Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Tidak Mau Jadi Beban


__ADS_3

Malam tadi setelah mereka dikejutkan teriakan Hanum yang berhasil membangunkan semua orang, dan berakhir mencengangkan anak-anaknya yang ternyata hadir nya Hanum sudah senyata ini. Mereka mencoba berdamai, menerima hadirnya Hanum yang akan memberikan warna baru bagi keluarga mereka.


Bahagia sekali melihat semua orang berkumpul untuk sarapan bersama, Ayuna bahkan tidak merasa mual setelah memakan dua potong roti sampai habis tidak tersisa. Wajahnya berseri penuh bahagia. Waktu-waktu seperti ini susah sekali dirinya dapatkan.


“Mommy....why smiling like this?” Ayu yang tertangkap basah mata Ranu merona, semakin tersipu malu. “Mommy Happy?” Ayu mengangguk.


“Mommy suka lihat kalian semua ada di depan mata Mommy, makan dengan lahap dan menikmati pagi kita seperti ini.” Senyum di bibirnya nyata, menunjukkan rasa bahagiaya yang tidak bisa lagi di ukur dengan angka.


“Mommy must be happy. I Love you Mom.” Mahesa mengecup puncak kepala Mommy nya. Masih ingat malam tadi bagaimana suara Mommy menggema karena begitu mencintai dirinya.


“I love you to Mahesa Putra Adam. My son.” Senyum Mommy nya membuat Mahesa yakin akan cinta kasih nya yang tidak akan bisa tergantikan dengan apapun di dunia ini.


Hanum yang baru saja selesai mandi keluar dari kamarnya, ruang makan sudah sangat ramai penuh canda tawa. Semua orang nampak tersenyum hangat menyambutnya. Ada Mahesa dan Ranu juga, Hanum masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Kak Hanum. Sini, kita sarapan sama-sama." Ajak Ranu degan ramah. Hanum mendekat. Senang sekali di sambut dengan hangat.


"Hay.....Hanum." Ayu mengulurkan tangannya. "Panggil aku Mommy." Ayu mengambil roti. "Hanum suka selai rasa apa Nak?" Hanum masih kikuk.


"Apa saja Tan....ehhhh.... maksudku Mom...my." canggung sekali.


"Coklat ya Nak." Ayu mengoleskan selai merata di satu sisi roti tawar. "Ayo makan, jangan sungkan sayang." Mata Ayuna menangkap curi-curi pandang Hanum pada Mahesa yang duduk di seberangnya.


"Diman Daddy Mom?" Tanya Mahes yang tidak melihat keberadaan Daddy nya. Ayuna merasa Mahesa sedang menghindari tatapan mata Hanum, Putra nya juga terlihat canggung dan tidak nyaman.


"Daddy istirahat Nak, Mommy paksa karena Daddy juga sedikit demam. Kecapean Daddy nya." Ayu merasa Mahesa tidak nyaman dengan keberadaan Hanum.


Ada apa sebenarnya? Ayu takut sekali Putranya memendam perasannya. Ayu menatap penuh tanda tanya dan hanya di balas senyuman manis dari bilah bibir Mahesa.


“Kak....mau ngobrol dengan Mommy tidak?” Bisik Ayu setelah mendudukan dirinya di sisi Mahesa dan memeluknya. “Mommy rindu bicara berdua dengan Kaka.” Mahes yang tahu Mommynya hanya khawatir, tersenyum. Mahes menatap lekat dua bola mata tercantik kesukannya kemudian mengecup kening Mommy penuh cinta.


“Kakak harus cepat berangkat. Jadi bicaranya nanti ya Mom. Ada kelas yang harus Kakak hadiri pagi ini sebelum olimpiade.” Ayu baru ingat Putranya sedang belajar giat demi kemenangan olimpiade yang akan di ikutinya mewakili Indonesia di tingkat Asia.


“Jadi ya Nak? Kapan berangkat?” Mahes mengecup pipi Mommy nya kiri dan kanan. Wanita yang paling tidak bisa jauh dari anak-anaknya.


“Masih lama, dua bulan lagi. Dukung anak mu ya Mom, jangan sedih. Kakak hanya pergi olimpiade sebentar saja.” Ayu tersenyum. Memukul manja tangan Mahesa yang suka sekali menggodanya.


“Bukan sedih, Mommy bangga.” Ayu mengepalkan tangannya di depan dada. Mahesa senyum-senyum gemas melihat tingkah Mommy nya.

__ADS_1


“Aduh....aduh....yang lain ngontrak yah. Bicaranya cuma berdua saja seperti itu.” Ledek Melan yang senang melihat keduanya begitu dekat. “Aku jalan yah, ada tamu dari LA.” Melan menyambar tasnya. Bahkan Melan tidak sempat menyentuh rotinya.


“Sarapan dulu Mel, nanti masuk angin.” Pinta Ayu yang tidak di dengar kan oleh Melan. Tangan dan matanya fokus pada ponsel.


"Aunt, sarapan dulu." Ucap Ranu sedikit keras.


“Tidak sempat sayang, mereka sebentar lagi mendarat dan aku harus siapkan bahan presentasi di bantu team. Aku jalan yah.” Mahes memasukkan roti yang sudah Mommy nya buat ke dalam wadah.


“Aku ikut Aunt.” Mahes juga berdiri dengan cepat, terlihat sekali Mahesa sedang menghindari seseorang.” Memeluk semua orang, lalu, Mahesa membubuhkan tangannya di kepala Hanum meski awalnya merasa ragu. Sandra, Melan dan Ayu saling pandang gemas. “Aku pergi Mom.” Mengecup puncak kepala Mommy nya yang masih senyum-senyum menatapnya.


“Hati-hati Aunty sayang, pelan-pelan bawa mobilnya Mel, jaga anakku ya Mel.” Melan mengacungkan jempolnya. Menggandeng Mahesa berjalan beriringan. Sandra hanya senyum-senyum membayangkan masa remajanya dulu bersama Jofan.


“Hanum, nanti berangkat dengan Abang ya Nak. Nanti Papih yang antar, seragam Hanum sudah Mommy siapkan.” Ayu menunjuk seragam Hanum yang tergantung diruang keluarga. “Habiskan dulu sarapannya, setelah itu siapa-siap sayang.”


“Terimakasih Mom.” Mata Hanum berkaca-kaca, ingat sekali dengan belaian lembut tangan Mommy kesayangannya. Hanum mengusak matanya cepat, tidak mau cengeng.


Hanum menahan segala rasa sedihnya, takut sekali hadirnya hanya akan menjadi beban bagi keluarga Paman yang sudah seperti pahlawan menyelamatkan hidupnya dari kehancuran. Hanum ingin terlihat baik-baik saja, meski dirinya sungguh sangat hancur saat ini. Melepaskan orang yang paling dicintai tidak semudah itu, hatinya sakit.


“Kak, jangan khawatir. Nanti Abang antar sampai ke kelas.” Ranu menyadari sikap dingin Kakak nya, Mahesa selalu hangat pada Hanum. Tapi hari ini Mahes seolah menyimpan perasaan lain. Ranu yang bingung mencoba tidak berpihak, ingin membuat Hanum tetap merasa nyaman.


“Mandi dulu Mas, kasihan Sandra kebauan.” Ledek Ayu gemas melihat Jofan bergelayut manja. Akhirnya mereka bisa bersatu.


“Aku wangi dek, Mas mu selalu wangi dalam keadaan apapun.” Jofan beranjak dari duduknya menuju sofa. Matanya masih sangat lengket.


“Sarapan dulu Mas.” Sandra menatap punggung Jofan yang menjauh. “San, sepertinya Mas juga kurang sehat.” Ayu menyiapkan air teh madu agar bisa Jofan minum. Sandra membawanya karena tubuh Jofan terlihat lesu, harus segera di isi perutnya supaya membaik.



“Kenapa sayang?Hmmmmm.....?” Sandra menempelkan punggung tangannya di kening Jofan. “Capek ya Ay?” Jofan menarik tubuh Sandra memeluknya. Sandra terjatuh di atas tubuh Jofan, Sandra beringsut membetulkan posisi tubuhnya agar tidak jatuh.


“Nyaman sekali San.” Jofan mendekap tubuh Sandra dengan erat. Sofa cukup sempit menampung tubuh mereka berdua.


“Ada anak-anak Ay, lepaskan. Nanti istirahat ya, pulang dari sini.” Jofan membuka matanya, lelahnya sedikit berkurang. “Aku siap-siap dulu yah.” Sandra mengecup kening Jofan sayang. Laki-lakinya sedang butuh sentuhan lembut tangannya.


"Aku ke kamar ya Yu, aku ingin periksa keadaan Malik. Semalam dia bilang tidak enak badan." Ayu mengangguk dan duduk kembali di ruang makan menemani Ranu dan Hanum yang masih sarapan.


"Mommy, Daddy pasti baik-baik saja. Don't worry, everything will be fine." Ayu menatap lekat mata Putranya yang sedang mencoba menghiburnya. Tangannya tidak berhenti memberikan sentuhan lembut pada punggunya.

__ADS_1


"Paman kelelahan urusi Hanum ya Tan....ehhhh....Mom?" Ayu mengalihkan tatapan penuh sayangnya pada Hanum. Ayu meraih tangan Hanum.


"Hanum jangan pernah menyalahkan diri Hanum, semua mencintai Hanum. Kamu di perjuangkan untuk bisa sampai di sini Nak." Mata Hanum berkaca-kaca.


"Sorry...Hanum mohon, maaf kan Hanum karena tiba-tiba hadir di keluarga kalian." Sesak dada Hanum. Dia merasa hangat oleh sentuhan tangan Ayuna.


Sungguh tidak ada yang membuatnya tidak nyaman, Hanum hanya merasa bersalah hadir dengan tiba-tiba dalam kehidupan mereka.


Ayu mendekat duduk di sebelah Hanum, merengkuh tubuh kurus Hanum ke dalam pelukkannya. Memberikan sentuhan lembut mencoba memberikan Hanum ketenangan. Mengecup puncak kepala Hanum penuh cinta, Ayu mencoba memberikan kehangatan yang sering dirinya terima dari semua orang.


Lembut sekali sampai sentuhannya sampai ke hati Hanum. Terharu dan bahagia karena dirinya dipertemukan dengan wanita yang sering Mahesa dan Ranu sombongkan kebaikannya.


"Mommy tau Nak, Mommy tau Hanum tidak baik-baik saja. Menangis sayang, jangan di tahan. Kehilangan orang yang paling kita sayangi memang sangat sulit. Hanum boleh menangis sayang." Hanum terisak di pelukan Ayuna. Mereka tidak sadar ada mata-mata yang ikut haru melihat interaksi keduanya.


Ranu menatap keduanya dengan penuh sayang, Mommy menerima Hanum meski hatinya juga pasti tidak semudah itu menerima. Dia hanya selalu menjadi orang baik dan tidak pernah berubah. Ranu selalu bangga punya Ayuna sebagai Mommy nya.


Setelah mengantar Hanum dan Ranu ke dalam mobil, Ayuna kini sudah kembali masuk, rumah sudah sepi. Hanya ada dirinya dan Malik yang memutuskan istirahat karena tubuhnya sudah protes meminta istirahat. Demamnya sudah sedikit turun, Ayu lega karena suaminya kembali dengan selamat.


"Ayuna....." Ayu hanya tersenyum mendengar namanya di panggil. "Ayuna." Ayu menidurkan dirinya di sisi Malik. Tubuhnya mengeluarkan hawa panas yang bisa Ayu rasakan menerpa kulitnya.


Ayu memeluk Malik erat, setelahnya mengendurkan pelukkannya, tidak diperbolehkan terlalu dekat. Adam melarangnya, takut Ayuna tertular demam suaminya. Ayu kini hanya memegangi tangan suaminya, menggenggamnya erat.


Semua yang di larang dirinya lakukan pasti untuk kebaikannya, Ayu harus menjaga sehatnya agar semua orang bisa tetap waras. Jika dirinya tumbang, semuanya menjadi hanya fokus pada dirinya. Pekerjaan mereka berantakan dan tidak akan mau meninggalkan dirinya demi hal lain. Ayu merasa dituntut untuk selalu sehat demi kewarasan orang-orang yang selalu mencintainya.


Pagi ini menguras banyak tenaga, Ayuna sudah mencoba berdamai dengan keadaan. Tidak mau lagi punya prasangka buruk karena semua yang mereka lakukan demi bahagianya.


Tapi sungguh hati kecilnya masih menyimpan sedikit kecewa, sulit sekali menghapusnya. Setiap kali ingat bagaimana mereka kesulitan tapi menutup semua darinya, Ayu merasa tidak punya arti bagi mereka, dirinya bukan rumah nyaman.


Ponsel Malik berdering, Ayu meraihnya dan tidak menerima panggilan karena nomor tidak di kenal. Berdering lagi dengan nomor yang sama. Ayu tetap mengabaikannya, tidak mau mencampuri urusan suaminya.


Tring......


Serahkan Hanum, atau aku akan hancurkan semua orang-orang berhargamu.


Ayu membeku membaca notifikasi pesan yang masuk. Menatap wajah suaminya yang kelelahan, banyak sekali orang yang ingin menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Ayu menangis mengingat banyak perjuangan yang Malik lakukan demi damainya keluarga mereka.


Ayu terisak, dadanya sesak mengingat lelahnya Malik, mengingat banyaknya rintangan dan hantaman dari berbagai sisi. Ayu merutuki egoisnya yang masih memendam kesal atas diam nya Malik menghadapi semua masalah. Padahal suaminya berjuang menjaga damai hati wanita kesayangannya. Ayu menyesali sikapnya. Menyesal yang begitu dalam.

__ADS_1


__ADS_2