Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Suara Yang Tidak Asing


__ADS_3

Malik sangat paham kegundahan hati seorang Ibu. Sarah tidak mungkin mau menjerumuskan Putra kesayangannya dalam masalah yang bisa saja membahayakan keselamatanya. Malik mengecup kening Sarah, tidak mau menghakimi dan memilih menyimpan nomor yang dirinya dapatkan.


Sarah sendiri sudah mengalami begitu banyak perjalanan hidup yang penuh dengan pengorbanan. Malik menghela nafasnya yang sungguh saat ini terasa sesak di dadanya. Ingin sekali lari dan meninggalkan semua beban nya agar bisa hidup dengan tenang bersama orang-orang kesayangannya.


“Sekarang pejamkan mata dan istirahat, jangan cerewet. Jangan sampai sakit sayang, nanti Mahesa dan Ranu bisa sedih kalau dua kesayanganya masuk rumah sakit.” Sarah menuruti perintah Malik, tubuhnya memang sudah sangat lelah.


“Apa menurutmu Hanum perempuan yang baik untuk anak ku? Aku takut sekali Al.” Malik menarik selimut menutupi seluruh badan Sarah kecuali kepala.


“Istirahat Sarah. Biarkan isi kepala mu dingin, jangan terus memikirkan hal berat, stop. Please!” Pinta Malik dengan wajah cukup menakutkan. Sarah segera memejamkan matanya. Malik sudah bertingkah menakutkan sekarang.


Malik memejamkan mata sejenak, tubuhnya juga butuh istirahat apalagi fikirannya yang terus berkelana memikirkan Mahesa dengan Hanum. Masalah begitu banyak mendera nya saat ini. Malik sampai kewalahan harus menyelesaikannya dengan apik, tidak mau mengorbankan kebahagiaan orang-orang yang dirinya sangat sayangi.


“Al....” Suara Adam berhasil membuat Malik terbangun. Mengerjapkan matanya dan berusaha mengumpukan kesadarannya. “Sarah baik-baik saja?” Malik mengangguk. “Syukurlah, dia seperti biasa kan Al, akan sekuat yang kita kenal.” Racau Adam yang khawatir sekali dengan kepelikan yang harus mereka hadapai saat ini.


“Jangan khawatir, dia yang paling bisa kita andalkan.” Adam tersenyum, Malik selalu bisa menangani Istrinya. “Bagaimana Hanum?”


“Dia ada luka di bagian perut karena hantaman benda tumpul. Makanan yang dia makan kemarin cukup membuat perutnya nyeri sampai Hanum tidak bisa menahan sakitnya.” Terlihat sekali raut khawatir di wajah Adam.


“Separah itu!” Adam mengangguk. “Manusia seperti Baskoro harus kita lenyapkan.” Geram dengan tindakan semena-mena Baskoro. “Apa berbahaya untuk keselamatannya?”


“Banyak kasus seperti ini yang pemilik tubuhnya tidak kuat Al. Tapi sejauh ini tanda-tanda fital tubuh Hanum sangat baik, harapan kesembuhannya sangat besar.” Malik tahu Adam akan melakukan yang terbaik.


“Haruskan aku minta orang-orang ku menghabisi Baskoro! Lenyapkan dia agar tidak lagi menjadi benalu!” Malik berkata penuh penekanan.


“Sekarang kita fokus dengan kesembuhan Ayuna, Hanum dan Abang ya Al. Jangan memancing masalah baru, kasihan kita akan kelelahan Al.” Malik setuju. Meski ingin sekali melenyapkan Baskoro dari daftar manusia yang hidup di bumi.


“Tentu saja, aku tidak akan bertindak bodoh. Masa depanku membahagiakan Ayuna masih panjang.” Malik berdiri menepuk pundak Adam. “Sekarang aku harus kembali Dam. Ayuna sudah mencari ku sejak sore tadi.”


“Pih...Dad, Mamih ok?!!!” Mahesa memeriksa kening Mamih nya yang sedang tidur. “Suster jaga tadi bilang melihat Daddy membawa Mamih ke ruang istirahat, apa Mamih ku kesakitan?” Malik dan Adam saling melempar senyum.


“Sejak kapan Kakak cerewet sekali.” Malik memeluk Mahesa, bangga sekali anak-anaknya sudah bisa di andalkan. “Mamih ok, dia hanya lelah. Apa Mommy sudah tidur?” Mahesa mengangguk.

__ADS_1


“Iya Nak Mamih mu hanya kelelahan, lihat matanya indah sekali menikmati waktu istirahatnya.” Timpal Adam yang kini memeluk Putranya.


“Mamih ok, hanya butuh istirahat karena lelah. Sekarang ayo, Abang dan Kakak harus pulang. Kalian juga harus istirahat. Om Jofan sedang dalam perjalanan jemput kalian.” Malik mengulurkan tangannya pada Mahes.


“Boleh kah malam ini Kakak menginap di sini? Ingin peluk Mamih ku, dia sepertinya sedang butuh Kakak.” Adam memberikan kode agar Putranya tidak perlu khawatir.


Mahes yang paham segera mengikuti langkah Malik. Mahes kembali menghampiri Adam yang duduk di sisi Sarah. Mengecup sayang pipi Adam bergantian.


“Love u Pih, Kakak pulang yah. Kalau Mamih butuh Kakak, cepat-cepat hubungi Kakak ya Pih.” Ucapnya setengah berbisik. Adam mengangguk membalas ciuman Putranya.


Mahesa jarang sekali bersikap manis seperti saat ini, dia dijuluki pangeran es yang jarang sekali banyak bicara mewarisi banyak sifat Sarah daripada Adam. Malah lebih mirip dengan Malik daripada dengan Adam yang sagat berisik.


“Papih akan pastikan semua baik-baik saja. Sekarang tugas Kakak jaga kesehatan agar Mamih tidak khawatir.” Mahes segera keluar, dirinya ingin jadi anak yang penurut dan bisa orang tuanya andalkan.


***


Kreekkkkk.....


“Bangun sayang, ayo pulang. Biar Daddy yang jaga Mommy.” Ranu duduk enggan meninggalkan Mommy nya. Pelukkannya semakin erat.


“Dad.....Abang ingin peluk Mommy tidurnya.” Merengek seperti anak bayi.


“Abang harus isrirahat sayang, luka Abang cukup serius. Kalau mau biar Daddy pesankan kamar rawat inap.” Mengancam.


Ranu segera bangkit malas sekali kalau harus di rawat lama-lama di rumah sakit. “Daddy ini lah, mengancam saja. Daddy dari mana saja pergi nya lama sekali.” Malik meraih tangan Ranu membantunya berdiri. Malik mendorong Ranu agar segera keluar.


“Banyak sekali pekerjaan Daddy Nak, sekarang tolong pulang, istirahat, dan besok kalau memang Mommy sudah lebih baik keadaannya, Daddy akan bawa Mommy pulang. Ok Bang.” Ranu memeluk Malik.


Kasihan Daddy nya melakukan bayak pekerjaan yang pasti melelahkan. Bukan saat yang tepat jika dirinya berkeras kepala tetap ingin berada di sisi Mommy nya. Daddy pasti mau semua orang tetap sehat dan nyaman.


“Jaga sehat mu ya Dad. Mommy dan adik Bayi ku masih butuh Daddy lama di sisi mereka.” Malik terharu, ucapan Ranu membuat dirinya harus berusaha lebih baik.

__ADS_1


“Tentu saja, sekarang Daddy butuh dukungan Abang. Kita pasti bisa jaga mereka dengan baik Nak. Jangan lupa, Abang juga masih Daddy jaga sejauh ini.” Ranu tersenyum, sekarang dirinya sudah bisa perlahan menerima kehadiran calon adiknya.


“Ayo Dek, Om Jofan ada di kantin sedang beli makanan.” Mahesa yang baru saja sampai di kamar Mommy nya segera menggandeng tangan adik nya. “Tunggu sebentar.” Mahes mengecup kening Mommy nya pelan. Takut sekali Mommy nya bangun tapi tidak bisa meninggalkannya begitu saja tanpa tanda. Tidak lupa Mahes juga mencium pipi Daddy yang selalu menyayanginya dengan tulus.


“Istrahat Dad.”


“Iya Nak.” Jawab Malik senang sekali diperhatikan si paling tidak bisa bersikap manis.


“Jangan terlalu kelelahan, wajah Daddy terlihat tua Dad. Kasihan Mom ku nanti dikira anak Daddy.” Ledek Mahes tertawa senang melihat Daddy nya melotot.


“Baru saja Daddy puji Kakak dalam hati. Daddy menyesal, sekarang cepat bawa adik mu pulang dan istirahat.”


“Hehehehehe.....kidding Dad. Jangan marah.” Mencium kembali pipi Daddy nya.


Ranu yang melihat keduanya hanya senyum-senyum, matanya masih mengantuk dan enggan menimpali ke isengan Kakak nya.


Berjalan bergandengan.


Mereka meski sudah dewasa, tidak pernah merasa malu atau risih saling memberikan perhatian. Sangat akur, sedari kecil keduanya sangat dekat dan jarang sekali berselisih. Mereka selalu saling mendukung dan menjaga, saling membela saat salah satu di antara mereka melakukan kesalahan yang melanggar aturan para orang tua.


“Halo.....” Sapa Malik pada pemilik nomor ponsel yang Sarah berikan padanya.


“Iya...siapa ini?” Suara yang tidak asing diseberang telpon yang Malik masih ingat.


“Malik Nik, kau masih ingat aku?” Terdengar suara benda jatuh di telinga Malik. “Nik....kamu baik-baik saja?” Pekik Malik merasa khawatir.


“Ahhhh...iya Kak Malik, Niki hanya terkejut. Kakak masih simpan nomor Niki?”


“Bicaralah, aku harus dengar kabar mu, saat ini Hanum ada bersama ku.” Hening, sepertinya Niki menangis. “Tenang saja, Hanum sudah aman, sekarang ceritakan bagaimana semua ini bisa terjadi.”


Malik kini memeluk tubuh Ayuna dengan erat, rindu sekali seharian ini dirinya menghabiskan banyak waktu untuk urusan nya yang menyita waktunya dengan kesayangannya. Menghirup aroma wangi yang segar dari rambut Ayuna yang terurai. Malik melepsakan hijab Ayuna agar Ayuna bisa tidur dengan lebih nyaman.

__ADS_1


Meski pasti akan kena omelan saat istrinya terbangun nanti. Ayu takut ada laki-laki masuk saat dirinya sedang tidak berhijab, padahal sudah jelas Malik pasti akan menempatkan para perawat wanita untuk membantunya. Tetap saja Ayu merasa tidak tenang. Malik tertawa sendiri mengingat ekpresi wajah marah Ayu yang malah membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


__ADS_2