Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Aku Berhak Tahu


__ADS_3

"Aku mau di sini saja, biar aku yang temani Kakak." Menghindari tatapan mata Malik yang pasti terkejut dengan apa yang baru saja dirinya ucapkan.


Mahes mengedikkan pundaknya tidak paham dengan alasan Mommy nya. Malik mencoba menetralka pikirn kacaunya. Tidak mau sampai apa yang akan dirinya ucapkan menyakiti semestanya.


"Mom.....lihat Aku. Mom, apa yang Mommy ingin bicarakan?." Malik sangat tahu bagaimana Istrinya.


Tidak akan berubah sikapnya jika dirinya tidak kecewa. Ayu menyembunyikan sesuatu. Pasti ada yang membuat Istrinya bersikap seperti ini.


"Tidak ada, aku cuma mau temani Kak Mahes saja." Matanya berkaca-kaca.


Malik menarik Ayu kepelukannya, Ayuna nya gemetar, Ayu ternyata menyembunyikan kegundahannya. Apa yang sebenarnya dirinya tahu. Badoh sekali Malik sampai tidak memperhatikannya.


"Sini sayang, sorry." Ayu seperti anak kecil yang kecewa. Menepis tangan Malik yang mencoba meraihnya. "Sorry sayang, aku tidak tahu apa yang membuat Mommy marah seperti ini. Please tell me Mom."


"Aku juga tidak tahu apapun. Aku hanya kesal! Sebaiknya Kak Malik cepat pergi." Menunduk tidak mau menatap Malik.


"Ayuna....please, aku sudah tidak punya tenaga untuk menjelaskan. Aku tidak akan bisa melihat kesedihan mu berulang kali. Please. Maaf kan aku. Apapun itu yang membuatmu kesal, aku mohon maafkan aku." Ayu yang masih memunggungi Malik mengusap air matanya yang lolos.


"Mom, don't cry, hey….. cantik. Kakak tidak akan ijinkan Mommy Sad." Ayu memeluk Putranya. “Jangan lagi menangis cukup Mom. Kaka mohon.” Mahes sangat erat memeluk Mommy nya yang akhirnya menangis sesenggukan di pelukkanya.


"Mommy kesal." Bicara dalam pelukkan Mahes. "Kesal Kak, tolong suruh Daddy keluar." Pinta nya yang masih enggan bicara dengan suaminya.


"Dad sorry, aku mohon. Mahes tidak bisa lihat Mommy seperti ini. Beri waktu untuk Mommy sebentar saja."


"No, Daddy harus tahu kenapa Mommy kesal ke Daddy." Masih keras kepala.


"Mommy tidak mau Kak, tolong Kak. Mommy mau di sini." Mahes akhirnya kesal sekali.


"Daddy, why? Apa yang Daddy lakukan sampai Mommy ku sad. Daddy, Kakak kecewa, sungguh."


"Daddy juga tidak tahu. Kenapa Mommy marah ke Daddy. Mom coba jelaskan." Pinta Malik frustasi.


Di tengah perdebatan tiba-tiba saja Jofan masuk. Melihat adik kesayangannya menangis sesenggukan membuat Jofan kebingungan. Menatap lekat wajah adiknya yang jelas menyiratkan dirinya tidak baik-baik saja saat ini. Jofan sangat terpukul, dia pasti menderita sekali.


Jofan meraih Ayu ke pelukkannya. Tubuhnya bahkan sudah sedikit demam seperti yang sering terjadi saat Ayu mengalami panik dalam keadaan seperti ini.


"Hey....cantik kenapa menangis." Malik dan Mahes berhenti berdebat, saling menatap satu sama lain.


“Apa yang terjadi? Apa yang membuat adik ku menangis.” Tanyanya mencoba mencari jawaban.


“Mas, tolong bawa aku pergi dari sini. Pelase.” Menatap wajah adik nya yang memohon, ada hubungan dengan Malik jika permintaannya seperti ini.


"Kalian bertengkar?" Tidak ada yang menjawab.

__ADS_1


“Mas…..Cepat.” Jofan masih tidak tahu harus apa.


Malik dengan kasar membawa Ayu keluar dari ruangan Hanum.


"Aku perlu bicara dengan Ayuna ku dan jangan ada yang ikuti aku." Ayu yang gemetar hanya bisa pasrah, Malik sudah seperti ini dan tidak akan ada yang berani membantah.


"Aku akan membawanya pulang jika dia terluka." Ancam Jofan.


Malik membawa Ayu ke ruangan pribadinya yang ada di rumah sakit. Ruang perawatan pribadi tepatnya, dirinya memang punya tempat khusus di sana. Design nya seperti rumah tinggal yang nyaman. Malik membawa Ayu duduk di salah satu sofa yang nyaman.


Tidak bicara apapun. Malik membiarkan Ayu menangis, entah sudah berapa kali dirinya melihat semestanya menangis hari ini. Malik hancur, lagi-lagi kesedihan merundung kesayangannya.


Tidak lama laporan masuk melalui pesan singkat.


Memberitahukan jika Ibu Ayu sempat datang ke ruang operasi dan melihat sendiri saat Ranu ditangani.


Malik melempar ponselnya ke sembarang tempat.


Mengangkat dagu Ayu agar lebih leluasa menatap wajah kesayangannya.


"Sorry." Ayu sadar sudah membuat kekacauan.


"Kenapa minta maaf, coba jelaskan padaku sayang. Apa salahku sampai Ayu begitu kecewa, coba jelaskan." Padahal dirinya sudah tahu.


"Hey.....kenapa sembarangan sepeti itu Mom bicaranya. Ada apa?"


"Aku berhak tahu." Malik mengangguk.


"Sorry, Daddy salah. Ku pikir yang terbaik Mommy nya tidak tahu. Sakit sekali melihat air mata ini." Malik mencium pipi Ayu yang basah air mata.


"Tapi dia juga Putra ku. Aku yang melahirkan nya, aku yang mengasuhnya dan merawat nya. Aku berhak tahu." Suaranya bergetar.


"Daddy salah menuruti kemauan Anak ku. Tapi aku kira Abang juga benar, sorry Daddy tidak berpikir jernih karena keadaan kalut sayang."


"Tapi aku sangat kecewa. Kalian tidak percaya padaku."


"No, bukan tidak percaya. Kami hanya khawatir, Abang khawatir Mommy nya sakit." Mendengar nya Ayu kembali menangis.


"Aku juga bisa sakit kalau kalian tidak tunjukkan luka kalian. Sakit sekali Kak." Malik salah mengambil langkah, dirinya sudah berjanji tidak menutupi apapun dari Ayu. Tapi kini janji nya di langgar, Ayu sedih sekali tapi dirinya tidak sadar.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa Abang meminta Kak Malik tidak kasih tahu kalau dia terluka." Meminta penjelasan.


"Abang sepertinya takut lihat Mommy nya sad. Apalagi dirinya yang buat Mommy kesayangannya sad. Anaknya mencoba menutupi nya Mom."

__ADS_1


"Jadi sebaiknya Mommy pura-pura tidak tahu atau bagaimana?" Ayu jadi bingung.


"Mengalir saja, luka nya juga sudah di tangani dengan baik. Anaknya sudah sehat Mom." Ada rasa lega.


"Aku ingin lihat Abang, tapi pasti akan menangis. Aku takut. Kasihan Abang."


"Kalau begitu besok saja, sekarang istirahat Mom." Malik menggendong Ayu ke ranjang. Memintanya istirahat agar tidak kambuh lagi asam lambungnya karena memaksa berpikir keras. Dia lemah tapi dirinya mengelak tidak mau mengakui.


Perutnya kembali bergejolak. Ayu lari ke dalam kamar mandi.


Malik juga mengekor khawatir di belakang Ayu. Dengan penuh sayang Malik memijat tengkuk Ayu agar lega.


“Keluarkan sayang, buang semuanya.” Malik merogoh celananya, menghubungi Sarah untuk memeriksa Ayu yang muntah-muntah. Panggilan masuk nya tidak di jawab, panggilan kedua baru Sarah terima.


"Sar....keruanganku. Ayu muntah-muntah terus dari tadi." Menutup ponselnya.


Mana bisa bilang dirinya baik-baik saja tapi muntah terus seperti ini.


Belum juga bicara sudah di tutup, kebiasaan buruk. Racaunya yang kesal.


Tidak lama sarah sampai, Ayu sedang bersandar di dinding kasur memposisikan dirinya dengan nyaman. Sarah memeriksa dengan seksama, tidak ada yang salah. Asam lambung nya normal dan kondisi fisiknya cukup stabil.


“Apa yang Ayu rasakan sayang, coba ungkapkan. Aku tidak menemukan apapun, semuanya baik.” Dirinya bingung.


“Tidak ada, mual nya sesekali datang. Dan sekarang sudah tidak ada lagi.”


“Sudah berapa lama seperti ini sayang?” Ayu mencoba mengingatnya. Tapi sepengetahuannya tidak sering.


Menatap takut mata Malik. “Sebenarnya sudah satu bulan ini.” Benar saja mata suaminya menajam. Dia masih menunggu penjelasannya. “Tapi aku tidak merasa sakit, aku kira asam lambungku saja yang kumat.”


“Sebulan loh Mom. Kenapa tidak beri tahu Daddy. Keterlaluan sekali kamu Mom.” Ayu takut sekali, suaminya pasti marah. Dirinya sudah tahu akibatnya jika sembunyikan sakitnya.


“Sorry Dad, aku tidak merasa sakit. Aku ok.” Malik merasa kecewa. Tapi dirinya juga bingung tidak pernah melihat Ayu muntah selama ini.


"Apa kalian sudah tidak lagi KB?" Keduanya saling menatap kebingunga.


"Maksudnya?" Mereka rutin sekali pemeriksaan KB, Malik tidak mau lagi Ayu kesakitan karena melahirkan. Malik tidak kuat melihatnya.


"Ayo kita tes urine, aku butuh jawaban pasti." Saran membawa Ayu ke kamar mandi. Meminta nya melakukan tes kehamilan.


Tidak lama Ayu keluar dari kamar mandi, wajahnya saat masuk kamar mandi kebingungan, dan saat keluar malah lebih parah, matanya menatap ke sembarang arah dengan wajah pucatnya. Tangannya gemetar.


"Bagaimana sayang?" Tanya Malik penasaran. Sarah juga menunggu.

__ADS_1


Ayu limbung kehilangan kesadarannya, beruntung Malik dengan sigap menangkap tubuhnya. Sarah segera memberikan infus dan beberapa vitamin pada Ayu.


__ADS_2