Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Anak-Anak Hebat


__ADS_3

Sarah yang menemani anak-anak tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk anak-anak nya. Meski waktu makan malam sudah sedikit terlambat. Sarah dengan keterbatasannya mencoba memasak masakan andalan yang selalu anak-anaknya sukai.



Sarah tidak memasak sendirian, dirinya dibantu Rey yang tidak dibiarkan Sarah merubah banyak masakan nya yang selalu tidak sempurna dimata Rey. Menyilangkan kedua tangannya memperhatikan Sarah yang tengah bekerja keras.


Bibir Rey sesekali terangkat sudutnya merasa lucu, dia memperhatikan tangan Sarah yang begitu kaku menyentuh peralatan dapur. Karena hadir nya seperti tidak dibutuhkan, Rey akhirnya memutar tubuhnya. Membuka isi kulkas yang cukup penuh dan mengeluarkan beberapa buah, membuat jus untuk anak-anak yang butuh banyak asupan nutrisi.


Rey sedang tidak mematuhi aturan yang dirinya buat untuk tidak makan di tengah malam. Tubuh butuh istirahat dan tidak boleh mengkonsumsi makanan berat karena tidak baik untuk kesehatan tubuh kita.



Sesekali Rey menggoda Sarah yang terus membuka tutup panci berulang kali, mencicipi masakan berulang kali dengan wajah yang sulit di artikan. Sarah senang Rey membuat dirinya nyaman dan tidak merasa tertekan menenangkan anak-anaknya yang tengah khawatir pada Mommy nya. Susana rumah lebih nyaman karena anak-anak duduk dengan tenang di ruang tengah menuggu makanan mereka siap.


Mereka banyak bercerita bagaimana pengalaman hidup yang begitu rumit namun berhasil mereka lalui. Sarah bangga sekali karena mereka tetap kompak dan kokoh berdiri melawan setiap badai yang hadir.


Tidak di pungkiri terkadang mereka kelelahan, ingin menyerah dan ingin menghilang untuk menenangkan diri dari segala kerikil tajam yang seolah dihamburkan untuk mereka lalui dengan hati-hati satu persatu.


Mereka dapat bonus keberlimpahan harta benda, namun mereka juga diberikan ujian hidup yang tidak mudah. Banyak orang jahat yang iri dengan pencapaian mereka dan ingin merusak semua yang sudah mereka bangun dengan susah payah. Menyerang kelemahan demi kelemahan untuk menghancurkan istana yang sudah mereka bangun dengan kokoh.



"Hey....kenapa melamun?" Tanya Mahes yang duduk bersandar memeluk Adik nya yang masih syok dengan kejadian sore tadi. Mahes menggenggam tangan Ranu yang dingin, tersenyum pada adik nya yang sangat hebat.


"Kangen Mommy." Bibir nya manyun dan mimik mukanya terlihat sedih. Mahes meraih tubuh Ranu dan memeluknya. “Abang ingin di dekat Mommy Kak.” Ucapnya lagi dengan penuh kesedihan. Mahes merasakan hal yang sama namun dirinya harus kuat demi Ranu yang butuh sandaran saat ini.


Mahes mengeratkan pelukannya. Ranu ketakutan saat melihat Mommy nya tidak sadarkan diri, takut kehilangan di saat dirinya masih sangat membutuhkan Mommy di sisinya. Ranu gemetaran sampai dirinya yang tidak sadarkan diri sempat bermimpi buruk.


"Kakak juga kangen Dek, besok kita bangun pagi dan ke rumah sakit yah. Papah sudah berjanji akan antar kita." Ranu hanya menunduk penuh kesedihan.


"Mommy ok kan Kak? Baby di perut Mommy bagaimana?" Tanya Ranu memberanikan diri. Meski dirinya takut dengan jawaban yang akan di dapatkan, Ranu malah jauh lebih khawatir karena tidak tahu keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


Mahes sendiri tidak tahu bagaimana kondisi Mommy yang sebenarnya, dirinya langsung di larikan ke ruang pemeriksaan untuk memastikan jika kondisinya baik-baik saja. Mahes masuk ke kamar Mommy nya setelah semua sudah beres. Yang dirinya lihat hanya Mommy nya yang tengah tidur dengan nyaman.


"Mommy ok sayang." Jawab Sarah yang melihat Mahes juga bingung harus menjawab apa., Sarah merentangkan kedua tangannya. "Sini peluk." Ranu memeluk Sarah dengan nyaman. Sarah membelai dengan penuh kelembutan surai Ranu yang hitam bergelombang. "Mommy dalam kondisi yang sangat baik, Baby juga aman di dalam perut Mommy.” Sarah menghela nafasnya panjang. “Kabarnya Mommy kalian bisa sehebat ini karena punya anak-anak yang hebat seperti kalian." Ranu mendusel di pelukkan Sarah.


Mahes ikut memeluk Ranu, kini Ranu di apit oleh pelukkan Sarah dan Mahesa. Ranu kini tengah menangis dengan nyaman tanpa rasa malu, dirinya meluapkan segala sesak yang sejak tadi di tahan.


"Abang takut. Abang takut Mih." Sarah tahu Putra kecilnya begitu ketakutan. "Sorry....tapi Abang tidak bisa menahan diri." Sarah tersenyum. Membiarkan Ranu meluapkan tangisnya.


"Kakak juga Mih. Tidak mau kehilangan Mommy ku satu-satunya." Kedua Putra nya sedang menjadi bocah kecil yang manja.


"Sudah lama sekali Mamih tidak lihat kalian menangis seperti ini. Sering-sering ya Nak, datang mengadu pada Mamih jika kalian kesulitan. Mamih akan selalu ada untuk kalian." Sarah lega sekali mereka tidak diam saja. Memang harus di ungkapkan jika punya perasaan sedih dalam hati, jangan dipendam sendiri.


Rey memperhatikan dari dapur tempatnya berdiri. Beruntung sekali anak-anak dari Malik dan Adam begitu dekat dengan dirinya dan Anna. Mengobati rasa kecewa mereka yang tidak bisa memilik keturunan. Harapan mereka begitu kecil, Anna di vonis sulit memiliki keturunan setelah mereka menikah lima tahun lamanya.


Awalnya Rey tidak mau memeriksakan kondisi dirinya dan Anna, karena diam-diam Rey sudah mengetahui kondisi dirinya baik-baik saja karena melakukan berbagai pemeriksaan. Itu pun saran dari Adam yang ingin mengobati jika memang masalahnya ada pada Rey. Melakukannya diam-diam agar tidak menyinggung perasaan Anna yang lembut.


Hasilnya baik, kondisi Rey tidak ada masalah dan sehat. Rey menjadi semakin takut jika Anna masih memaksa untuk melakukan pemeriksaan, dirinya khawatir bagaimana Anna bisa menerima kondisi yang terburuk yang Dokter sampaikan nanti.


Anna memaksa, dirinya ingin tahu lebih dalam akan kondisi kesehatannya. Dan benar saja, Anna begitu terpuruk saat tahu dirinya tidak bisa memberikan keturunan untuk Rey. Hancur sampai Anna harus melewati penanganan khusus sampai lukanya bisa diterima. Cukup lama mengobati lukanya, Anna banyak menyalahkan dirinya.


Beruntung anak-anak selalu setia menemani Anna yang tengah menjalani perawatan melawan sakitnya. Ranu dan Mahesa yang perlahan berhasil membalut luka Anna. Hadirnya mereka membuat Anna yakin dirinya dicintai oleh anak-anak yang selalu merawatnya dengan tulus.


Rey menyeka sudut matanya yang berair. Tidak mudah untuk dirinya dan Anna melalui semua ini, dirinya beruntung punya keluarga yang begitu mendukung dan terus membantunya untuk pulih. Rey tidak ingin lagi protes, dirinya menerima semua yang Tuhan sudah takdirkan.


***


Malik tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun, dirinya masih begitu khawatir meski Adam sudah berulang kali menjelaskan jika Ayuna hanya sedang tidur. Malik merasa belum tenang, dadanya masih bergemuruh penuh khawatir.



“Al...Al...” Suara Adam yang baru bangun membuyarkan lamunan Malik. Dirinya masih setia memperhatikan wajah Ayuna yang terlelap. “Kau tidak tidur?” Tanya Adam yang sudah tahu jawabannya.

__ADS_1


“Aku sudah periksa suhu tubuhnya Dam, Ayu tidak demam.” Adam menggelengkan kepalanya saat pertanyaan dan jawaban tidak nyambung.


“Sekarang kau harus tidur. Biarkan Ayu istirahat dengan nyaman dan kau juga Al.” Malik menolak.


Tok...tok...tok...


Oji dan Jofan masuk ke ruangan Ayu. Malik dengan cepat menghampiri mereka yang meminta Malik fokus pada Ayuna dan anak-anak. Baskoro mereka yang mengambil alih.


“Bagimana? Kalian berhasil menemukan Baskoro? Apa dia sudah kalian serahkan pada polisi? Dimana Baskoro sekarang?” Oji menepuk pundak Malik.


“Sudah aku katakan jangan mengurusinya, jangan kotori tangan mu dengan urusan-urusan sepele seperti ini.” Malik menarik kerah baju Oji. Jofan reflek menahan tangan malik agar tidak menarik lebih keras lagi.


“Sepele kau bilang! Lihat perbuatannya, dia berhasil membuat Ayu kesakitan. Aku tidak tahu apa jadinya jika Ayu dan anak-anak tidak selamat. Ini bukan hal sepele!” Oji hanya menggeleng tidak percaya Malik masih di kuasai dengan emosi.


“Kalau Ayu tidak selamat, kau juga akan mati di tanganku.” Malik melepaskan dengan kasar cengkeraman tangannya. “Bagaimana kondisinya?” Adam yang duduk dengan nyaman di kursinya menyaksikan mereka berdebat berdiri menghampiri.


“Ayu sejauh ini baik-baik saja. Tapi akan menjadi masalah kalau dia melihat kalian bertengkar seperti tadi. Kekanakan sekali kalian ini.” Cibir Adam yang kesal dengan emosi mereka yang mudah sekali tersulut.


“Kalau begitu aku pulang, Baskoro sudah ada di tempat seharusnya. Jangan megurusinya lagi, karena aku sudah mengurusnya.” Oji berbalik namun langkahnya terhenti saat suara rintihan Ayu yang ketakutan terdengar jelas di telinganya.


“Jangan...ku mohon...jangan sakiti aku....tolong...” Malik memeluk erat tubuh Ayu yang gemetar ketakutan.


“Sayang...hey...Mom....bangun Mom. Ayuna...” Ayu terbangun dengan terkejut. Terisak karena mimpi buruk nya yang baru saja dirinya alami masih begitu jelas. “Daddy di sini sayang, tenang sayang.”


“Adek...tenang yah, Mas jaga in Adek di sini sayang.” Ayu masih terisak di pelukkan Malik. Sesak sekali suara yang keluar dari mulutnya.


“Aku mau pulang Kak, aku tidak mau di sini. Pelase.” Malik menatap Adam. Kasihan sekali melihat Ayuna nya memohon, tangannya gemetar hebat. Dia masih sangat ketakutan dan tidak baik-baik saja seperti kelihatannya.


“Boleh, pulang lah. Istirahat di rumah, besok aku datang memeriksa mu ya Dek.” Ayu mengangguk mengiyakan permintaan Adam. Adam perlahan mencopot infus yang menempel di tangan Ayu.


“Aku yang menyetir, biarkan aku yang antar kalian pulang.” Malik mengangguk setuju. “Kau...tidak usah ikut. Jaga Sandra.” Jofan tersenyum meski mendapat dorongan keras dari tangan Oji. “Jangan tersenyum menyebalkan seperti itu.” Ucap Oji dengan nada kesal padahal hatinya sangat senang, akhirnya Jofan bisa bersikap hangat pada dirinya yang begitu Jofan benci.

__ADS_1


“Tolong antar mereka dengan selamat.” Oji tidak menjawab dan bersikap cuek.


__ADS_2