Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Ketakutan


__ADS_3

Aldo meraih ponselnya, menghubungi kepala keamanan agar segera mengejar Hanum. Mereka satu persatu keluar dari mobil dan mendatangi mobil Malik.


Lalu lintas macet parah karena ulah anak buah Malik yang mobilnya memblokir jalan. Raut wajah-wajah penuh amarah terlihat jelas karena merasa kesal perjalanan nya tersendat.


Suara klakson bersautan meminta Malik menepikan mobilnya. Alhasil Aldo dan yang lainnya mencari tempat lapang dan membawa Malik dengan aman.


“Kalian segera cari Hanum, berpencar. Dia tidak mungkin lari jauh dari sini. Dia tidak tahu banyak tentang daerah tempat tinggalnya sekarang.” Aldo memberikan instruksi yang akurat.


Ada beberapa foto Hanum di ponselnya dan sudah Aldo share pada yang lain untuk mempermudah pencarian.


Tidak lama mereka semua berpencar. Malik terlihat kalut, dia seperti sedang kehilangan Putri nya. Aldo menepuk pelan pundak Malik. Mencoba memberikan ketenagan pada Malik yang tentu tidak baik-baik saja.


“Bos, kita sebaiknya menunggu di rumah Bos. Ayo aku antarkan pulang.” Pinta Aldo yang tidak mau Malik kesulitan. Aldo ingin memastikan semua aman terkendali.


“Kau gila Al. Hanum baru saja melarikan diri dan kau memintaku pulang! Tidak waras kau Al. Kak Mahes bisa mengamuk padaku.” Ternyata Aldo salah langkah. Tawaran manisnya di balas kesal oleh Malik yang sedang frustasi akan masa depan Putra nya.


“Lalu apa yang ingin Bos lakukan?” Tanya Aldo setelah merekq diam beberapa saat.


“Masih bertanya Al! sungguh kau keterlaluan Al, tentu saja kita juga ikut mencari Hanum sampai ketemu. Bawa dia pulang.”


Aldo menemani Malik yang mulai berjalan serampangan menyusuri lorong-lorong dan gang sempit yang mungkin saja Hanum lewati. Beberapa orang yang dirinya jumpai tidak melihat keberadaan Hanum. Malik berkeringat, dirinya kepanasan karena cuaca memang sedang sangat terik.


"Bos, apa tidak sebaiknya kita istirahat dulu." Aldo sangat khawatir, Malik akhir-akhir ini sangat sibuk dan tidak memperhatikan kesehatannya sendiri.


"Cerewet sekali Al, cepat jalan lagi. Jangan sampai aku memotong gaji mu satu tahun kedepan Al."


"Iya .....iya Bos. Ngeri sekali kalau sudah mengancam." Aldo mengikuti kemana pun langkah kaki Malik.


Dari kejauhan Malik melihat anak buahnya membawa paksa Hanum yang sepertinya tidak mau ikut.


Lega rasanya, meski Malik masih bingung dengan apa yang akan dirinya lakukan pada Hanum. Membiarkan Hanum sendirian di tangan Baskoro lebih tidak mungkin lagi Malik lakukan.


Hanum akan aman di tanganya, Malik akan pastikan Hanum di rawat dengan baik. Meski dirinya masih belum punya jalan keluar bagaimana bicara dengan semua orang tentang Hanum.


"Bawa ke mobil." Pinta Malik yang segera di laksanakan anak buahnya.


Perjalanan mereka jadi pusat perhatian, Hanum yang menolak keras ikut dan banyaknya anak buah Malik seolah Malik sedang melakukan kejahatan. Dirinya menggeleng tidak percaya harus melakukan nya ada Hanum.

__ADS_1


Suara tangis Hanum memenuhi mobil. Mulutnya tidak berhenti meminta pengampunan.


Malik yang sudah tidak tahan akhirnya membuka pintu belakang mobil, mendudukkan tubuhnya di sisi Hanum yang sontak memundurkan tubuhnya.


"Ma...maaf...jangan sakiti Hanum Tuan. Hanum mo....hon." Hanum terus saja meminta agar dirinya tidak di sakiti.


"Hanum, tenang Nak." Suara Malik yang lembut membuat Hanum sedikit melemah. Suara isakan Hanum sedikit mereda, meski masih sesenggukan.


"Mereka menyakitimu?" Malik memeriksa tangan Hanum yang kurus penuh luka. Lebam nya tidak main-main, tangannya hampir penuh dengan warna biru keunguan.


"Aawwww...." Rintihnya saat Malik menyentuh luka di telapak tangannya. "Ma...maaf." Padahal seharusnya Malik yang mengatakannya.


"Hanum....tolong percaya pada Paman, kami mau bantu Hanum. Jadi Hanum jangan takut ya Nak." Hanum masih belum mengerti.


"Hanum sudah di beli Paman yah." Celetuknya membuat Malik paham kenapa Hanum lari.


"Mana bisa manusia di perdagangkan. Itu hanya uang tutup mulut agar Baskoro melepaskan Hanum." Malik mencoba menjelaskan niat baiknya.


Hanum diam, dirinya masih trauma dan tidak mau percaya pada orang Lain dengan mudah. Tidak mau lagi Hanum merusak hidupnya yang berharga.


Dirinya hanya menatap Malik sendu, ingin sekali berteriak agar dirinya dibebaskan dan tidak lagi dibawa kemana saja yang mereka mau.


Tubuhnya sudah tidak karuan, keringat dingin menjalar di sekujur tubuhnya yang mulai dirinya rasa tidak nyaman. Hanum mencoba menahan agar kesadarannya tidak hilang dan ingat akan jalanan yang dirinya lewati.


Tangannya menyeka berulang kali keringat yang menetes bercucuran. Malik memperhatikan dengan jelas bagaimana Hanum memijat pelipisnya, wajahnya pucat pasi. Malik meminta Aldo menepikan mobilnya, Malik ingin memeriksa Hanum yang keadaannya mengkhawatirkan.


Suara pintu mobil yang terbuka tidak terdengar oleh Hanum. Malik duduk meraih tangan Hanum yang terkejut saat dirinya sentuh.


“Hanum ok Nak?” Malik memeriksa kening Hanum. Demamnya tinggi, tubuhnya bahkan menggigil. “Ya Tuhan Han, Al cepat ke rumah sakit. Hanum harus segera di tangani.”


Aldo membanting stir kemudi merubah arah. Segera membawa Hanum yang butuh pertolongan ke rumah sakit.


Hanum masih berusaha menolak uluran tangan Malik, menyandarkan kepalanya yang sudah sangat berat di sandaran mobil. Matanya memejam membuat Malik merengkuh tubuh Hanum paksa agar tidak terbentur saat mobil melaju. Aldo cukup kencang dan bisa saja tubuh Hanum terguncang.


“Tolong jangan sakiti Hanum Paman. Hanum ingin kembali pada Mommy dengan sehat.” Ucapnya lirih yang masih terdengar di telinga Malik membuat hati Malik teriris.


“Tenang Nak. Paman akan bawa Hanum ke tempat yang aman.” Sungguh Malik seperti melihat Ayuna nya kesakitan. Tubuhnya kurus, dia pasti banyak menderita.

__ADS_1


Gadis yang Malik lihat sepanjang perjalanan mereka adalah anak yang manis, baik hati dan sangat sopan. Dia begitu kuat menutupi segala luka yang dialaminya dengan apik. Tidak mengeluh, hanya ketakutan yang memenuhi pikirannya yang kacau. Kasihan sekali, Malik harus menyelamatkan Hanum.


Dia yang beberapa minggu ini mengisi hati Putra tertuanya. Yang Putra nya bicarakan dengan bangga karena nyaman berada di sisinya. Bagaimana jika Mahesa melihat keadaan Hanum yang menyedihkan, bagaimana jika sakitnya Hanum bisa membuat Putra nya terpuruk. Malik tidak kuasa membayangkan bagaimana perasaan Mahesa.


Malik menenangkan otaknya yang berpikir terlalu keras, mencoba menarik panjang nafasnya agar keadaan tidak bertambah rumit karena inginnya semua anak-anaknya tumbuh penuh bahagia.


“Cepat sedikit Al, Hanum sudah tidak sadarkan diri Al.” Suara Malik sangat lirih dan berat.


Tubuh Hanum sepenuhnya lunglai dipelukkan Malik. Sudah tidak bisa menahan lagi sakit yang tubuhnya rasakan, Hanum sudah tidak kuat menahannya lagi.


Cukup jauh perjalanan mereka, ditambah kepadatan lalu lintas menyita waktu mereka lebih lama.


“Dia harus selamat Al, Putra ku bisa kacau kalau Hanum tidak baik-baik saja. Kau tahukan bagaimana Mahesa menyanjung Hanum akhir-akhir ini. Bagaimana kita memperingatkannya agar tidak membicarakan gadis manis ini pada Ayuna ku.” Bicaranya penuh kepiluan.


Aldo hanya mengangguk paham, dirinya menyimak. Memperhatikan kegundahan hati Malik yang mencintai anak-anaknya begitu besar.


“Kita akan selamatkan Hanum demi Kakak Bos. Sabarlah, sebentar lagi kita sampai.” Aldo kehabisan kata-kata untuk menenangkan Malik, hanya kata itu yang berulang kali Aldo ucapkan.


Sejauh ini Aldo menyadari, tidak mudah menjadi orang tua. Semua Malik lakukan demi kebahagiaan bahagianya. Anak-anak yang sangat Malik sayangi.


Sesampainya Adam segera menangani Hanum tanpa sepengetahuan Sarah dan yang lainnya. Hanya ada Malik, Adam dan Aldo. Tidak mau membebani yang lain, masalah yang saat ini ada sudah cukup menguras tenaga dan pikiran mereka.


Beberapa saat kemudian Hanum tersadar saat Adam sedang mengoleskan salep di lengannya yang penuh luka lebam.


Brukkkkk.....


Menyingkirkan dengan kasar tangan Adam yang dengan lembut menyentuhnya. Matanya membulat, menatap Adam penuh ketakutan tapi tidak fokus.


Adam mendekatinya perlahan, Hanum melihatnya seperti penjahat. Gadis yang Adam kenal manis yang sangat lembut tidak sedang baik-baik saja. Adam akhirnya duduk sedikit menggeser kursinya menjauhi Hanum. Adam ingin Hanum merasa nyaman dulu berada di dekatnya.


“Hanum....apa Hanum lapar? Dokter lapar sekali, mau tidak Hanum temani Dokter makan?” Tawarnya mencoba menarik perhatian Hanum. Hanum mengangguk, dirinya memang sangat kelaparan.


“Tunggu ya Nak, Dokter pesankan makanan.” Adam meaih ponselnya, meminta Malik dan Aldo masuk membawa makanan yang Mahesa bilang kesukaan Hanum.


“Bagaimana Dam?” Bisik Malik yang melihat Hanum menatap mereka penuh selidik.


“Dia masih ketakutan, kita pelan-pelan Al.” Malik pecaya pada Adam, dia berhasil menangani luka Ayu yang teramat dalam.

__ADS_1


Kali ini Malik percaya Adam akan bisa menangani Hanum. Dia pasti sembuh dan bisa melupakan semua penderitannya.


__ADS_2