Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Bawa Aku Saja


__ADS_3

Malik sedang memperhatikan istrinya yang tertidur begitu pulas, jadwal meeting paginya di undur karena Malik tidak tenang meninggalkan Ayu yang dalam benaknya tidak baik-baik saja. Malik selalu bisa merasakan jika Ayu sedang gusar dan tidak nyaman. Malik sangat peka dengan keadaan wanita kesayangannya.



Malam tadi Ayu menolak pulang, dia beralasan nyaman di rumah Mas nya yang cukup ramai. Malik tidak menaruh curiga, namun mata nya menagkap beberapa kali Ayu terlihat menarik nafasnya cukup dalam. Berusaha tenang karena Ayu tidak mengatakan apapun tentang kondisinya. Malik tidak mau berasumsi sendiri.


Meski Ayu tidak mengatakannya, Malik bisa merasakan bagaimana Ayuna mencoba terlihat baik-baik saja demi kenyamanan semua orang. Karena sering melakukannya, Malik sangat hafal gelagat tidak nyaman Ayu meski tidak di jabarkan.


Tidurnya nyenyak sekali setelah subuh tadi, Malik jadi khawatir jika dirinya pergi tanpa pamit Ayu akan mencarinya. Membangunkannya tidak mungkin dirinya lakukan, apalagi Ayu memang sedang berbadan dua dan butuh banyak istirahat.


Malik mencoba mengalihkan perhatiannya agar rasa khawatirnya sedikit berkurang. Dirinya di sebut lebay oleh semua orang tapi memang itu kenyataan yang dirinya alami saat melihat Ayuna nya kesulitan. Malik sangat merasa bersalah karena tidak bisa maksimal meluangkan waktunya.


Banyak sekali hari yang dirinya lewati tanpa melihat bagaimana Ayu menjalani hari-harinya. Sibuk dengan banyak urusan pekerjaan. Malik tenggelam dalam lamunanya. Ada kesedihan karena wanita yang dia jaga mati-matian sedang berjuang dengan cukup keras menahan kesakitan yang pasti tidak mudah di laluinya.


“Kak....” Suara Ayu membuyarkan lamunan suaminya yang sejak tadi berdiam diri di tempatnya duduk. Ayu melihat jam dan terjingkat kaget. “Kak Malik tidak kerja? Bukannya ada meeting penting pagi hari ini?” Malik masih menatap dengan penuh cinta pada pemilik hatinya. “Kak....gak lucu yah, kenapa Kak Malik masih di rumah Kak.” Ayu sedikit bicara keras karena Malik tidak menanggapinya dan hanya tersenyum.



Malik berjalan mendekati Ayu, memeluknya dengan hangat agar khawatir dan rasa bersalah yang menyelimuti Ayu hilang. “Aku ingin menjagamu sebentar saja sayang, sudah ku minta Aldo menggeser jadwal meeting agak siang sedikit.” Ayu lega sekali mendengarnya.


“Sudah lama aku tidak ikut ke kantor. Kangen anak-anak kantor Dad.” Malik membelai lembut puncak kepala Ayu, mengecup keningnya berulang kali.


“Nanti capek sayang, di rumah saja yah.” Ada sedikit kecewa, tapi Ayu mengangguk. “Atau mau ikut Kak Anna antar bekal anak-anak.” Wajahnya langsung berbinar, suntuk sekali karena Malik melarangnya terlalu banyak bergerak sejak kehamilan besarnya mulai menyulitkan dirinya bergerak dengan bebas.


“Boleh Kak?” Malik mengangguk. “Aku siap-siap kalau begitu.” Ayu beringsut dengan penuh semangat. Sesekali tidak ada salahnya membiarkan Ayu menikmati waktunya di luar sana. Malik harus sedikit longgar agar Ayu tetap merasa nyaman.


“Hati-hati Love, istriku tolong di perhatikan ya An.” Anna menggeleng, sudah berulang kali Malik mengatakannya. "Jawab love, jangan membuatku tidak mengijinkannya ikut dengan mu." Malik merengek seperti bocah kecil.


“Kalau kau tidak cepat pergi, makanan ku bisa gosong kalau kau terus menggangguku Al. Cepat pergi sana.” Anna masih sibuk dengan makanannya.



Malik tidak bergeming, dirinya masih punya waktu satu jam lagi sebelum meeting di mulai. “Aku masih punya cukup waktu ya An, jangan mengusirku.” Ana kembali fokus dengan makanannya. Repot sekali meladeni tingkah kekanakan Malik.


Anna menatap Malik tidak tega, bagaimanapun dia hanya khawatir dengan kesayangnnya. Malik murung sekali seperti anak kucing kehilangan induknya.


“Ayu akan baik-baik saja sayang, cepat pergi dan selesaikan tugas mu di kantor Al." Mendengar nya Malik merasa lega. "Aku akan menjaganya.” Teriak Anna yang melihat Malik sudah beranjak ke ruang makan.



“Apa kue ini boleh aku makan? Kelihatannya sangat enak An.” Malik mendudukan dirinya. Menatap dengan antusias ingin mencoba kue buatan Anna yang selalu enak.

__ADS_1


“Makan Al, masih ada untuk anak-anak nanti. Itu memang aku siapkan untuk mu.” Malik memakannya dengan cepat.


Ayu berjalan menghampiri suaminya yang menghebohkan rumah yang cukup kosong. Hanya ada mereka bertiga yang masih di rumah.


Malik menyodorkan potongan kue ke mulut Ayu. Rasa manis, asem dan sedikit asin menyatu dengan sempurna. Ayu sampai meminta Malik menyedokkan lagi untuknya.


“Kasih istriku kue ini juga An, dia suka.” Anna tersenyum di tempatnya.


“Nanti saja Kak Anna, aku masih belum terlalu lapar.” Ayu sungkan merepotkan Anna yang sedang menyiapkan makanan di dapur untuk makan siang anak-anak.


“Tidak lama hanya menyiakan kue Yu, sebentar.” Anna mencuci tangannya dan memberikan Ayuna dua potong kue. “Makan keduanya, anak ku yang ada di perutmu juga pasti suka.” Ayu bertepuk tangan pelan, wajahnya sangat menggemaskan.


“Thank’s Kak.” Anna kembali ke dapur, makanannya sedikit lagi siap.


“Aku berangkat ya sayang, hati-hati. Kalau kaki mu sakit bilang pada Kak Anna. Aku segera datang Mom.” Ayu mengangguk.


Kaki Ayu yang bengkak membuat Malik khawatir, tapi Adam bilang itu hal wajar. Nanti akan hilang asalkan Ayu jangan terlalu banyak beraktifitas berat yang membuat tubuhnya kelelahan.


***


“Duduk dulu ya Yu, anak-anak sepertinya belum selesai.” Ayu duduk dengan tenang. Kantin masih sangat sepi.



“Kak, aku duduk di taman saja yah.” Anna membawa tentengannya mengikuti Ayu yang berjalan cukup cepat. Wajahnya sedikit merah.


“Apa panas di sana Yu?” Ayu menggeleng. “Pelan-pelan sayang.” Anna memegang tangan Ayu takut jatuh. Ayu segera mendudukan dirinya di bangku taman. Lebih tenang, sejuk dan udara masuk dengan baik ke paru-parunya.


“Maaf Kak, aku melihat anak-anak banyak sekali jadi merasa sesak Kak. Aku di sini saja ya Kak.” Anna mengangguk, berjongkok di depannya.


“Apa mau di mobil saja?” Ide yang cukup bagus, Ayu merasa tubuhnya sangat tidak nyaman. Akhirnya dirinya mengangguk. “Ayo Kak Anna antar.” Ayu merasa sangat bersalah, dirinya membuat Anna kerepotan.


“Maaf ya Kak, aku malah membuat Kak Anna repot.” Anna tersenyum.


“Memang kalau bukan kalian yang merepotkan ku siapa lagi? Aku menikmatinya, jadi jangan sungkan. Kak Anna akan lakukan yang terbaik seperti yang selalu Malik lakukan untuk kita semua.” Ayu terharu mendengarnya.


Anna menyalakan mesin mobil, menghidupkan AC mobil dengan suhu yang cukup tinggi. Ayu butuh udara dingin agar tubuhnya segar kembali.


“Kakak pergi saja, anak-anak pasti sudah menunggu Kak Anna.” Ayu merebahkan tubuhnya di kursi mobilnya yang cukup nyaman. Ayu mencekal tangan Anna yang hendak melangkah. “Tolong jangan bilang aku begini pada anak-anak ya Kak. Mereka bisa khawatir.” Anna mengangguk paham, mengecup kening Ayu dengan sayang.


“Tunggu sebentar ya sayang, Kak Anna akan cepat-cepat.” Anna sedikit berlari ke kantin sekolah, mereka sudah janjian di sana pagi tadi.

__ADS_1


Ayu mencoba memejamkan matanya, menghirup udara dengan panjang dan menghembuskannya perlahan.


Brrkkkkkkkkk......


Bunyi hempasan tubuh seseorang yang menabrak mobil milik Anna yang di dalam nya ada Ayuna membuat Ayu begitu terkejut. Matanya semakin terkejut saat melihat Hanum di tarik-tarik oleh seseorang yang tingi besar dengan senjata tajam di tangannya. Ayu mencoba menarik nafasnya dalam-dalam,sesak sekali dadanya, kakinya melangkah mencoba memberanikan diri keluar dengan mengangkat tangannya tanda dirinya tidak akan melawan.


Hanum menggeleng, meminta Ayu tidak mendekati bahaya yang sedang dirinya hadapi. Ayu tidak bergeming, selangkah demi selangkah mencoba mendekat.


“Jangan ikut campur.” Pisau nya mengarah pada Ayu.


“Tolong jangan lukai Putri ku, tolong lepaskan Putri ku. Ku mohon.” Ayu berjalan kepayahan, sakit di perutnya semakin menjadi.


“Dia bukan ibuku, dia bohong.” Hanum menepis pertolongan yang Ayu berikan. Takut sekali Mommy nya akan terluka. “Pergi, jangan ikut campur.” Hanum membentak Ayu dengan terpaksa. Sakit sekali melihat wajah kesakitan Mommy nya. Tangannya memegangi perut besarnya.


“Han...sayang, tenang Nak. Pak, ku mohon lepaskan Putri ku. Aku saja, bawa aku saja. Ku mohon lepaskan.” Ayu melangkah mendekat dengan berani, rasa sakit di perutnya tidak di hiraukan.


“Mom ku mohon, pergi Mom.” Hanum terisak.


Laki-laki yang sedang menahan tangan Hanum terlihat berbicara dengan alat yang ada di telinganya. Kini mata nya menatap Ayu dengan tajam. “Berjalan lah dengan damai, maka aku akan lepaskan Putri Mu.” Ayu mengangguk.


“Kemana? Kemana aku harus berjalan.” Menujuk mobil sedang hitan yang ada tidak jauh dari mobil Anna. Ayu berjalan dengan cepat.



“Sekarang lepaskan Putri ku.” Seseorang membuka pintu mobil dan menarik Ayu masuk ke dalam mobil.


Hanum terhempas cukup keras, laki-laki yang menahannya kini sudah masuk ke dalam mobil yang sama.


“Mom...Mommy....lepaskan Mommy ku.” Mobil melaju cukup kencang. Hanum meraung keras terjatuh di atas aspal. Kakinya tidak lagi bisa berlari, sepertinya terkilir saat dirinya jatuh tadi.


“Tolong.....Pak....Tolong....” Penjaga pintu gerbang yang tidak menaruh curiga membiarkan mobil keluar begitu saja. Suara Hanum yang cukup jauh tidak terdengar.


“Hanum!” Mahes lari, terkejut melihat Hanum terjatuh dan menangis.


“Mommy....Mommy Kak, Mommy di bawa orang jahat.” Mahes kebingungan, mencoba meraih ponselnya yang ternyata tidak ada di sakunya.


Mawar yang baru saja tiba di sekolah sangat terkejut melihat Mahesa dan Hanum di parkiran dengan wajah panik. “Ada apa Kak. Dimana Mommy.” Mahes mengusak rambutnya terlihat sangat panik.


“Tolong....Mommy di bawa orang Tan. Cepat tolong Mo...mmy.” suaranya bergetar ketakutan.


Mawar segera menghubungi Biru, Malik dan juga Aldo. Dirinya baru saja tiba namun sudah di kejutkan dengan kejadian yang sangat Malik hindari. Mawar meraih tangan Mahesa dan Hanum, membawa mereka ke tempat teduh karena matahari cukup terik siang ini.

__ADS_1


__ADS_2