Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Obsesi


__ADS_3

“Daddy ada urusan sebentar ya sayang, di rumah sama Mas mu dulu ya sayang.” Ayu mengangguk, tangannya sedang sibuk menepuk punggung Baby yang sudah mulai mengantuk di dalam pelukkannya.


“Jangan pulang terlalu malam ya Dad, Mommy tidak mau sendirian.” Malik berjongkok di depan Ayu, menampilkan senyum hangatnya.



“Jangan takut sayang. Daddy akan pastikan kejadian seperti kemarin tidak akan pernah terjadi lagi ya Mom.” Ayu menatap Malik penuh kesedihan. Dia masih sesak mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Takut sekali karena dirinya tidak mau kehilangan siapapun lagi.


Sudah cukup dirinya kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan yang begitu janggal. Meski Malik tidak menjelaskan bagaimana kedua orang tuanya kecelakaan, Ayu tahu mereke meninggal karena perbuatan orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin menghancurkan keluarganya.


“Memikirkan apa sayang?” Malik mengusap pipi Ayu lembut. “Apa Daddy tidak usah pergi saja?” Ayu menggeleng. “Mommy yakin Daddy bisa tinggalkan sebentar?” Ayu mengangguk, kini senyumnya sudah tersungging dengan manis.


“Jangan ragu melangkah Dad, Mommy akan selalu aman. Mommy tahu kalian berusaha keras menjaga ku dan anak-anak.” Ayu merentangkan tangan kirinya yang bebas. “Hug me Dad.” Malik mengecup bibir Ayu sekilas sebelum memeluknya dengan erat.


“Hmmmmmm.......Daddy akan sangat hancur kalau kalian terluka. Jangan pernah sakit dan terluka ya Mom. Kau harus baik-baik saja agar Daddy waras sayang.” Ayu mengecupi pundak suaminya, laki-laki yang sangat berjasa menjaga dirinya dan keluarganya dengan begitu tulus.


“Sekarang pergilah, jangan pulang terlalu larut ya Dad.” Malik mengangguk. Sekali lagi mengecup kening Ayu dan Baby sebelum pergi.


Rey dan Anna juga hari ini punya tugas mengantarkan Hanum melihat beberapa kampus yang cocok dengan jurusan yang ingin dirinya tempuh. Keduanya keluar dari kamar, duduk di ruangan yang sama dengan Ayu menunggu Hanum yang belum keluar dari kamarnya.


“Baby bobo sayang?” Ayu mengangguk. “Sini Kakak taruh di Box nya sayang.” Ayu menyerahkan Baby pelan-pelan di gendongan Rey. Ayu senyum-senyum menatap punggung Rey yang begitu mencintainya dengan tulus.


“Kalau kita punya sendiri aku dan Kak Rey akan sangat bahagia Yu.” Ayu menoleh, Kak Anna masih berharap bisa memilikinya. Ayu tidak bisa berkata-kata. “Hahahaha.....aku selalu saja memikirkan yang tidak penting.” Tidak lama Hanum keluar, Ayu lega karena tidak harus mendengar lagi kegundahan hati Kak Anna yang tidak bisa dirinya bantu.


“Apa gadis cantik ini sudah siap mencari kampus?” Hanum tersenyum mendengar ucapan Papah Rey.



“Hanum siap Pah. Hanum pergi ya Mom. Hati-hati di rumah Mommy.” Ayu mengangguk, manis sekali gadis kcilnya.


“Ayo sayang.” Rey mengulurkan tangannya pada Anna. Mata Anna masih menatap lekat box bayi yang berada di ruang keluarga. “Sayang....” Anna terkesiap, meraih tangan Rey, segera bangun dan menepis rasa sedih yang sering sekali datang meski dirinya berusaha keras mengusirnya jauh-jauh.


“Kak Anna pergi ya sayang. Jofan sebentar lagi kembali dari supermarket. Sekarang sarapan dulu supaya tenaga mu full menjaga Baby sayang.” Ayu mengangguk, masih terngiang ucapan Kak Anna yang begitu menyayat hatinya.

__ADS_1


Ayu berdiri, memeluk Anna dengan erat. “Anak-anak ku akan bisa Kak Anna urus sampai mereka besar Kak. Mereka akan sangat mencintai Kak Anna. Seperti Abang dan Kakak, mereka pasti merasakan ketulusan Mamah nya.” Rey tidak menyadari kalau Anna sedang merasa terpuruk.


“Are you ok sayang?” Anna tersenyum pada Rey, dia akan sangat khawatir jika kesedihan yang seperti ini menyelimuti dirinya. “Sorry aku tidak tahu kalau hati mu sedang sakit sayang.” Tangan Rey membelai lembut surai Anna yang tergerai.


“Bosan ah, aku tidak mau sedih-sedih lagi. Ayo sekarang kita cari kampus untuk putri ku.” Anna menggandeng tangan Hanum. “Bye Mommy, jangan lupa makan sarapannya.” Anna melenggang dengan wajah yang sudah terlihat lebih nyaman.


“Kak Rey pergi sayang.” Ayu mengantar mereka sampai ke pintu depan. Tidak lama mobil milik Jofan memasuki halaman rumah, sempat berpapasan dengan mobil Kak Rey.


Ayu tertwa, Mas nya masuk menggendong boneka yang besarnya melibihi tubuhnya. Dibantu para pekerja yang ada di rumah Jofan membawanya masuk ke dalam rumah dengan susah payah.


“Huuhhhh.....ada-ada saja permintaan Ibu Hamil Love.” Jofan dengan berkeringat duduk di lantai, melepaskan penatnya setelah sepagi ini dikerjai Sandra mencari boneka beruang coklat sebesar ukuran manusia.



“Hahahaha.....maaf aku tertawa, tapi kau lucu sekali Mas. Dimana bumilnya?” Tanya Ayu yang tidak bisa berhenti tertawa. Ayu menarik beberapa lembar tissue mengusap keringat yang membasahi kening putih Mas nya.


“Ahhhhhhh.....boneka cantik ku.” Sandra duduk dengan cantik di sisi boneka yang sudah di letakkan Jofan di ruang keluarga. “Makasih suami ku sayang.” Tingkah menggemaskanya membuat lelah yang mendera Jofan hilang. Dia ikut tersenyum melihat raut bahagia di wajah Sandra, mengangguk dengan tatapan mata yang begitu teduh penuh kasih sayang.



“Banyak kesalahan yang sudah aku perbuat. Sekarang aku sudah tahu bagaimana membuatnya nyaman dan bahagia di sisi ku.” Jofan merasa kan rumahnya begitu indah, dipenuhi dengan tawa bahagia orang-orang yang sangat dirinya sayangi.



“Mom....”Suara Ranu membuat Ayu menoleh ke arah tangga. Putra nya sudah bangun ternyata. Mata besarnya membelalak melihat Sandra dengan boneka besarnya. “Uwaahhhhhh.....boneka beruangnya besar sekali.” Ranu lari ke arah boneka yang sedang Sandra peluk-peluk. Sandra segera berdiri tidak mengijinkan Ranu memegang bonekanya. “Sedikit saja, pegang sedikit Aunt.” Sandra menggeleng.


“Don’t touch Bang. Punya Aunty.” Ranu dengan jahil memeluk boneka yang jelas-jelas dilarang untuk dirinya sentuh. “Abannggggg........iiiihhhhhhh......jangan pegang-pegang Abang.” Tingkah keduanya membuat Ayu dan Jofan ikut tertawa.


***


“Sebenarnya apa salah ku Pak Malik. Sepertinya aku tidak punya urusan apapun dengan mu.” Seorang laki-laki yang cukup muda duduk di hadapan Malik. Ada Oji dan Hans yang menemaninya saat ini bersama Aldo.


“"Kau sudah mengusik keluargaku brengsek. Berani sekali bicara tidak sopan seperti itu!" Malik tersenyum kesal. Anak-anak muda jaman sekarang memang mudah sekali menggunakan kekuasaan orang tua mereka untuk hal yang tidak penting.

__ADS_1


"Apa urusan kita, aku bahkan tidak pernah punya urusan dengan mu. Bisnis? Dengan Ayah ku? Kau mau menyerang ku untuk menjatuhkannya?" Malik semakin geram tidak habis pikir. Tuduhannya bahkan tidak berdasar.


Malik melempar beberapa foto yang berhasil membuat matanya hilang


fokus. Dia pasti mengenal laki-laki yang ada di dalam foto tersebut. Menelan salivannya susah payah, sudah tidak bisa lagi mengelak, ada bukti nyata yang tidak bisa dia pungkiri.


"Kau bisa jelaskan! Jangan membuatku membuang-buang waktu ku." Pelan tapi begitu tajam ucapannya. Malik menyilangkan kedua tanganya, tangannya sudah terkepal ingin menghajarnya secara brutal.


"Aku tidak mengenalnya. Sungguh......tolong lepaskan aku." Berkilah, dia tahu siapa Oji, matanya terus menatap Oji dengan penuh rasa takut. Dia lebih takut padanya daripada Malik. Oji bahkan belum bergerak dari tempatnya, tapi sudah berhasil membuatnya kepanasan.


“Kau berani membuat pernyataan yang akan membuatmu semakin sulit aku lepaskan!” Malik mencoba mengancam. “Katakan yang sebenarnya dan jangan membuatku semakin marah!” Tidak mempan, dia bahkan tidak menatap Malik sedikitpun. Matanya sibuk menatap Oji yang menatapnya tajam. Dia ketakutan, tangannya sudah bergetar hebat.


"Aku bersumpah tidak mengenalnya! Tolong lepaskan aku..... aku tidak bersalah." Teriaknya semakin keras karena ketakutan.



Oji berjalan mendekat, dengan gerakan tiba-tiba menancapkan pisau yang ada di tangannya tepat di meja yang terbuat dari kayu. Tubuh besarnya terhuyung, jatuh dari kursi yang menopang tubuhnya duduk di sana.


"Kau mau kami gunakan cara baik-baik atau kasar! Pilih sesukamu." Tubuh besarnya yang sudah terjatuh turun ke lantai, bersimpuh di kaki Oji yang menatapnya dengan tajam dan penuh dengan kebencian.


"Ampun.....aku....bukan aku yang memintanya untuk menghabisi suami Melani. Ini perbuatan Eros." Malik menatap Oji yang juga menatapnya dengan tajam. Akhirnya dia bicara yang sebenarnya.


"Kalian berkelompok? Jelaskan dengan benar." Malik mencoba bicara setenang mungkin. Dia tidak mau melewatkan satu orang pun dan ingin menyapu bersih semua orang yang saat ini masih ingin mencelakai keluarganya.


"Kami sama-sama punya tujuan ingin menghabisi suami Melani, dia tidak pantas bersanding dengan laki-laki yang tidak punya apapun." Malik kesal mendengarnya, berani sekali meremehkan adiknya.


"Kau tidak tahu siapa suami Melani?" Dia menggeleng. Jelas sekali mereka hanya anak-anak konglomerat yang salah jalan. Merasa bisa menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk mencapai tujuan mereka.


Mereka terobsesi dengan artis seperti Melani sampai rela melakukan segala cara memenuhi ambisi mereka. "Katakan siapa saja anggota kalian! Jujur dan aku akan menghukum mu lebih ringan dari yang lain." Suara berat Oji semakin membuat pelaku ketakutan. Oji dikenal ketua mafia yang begitu punya kuasa besar, jangan sampai berurusan dengannya kalau bisa.


Akhirnya dia menjelaskan dengan gamblang, mereka awalnya saling mengenal saat sama-sama menjadi fans Melani. Terobsesi memilikinya dengan saling bersaing mencoba mencuri hati Melani. Mereka ini yang sering membuat Melan merasa diteror.


Pernikahan yang terjadi begitu mendadak membuat mereka frustasi. Bisa-bisanya kehilangan idola mereka dalam sekejap. Bukan lagi sulit di gapai, Melan bahkan mengundurkan diri dari dunia yang sudah membesarkan namanya. Akan semakin sulit mereka menggali informasi tentang kehidupan Melani. Wanita yang sangat mereka sayangi meski tidak saling mengenal.

__ADS_1


Dengan obsesi yang sama akhirnya mereka membuat suatu perkumpulan, punya tujuan yang sama untuk menghancurkan Suami Melani. Ingin mengembalikan Melani ke tempat asalnya seperti seharusnya menurut mereka.


__ADS_2