
"Gak yangka ya Ran, orang tua kita ternyata sahabat kecil." Membuka pembicaraan karena begitu sunyi. Bagai mendapat kesempatan kembali menggapai cinta pertamanya setelah kejadian memalukan yang dirinya lakukan.
"Hmmmmm....." Malas menanggapi.
"Aku akan sering mampir pasti Ran, Bunda ku sangat dekat dulu dengan Mommy mu. Kata Bunda mereka dulu sahabat karib." Senyum nya indah sekali, Biru senang keduanya akrab, memang seharusnya seperti itu antar teman sekolah.
"Hmmmmmm....." Ya Tuhan, dia tidak berhenti bicara. Dalam hati.
"Kita harus dekat juga ya Ran, pasti orang tua kita senang kalau kita juga dekat." Kali ini Ranu tidak menjawab.
Tangannya sibuk merubah posisi duduknya agar kursinya nyaman untuk dirinya memejamkan mata. Setelah pas, Ranu merebahkan tubuhnya dan menatap malas teman satu kelasnya dari spion depan. Untung saja yang dilihat tidak tahu.
"Om Biru, nanti bangunkan Abang kalau sudah sampai ya. Abang ngantuk sekali tiba-tiba." Memejamkan matanya.
"Baik Abang." Biru tersenyum, lucu sekali pemandangan dua anak muda ini.
Tumben juga Tuan Mudanya ngantuk pagi-pagi begini, dia orang paling semangat dan disiplin, jarang bermalas-malasan. Pasti dia sedang menghindari kebawelan Nonna cantik ini. Duh......duh.....
Yah...Ranu kenapa ngantuk sih, padahal aku ingin sekali pendekatan dengannya. Sepertinya dia sengaja tidak mau bicara denganku. Harus dengan cara apalagi aku mendekati dia. Hufffttt....kesal sekali aku ini.
Bermonolog dalam hati karena merasa kecewa dengan sikap Ranu.
Dirinya padahal sangt antusias bisa pergi sekolah bersama pujaan hatinya.
Tidak lama mobil memasuki parkiran sekolah, nampak beberapa siswa hilir mudik turun dari mobil antar jemput atau mobil pribadi yang mengantar mereka.
Ranu dengan malas turun dari mobil, beberapa teman yang melihat Ranu datang bersama Salina senyum-senyum. Pasalnya mereka semua tahu kalau Salina tergila-gila dengan Ranu. Sepertinya Salina sudah bisa mematahkan benteng pertahanan Ranu, laki-laki dengan gengsi besar dan tidak mudah di dekati.
Ranu tidak menanggapi cibiran teman-temannya, jalan saja santai di ikuti Salina yang senyum-senyum sendiri di belakangnya.
“Kak.....” Ranu melihat Mahes yang baru saja turun dari mobil bersama Dr Sarah. “Duluan, aku temui mereka dulu.” Salina melambaikan tangan malu-malu.
Suara Ranu membuatnya kehilangan akal. Merdu sekali di telinga cantiknya. Andai saja dirinya bisa memiliki hatinya.
“Kalian pergi bersama yah....cie....Abang sudah mulai nakal nih.” Ledek Sarah gemas. “Nanti Mommy pingsan loh Nak.” Ranu malas sekali membahasnya.
“Tadi gara-gara Bunda nya datang ke rumah, jadi Daddy minta dia berangkat bersama Abang. Sudah Mih, Abang malas bicara itu. Kak, jadi kan kita latihan pulang sekolah nanti. Tapi Abang ada ujian dulu.” Sarah di cuekin. Anaknya ngambek sepertinya.
“Mamih mau peluk Abang dong. Sudah lama sekali Mamih tidak peluk Abang.” Ranu tersenyum, wajahnya asem sekali pasti. Mamih nya pasti sedang merayu.
“Sorry Mih, Abang BT jadi Mamih kena. Sorry.” Memeluk sarah dengan erat. Bodoh sekali membuat Mamih nya pasti kesal dengan sikapnya. “Love you Mih.” Mengusap rambut panjang kesukannya setelaha milik Mommy kesayangannya.
“Mamih Love banyak sebesar samudra.” Matanya berbinar.
__ADS_1
"Jangan marah Mih, sorry Abang kelepasan tidak bisa kontrol." Masih memeluk Mamih nya hangat.
"Mamih tidak marah, Mamih cinta Abang." Seperti sepasang kekasih kasmaran, saling membalas rayuan.
“Kalian sangat memalukan.” Protes Mahes merasa jadi pusat perhatian siswa lain.
"Kau cemburu yah......" Ledek Sarah gemas, Putra nya mana bisa semanis Abang Ranu.
“Jangan berani-berani begitu depan Mommy Kak, atau Kak Mahes akan lihat wajah sad nya. Abang tidak kuat.” Bergidik mengingat tatapan mata Mommy nya.
“Sungguh....” Mahes takut melihat wajah sedih Mommy nya. “Kalian lakukan saja apa yang kalian inginkan.” Keduanya kembali saling berpelukkan, ciuman kecil mendarat di pipi Ranu, dan di balas Ranu dengan ciuman hangat di pipi dan kening Mamih nya.
“Kak Mahes dan Abang paling gak bisa memang bicarakan kelemahan Mommy nya. Mamih suka.” Dirinya tidak perlu repot-repot mengawasi. Ayu senjata andalannya membuat Putranya menjadi penurut.
“Ya sudah Mih, kami ke kelas yah. Mamih cepat pergi, nanti terlambat.” Sarah menggeleng, dirinya rindu berkeliling sekolah Putra-Putranya.
“Mamih keliling dulu Kak, nanti istirahat makan dengan Mamih ya di kantin. Hari ini Mamih sudah ijin Daddy dan Papah Rey, kalian boleh jajan dengan Mamih.”
Keduanya meninjukan kepalan tangannya ke udara. Mereka yang makanan nya sangat di batasi antusias saat diperbolehkan jajan sesuka hati mereka.
“Thanks Mih, your the best.” Ranu mengecup pipi Mamih nya berulang kali.
“Kaka gak say thanks ke Mommy?” Mahes mencium tipis dengan senyum malunya.
Kalau Mahesa jangan di tanya, dia seperti Malik muda. Malas sekali bicara dan bersikap manis pada orang lain. Bicara seperlunya dan paling malas bersenda gurau.
Group Chat Para Lelaki
Jofan :
Rey : Serius Fan?
Jofan : Yes, aku sudah mantap. Bagus kan? Itu pilihan Sandra.
Rey : Iya bagus, kabarnya yang lebih penting. Tanggal nya sesuai dengan rencana awal?
Jofan : Iya Kak Rey.
Malik : Jofan....keren sekali Bro. Mommy anak-anak pasti sangat bahagia. Dia sudah tau?
Jofan : Belum, aku kabarkan kalian dulu. Sebenarnya aku sedang bingung karena situasi kemarin, tapi semua sudah siap Kak.
__ADS_1
Malik : Istriku menunggu kabar baik dari kalian semua. Dia sering tidak bisa tidur tapi kalian tidak sadar kan? Do’a nya melangit setiap malam untuk kita semua. (Maliknya sedang kesal karena Ayu beberapa hari ini terlihat murung. Wajahnya tidak, tapi matanya tidak bisa bohong)
Jofan : Adik kecilku. (Emot sedih) Aku akan datang ke kantor siang ini. Jangan makan di luar, aku bawa ke sana makanan bersama Riyan.
Riyan : Ok Mas.
Malik : Riyan......tanggung jawab kau Dek. Istriku sedih setiap waktu, memikirkan nasib kalian. Aku buat perhitungan kalau dia masih seperti itu ya Dek.
Riyan : Maaf Kak. Riyan juga sangat sedih menyakiti Mbak ku. Riyan sedang mencoba.
Malik : Apa?
Rey : Apa ?
Jofan : Mencoba apa Dek, jangan aneh-aneh.
Riyan : Mendekati Kak Melan, Riyan sungguh jatuh hati.
Malik : Aku tidak akan mau diminta bantuan kalau Mbak mu pundung ya Yan. Tanggung jawab sendiri resikonya.
Ranu : Abang kelas, please.
Seketika obrolan berhenti, mereka tidak sadar mengganggu jam pelajaran putra-putranya yang sedang menimba ilmu.
Malik meninggalkan Ayu di ruang kejanya bersama Mawar dan sahabatnya Iin. Ayu menolak mengikuti Malik ke ruang meeting dan ingin bernostalgia bersama sahabatnya.
Mengawasi dari CCTV ponselnya dan Malik melihat Iin wanita yang baik, dia telihat tulus dan benar-benar masih menganggap Ayu sahabat kecilnya.
***
“Hay.....Apa kabar Kak.” Sapa Riyan saat memasuki lobby gedung kantor Malik dan melihat Melan yang sepetinya juga baru tiba. Tubuh Melan menegang seketika.
“Kok...Hay, baik. Fan....Riyan, kok ada di sini?” Padahal dirinya ingin menghindari mereka. Tapi malah bertemu secara kebetulan.
“Mau menemui Ayu.” Jofan mengayunkan undangan cantik di tangannya. Mata Melan membelalak, senyumnya terpancar sangat cantik di mata Riyan. Jofan nya mengangguk membenarkan pertanyaan di kepala Melan yang sulit terucap. “Iya Mel, aku akan menikah di tanggal yang sudah aku infokan sebelumnya.”
Melan spontan memeluk Jofan, terharu sekali akhirnya mereka bersatu.
Lama Melan memeluk Jofan dan ternyata dirinya menangis. Riyan mengambil alih tentengan dari tangan Jofan. Jofan dengan lembut mengusap punggung Melan menenangkan. Melan jarang sekali seperti ini, Jofan sepertinya paham. Mereka berdua sama-sama memiliki rasa.
“Cukup sahabat ku sayang, berjuang. Coba melangkah jika kalian benar-benar sama-sama yakin. Mas akan dukung kalian.” Hanya Riyan dan Ayu yang memanggilnya Mas.
“Aneh sekali panggilannya. Tapi aku benar-benar kebingungan.” Ucapnya enteng membuat Jofan tidak mau memaksa.
__ADS_1
Riyan sangat merasa bersalah, selama ini Melan memendamnya dan dirinya dengan tidak tahu diri menunjukkannya. Wanita kesayangannya rapuh, Riyan sangat menyesal.