
"Ji...makan apa kita siang ini? Ji...." Hans menoleh ke sisi kirinya, dimana Oji sedang duduk senyum-senyum sendiri. Bahkan suaranya tidak terdengar.
Perlahan Hans berjalan, ingin mengintip. Apa gerangan yang membuat wajah sahabatnya full senyum seharian ini. Sudah sangat lama tidak melihat senyum semanis ini dari wajah Oji semenjak patah hati. Kecuali sedang bersama Abang Ranu dan Kakak Mahesa.
"Oalah.....pantas saja." Oji menutup ponselnya degan cepat. Wajahnya gugup seperti maling yang tertangkap basah. "Siapa?" Tanya Hans penasaran.
Oji menggeleng, dia enggan berbagi kisah yang sepertinya tidak ingin dirinya mulai. Masih ada cinta yang begitu besar untuk Ayuna, belum bergeser sedikit pun dari tempatnya.
"Bukan....bukan siapa-siapa. Tadi kau bilang apa?" Mencoba mengalihkan pembahasan. "Ayo kita makan siang. Kau saja yang pilihkan." Ucapnya masih terdengar gugup.
"Seperti dengan orang lain saja. Sama siapa lagi kau mau bercerita? Aku ini satu-satu nya teman mu yang setia." Hans duduk dengan manis di sisi Oji, berharap sahabatnya mau berbagi kisahnya. Senyumnya semanis mungkin merayu Oji agar mau bicara.
"Bukan siapa-siapa Hans. Ayo makan, aku juga sudah lapar." Hans menahan tubuh Oji yang sudah mau berdiri.
"Tidak mau cerita? Gadis mana Ji, cepat ceritakan." Rengekan yang membuat Oji tersenyum.
"Kau ini. Lagian dia bukan siapa-siapa, aku juga tidak punya harapan apapun. Dia masih anak kecil." Tapi senyumnya berbeda.
"Sedang tren loh Ji, lihat saja Rian. Dia menikah dengan Melani yang lebih tua." Oji menggeleng heran, masih saja memaksa dirinya untuk berusaha menerima dan mencoba.
"Aku tidak tertarik." Kini Oji sudah berhasil berdiri.
"Aku tidak bisa kau bohongi Ji, mungkin orang lain akan menganggap kau bicara apa adanya. Aku ini sudah lama dengan mu, aku paham mana yang hanya selewat dan mana yang membekas. Siapa?" Masih saja berusaha.
"Ayo kita makan siang. Aku lapar Hans." Merosot ke lantai, usahanya tidak membuahkan hasil. Rasa penasaran sungguh membuatnya ingin menelan Oji hidup-hidup.
"Tidak bisakah bicara saja?! Hah! Aku penasaran! Siapa perempuan yang berhasil membuat gunung es ku meleleh!" Oji tidak menghiraukan, dia tetap melangkah keluar dari ruangannya.
Yang di teriaki sibuk senyum-senyum sendiri.
"Hay....."
Brukkkkk
Tubuh Oji terpental begitu terkejut melihat gadis cantik yang tengah membuat sahabatnya meraung penasaran ada di depan ruangannya. Tangan Oji spontan mengucek kedua matanya, takut hanya halusinasi nya saja karena hatinya sedang memikirkan Helga.
"Ha...hayyyyy......"
"Siang Kak." Sapanya begitu manis.
"Se...sedang apa di sini?" Helga yang tersenyum begitu hangat mendekat. Tangannya membawa rantang makanan yang bersusun. Mengangkatnya untuk menjelaskan tanpa kata-kata.
__ADS_1
"Belum makan siang kan?" Oji menggeleng. "Syukurlah, aku sampai ngebut bawa motornya. Untung saja belum terlambat." Oji masih mencerna, otaknya mendadak beku tidak bisa berpikir. "Ayo makan siang bersama." Oji menelan salivanya susah payah.
"Ji....tungg ....!" Hans tersenyum sopan, Hans melihat Oji hanya mematung. "Siapa?" Helga menunduk menyapa dengan sopan.
"Aku Helga, aku teman Kak Oji." Hans tersenyum cukup lebar. Ini nama gadis yang tadi di senyumi manis oleh Oji.
"Aku Hans, masuk. Anggap saja kantor calon suami." Celetuk Hans yang membuat Oji membulatkan matanya. "Hahahaha..... bercanda, tapi kalau benar lebih bagus." Helga tersipu malu.
"Maaf ya Dek, temen ku memang suka bercanda." Hans yang cenut-cenut dengar sahabatnya bicara begitu manis. "Ayo masuk." Oji meraih rantang yang Helga pegang.
Hans jadi ingin tahu lebih dalam, tapi kalau dirinya menganggu akan lama untuk Oji bisa semakin dekat. Bingung membuat Hans akhirnya memilih meninggalkan keduanya.
"Aduh.....ahhhhh......aku sakit perut." Hans berpura-pura, ingin memberikan ruang untuk keduanya.
Oji yang melihat mata Hans berkedip padanya jadi tersipu, bisa-bisanya Hans meninggalkannya hanya berdua.
Dengan telaten Helga menata semua makanan di atas meja, senyum manisnya entah mengapa membuat hati Oji begitu bahagia, tenang, dan ada perasaan lain yang sulit di gambarkan.
Bukan tidak menyadari kalau dirinya sudah jatuh hati, Oji hanya belum membuka diri menerima orang lain dalam hatinya. Tapi entah yang satu ini berbeda, seperti ada dorongan dalam dirinya untuk mencoba, mencoba menerima dan merasakan lagi perasan mencintai.
Tidak terlihat jika Helga juga menyukai nya, perasaan berkecil hati membuat Oji tidak berani memastikan lebih dalam. Biarkan saja mengalir dulu kemana maunya.
Flash Back
"Kak Oji, aku titip Baby yah. Aku sakit perut Kak." Tangan Oji segera menerima Bayi perempuan yang tengah terlelap. Namanya Mayra, putri dari Hans dan Dandelions yang baru berumur beberapa bulan.
Cukup tenang, tapi tidak lama bayi menggemaskan itu mendusel. Seperti sedang mencari sesuatu."Yah....tunggu Ibu mu datang, jangan menangis." Ucapnya pelan." Karena meras begitu bising, Oji memutuskan ke luar. Mencari udara yang lebih tenang agar Baby tidak bangun.
Mencari Hans juga percuma, tidak nampak batang hidungnya dimanapun.
"Huaaaaa...." Suara Isak tangis dari ruangan yang berada tidak jauh dari teras. Oji penasaran, dan perlahan melangkah mendekat. Mencoba mengurungkan niatnya tidak mau ikut campur.
"Tenang sayang, kenapa datang kalau tidak siap melihat mereka." Oji memutuskan melangkah lebih mendekat. Suaranya tidak asing.
"Aku ingin buktikan kalau aku baik-baik saja. Tapi kaki ku sakit. Huaaaaa ....." Helga tidak bisa melangkah kan kakinya ke dalam sama. Lemas sekali harus menyaksikan laki-laki yang dicintainya menikah dengan orang lain.
"Kalau begitu pulang ya sayang, jangan di teruskan. Kamu bisa sakit kalau dipaksa ke dalam." Oji jelas mendengar suara Malik.
__ADS_1
Dadanya bergemuruh hebat, takut sekali jika apa yang dirinya pikirkan terjadi. Akan sehancur apa wanita kesayanganya. Malik akan dirinya hancurkan sebelum menghancurkan hati wanita kesayanganya.
Brukkkkkk ....
Malik dan Helga terkesiap, pintu di dorong begitu keras. Malik terlihat tengah duduk di bawah wanita muda yang berderai air mata.
"Oji.....ku pikir siapa." Oji ingin menghantam Malik, dia tidak tahu malu meski sudah melihat dirinya.
"Tidak ada yang mau di jelaskan?" Malik menaikkan satu alisnya, tidak paham.
"Maksudmu? Menjelaskan apa?" Malik merasa tidak harus menjelaskan apa pun. "Jangan berpikir....." Oji tersenyum mengejek, akhirnya pria brengsek ini paham.
"Aku orang pertama yang akan membunuhmu jika itu benar!" Helga yang tadi menangis jadi linglung, apa yang sedang mereka ributkan. "Katakan!" Bayi di gendongan Oji terkejut karena suara Oji yang menggelegar. Oji lantas menepuk dan menimang nya sayang.
"Jangan berpikir gila Ji, dia Helga. Adik ku dan Ayuna. Hahahaha....." Malik tertawa, padahal tadi suasana cukup sedih. Dirinya tidak mungkin berkhianat.
"Benarkah?" Malik mengangguk. "Aku sudah berpikir untuk menghancurkan mu kalau sampai itu terjadi." Suara Isak tangis Helga kembali terdengar. Malik kembali memeluknya dengan hangat, dia sedang sangat hancur saat ini.
"Tenang sayang, sekarang bagaimana? Masih mau masuk?" Helga menggeleng, mustahil dirinya akan baik-baik saja. Baru di depan sini saja tubuhnya sudah begitu kesakitan.
"Aku pulang saja. Aku tidak akan kuat." Malik menahan tangan Helga yang mau beranjak.
"Jangan pulang sendiri sayang. Kakak antar yah." Tawar Malik yang khawatir. Dia sedang sedih, tidak mau terjadi hal buruk padanya. "Kakak tidak ijinkan kamu bawa mobil sendiri."
"Aku bisa, aku tidak mau merepotkan kalian. Nanti Mbak Ayu bisa cari-cari Kakak juga." Helga bersikeras ingin pergi. Sudah sangat sesak dadanya.
"Aku saja. Aku saja yang antar, aku temui Ayuna ku dulu sebentar. Setelah itu aku kesini. Tunggu aku." Oji tidak mau Malik pergi demi orang lain. Harus ada di sisi Ayuna, menjaganya tetap aman.
Setelah menemui Ayuna yang juga terlihat begitu sedih, Oji kini tengah mengantarkan Gadis muda yang masih sesekali mengusap air mata yang lolos membasahi pipinya.
Tidak langsung pulang, Oji yang melihat kesedihan di wajah Helga merasa tidak tega. Dia membawa Helga ke tempat tenang yang sering dirinya datangi saat tengah terpuruk.
Angin malam membuat suasana sendu semakin terasa. Oji jadi memikirkan permintaan Ayuna untuk membuka diri. Untuk mencoba menerima perasaan lain agar dirinya tidak terus terpaku dengan masa lalu.
Mereka berbincang banyak hal. Oji dan Helga bisa saling terbuka meski baru pertama kali bertemu, ada rasa nyaman. Mereka menyukai Kakak beradik yang kini sudah menjadi milik orang lain. Merasa kisah mereka sama dan punya banyak kemiripan.
__ADS_1
Setelah malam itu, mereka sering bertukar kabar lewat pesan. Helga begitu perhatian dan membuat Oji sering merasa punya arti dalam hidupnya. Menjadi punya tujuan hidup meski masih samar.
Helga gadis yang cukup baik, tidak memaksakan Oji untuk mengerti dirinya, Helga begitu tulus, dia suka membuat Oji merasa di butuhkan untuk melindunginya.