
Tidak ada pembahasan apapun tentang masalah yang menimpa Melan. Mereka memilih menyimpan semua nya demi kenyamanan semua para wanita kesayangan mereka. Tidak mau merusak momen liburan yang memang harus di isi kenangan penuh kebahagiaan. Tidak mau membuat liburan kacau dan menjadi kenangan tidak menyenangkan.
Para lelaki, mereka berkumpul di halaman belakang villa yang rimbun banyak pepohonan, enak sekali suasana malam di belakang villa, masih asri.
Sedangkan para wanita bertugas menyiapkan makanan penutup. Semua bercanda tawa seolah benar-benar tidak terjadi apapun saat ini.
Para wanita masih ada di dalam rumah menyiapkan makanan ringan dan jus karena di larang membantu para lelaki yang sedang memanggang daging di halaman belakang Villa. Menurut saja dari pada para kesayangan mereka merajuk dan suasa menjadi tidak kondusif. Bahkan bisa jadi acara bakar-bakar daging dan semacamnya batal.
Bahagia sekali suasana malam ini, sudah cukup lama kesibukan menyita waktu untuk mereka bisa berkumpul bersama seperti saat ini.
“Kak.....” Mahes mendekat ke Daddy nya. “Minta Mommy duduk, kasihan Baby di perutnya pasti kelelahan.” Mahes tersenyum melihat tawa para wanita kesayangannya terlihat sangat bahagia.
“Biarkan saja Dad, Mommy nya happy.” Malik menajamkan matanya. Mahes yang mengerti kodenya langsung saja beranjak dari tempatnya mengipas jagung bakar.
"Mom...." Mahesa menarik tangan Mommy nya dengan lembut, membawanya duduk. Matanya sedari tadi mengawasi pergerakan Mommy nya yang mengkhawatirkan, kilahnya tadi hanya menggoda Daddy nya yang sedang khawatir. "Istirahat sebentar." Ayu menurut saja, menyandarkan tubuhnya di sofa yang nyaman.
Dari kejauhan Anna dan Sarah mengacungkan jempolnya. Kalau bukan anaknya yang meminta, Ayuna terus saja bergerak kesana kemari tidak bisa diam.
"Kakak kok ganteng banget sih." Ayu salah tingkah di tatap mata tajam Putra nya. Ayu merapihkan rambut Mahes yang menutupi keningnya. "Kakak wangi." Mahes balas mencium tangan Mommy nya. Mahesa paling suka dapat sentuhan lembut tangan mungil milik Mommy kesayangannya.
Mahes menggoda dengan menciumi pipi Ayuna yang merona. Pandai sekali dia membuat Mommy berdebar-debar, Ayu dan Mahesa memang begitu dekat. Tidak ada perbedaan seperti hal nya Ranu untuk dirinya.
"Aku suka wangi Mommy. Alami sekali." Senyum Mommy nya sangat cantik malam ini. "Keep smiling like this Mom. Jantungku berdebar Mom." Ayu memeluk hangat putra kesayangan nya. Banyak bicara kalau di dekatnya, Mahes sedang merayu agar maunya di turuti kesayangannya.
"Jangan terlalu banyak bergerak boleh Mom." Pasti permintaannya begitu, sudah Ayuna tebak. "Panggil Kakak kalau butuh ambil sesuatu, please." Kaki nya masih baik-baik saja, tapi bergerak saja membuat mereka khawatir. Ayu hanya tersenyum. perhatian mereka yang berlebihan kadang membuat kepala Ayuna pusing, tapi juga suka.
"Ok, Mommy tunggu di sini yah. Mommy bisa nonton film." Meraih remot yang ada di meja. Kalah cepat dengan Mahes.
"Sini Kakak carikan. Mommy mau drama Korea?" Mahes dengan cepat menggapai remote tv. Ayuna mengangguk, Ayu jadi tidak bersemangat, tapi tidak mau merusak momen bahagia mereka. Nonton sajalah, daripada pergerakannya membuat semua orang tidak bisa konsentrasi.
Mahes menarik tubuh Mommy ke pelukkannya. Menyandarkan kepala Mommy nya di dada bidangnya dan menemani Mommy nya menonton drama Korea kesukaannya.
Malik yang melihatnya dari luar tersenyum, dirinya dapat tatapan menyedihkan saat meminta semestanya istirahat. Mahes dan Ranu adalah jurus andalan saat dirinya tidak bisa meluluhkan hati Ayuna.
"Al.....apa rencana mu? Aku tahu kau tidak mungkin membiarkan semua ini menguap begitu saja." Tanya Rey yang juga merasa harus memberikan pelajaran pada laki-laki yang membuat Melan begitu menderita.
"Jangan bahas di sini. Mereka sedang bahagia. Jangan rusak momen kita Rey." Rey mengangguk paham.
Rey tahu sekali jika Malik tidak sedang bersantai. Dia mencuri-curi waktu dengan ponselnya di sela-sela kesibukannya memanggang daging.
__ADS_1
Terdengar keributan dari kejauhan. Adam sedang berjalan menghampiri mereka, Malik dan Rey saling menatap tidak bisa meninggalkan panggangan mereka yang bisa gosong jika di tinggalkan. Dan akan memancing perhatian semua orang.
"Jofan, ada apa?! Kenapa kalian ini!" Adam menarik Riyan menjauhkan nya dari Jofan.
Riyan mengusap wajahnya kasar. Jofan memunggumi mereka mengatur nafasnya yang tersenggal.
"Lepaskan Dok, aku harus menemukan laki-laki brengsek yang mengusik......!" Ucapannya tercekat. Baru kali ini melihat Riyan begitu marah. Wajahnya penuh amarah sampai rahangnya terlihat begitu mengeras.
"Aku tidak akan lepaskan sebelum tau kenapa kalian saling berselisih seperti ini. Ada wanita-wanita yang selalu kita jaga di dalam sana. Kalian ingin mereka melihat dengan nyata kekonyolan sikap kalian!" Jofan mendudukkan dirinya di atas kursi mencoba meredam amarahnya.
"Duduk Dek, aku tidak akan biarkan kaki mu melangkah barang sejengkal dari sini." Riyan tidak bisa berkutik, dia tidak pandai mengekpresikan perasannya.
Riyan mendudukkan dirinya di depan Jofan. Menunduk karena dadanya masih terasa begitu sesak.
Yang Adam tangkap, Jofan sedang mencegah Riyan melakukan hal bodoh yang berbahaya.
"Jelaskan Fan, ada apa?!" Adam berganti mendekat pada Jofan.
"Sebaiknya kita jangan bahas ini. Aku takut tidak bisa menahan emosiku dan meledak." Jofan menarik tangan Riyan membawanya ke dalam ruangan.
Malik berdiri menghalangi langkah mereka. "Ingin mengacau?! Jika iya, langkahi dulu Kakak kalian ini." Riyan hanya menunduk, Jofan menepuk bahu Malik mengisyaratkan semua baik-baik saja.
"Sudah selesai masakanya?" Tanya Ayu yang melihat Jofan dan Riyan duduk di depannya. Wajah keduanya tidak bersahabat.
"Riyan kepanasan berdiri terlalu lama di depan kompor Love." Mahes menatap penuh selidik, mereka berdua sedang berbohong.
"Ihhhhh.....adek...." Ayu menegakkan duduknya. Menepuk sisi nya duduk meminta Riyan duduk di sebelahnya. Riyan dengan lemas berjalan, duduk di sisi Mbak nya. Ayu dengan lembut menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuh Riyan.
"Om Riyan. Kakak ke belakang yah, mau bantu yang lain." Riyan tersenyum, dirinya sudah bisa menguasai emosinya yang tadi sempat meledak.
Mahes mengecup pipi Mommy nya sebelum beranjak. "Nyamuk.....perhatian nyamuk ya om. Jangan sampai gigit kulit Mommy ku." Sindir Mahes yang sebenarnya meminta mereka tidak terlalu kentara memperlihatkan polemik yang mereka sedang rasakan.
"Hati-hati tangannya ya Kak, pakai sarung tangan." Pinta Ayu yang di balas senyum manis Mahesa.
"Kenapa keringatnya sampai banyak begini Dek, kan di sini dingin." Riyan hanya menunduk sambil tersenyum. "Kamu kaya habis berantem aja." Jofan yang memejamkan matanya spontan menoleh ke arah kedua adiknya. "Kenapa? Berantem? Sama siapa?" Tanya Ayu karena merasa Jofan membenarkan praduganya.
"Hanya ada kita di sini. Jangan aneh-aneh pikiranya love." Jofan memilih pergi menghindari tatapan Adik nya yang mencari jawaban.
"Mbak....aku rindu sekali." Riyan memeluk Ayu begitu erat. "Tolong biarkan seperti ini sebentar saja." Ayu membelai lembut surai adiknya yang hitam pekat. Merasakan jika tidak baik-baik saja adiknya saat ini.
"Ada Mbak dek sini, kita sama-sama ya dek. Kita pasti bisa bertahan." Ayu mencoba tidak menangis. Dia ingin jadi kekuatan untuk Riyan saat ini.
__ADS_1
"Aku punya Mbak, aku percaya bisa menjaga Mbak Ayu sampai akhir. Aku akan lakukan demi Bapak dan Ibu." Ayu juga rindu sekali pada kedua orang tuanya. Ingin sekali menangis, tapi Ayu mencoba sekuat mungkin menahannya.
"Sayang..." Riyan mengendurkan pelukkannya. "Everything ok Yan?" Riyan mengangguk. Ayuna juga tersenyum menjawab pertanyaan Malik.
"Ok Kak, Riyan hanya kelelahan saja."
Riyan bangun dari duduknya, mendekat pada yang lain dan membantu pekerjaan yang masih cukup banyak agar cepat selesai.
Sakit sekali hati Riyan melihat Melani tertawa seolah tidak ada beban dalam dirinya. Cantik sekali cara wanita kesayangannya menutup luka. Sampai sudah cukup lama dan dirinya baru tahu sudah ada trauma mendalam dalam dirinya.
"Aku selesaikan sup ku dulu ya Mom." Ayu tersenyum. Malik segera ke dapur melanjutkan sup dagingnya yang hampir matang. Tinggal memasukan beberapa sayuran agar bertambah lezat.
Perdebatan sebelum acara barbeque.
"Malam ini makan apa yah?" Celetuk Melan yang sedang makan ice cream.
"Ice cream aunty saja masih penuh....sudah memikirkan makanan lain Aunt?" Ledek Ranu gemas.
"Hahhha....Abang kan tau kalau aunty nya suka makan. Jangan di tanya Bang." Sahut Sandra menggoda sahabatnya.
"Bagaimana kalau kita barbeque." Ayuna mencetuskan ide nya, sudah lama tidak makan-makan seperti ini.
"Setuju!!!!!!" Seru Sandra dan Melan kompak. Ranu mengernyit kan dahinya.
"Mana boleh Ibu hamil makan yang di bakar-bakar Mom, tidak sehat." Ranu menggeleng tidak menyetujui.
"Mommy kan bukannya sakit Bang, boleh dong makan daging Bang." Manis sekali bicaranya tapi tidak mempan. Ranu masih menolaknya dengan tidak kalah manis.
"Bukan Abang larang Mom, tapi bakar-bakar untuk Ibu Hamil itu tidak sehat." Ranu meraih tangan Mommynya yang terlihat tidak bersemangat.
"Kenapa Love?" Jofan yang memperlihatkan dari jauh mendekat. Ayu hanya menggeleng sedih. Perasannya seperti anak kecil yang mudah sekali merasa kesal. "Loh kenapa Abang. Kok cinta nya Mas sedih begini." Sandra berbisik di telinga Jofan. Mas nya hanya tersenyum menanggapi.
"Kenapa Fan?" Tanya Adam yang baru masuk ke dalam ruangan setelah duduk-duduk di kursi taman villa.
"Adik ku ingin makan daging bakar, boleh Dokter?" Tanya Jofan.
"Kalau Ayu bisa berjanji tidak makan banyak daging bakar tentu saja boleh, tidak boleh terlalu banyak. sedikit saja."
Ayu mengangguk penuh semangat. "Aku janji, makan sedikit saja."
"Makan sup daging buatan Suami mu saja, supaya racun nya hilang dan cepet tergantikan nutrisi yang sehat."
__ADS_1