
"Bobo Dad?" Malik mengangguk, akhirnya Putri cantiknya tidur setelah susah payah mengayunya penuh perjuangan. Ayu membelai pipi bulat Putri cantiknya yang terlelap begitu nyaman.
"Mommy istirahat sayang. Jangan banyak bergerak begitu sayang." Ayuna tersenyum. Baru juga melangkah dari kamarnya, Malik sudah khawatir dirinya akan melakukan pekerjaan yang dia gemari. Beberes rumah.
"Sudah lama tidak beres-beres kamar anak-anak ku Dad. Mommy mau cek sebentar Dad." Malik merentangkan tangan kirinya. Ayu mendekat, memeluk erat Malik yang selalu memanjakan dirinya.
"Anak-anak mu sudah besar-besar sayang, mereka rajin bersih-bersih kamar mereka sendiri." Malik menciumi kepala Ayuna yang bersandar di dadanya.
"Berati Mommy berhasil mendidik mereka jadi laki-laki yang bersih, mandiri dan selalu menjaga keseimbangan tempat tinggal mereka." Malik tersenyum, mata bulat Ayu terlihat lucu saat sedang membanggakan kedua Putranya.
"Kamu berhasil sayang, bahkan Daddy saja merasa anak-anak ku perlu bergaul lebih luas karena terlalu baik. Seusia mereka seharusnya sedang suka menentang orang tuanya." Bibir Ayu mengerucut lucu. Apa-apaan suaminya ini, anak-anaknya sangat baik tapi Daddy nya ingin mereka mencoba hal yang tidak baik.
"Anak-anak ku baik Dad, mana mau mereka membuat orang lain kesusahan karena ulah mereka. Mommy tidak pernah ajarkan anak-anak ku hal buruk Dad." Menggoda Ayu membuat dirinya terhibur.
"Sekali-kali nakal tidak apa Mom." Ayuna menggeleng. Mana boleh anak-anak nya nakal, melihat mereka babak belur kemarin saja dirinya tidak bisa berkata-kata. Sedihnya sampai tidak bisa di ungkapkan.
"Mommy ke kamar anak-anak ya Dad, mumpung mereka main game Dad, kan sebentar lagi kita ke rumah Mas ku." Malik memeluk Ayu erat sebelum melepaskan nya memenuhi keinginannya menengok kamar anaknya.
"Daddy letakan Baby di box ya Mom, setelah itu Daddy ke ruang kerja Daddy, Mommy jangan lama-lama ya sayang. Tengok sebentar saja setelah itu istirahat dengan Baby." Ayuna mengangguk.
Dengan senyum sumringah Ayu masuk ke kamar Ranu dan Mahesa, rapih sekali seperti yang di ceritakan Malik tadi. Ayu berkeliling dengan tenang, mereka cukup dewasa dan sudah bisa mengurus diri mereka sendiri.
Ada kertas yang tergeletak di meja milik Mahesa, Ayuna penasaran dan membukanya. Kata demi kata membuat dirinya menjadi lemas. Matanya panas, dadanya berdegub cukup kencang.
Ayuna dengan cepat meletakkan kertas yang menyesal sekali dirinya baca, dengan gemetarmenaruh kembali dengan rapih di tempat asalnya. Ayu segera masuk ke dalam kamar, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Nak, siap-siap sayang. Sebentar lagi ke rumah Om Jofan Nak." Keduanya mengangguk dan segera berdiri. Daddy nya berdiri di ambang pintu rumag game mereka.
"Daddy dan Mommy ikut kan?" Tanya Ranu yang tidak ingin pergi tanpa kedua orang tuanya. Malik mengangguk.
"Om Riyan akan segera sampai. Kalian siap-siap ya sayang." Mahes mengecup pipi Daddy nya lembut sebelum beranjak. Malik meminta Riyan datang membantunya menyetir mobil.
Malik melangkah menuju kamarnya, terdengar suara bayi kecilnya nya menangis cukup keras, Malik segera memutar handle pintu, Malik memutar lebih keras karena pintu kamarnya tidak bisa di buka.
__ADS_1
"Mom...kok di kunci Mom, Ayuna." Malik sedikit merasakan ketakutan, tumben sekali pintu kamarnya terkunci.
Tok....tok.....tokkkk...
"Mommy. Daddy masuk ya sayang." Malik terpaksa membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dirinya siapkan. Mencari keberadaan Ayuna yang tidak ada di kasurnya. Malik mengangkat Baby yang menangis cukup keras.
"Mom....Dimana sayang?" Mencoba tenang dan mencari perlahan keberadaan Ayu yang ternyata ada di dalam kamar mandi. Malik berdiri di depan kamar mandi. "Daddy masuk ya sayang."
"Mom...." Malik syok melihat Ayu menangis di pojok kamar mandi. Menumpu wajahnya di atas kedua lututnya. "Kenapa sayang?" Malik bingung karena tangannya sedang menggendong Baby. "Tunggu sayang, Daddy minta Kakak jaga Baby dulu yah." Ayu mengangkat wajahnya, deraian air mata membasahi wajah nya yang kini bersemu merah.
"Jangan Dad." Malik tahu bagaimana Ayuna tidak mau terlihat tengah bersedih di depan anak-anak. "Mommy mau peluk Daddy saja." Malik membantu Ayuna berdiri. Baru sebentar dirinya lengah saja, sudah ada yang membuat hati lembut istrinya begitu sedih.
"Sini sayang, Daddy peluk Mommy." Ayuna duduk bersandar di kasur, kesedihannya benar-benar tidak bisa di bendung.
Sakit sekali membaca surat penerimaan Mahesa di universitas terbaik yang ada di Inggris. Akan jauh sekali jarak mereka berada. Ayu terisak cukup pilu, tidak ada pertanyaan dari Malik. Dia hanya memeluk Ayuna dengan erat. Baby girl nya sangat pintar, dia terlelap cukup tenang di dekapan Malik.
"Sayang." Ayu masih tidak bisa berhenti menangis. "Aku minta Adek bawa Baby ke rumah Jofan ya sayang, kalau sudah tenang kita susul ke sana." Ayu menggeleng.
"Daddy bawakan stok ASI Baby yang ada di kulkas sayang. Tunggu di sini sebentar ya Mom." Ayu akhirnya mengangguk. Menyadari kondisinya sedang tidak bisa di paksa mengurus Baby cantiknya.
"Adek ..." Riyan berjalan dengan cepat menghampiri Malik yang menggendong Baby di lengannya. "Bawa Baby dengan kalian ya Dek. Kakak harus tenangkan Mommy nya dulu." Riyan menatap Malik dengan penuh tanya.
"Mbak Ayu sedang tidak baik kah?" Tanya Riyan yang khawatir.
"Mommy kenapa Dad?" Tanya Mahesa yang mendengar pertanyaan Om nya. Ranu yang ada di belakang Mahes menatap Daddy nya penasaran.
"Boleh Abang ke kamar Mommy." Malik menggeleng, tersenyum pada anak-anak nya.
"Daddy bisa tenangkan Mommy sayang, kalian bantu Daddy jaga Baby bisa sayang?" Mahes dan Ranu tahu Mommy nya tidak mau dilihat mereka saat tengah tidak baik.
__ADS_1
"Susul kita ya Dad, Abang tunggu di rumah Om Jofan." Mahesa juga tidak mau egois, Daddy nya pasti bisa menenangkan Mommy nya.
Mahes mengendong Adik perempuan nya yang masih terlelap. Malik sudah membereskan semua keperluan Baby dalam satu tas besar. Anak-anak sudah di berikan pendidikan cara mengurus adik bayi nya. Mereka bisa Malik andalkan menjaga adik kecilnya.
Setelah mereka pergi, Malik kembali masuk ke dalam kamar membawa teh hangat. Ayu sudah terlihat menidurkan tubuhnya yang kelelahan di kasurnya yang nyaman. Tangan besarnya membelai lembut surai Ayuna yang tergerai.
"Maaf Dad, aku sakit sekali Dad." Malik hanya mengangguk mencoba memahami.
"Mommy boleh sedih sayang, jangan di tahan. Daddy bisa menampung semua sedihnya Mommy." Ayu mendekatkan tubuhnya bersandar pada paha Malik.
"Anak-anak tidak bisa sekolah di sini saja Dad? Jauh-jauh susah Mommy temui mereka nya Dad." Malik ingat semalam membahas penerimaan Mahesa sebagai Mahasiswa.
"Soal Kakak ya Mom?" Ayu tidak menjawab. Helaan nafas Malik cukup panjang. "Anaknya antusias sekali belajar di universitas impiannya Mom. Dia ingin belajar menjadi pengusaha Mom, Kakak bilang kalau sudah punya bakat akan bantu Daddy mengurus perusahaan, ingin Daddy punya banyak waktu menjaga Mommy nya." Ayu terharu mendengar nya.
"Tapi jauh sekali Dad pilihannya. Mommy suka tidak bisa menahan rindu Dad." Malik paham sekali, selama ini dia tidak pernah jauh dari anak-anaknya.
"Kalau kita tahan mereka Mom, anak-anak tidak bisa leluasa mencoba hal baru dalam hidup mereka Mom." Ayu mulai bisa tenang. Benar yang Malik ucapkan.
"Sorry, Mommy cuma tidak bisa menahan sakitnya Dad. Mommy sedih sekali Dad." Malik menciumi tangan Ayu.
"Mana mungkin tidak sedih kalau jauh dari anak kesayangannya. Pelan-pelan Mom, kita harus bisa merelakan mereka ke tempat yang mereka impikan Mom. Demi kebaikan mereka sayang." Ayu menunduk, tidak rela sekali.
"Cepat sekali ya Dad, aku rasanya baru kemarin gendong-gendong mereka Dad." Malik tidak lagi banyak berkata-kata. Ayuna sedang ingin di dengarkan. Dia butuh meluapkan isi hatinya.
Tolong jaga Baby ya An, Ayuna sedang syok Kakak di terima di universitas impiannya. Sedikit demam dia An. Aku butuh waktu menenangkannya.
Pesan yang di kirim Malik pada Anna. Untung saja Baby punya banyak stok ASI, Malik bisa tenang menitipkannya pada Anna.
Ayunan terlelap di pelukan Malik, dia tidak pernah berubah sedikitpun. Tetap menjadi wanita kecil Malik yang manja, yang lemah dan selalu bisa dengan begitu nyaman tidur di dalam pelukannya.
Malik menatap wajahnya sendu, sakit sekali melihatnya menangis sesenggukan mendapati Putra nya akan segara meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama.
Meski Mahes bisa saja pulang saat liburan, ketidak hadiranya di rumah miliknya akan membuat suasana menjadi berubah. Ayu sampai sedikit demam begitu tahu, dia pasti merasakan sakit yang begitu besar.
__ADS_1
Dia yang merawat Mahesa sepanjang waktu, memberikannya banyak cinta dan perhatian. Hatinya butuh waktu untuk menerima, untuk mengalah demi kebaikan anak-anaknya. Untuk merelakan mereka mengejar impian demi meraih cita-cita mereka.