
Hanum tengah menikmati roti panggang buatan Om Jofan pagi ini. Kedua orang tuanya saat ini tengah melakukan pejalanan berdua, Om Jofan mengatakannya jika ini adalah perjalanan cinta, entah apa maksudnya Hanum tidak tahu.
Om Jofan bilang mereka akan menghabiskan waktu berdua saja mengunjungi tempat-tempat indah yang sudah mereka list dan ingin mereka datangi berdua. Ya, hanya berdua saja tanpa siapapun.
"Kalau sudah selesai sarapan bilang ya Han. Om antar ke sekolah." Ucap Jofan dengan suara seraknya.
“Om, Hanum naik Bus saja Om.” Takut merepotkan.
Bukan jawaban yang Hanum dapatkan, tapi tatapan menakutkan dari Om Jofannya yang masih belum siap-siap, alias masih menggunakan kaos tidurnya. Hanum menunduk takut.
“Habiskan sarapannya sayang.” Ternyata Om nya tidak marah, lirih sekali bicaranya tapi Hanum lega. “Om yang antar ke sekolah.” Hanum mengangguk, tidak mau komplain karena dirinya masih belum begitu nyaman dengan Om Jofan. Dia tidak banyak bicara dan membuat Hanum sedikit ciut jika di depan Om nya ini.
“Hanum sudah selesai Om.” Berdiri di depan pintu ruang tengah dimana Om nya tengah duduk dengan santai.
“Bekal nya sudah di bawa belum sayang? Om masak untuk kalian bertiga, di bawa pagi-pagi yah. Om tidak bisa ke sana siang nanti.”
"Hanum ambil dulu." Hanum segera beranjak menuju dapur dan mendapati tas-tas bekal yang lucu di meja dapur. Ada senyum di bilah bibir Hanum.
“Ini ya Om?” Hanum mengangkat ketiganya. Jofan tersenyum, merentangkan tangannya yang segera di sambut Hanum.
“Biar Om bawa.” Jofan meraih tas-tas kecil yang semalam dirinya cari di supermarket terdekat. Anna meminta Jofan menyiapkan bekal untuk anak-anak karena dirinya mendadak harus menuruti kemauan Rey yang ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.
“Maaf merepotkan Om.” Ucap Hanum memecah keheningan karena masih merasa sungkan.
“Bukan itu yang pas, ucapkan terimakasih sayang."Jofan sedang berpikir keras kenapa Hanum menganggapnya merepotkan. "Kenapa Hanum merasa merepotkan Om?” Tanya Jofan yang membuat Hanum berfikir keras. Dirinya juga tidak tahu kenapa merasa tidak enak hati pada Om Jofan yang terlihat begitu tulus mengurusi dirinya.
“Hanum takut saja Om tidak suka harus mengantar Hanum pagi-pagi begini.” Jofan melihat mata Hanum yang penuh kegelisahan. Jofan menepikan mobilnya sejenak.
Hanum menunduk membuang tatapannya saat melihat tatapan Om Jofan yang begitu penuh tanda tanya.
“Look at me Han." Hanum menatap takut-takut pada Jofan. "Kenapa Hanum terlihat takut pada Om Jofan? Ada yang salah dengan sikap Om?” Hanum menggeleng. “Lalu apa yang membuat Hanum takut?”
“Hanum juga bingung.” Jofan tidak tega memaksa Hanum yang sudah terlihat kebingungan. Jofan hanya tersenyum lantas melajukan kembali mobilnya.
“Jangan di pikirkan Han, Hanum asal tahu saja. Om sangat menyayangi Hanum, sama seperti Om menyayangi Abang dan Kakak, tidak ada bedanya. Hanum mengerti?” Anggukan kepala yang mengakhiri perbincangan pagi ini.
Jofan harus belajar lebih banyak cara bersikap pada anak perempuan, Hanum saja tidak nyaman. Pasti ada yang salah dengan sikapnya, pasti ada yang harus dirinya perbaiki agar Hanum tidak lagi sungkan pada dirinya.
Hanum turun dengan anggun, dia gadis yang sangat cantik. Jofan merasa harus ekstra hati-hati menjaga Hanum agar Hanum tidak jatuh pada laki-laki yang salah. Jofan membuka kaca mobilnya, Hanum mendekat dan membubuhan kecupan di pipi Kanan Om nya yang senyum-senyum menatap dirinya.
“Aku masuk ya Om, terimakasih banyak sudah mengantar Hanum.” Jofan masih senyum-senyum tidak jelas.
“Pulang nanti katakan pada Abang dan Kakak, Om Riyan yang jemput ya Nak? Jangan pulang sendiri, tunggu Om Riyan. Mengerti Han?” Hanum mengacungkan Ibu jarinya susah payah, tanganya tengah repot dengan tas-tas cantik yang menggemaskan. “Ya sudah, masuk Han. Belajar yang rajin ya sayang.” Hanum segera masuk.
Sandra : Dimana?
__ADS_1
Jofan : Sudah bangun sayang?
Sandra : Dimana Fan? Aku kok sendirian?
Jofan : Sudah bangun sayang?
Sandra : Kalau aku masih tidur, siapa yang ketik pesan ini Fan.
Jofan : Jangan marah-marah, masih pagi sayang.
Sandra: Sekarang sedang ada di mana?
Jofan : Sebentar lagi sampai sayang, antar Hanum sebentar.
Sandra : Depan sekolah Abang ada jual Es Doger Fan, titip yah.
Jofan : Sudah mau sampai sayang.
Sandra : Putra balik Fan, aku mau.
Jofan : Besok saja ya sayang.
Sandra : Aku beli sendiri kalau begitu.
Jofan : Ok, aku putar balik.
Sandra : Terimakasih sayang nya aku dan Baby dalam perut.
Sandra : Siap Papah sayang.
Jofan tidak bisa marah dengan sikap menyebalkan istrinya saat ini. Semenjak hamil Sandra sering menguji kesabarannya, dia banyak maunya dan sama sekali tidak bisa Jofan tolak.
Akan berakibat fatal jika Jofan menolaknya. Istrinya suka melakukan hal-hal di luar nalar dan membuat Jofan jantungan. Lebih baik menurutinya agar dunianya aman dan tentram.
***
Anna tengah menatap suaminya yang berdiri di keramaian, antri karena Anna ingin menikmati jajanan yang cukup terkenal di tempatnya liburan saat ini. Menyadari tatapan istrinya, Rey tersenyum manis menatap Anna yang masih duduk di bangkunya.
“I love you.” Rey tersenyum melihat gerakan bibir Anna tanpa suara dan mengerti apa yang Istrinya ucapkan.
Setelah mendapat kan apa yang Anna mau, Rey kembali pada istrinya. mengecup kening Anna penuh sayang, Rey membuat Anna memukul lenganya karena merasa malu.
“Coba sayang, kelihatannya sangat enak.” Anna dengan antusias mencobanya. “Enak?” Anna mengangguk, meraih semua makanan yang ada di tangan Rey yang kini berpindah padanya.
Anna menyelesaikan makannya yang begitu terasa nikmat. Sudah lama tidak menikmati makanan jalanan sepeti ini. Tidak punya waktu karena dirinya semakin sibuk mengurus anak-anaknya semenjak Ayuna hamil besar dan meminta dirinya full yang urus anak-anak.
__ADS_1
"Masih ada yang mau di coba?" Anna mengangguk, menarik tangan suaminya penuh antusias ke depan kedai yang cukup sepi. Wangi nya membuat Anna ingin mencicipi nya.
Rey memesan hanya satu potong, setau dirinya Anna tidak terlalu suka makanan yang terlalu manis. Tidak seperti Ayuna yang suka sekali makanan manis.
"Enak Kak, aku mau sedikit lagi." Rengek Anna yang membuat Rey menariknya dalam dekapan Rey. "Malu Pah, dilihatin orang." Rey tidak menggubris.
"Jangan hiraukan, aku tidak mengenal mereka." Pungkas Rey yang sedang nyaman dengan pelukkan istrinya.
"Aku mencintaimu Pah. Sungguh aku begitu berarti jika di sisi mu." Rey mengusap sayang kepala Anna.
"Aku mencintaimu sayang, besar sekali cintaku sampai tidak bisa jika aku harus tanpa mu sayang." Manis sekali, membuat beberapa orang yang melihatnya ikut merasa haru.
Rey menggandeng Anna ke tempat yang dirinya inginkan. Tempat yang pasti Anna sukai. Tempat yang sangat cocok dengan Anna.
"Indah sekali Kak." Anna berdecak kagum. "Apa ini tempatnya?" Rey mengangguk. Anna menghambur memeluk Rey, bahagia sekali di bawa ke tempat impiannya.
"Ayo masuk, di dalam banyak hal indah yang bis kita nikmati." Anna menautkan jemarinya. Tidak sabar ingin melihat tempat yang banyak diceritakan orang beberapa bulan ini, terutama para seniman seperti dirinya.
Matanya tidak berhenti kagum dengan tempat yang mereka datangi. Cukup menakjubkan jika yang datang kesana orang seperti Anna yang suka sekali seni. Matanya mengagumi setiap sudut indah yang menghiasi setiap ruangan.
"Boleh tidak Kak aku bawa pulang?" Rey tersenyum. "Cantik Kak." Binar mata Anna begitu cantik, Rey sampai mengagumi istrinya berkali-kali dalam hatinya.
"Ini semua di letakkan sengaja seolah berserakan oleh pencipta nya. Bagaimana bisa kau membawa nya pulang." Anna terkekeh merasa konyol, cantiknya membuat Anna gemas ingin memboyongnya ke rumah.
Rey membiarkan Anna berkeliling sampai puas, dirinya bahagia sekali bisa membawa Anna ke tempat yang sungguh ingin Anna datangi. Dia rela meninggalkan dunia seni nya dan menghabiskan waktu untuk mengurus dirinya dan keluarganya.
Anna sangat baik, tidak pernah sekali pun protes dengan keputusan yang suaminya ambil. Anna sangat mendukung apapun yang Rey yakini yang terbaik untuk dirinya. Anna selalu menerima semuanya.
Laki-laki yang selalu ada di sisi ku suka dan duka. Aku tahu dia sedang menghiburku, aku tahu dia ketakutan jika aku kembali merasa iri dengan apa yang adik-adik nya miliki dan tidak bisa aku dapatkan. Aku tahu sekali Rey.
Monolog Anna yang begitu terharu dengan sikap hangat Rey. Ann tahu Rey juga tersiksa, tapi dia selalu menjadi tameng untuk dirinya. Luka nya tidak akan terasa, dia sibuk menyembuhkan luka di diri wanita kesayangannya.
"Sudah sayang? Kenapa berdiri di situ?" Anna berjalan menghampiri Rey setelah ketahuan tengah menatap suaminya dari sebrang tempatnya berdiri.
"Mau kemana lagi Ay? Capek tidak?" Anna mengangguk. "Mau pulang?" Anna kembali mengangguk. "Ya sudah. Kita pulang ke hotel yah. Maaf mengajakmu berjalan seharian." Rey mencium kening Anna cukup lama.
"Aku suka Kak, tapi sepertinya hari ini sudah cukup. Aku tidak serapuh dulu Ay. Aku kuat, aku punya kalian semua yang selalu mencintaiku dengan begitu tulus." Rey tahu apa yang istrinya bicarakan.
"Tetap saja, aku butuh waktu sepeti ini sayang. Berdua saja dengan mu." Anna mengerti sekali.
Rey memang paling suka memperhatikan dirinya. Tidak pernah membiarkan dirinya sedih berlarut, kecewa berlebihan dan selalu memuat Anna merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.
__ADS_1
Jangan pulang terlalu lama, Ayuna sudah di rumah sakit karena sudah mulai ada kontraksi palsu yang istriku rasakan.
Rey tersenyum membawa pesan yang Malik kirimkan. Dirinya sudah siap mendampingi Adik nya menyambut anggota baru keluarga mereka. Akan sangat ramai rumah dengan suara tangisan bayi.