Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Anggota Keluarga Baru


__ADS_3

Repot sekali, Malik menggendong Baby sambil menggandeng tangan Ayuna yang sebenarnya bisa jalan sendiri dengan tenang. Alasannya tidak mau Ayu jatuh saat berjalan. Pasrah saja, suaminya memang paling tidak bisa melepaskan tangannya saat sedang berjalan bersama.


Hari ini Malik membawa Baby ke kantor, istrinya rindu teman-teman rumpinya yang sudah cukup lama tidak bertemu. Di rumah juga sepi karena semua orang sudah kembali dengan aktifitas mereka yang memang padat.


Malik tidak menolak karena dirinya juga rindu di temani Ayuna saat bekerja, Baby juga sudah cukup bisa di ajak kemana-mana meski sangat repot perbekalan yang harus disiapkan. Tidak masalah, lebih baik repot daripada saat diperlukan tidak ada dan malah membuat Putri nya tidak nyaman.


Kesibukannya akhir-akhir ini meningkat. Perusahannya punya beberapa kerjasama baru dengan perusahaan asing yang baru berpartner dengan perusahaan nya.


Ditambah saat ini Aldo tengah Malik berikan cuti. Dia harus ada di sisi Aleta yang sebentar lagi akan melahirkan. Malik memberikan banyak waktu karena biasanya Aldo sangat disibukkan dengan banyak pekerjaan yang tidak ada habisnya.


"Gemas sekali pipi nya Bu Ayu. Ya Tuhan." Tangannya ingin mencubit pipinya tapi takut, jadi di tahan sekuat tenaga.



"Cantik kali Nak, ingin cium loh aku Bu." Yang ini tidak kalah gemas melihat wajah cantik putri Bos nya.


"Jangan nangis ya anak cantik, banyak kuntilanak di sini." Kalau yang ini suka bercanda, menggoda teman-temannya dan membuat suasana menjadi bising karena ulahnya.


Mereka tertawa bersama, saling menceritakan kisah mereka yang sudah cukup lama tidak Ayu dengar. Rindu sekali, mereka sudah menjadi teman bicara yang cukup asik ketika Ayu bosan berada di kantor suminya.


Ayu pernah bekerja di sana meski hanya sebentar, mereka inilah teman-teman yang begitu baik menemaninya. Malik tantrum, dia tidak rela melihat wanita yang begitu dia cintai kesulitan. Mengerjakan tugas yang begitu menumpuk sampai wajahnya kuyu tidak bersemangat.


Alhasil Ayu menyerah, dirinya tidak lagi punya obsesi untuk bekerja dimanapun. Suaminya akan tidak tenang, dia bisa uring-uringan karena merasa harta bendanya cukup banyak untuk menghidupinya. Untuk apa lagi dirinya bekerja.


Mereka sedang duduk di kantin yang cukup ramai, Ayu rindu puding cokelat kesukannya. Ayu merasa rindunya terobati, senang melihat teman-temannya yang masih sehat dan bahagia. Terakhir mereka bertemu di pesta pernikahan Jofan dan Sandra, akhirnya bisa bertemu lagi.


"Kantor sepi gak tidak ada Sandra?" Tanya Ayu yang merasakan sepi. Suara Sandra biasanya mampu mengguncang seisi kantor.


"Sedikit mbak, gak ada yang tiba-tiba teriak, gebrak meja, mengumpat Pak Malik. Hahahaha...." Jawab salah seorang dengan suara yang cukup pelan.


“Suami ku suka cerita, dia suka kena marah Sandra karena pekerjaan yang tidak ada habisnya. Hahahaha.....” Ayu juga membalas dengan suara pelan, banyak karyawan lain di sana yang tengah istirahat makan siang.


“Memang ajaib Mbak Sandra Bu, kita mah....” Bergidik tidak mau berurusan dengan Malik kalau bisa. Mencari aman.


"Sandra saja yang berani begitu yah?" Ayu merasa kannya, suaminya suka mengeluhkan sikap Sandra yang membuatnya sakit kepala.


"Kalau kami yang begitu Bu, apa tidak langsung di tendang dari sini?" Yang lainya mengangguk, pasti sekali nasib mereka akan lain dari yang Sandra terima.


"Suami ku baik tau." Wanita yang bekerja sudah cukup lama sedikit membulat kan pipinya. "Memang tidak yah?" Ayu penasaran bagaimana suaminya di mata para karyawan.


"Baik Yu, tapi jangan salah kalau dalam pekerjaan. Semua harus sesuai standard hidupnya. Lihat lah kami, pintar begini karena dulu sering kena maki suami Yu.” Ayu meraih tangannya, menepuk nya pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


“Sekarang sudah tidak suka marah kah?”


“Kadang, kalau kami melakukan pekerjaan yang menurut dia hasilnya tidak memuaskan. Tapi kata-katanya lebih halus dan lebih bisa diterima. Dia banyak berubah.” Ayu sumber kebaikan yang bisa membuatnya menjadi atasan yang begitu karyawannya kagumi saat ini.


“Syukur lah kalau suami ku banya berubah. Aku juga dulu takut, dia seram kalau sudah melotot.” Mereka terkikik bersama.


Hmmmmm.....hhmmmmmm......


“Hay Dad....sudah selesai meetingnya?” Malik mengangguk. Tanpa malu dia mencium kening Ayuna di depan para karyawannya.



“Kalian kalau sudah membicarakan ku seru sekali. Sudah makan Bu Rina?” Yang di tanya mengangguk malu-malu. Tertangkap basah.


“Sudah Pak, saya duluan ya Yu. Dadah anak cantik.” Menghindari teguran yang tidak penting dan hanya akan memancing emosi.


“Aku juga ya Bu. Selamat makan Pak Malik.” Yang lain juga menyusul, menyisakan Ayuna dan Malik bersama Putri mereka. Ayu tersenyum, suaminya begitu baik. Padahal dia bisa saja marah dan menegur karyawan nya tadi. Ahhhh.....memang Malik banyak berubah.


“Jangan lihat Daddy terlalu manis Mom, nanti Daddy bisa cium kamu di depan umum.” Ayu memukul lengan Malik pelan. Malik hanya tertawa, dia sedang menikmati makan siangnya yang terasa lebih nikmat karena ditemani semestanya.


Ponselnya tidak lama berdering, Malik menaruh sendok dan garpunya kemudian mengangkat panggilan telponnya seger.



Suara tangis dari ponsel Malik membuat Ayu menatap Malik penuh tanda tanya, khawatir dengan keadaan Aleta yang memang kehamilannya diberi begitu banyak ujian. Tubuhnya harus banyak mengalami sakit dan beberapa kali di rawat karena kehamilannya.


Malik : Kenapa? Bicara dulu Al, jangan menangis begitu!


Aldo : Aleta Bos, dia harus operasi. Bagaimana ini Bos.


Aldo terdengar sangat pilu, Malik tahu sekali bagaimana perasaan Aldo saat ini. Dirinya sudah dua kali menghadapi situasi menegangkan seperti ini.


Malik : Kondisi Aleta bagaimana? Dia tidak apa-apa kan Al?


Aldo : Dia tentu saja kesakitan Bos, kau ini bodoh sekali.


Ayu ingin tertawa mendengar umpatan dari mulut Aldo. Menggeleng meminta Malik tidak membalas perkataan Aldo yang begitu kasar. Malik menarik nafasnya panjang, mencoba untuk tidak terpancing karena Aldo tengah panik.


Malik : Sekarang saya jalan ke sana, minta orang rumah sakit siapkan ruangan ku Al, aku bawa Baby dan Ayuna.


Aldo : Tidak bisakah minta sendiri, aku tidak bisa meninggalkan Aleta.

__ADS_1


Suara Aldo yang begitu keras membuat Malik menelan salivannya kasar. Menertawakan dirinya sendiri yang tidak boleh marah dalam situasi seperti ini.


Malik : Ya sudah, saya kerjakan semuanya sendiri. Saya ke sana sekarang Al.


Malik menutup panggilan telponnya. “Kalau tidak sedang panik begini, sudah aku pastikan kau ku pecat Aldo.” Mengumpat manusia yang jelas-jelas tidak akan mendengarnya.


Ayu meraih tangan suaminya, dia sekarang sudah bisa memposisikan dirinya. Tidak menuruti ego dan emosinya. Bangga sekali Ayu padanya. “Aku tidak sabar melihat Putri Aldo Kak, dia pasti cantik seperti Aleta.” Malik mengangguk.


Ayu memang sangat suka melihat wajah Aleta. Menurutnya dia adalah wanita cantik yang benar-benar Tuhan ciptakan secara berbeda, cantiknya begitu natural dan indah.


Padahal Ayuna nya tidak kalah cantik, tapi bisa-bisanya dia tidak sadar dan malah mengagumi kecantikan wanita lain. Malik sampai heran dengan cara Ayu mengagumi wanita lain yang sama cantiknya dengan dirinya.



Malik sedang berdiri menenangkan Aldo yang tidak berhenti menangis. Menepuk pelan punggungnya mencoba memberikannya ketenangan. Ayu saat ini menunggu di ruangan Sarah, tidak mau di ruangan milik Malik karena berada di lantai paling atas dan sepi.


Malik melarangnya berada di dekat Aldo yang sedang tidak baik-baik saja. Ayu mudah ikut menangis melihat orang yang di sayanginya sedih.


“Jangan menangis Al, kau membuat ku bingung.” Aldo tidak mendengarkan Malik, dia sibuk dengan perasannya yang bercampur aduk tidak karuan.


“Kenapa mereka melarang ku masuk Bos? Aku kan ingin ada di sisi Istriku!” Kesalnya yang di usir dari ruang operasi karena membuat Sarah jengkel. Malik hanya tersenyum.


Dirinya juga sama, suka di usir dari ruangan karena membuat para Dokter menjadi terganggu dengan tingkah kekanakan yang muncul tidak bisa di kontrol.


“Kau ini Bos. Tidak membantu sama sekali!” Aldo berdiri, mondar mandir menunggu di depan ruang operasi yang Malik tahu masih lama prosesnya. Aleta belum lama masuk ke sana.



Mau bicara apapun tidak akan ada efeknya, Malik sudah tahu rasanya saat di hadapkan dengan kondisi seperti yang Aldo hadapi saat ini. Semua dunianya menumpuk di atas kepalanya, segala macam pikiran buruk berseliweran menambah gundah yang begitu menyiksa jiwa dan raga.


Lama sekali, hampir enam puluh menit mereka menunggu di depan ruang operasi yang akhirnya terbuka. Dokter keluar, Aldo yang sudah lemas mendekat di temani Malik yang juga hari ini sangat manis pada sekertaris kesayangannya.


“Silahkan masuk Pak Aldo, sudah bisa dilihat Istri dan Anak cantiknya.” Sarah mempersilahkan Aldo masuk.


Aldo tidak bisa bicara apapun mendengar keduanya baik-baik saja. Malik yang merangkul Sarah, mengusap keringat yang membasahi kening Sarah menggunakan saputangannya dengan lembut. “Terimakasih sayang. Aldo akhirnya lega, kasihan dia menangis seharian.” Sarah tertawa.


“Dia banyak belajar dari dirimu Al. Sama persis, aku sampai mengusirnya karena dia sangat menyebalkan.” Malik tertawa, sesuai dengan dugaannya saat melihat Aldo berdiri di depan ruang operasi begitu gusar.


Aldo keluar menggendong bayi kecil yang begitu cantik, wajahnya persis Aleta. Suara tangisnya lirih sekali, Malik terharu melihat Aldo yang dulu sangat polos, kecil dan suka membantah dirinya telah menjadi seorang Ayah.


__ADS_1


“Selamat datang Baby Girl, panggil aku Daddy ya Nak.” Malik berucap begitu manis, Aldo terlihat sangat bahagia. Penantiannya tergantikan saat melihat malaikat kecilnya menangis di dalam dekapanny. “Selamat Al, kau akhirnya jadi seorang Ayah.” Aldo mengangguk penuh rasa haru.


__ADS_2