Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
I Love You Mom


__ADS_3

Mahesa masih memeluk Mommy nya erat. Suhu tubuhnya masih tinggi dan Ayu merasa tidak akan bisa tega meninggalkannya sendirian hanya bersama Adam.


"Sayang, kita ke atas saja yah. Mommy tidak bilang Daddy turun ke sini Nak." Mahes mendongak.


"Mommy sendirian turun ke sini?" Bahaya loh Mom." Ayuna menggeleng, dirinya tidak mungkin sendirian.


"Sama Tante Mawar loh Nak, Mommy cuma tidak bilang Daddy. Kasihan Daddy nya sedang meeting, kalau Mommy bilang pasti Daddy akan tidak konsentrasi meeting nya Sayang." Mahes mencium tangan Mommy nya.


"Kakak sayang sekali pada mu Love. Tidak akan ada wanita lain yang punya tempat seperti Mommy di hati Kakak." Gombalnya membuat Mommy nya gemas.


"Ayo Nak, kita istirahat di atas saja sayang." Rengeknya yang tidak mau Mahes di bawah tanpa dirinya saat sakit.


"Ok Mom." Mahes duduk, Ayuna sudah berdiri ingin membantu Mahesa bangun. "Mommy jangan khawatir, Kakak ok saat ini Mom." Ayu mengangguk, Putra nya hanya sedang menasehati agar khawatirnya tidak berlebihan.



Anak-anak tahu jika Mommy nya tidak bisa berpikir terlalu keras, ada luka yang selalu bisa menyakitinya lagi jika Ayuna terlalu khawatir pada suatu hal. Dia harus tetap tenang dan merasa aman.


"Mommy tidak apa Kak, cuma mau temani Kakak saja." Kilahnya yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya dari Mahesa.


Cupppp.....


Kecupan yang mendarat di pipi kanan Mommy nya. Wanita baik hati yang selalu bisa membuat anak-anak nya jatuh cinta.


"Dokter....." Adam yang tengah merebahkan badannya di sofa membuka mata. Baby terlihat nyaman sekali bobo di atas perutnya. "Ayo ke atas. Istirahat di atas saja." Adam mengangguk.


"Kakak bisa jalan sendiri Nak?" Tanya Adam memastikan.


"Kakak cuma demam Pih. Kaki Kakak cukup kuat hanya naik lift saja." Adam tersenyum. Kuat tapi bergelayut manja di tubuh kecil Ayuna.


"Ayo, Dokter juga harus istirahat. Nanti aku buatkan sarapan, Kakak juga harus makan dulu sebelum istirahat." Cerewet nya membuat Mahes senyum-senyum gemas menatap Mommy nya.


Malik masih ada di ruang kerjanya saat Ayuna masuk ke dalam Apartemen. Ranu jika libur seperti ini menghabiskan waktu untuk olahraga di ruang gym yang ada di apartemen miliknya.


Adam menidurkan Baby di dalam box nya. Dia anteng, siang nya banyak di habiskan untuk tidur. Dia seolah merubah jadwal harianya menjadi keterbalikan dari orang dewasa. Dia bangun dengan baterai full saat malam menjelang, meminta Mommy dan Daddy nya memperhatikan dirinya.


"Makan nasi, roti atau sereal?" Tawar Ayu pada Putranya yang saat ini duduk di ruang makan.


"Roti." Jawab keduanya kompak, Adam ikut menjawab saat mendengar pertanyaan Ayuna.


"Mirip sekali kalian. Kakak selai coklat dan Papih selai strawberry." Mahes mengacungkan ibu jarinya.


Selesai sarapan Ayu membawa Mahesa ke dalam kamarnya, meminta Putra nya istirahat dengan nyaman agar panas tubuh nya cepat reda.


"I love you Mommy." Ayu membelai surai Mahesa yang sedikit berantakan.


"I love you to Kakak sayang. Anak Mommy yang paling besar." Ayu lagi-lagi merasakan desiran aneh mengingat bagaimana rumah tanpa Putra nya ini.


"Kenapa Mom? Mommy tidak akan minta Kakak tetap stay di sini?" Ayu memukul lengan Mahesa pelan.


"Anak Mommy mau mengejar cita-cita nya, Mommy senang loh Kak. Bagaimana Kakak punya pikiran begitu." Menggeleng berpura-pura hatinya baik-baik saja. Putra nya harus melangkah penuh percaya diri tanpa keraguan.


"Kakak akan berhenti kalau Mommy minta." Ayu menunduk, dia tahu anak-anak akan menuruti maunya.

__ADS_1


Ay menatap lekat bola mata Mahesa yang tersenyum begitu manis pada dirinya.


"Mommy akan selalu ada di sini." Menunjuk dada Mahesa. "Jauh nya kakak untuk mencari ilmu, mewujudkan cita-cita nya menjadi pengusaha sukses seperti Daddy. Mommy akan selalu jadi orang pertama yang dukung Kakak dengan keputusan ini." Mahesa menarik Mommy nya, memeluknya cukup erat sebelum membubuhkan kecupan di kening Mommy nya.


"Terimakasih Mom, Kakak akan selalu beri kabar, Mommy jangan khawatir."


"Sekarang bobo sayang, istirahat." Mahes merebahkan tubuhnya, Ayuna masih setia duduk di sisi Mahesa.


"Dam...tidur di kamar, kenapa kau malah tidur di sini?" Tegur Malik yang melihat Adam tidur di sofa di ruang keluarga. Adam memutar tubuhnya membelakangi Malik yang mengganggunya. "Adam! Kau tidak mau pindah! Mau ku gendong?" Adam akhirnya bangun, mendudukkan tubuhnya yang cukup lelah.


"Jaga in Baby. Aku ke kamar." Malik melihat tubuh mungil putri nya di dalam Box.



"Dimana Mommy nya?" Adam menunjuk kamar anak-anak yang tidak jauh dari sana. "Kakak di dalam?" Adam mengangguk. Malik tahu kalau Mahesa tidak ada di apartemen tadi.


"Dia pulang karena badannya tidak enak. Sedikit demam, dia menghindari Mommy nya takut Mommy nya sedih." Malik sedikit terkejut mendengar Mahesa sakit.


"Apa sudah minum obat?" Adam mengangguk.


"Dia cuma kepikiran bagaiman kesedihan Mommy nya karena sebentar lagi dia akan pergi cukup jauh Al." Malik mengangguk.


"Pada akhirnya kita harus melepaskannya Dam." Keduanya saling bertukar senyum. Getir sekali.



"Aku istirahat. Jangan ganggu mereka, butuh waktu berdua mereka Al." Malik mengangguk.


Sedih? Sudah pasti, tapi salah satu tugas orang tua adalah mengantar anak-anak nya ke tempat terbaik yang mereka mau. Ke tempat dimana mereka ingin belajar dan mengembangkan diri.


***


Sandra senyum-senyum melihat jajanan yang begitu menggiurkan mata dan mulutnya.


Sejak hamil, dia suka sekali membuat seisi rumah repot memenuhi inginya. Meski apapun yang dia minta pada akhirnya selalu di turuti oleh Jofan dan yang lainnya.


Pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok laki-laki tampan yang paling Sandra cintai. Jofan tersenyum, berjalan perlahan menghampiri istrinya.


"Sudah pulang fan?" Yang di tanya hanya membalas senyum.


Jofan memeluk Sandra erat. Tubuhnya kelelahan seharian ini mengurusi pekerjaan yang cukup membuatnya merasa penat.


"Wangi sekali sayang." Jofan paling cuka mencium ceruk leher Sandra.


Sandra mencoba melepaskan dirinya karena merasa geli. "Fan, geli loh aku nya."


"Sebentar saja, aku butuh isi daya sayang." Sandra membiarkan Jofan melakukan maunya.


Dia baru ingat ada kue tradisional yang ingin dirinya makan.


"Fan...." Menggoyangkan lengan Jofan. "Aku ingin makan ini." Matanya buat Jofan gemas.


__ADS_1


"Mana ada jam segini San, mungkin ada pagi-pagi. Nanti aku cari." Jawabnya lesu.


"Ahhhh....aku mau sekarang." Jofan mengangkat kepalanya. "Yang warna ini juga tidak apa." Tunjuknya lagi pada slide gambar selanjutnya. "Aku mau sekarang Fan."



"Sandra, bisa yah besok pagi saja. Besok aku cari kan." Sandra menggeleng kan kepalnya kuat-kuat.


"Sekarang.....aku mau sekarang...."


"Sandra! Stop please! Besok, aku lelah sekali." Sandra terkejut dengan suara tinggi Jofan.


Tubuhnya yang sedikit gemetar buru-buru turun dari atas kasur. Menolak tangan Jofan yang ingin meraihnya.


"Sandra....sorry sayang. San...." Jofan mengusak rambutannya kasar. Membawa emosinya ke dalam rumah yang seharusnya dia isi dengan kehangatan.


Prakkkkkkkkk


Tubuh Sandra yang memang berjalan tidak teratur menyenggol guci besar yang ada di dekat tangga. Beruntung tubuhnya tidak jatuh dari tangga karena berhasil meraih pegangan tangga. Lututnya terbentur cukup keras sampai berdarah.


"Sandra!" Jofan dengan cepat lari ke luar. Melihat Sandra yang sudah menangis sambil memegangi lututnya membuat Jofan lemas. "Ya Tuhan, sayang."


"Ada apa Mas?" Teriak Riyan yang juga lari dari kamarnya yang ada di bawah saat mendengar benda pecah begitu keras.


"Adek siapkan mobil. Cepat." Jofan menggendong tubuh Sandra, dia hanya bisa menangis dengan tubuhnya yang masih bergetar ketakutan.


"Tegang sayang, tenang....maaf kan Mas ya San. Maaf Sayang." Racau Jofan yang menyesali perbuatannya.


Dia yang paling tahu Sandra tidak suka di bentak, bodoh nya Jofan malah melakukannya.


Tidak lama mereka sampai di rumah sakit, Sarah dengan cepat menangani Sandra yang sebenarnya baik-baik saja. Dia hanya ketakutan.


"Fan tunggu di depan. Please, aku harus cek kondisinya dan aku butuh waktu sayang." Pinta Sarah lembut. Jofan melepaskan tangan Sandra.


"Ku mohon tolong Sandra." Sarah mengangguk dan mendorong Jofan keluar.


"Kau jatuh sayang?" Sandra menggeleng. "Lalu darah apa ini?" Tanya Sarah yang melihat darah mengotori rok berwarna putih yang Sandra kenakan. Sandra mengangkat ujung rok.


"Aku kesakitan gara-gara ini Dok, tapi......" Sarah tersenyum, lega sekali tidak ada masalah dengan kandungan Sandra.


"Kau membuat jantungku hampir saja berhenti Sandra." Sarah juga tahu kalau Jofan mengkhawatirkan hal yang sama.


"Ini cukup aku oleskan obat luka saja. Darahnya juga sudah berhenti. Apa ada luka lain sayang?" Sandra menggeleng. "Syukurlah, setelah ini aku akan minta Jofan pindah kamar, di bawah saja agar tidak ada lagi naik turun tangga. Mengerti!" Sandra mengangguk.


"Terimakasih Dokter." Ucap Sandra yang sudah selesai di obati. Sarah mengangguk dengan senyum manis nya.


"Aku panggil Jofan supaya jemput kamu San." Sandra mencekal tangan Sarah.


"Aku saja yang keluar, aku sudah baik-baik saja." Sandra turun dari brangkar nya perlahan.


Pasangan muda antik yang selalu membuat keluarganya gemas. Sarah tersenyum begitu hangat membuka pintu perawatan. Mereka berdua terkejut mendapati Jofan berderai air mata begitu khawatir.


__ADS_1


__ADS_2