jadi Baby mulai besar.” Suara manja nya membuat Malik ingin menggigit leher Ayu gemas. Ayuna sedang tidak mengenakan hijabnya. Di rumah hanya ada keluarganya dan beberapa pekerja wanita yang membantu membereskan rumah Mas nya.
“Ayo buktikan, sebesar apa nafsu makan Baby sampai buat perut Mommy buncit.” Ayu mencubit tangan Malik merasa kesal di ledeki. Tapi mengusapnya karena menyesal melakukannya.
“Heheehe....sakit yah.” Wajahnya panik. “Sorry Daddy.” Malik mengecup gemas puncak kepala Ayu. Dia yang mencubit, tapi dia pula yang merasa bersalah.
“Kalau hanya cubit Daddy karena gemas gak masalah Mom. Kenapa mengusapnya?” Malik ingin tertawa tapi tidak tega.
“Tidak boleh, apapun alasannya. Melakukan kekerasan tidak diperbolehkan, sorry ya Dad. Maaf kan tangan Mommy yang nakal ini.” Malik meraih tangan Ayu dan mengecupnya. Mengangguk agar rasa bersalahnya hilang.
“Ayo masuk, anak-anak tadi sudah siap. Mereka mungkin sekarang sudah ada di meja makan.” Malik meggandeng Ayuna masuk ke dalam.
Pemandangan indah yang dirinya lihat. Mahesa, Ranu, Jofan, Hanum dan Sandra sudah duduk dengan manis di ruang makan. Meski tangan mereka masih sibuk dengan ponsel masing-masing yang ada di tangannya. Ayuna masuk, mereka menoleh dan langsung menyimpan ponselnya. Waktu mereka sangat berharga jika sudah dengan Ayu.
Ranu memilih makan dengan ayam rica-rica kesukaannya. Mahesa makan dengan sup Ayam yang lebih cocok di lidahnya untuk sarapan, Hanum mengkombinasi keduanya dengan porsi lebih sedikit.
Malik yang kini mengisi piring istrinya yang tidak pernah memperhatikan dirinya dulu sebelum memperhatikan orang-orang kesayangnnya.
“Mas nya mau di ambilin Dek.” Jofan menyodorkan piringnya manja. Malik melotot ke arah Jofan dan Sandra. “Sandra sudah mengurus hal lain untukku. Please Love.” Ayuna hanya tersenyum, meraih piring yang di sodorkan padanya.
“Iya Mas, makan yang banyak yah. Ini masakan special untuk kalian semua kesayanganya Mommy.” Membuka rahasianya sendiri.
“Enak, ini bukan masakan Bibi. Lidah Daddy bisa mengenal masakan dengan baik loh Mom.” Ayu menunduk menyembunyikan senyumnya, ketahuan. “Lain kali jangan siapkan makanan sebanyak ini. Tangan Mommy itu berharga Mom.” Ayu tidak mau menjawab, hanya tersenyum manis demi kedamaian rumahnya.
“Ini ada yang kurang atau gimana yah? Kok Mas ngrasa ada yang belum duduk di tempatnya.” Sandra mengangguk setuju.
“Mas Rey tidak pulang semalam. Kalau Adek sudah jalan tadi pagi-pagi sekali.” Ayu menjawab dengan lemas. Tentu ini bukan keadaan normal, mereka bertingkah kekanakan. Bekerja tidak tahu waktu.
“Sudah hampir dua pekan ini Adek banyak bekerja Fan, tidak ada dirimu jadi menurut Riyan dia banyak pekerjaan. Masuk akal, aku ingin lihat setelah dirimu kembali.” Jofan mencoba memeriksa ponselnya.
“Makan dulu Mas, nanti saja periksa nya. Jangan main-main di depan makanan.” Ayu tidak suka, nanti kalau terpancing mereka suka meninggalkan makanan begitu saja tidak jadi makan.
__ADS_1
“Iya sayang ku, Mas makan.” Jofan makan dengan lahap.
Ternyata rumahnya yang begitu indah tidak seperti itu adanya. Sedang ada luka yang harus dirinya bereskan menyangkut adik laki-lakinya yang sudah mulai punya rasa, dia sekarang sedang menyimpan luka.
Selesai sarapan Ayu mengantar anak-anaknya ke depan, mereka pagi ini akan di antar Biru ke sekolah. Sandra memutuskan mengambil beberapa hari lagi cuti karena tubuhnya kelelahan, berbeda dengan Jofan yang tiba-tiba ingin memantau perkembangan perusahaannya setelah lama di pegang kendali oleh adik nya.
“Mas.....” Jofan menoleh. Ada keraguan yang nampak di senyum manis adiknya. “Tolong jangan terlalu keras ya Mas. Aku hanya.....” Ayu tidak melanjutkan ucapannya, Mas nya tidak mungkin melukai hati Riyan. Dia kesayangannya yang selalu Jofan jaga dengan jiwa raganya. Jofan memeluk Ayu mencoba memberikan ketenangan.
“Percaya ya Dek, Mas tahu cara menyelesaikan masalah adik kita sayang. Mas coba bantu ya Dek, Riyan masih butuh Mas nya. Dia masih harus banyak belajar.” Ayu tersenyum penuh percaya.
“Mas selalu bisa aku andalkan. Riyan butuh pundak Mas Jofan.” Ayu mengusap pundak Jofan lembut, matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Ayu Malik tinggalkan di rumah Jofan, ada Sandra yang Malik minta menemani istrinya agar tidak kesepian. Ayu senang sekali, banyak yang bisa dirinya lakukan di rumah Mas nya yang cukup besar.
Jofan memasuki ruang meeting yang sedang di pimpin oleh Riyan. Bangga sekali melihat adik nya sudah sehebat ini. Bicara tanpa kaku sedikit pun, bahasanya lugas mudah dimengerti. Pembawaannya penuh wibawa yang membuat Jofan ingin lari memeluknya.
Riyan tersenyum pada Kakaknya yang sedang terpesona meliahat dirinya yang banyak berkembang.
Jofan tidak mengganggu sedikitpun, dia benar-benar hanya mendengarkan dan tidak mau mencampuri apa yang sudah Riyan putuskan untuk proyek perusahaanya kali ini.
Meeting akhirnya selesai, Jofan meminta Riyan duduk di sisinya dengan gerakan tangannya. Jelas sekali saat ini Riyan yang masih bicara dengan beberapa staff nya meminta waktu sebentar pada Mas nya.
“Mas jangan sekarang bisa kah? Aku harus selesaikan materi dengan mereka dulu.” Jofan berdiri dari duduknya, wajahnya merah padam mendapati adiknya tidak punya waktu sedikitpun seperti ini.
“Seperti ini selama Mas tinggal pergi! Mau Mas tutup semua ini kalau adik Mas tidak punya waktu untuk Mas nya! Hah.....!!!!” Riyan meminta semua staff nya keluar. Dirinya tertangkap basah menghabiskan begitu banyak waktunya hanya untuk pekerjaan.
“Adek tidak pernah punya alasan untuk buang-buang waktu. Aku harus fokus, aku tidak mau menyia-yiakan waktu ku Mas.” Kilahnya yang sudah tidak lagi bisa beralasan.
“Tidak butuh. Mas mu tidak butuh semua itu! Duduk sebentar saja tidak bisa, lalu untuk apa semua yang sudah Mas raih. Untuk memisahkan adik nya dari kesayanganku! Jawab!” Jofan benar-benar marah. Riyan kini hanya bisa menunduk, dirinya memang bersalah dalam hal ini, tidak gentle dan malah lari dari kesakitannya.
“Sorry Mas.” Riyan menunduk penuh rasa sesal.
“Mas tidak bisa begini Dek, bisakah adek selesaikan perasaan adek dulu. Jangan siksa Mbak mu untuk menunggu sayang. Mas tahu bagaimana saat ini perasannya, tapi Mas juga tidak bisa selesaikan. Harus Adek, harus Riyan yang selesaikan.” Riyan menunduk, air matanya tidak tertahankan.
Riyan jelas sangat sadar apa yang semua orang takutkan. “Aku belum bisa berdiri dengan benar Mas. Aku takut.” Jofan meraih tubuh Riyan, merengkuhnya dengan hangat.
Terlalu banyak pertimbangan memang Riyan ini, dia akan memikirkan berbagai kondisi dengan keputusannya. Hasilnya dia hanya akan kesakitan seorang diri.
__ADS_1