
Ayu dan Ranu sedang duduk manis di hadapan Malik yang raut wajahnya pagi ini dipenuhi kecemasan. Setelah mempertimbangkan banyak hal Malik akhirnya memberikan ijin pada kedua kesayangannya untuk melakukan kegiatan yang mereka maui hari ini.
Meski berat Malik mencoba berpikir secara logic keinginan sederhana keduanya sebagai pengalaman hidup yang nanti akan bisa mereka kenang.
Menatap mata Ayu penuh cinta, yang di tatap jantungnya dag dig dug tersipu malu. “Kenapa begitu lihatnya Kak.” Tanyanya dengan rona merah menggemaskan.
“Kenapa Aldo sialan itu tidak bisa menyesuaikan jadwalku dengan benar.” Memeluk Ayu menjatuhkan kepalanya di bahu Ayu. “Seharusnya aku punya banyak waktu menemani mu nonton konser hari ini.”
Oh perkara Konser Mommy toh….aku kira Daddy sad karena hal lain. Monolog nya dalam hati yang sedang menyangka Daddy nya sedih karena dirinya pergi camping. Mommy nya malah terlihat lupa kalau Putra nya akan pergi camping hari ini.
Sangat bahagia di perbolehkan nonton konser.
“Kan sudah ada temannya Kak, ada Sandra dan Melan.” Mencoba menghibur agar Malik tidak ber drama pagi-pagi begini. Padahal memang lebih asik pergi dengan teman-temannya. Ayu bisa sedikit centil menganggumi idolanya.
“Bilang saja kau memang lebih suka pergi dengan mereka.” Ayu yang terkejut menutup mulutnya. Bisa-bisanya Malik menebak dengan benar isi pikirannya.
“Jangan bilang tebakan Daddy benar.” Bisik Ranu melihat senyum di wajah Mommy nya. Yang di Tanya sibuk menutupi rasa terkejutnya di balik punggung Putra nya.
Malik masih memunggungi Ayu dan Ranu, mengatur emosinya yang tidak bisa dia control karena khawatir yang berlebihan. Tidak munafik Malik punya ketakutan yang luar biasa tentang keselamatan Ayu. Beberapa kali dirinya hampir kehilangan Ayu.
Ayu memeluk Malik dari belakang. Dirinya lah sumber kekuatan yang bisa selalu Malik andalkan. “Tenang Dad, Mommy hari ini pergi bersenang-senang. Atas ijin Daddy.” Ucapnya meneduhkan hati Malik.
“Tapi aku benar-benar khawatir.” Masih belum bisa melepas dengan tenang. “Ingat tidak bagaimana kau pernah terjebak di tengah-tengah kerumunan orang.”
“Ya Tuhan Dad, itu sudah lama sekali.” Ranu heran. Bisa-bisanya masih ingat.
“Tapi seperti baru saja terjadi Nak, Daddy mana bisa lupa kejadian mengerikan seperti itu.” Memang dasar bucin, Ranu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakukan Daddy nya yang tidak pernah berubah jika berurusan dengan keselamatan Mommy nya.
Flass Back
“Kak Mel, mampir sebentar ke Mall yah. Ada yang harus Abang beli untuk tugasnya besok.” Pinta Ayu pada Bodyguard perempuan bernama Melati yang sudah bersamanya lebih dari 5 tahun.
Semenjak Ayu sering bolak balik ke sekolah untuk mengantarkan Putranya, Malik memohon pada Ayu agar mau meneriman Melati sebagai penjaganya yang akan mengikutinya kemanapun dirinya pergi. Malik tidak percaya Ayu bisa menjaga dirinya dengan baik karena sangat ceroboh.
__ADS_1
Tidak mau mempertaruhkan keselamatan semestanya jika harus ke sana kemari tanpa pengawasan darinya yang sibuk dengan pekerjaannya.
Ayu menerima permintaan Malik dengan syarat Melati tidak terlalu menonjol, dirinya ingin dilihat sebagai orang biasa saja dan tidak mau diperlakukan istimewa.
Malik menerima syarat yang Ayu ajukan, selama dirinya bisa dengan tenang saat meninggalkan Ayu. Apalagi semenjak Ranu sekolah, Ayu lebih sering menghabiskan waktu di dapur mengusir kesunyian. Malik tidak mau terjadi hal buruk saat Ayu melakukan kegiatannya juga tidak mau membatasi. Malik ingin Ayuna nya selalu aman dan nyaman.
“Bos sudah menyetujui, saya antar Nonna dan Tuan Ranu ke Mall.” Ucapnya lembut, Melati lebih seperti Kakak bagi Ayu.
“Ok, terimakasih ya Kak.” Melirik. Ingin melihat pesan yang Melati kirimkan tanpa sepengetahuan pemilik ponsel. Biasanya Malik tidak semudah itu memberikan ijin.
“Tenang Non, aku hanya bilang mampir sebentar ke toko alat tulis.” Ayu tersenyum, suaminya akan drama jadi manusia paling menyebalkan saat dirinya meminta ijin keluar tanpa didampingi, padahal sudah ada Melati dan Biru.
“Ok…..Kak Mel memang paling tau diriku.” Bangganya mengacungkan kedua jempolnya memberikan apresiasi.
Melati dengan setia berjalan mengikuti Ayu yang berjalan di depannya menggandeng tangan Ranu. Memasuki toko alat tulis dan berbagai macam peralatan kantor yang cukup besar. Melati berdiri di depan toko memperhatikan Ayu dari kejauhan.
Tidak boleh hilang dari pandangannya barang sedetik pun.
“Sudah selesai Non?” Melati mengambil barang yang Ayu beli agar tidak menganggu tangan Ayu yang harus tetap mulus agar Bos nya tetap waras.
“Jangan lama ya Non. Aku ikut masuk kalau ke toko ice cream.” Syarat nya.
“Yeye…makan ice cream…yeye….” Soraknya sambil berjalan menggandeng Ranu. Putranya yang Cool hanya tersenyum melihat Mommy nya senang.
Pesanan Ice Cream datang, ketiganya menikmati dengan canda tawa. Melati di paksa Ayu ikut makan Ice Cream.
“Aww….awww….” Melati segera menyambar beberapa helai tissue membantu Ayu membersihkan tumpahan Ice Cream. “Aku ke toilet ya Kak Mel, takut lengket.” Melati mengangguk. Ayu segera masuk ke toilet yang cukup jauh dari tempat mereka duduk.
Melati hanya memeriksa dari kejauhan, dirinya juga masih sibuk menjaga Ranu yang juga blepotan makan Ice Cream. Maklum usinya baru 7 tahun. Sudah cukup besar untuk makan dengan rapih, karena jarang makan Ice Cream Ranu tidak tahu teknik yang benar makan Ice Cream agar tidak tumpah-tumpah.
“Ribut-ribut apa yah….” Kepo dan menengok ke sisi samping kedai Ice Cream mencari sumber kegaduhan. Matanya membelalak tidak percaya, artis korea kesukaannya ada di Mall yang sama dengan dirinya.
Tanpa sepengetahuan Melati, Ayu berjalan keluar dari pintu samping mengejar artis korea kesukannya. Mengikuti gerombolan remaja yang bersorak sorai mengikuti sang artis yang dijaga cukup ketat.
__ADS_1
Alarm milik Melati berbunyi cukup keras. Ranu yang tahu alarm itu pertanda apa menatap Melati dengan wajah ketakutan.
“Mommy kenapa?” Melati menahan Ranu yang sudah turun dari kursinya.
“Paman Biru sudah mengikuti Mommy, Abang tenang yah.” Melati segera menghubungi Malik meminta bantuan.
Melati : Pak Aldo…Nonna butuh bantuan di Mall dekat sekolah Abang.
Melati memang selalu berkomunikasi lewat Aldo. Aldo yang memintanya agar dirinya dapat memperhitungkan dan menyampaikan dengan baik apapun kabar tentang Ayu pada Bos nya yang mudah panic jika menyangkut keselamatan keluarganya terutama Ayu.
“Bos….Nonna sepertinya butuh bantuan. Melati bilang ada di Mall dekat sekolah Abang.” Memperlihatkan isi pesan Melati. Aldo juga heran, kenapa mereka bisa disana.
Tanpa banyak bicara Malik langsung menghubungi Melati.
“Kenapa Mel. Dimana istriku? Tadi kan kamu bilang mau beli alat tulis, terus kenapa jadi mengabari ku kalian ada di Mall.”
Melati menjelaskan dengan detail kejadian yang terjadi. Malik marah namun di tahannya karena di depannya duduk seorang klien luar yang sudah cukup sepuh.
“Kenapa kalian Bo*oh sekali Mel, menjaga Ayu yang sekecil itu saja kalian tidak becus.” Maki nya merasa kesal dengan suara tertahan.
“Maaf Bos.” Dirinya menyesal seteledor itu.
Malik segera meminta Aldo mengirimkan beberapa orang suruhannya menjemput Ayu. Tidak boleh lecet, peringatan keras Malik pada semua anak buahnya.
Biru kewalahan memecah kerumunan yang begitu padat, Ayu terlihat terdorong beberapa remaja yang ingin dekat dengan sang artis sampai berada di tengah-tengah kerumunan. Biru malah terdorong ke arah lain membuatnya semakin sulit menjangkau Ayu.
Mencoba mendorong sekuat tenaga tapi dirinya malah di maki gadis remaja yang berdiri di depannya. Beberapa orang jadi ikut melotot ke arah Biru kesal.
“Maaf saya hanya ingin menjemput….” Ucapnya tidak di lanjutkan karena percuma saja.
“Alasan saja…dasar laki-laki gila.” Maki seorang gadis yang hampir saja membuat Biru naik pitam, untung saja dirinya sedang bertugas.
Ayu yang baru ingat kelakuannya bisa berakibat buruk memundurkan langkahnya, namun tubuhnya yang kecil membuat Ayu kesulitan keluar dari kerumunan. Mencoba mendorong namun dirinya malah terdorong semakin dalam.
__ADS_1
“Maaf aku ingi keluar….Maaf…” Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga banyaknya orang yang berdesakan.
Ingin menangis rasanya, tapi Ayu juga takut. Dirinya saat ini sedang merasa ketakutan dengan keselamatan orang-orang yang menjaga dirinya dari kemarahan Malik.