Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Penculikan


__ADS_3

Khawatir, semua wajah-wajah orang yang sangat Ayuna sayangi sedang begitu adanya. Mereka mencari keberadaan Melani yang di culik entah oleh siapa. Begitu silih berganti masalah yang datang menerpa keluarganya. Hanya bisa menatap penuh rasa kasihan pada semua kesayangannya yang sedang berusaha keras menemukan informasi.



Malik menyunggingkan senyum sesekali saat menatap Ayuna yang nampak begitu tenang. Malik mencoba perlahan tidak menutupi apapun lagi agar Ayuna merasa nyaman seperti inginnya. Meski berat sekali harus melihat wajah Ayuna yang mencoba terlihat baik-baik saja di depannya. Malik tahu istrinya sedang berpura-pura, dia hanya ingin semua orang tenang seperti yang dirinya lakukan.


Telpon terus berdering bersautan, mungkin mereka sedang berbagi informasi tentang kemajuan pencarian yang mereka lakukan. Entahlah karena Ayuna hanya melihat mereka dari kejauhan. Di ijinkan tahu masalah yang mereka hadapi saja Ayuna sudah sangat bersyukur, tidak mau menuntut lebih dan mencoba menjadi kuat untuk mereka semua.



Kedua Putra nya sedang mengawasi dirinya, mata mereka benar-benar tidak berpindah sebentar pun dari wajah Mommy nya. Takut melewatkan sedikit saja kemungkinan apa saja yang bisa membuat Mommy nya melemah.


Anna dan Ajeng sedang ada di luar saat ini, mereka sedang melakukan pijat refleksi karena Ajeng mengaku tubuhnya pegal-pegal. Anna menemaninya karena tidak mungkin meminta Ayuna, Hanum juga turut serta karena Ajeng ingin lebih mengenal nya. Mereka aman dalam pengawasan anak buah Malik.


"Mommy?" Suara Ranu membuat Ayuna menyunggingkan senyumnya dengan lebar. "Mommy ok?" Ayuna mengangguk. Pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. Kakak nya tidak banyak bicara, hanya menatap wajahnya dengan tajam.


Mereka mengawasi setiap gerak gerik tubuhnya, Ayuna sudah biasa. Dia sudah tidak aneh dengan kelakuan dua jagoannya. Mereka akan seperti itu sampai keadaan benar-benar membaik.


Ayuna mencoba menjaga kewarasannya demi semua orang, padahal jantungnya berdetak tidak beraturan takut sahabatnya mengalami hal buruk seperti dirinya dulu. Mengalaminya bukan hal yang mudah, Ayuna tahu pasti semua orang yang melakukan kejahatan seperti itu bisa berbuat nekad tanpa pertimbangan.


"Cukup Mom. Kakak tidak tahan, sekarang kita istirahat di kamar Mommy dan berhenti tersenyum semanis itu." Mahes mengulurkan tangannya.


Ayu menatap Putra nya, apa baiknya dirinya pergi dulu yah....menepi. Sebentar, mungkin bisa memberikan mereka keleluasaan. Pingganya juga sedikit terasa kaku, mungkin terlalu banyak duduk dalam waktu lama.


"Ya sudah, kita istirahat di kamar Mommy yah. Mommy juga pinggang nya sakit." Mata Mahes melotot mendengarnya. "Gak...maksud Mommy bukan sakit, pegel Kak." Memperhalus bahasanya, Putra nya sedang sangat sensitif mendengar Mommy nya sakit, dirinya harus baik-baik saja demi semua kesayangannya.


"Jangan bercanda dengan Kakak Mom." Ranu tersenyum melihat Mommy nya terpojok. “Kalau sakit katakan apa adanya, jangan menutupi hanya demi perasaan kami.” Ucapnya tegas tidak mau Mommy nya berbohong demi orang lain.


"Cukup Kak, wajah Mommy jadi gemas kalau Kakak begitu." Bisik Ranu membuat Mahes melunakkan wajahnya.


"Jangan takut bicara apapun ke Kakak Mom. Sampai kan meskipun remeh menurut Mommy." Ayu ingin terbahak, Putra nya mengutip kata-kata nya.


"Mau kemana?" Tanya Malik yang melihat Ayuna dan kedua Putra nya berjalan menuju pintu keluar.


"Kakak mau bawa Mommy ke kamarnya." Malik melangkah mendekati Ayuna yang tidak sedikit pun bertanya. Dia menunggu seperti biasa.


"Sorry Mom. I love you Mom." Ayu menahan matanya yang memanas. "Daddy janji kembalikan semua seperti sedia kala." Menatap mata Ayu yang berkaca-kaca.


"Mommy tunggu ya Dad. Mommy tahu bisa selalu mengandalkan Daddy." Malik menciumi puncak kepala kesayangannya. Dia selalu setenang ini, lukanya yang dulu saja masih membekas. Sekarang dirinya harus melihat lagi kejadian seperti ini.


"Jaga Mommy nya ya Kak, Bang. Jangan keluar tanpa ijin Daddy. Mungkin akan sedikit lama menyelesaikan semua ini." Kedua Putra nya memeluk Malik. Memastikan semua baik-baik saja adalah tugas mereka sekarang.


"Jaga diri Dad. Kakak bawa Mommy dan Adek." Malik bangga sekali punya mereka. Mahesa sungguh bisa di andalkan, meski Malik tetap meminta pengawasan dari orang-orang suruhannya agar mereka tetap aman.

__ADS_1


"Kita Shalat ya Kak, Bang. Kita bisa beri kekuatan lewat do'a kita." Tentu saja keduanya menurut. Mahes sudah bisa jadi Imam. Mereka belajar, mereka mengikuti Ayuna dan Malik dalam hal Agama. Mahes jatuh cinta pada Mommy dan keyakinanya.


"Ada kabar Kak. Kita bisa jalan sekarang kalau mau. Mereka sudah menemukan titik terakhir mobil yang membawa Melani." Malik merasa dadanya bergemuruh.


Orang suruhan Oji berhasil melacak mereka. Oji memang lihai dalam hal seperti ini, dahulu dirinya mendalami dunia hitam yang berhasil di tinggalkannya setelah mengenal Ayuna.


"Ok, ingat. Kita harus berhati-hati. Jangan sampai lengah dan terluka, kita juga harus baik-baik saja." Rey mencoba memberikan peringatan agar tidak gegabah.


"Aku ikut. Aku akan selamatkan Melan apapun caranya." Riyan yang terlihat berantakan berdiri paling depan. "Aku akan menjaga diriku dengan baik." Malik menggandeng tangannya. “Kita harus cepat Kak.” Malik paham betul perasaan Riyan.


"Ayo, kita selamatkan Melani secepatnya." Begitulah cinta. Malik mencoba memahami.



Gudang usang di kelilingi pepohonan yang ada di depan mereka sekarang. Mereka sedang menunggu orang suruhan Oji memberikan instruksi tentang keadaan di dalam gudang. Dari luar tampak begitu tenang dan sepi.


Sebelum kedatangan


"Siapa kalian?!!!" Melan berteriak sekuat tenaga. "Lepaskan aku.....lepaskan!!!!!!." Tidak ada yang bergeming, mereka hanya berdiri tidak menanggapi teriakan Melani.


Driitttttt.......


Pintu terbuka lebar, menampakkan wajah yang tidak asing namun dengan gaya yang berbeda. Melani menelan salivanya karena nafasnya sedikit tersenggal. Wajah menakutkan yang sudah sangat lama dirinya ingin lupakan.


Suara kursi yang ditarik di hadapan Melan. Melan mundur perlahan menjauh dari jangkauan laki-laki yang kini duduk menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mata mereka saling bertemu, Melan yang ketakutan membuang pandangannya.


Dia berdiri, berjalan selangkah demi selangkah dan berhenti tepat di hadapan Melan. Dagu Melan di cengkeram cukup kuat. Melan mencoba mengelak tapi percuma, fisiknya sudah lemah. Sekujut tubuhnya gemetaran menahan takut yang berlebihan.


"Kau...gadis yang bermain-main dengan Saudaraku!" Suaranya tidak sama, tapi wajah mereka ada kemiripan. Hampir serupa, Melan mencoba menepis siapa orang yang saat ini memenuhi pikirannya, Melan berharap masih ada belas kasihan untuk dirinya.


"Siapa kau!" Suaranya bergetar ketakutan.


Awwww......


Plakkkk.....


Melan spontan menampar wajah laki-laki yang dengan kasar menarik rambutnya. Ada beberapa helai rambutnya rontok menempel di tangannya. Dia meniup rambut yang menempel di tangannya sambil tersenyum menatap Melan yang saat ini sudah begitu lemas tidak bertenaga.


"Masih punya nyali kau! Mau cepat atau lambat!" Melan menggeleng. Tubuhnya sudah terpojok di dinding.


"Awww....lepas...le...lepas.....kan." Suaranya lirih tidak keluar karena di cekik kuat oleh tangan kekar laki-laki yang menyekapnya.


"Kenapa kau tidak diam saja agar semua tetap damai...kenapa membuat masalah.....gadis bodoh." Menghempas tubuh Melan dengan kasar.

__ADS_1


Brukkkk....


Melan terlempar menabrak kursi. Lengannya berdarah, Melan kini ketakutan. Dia menyakiti tubuh Melan tidak pandang bulu. Padahal jelas sekali Melan bukan lawan yang sebanding dengannya


"Tolong lepaskan aku.....aku mohon." Lirih penuh ketakutan, Melan masih tergeletak di atas lantai karena tubuhnya sudah sangat lemas.


"Kau berurusan dengan orang yang salah gadis bodoh!" Dengan keji menyeret tubuh Melan sampai baju yang dikenaknnya robek menyisakan dalaman hitam.


Plakkkk....


Tamparan mendarat mengenai pelipisnya sampai berdarah. Wajah Melan babak belur. Kesadarannya sudah menurun sampai tidak tahu lagi luka apa yang tubuhnya dapatkan. Melas tidak sadarkan diri.


"Ikat dia." Perintahnya setelah puas melampiaskan kemarahannya.


"Bos...kita sepertinya kedatangan tamu Bos." Memicingkan matanya tersenyum remeh.


"Secepat ini!" Merasa senang akhirnya Malik terpancing.


"Sesuai rencana, jangan sampai mereka keluar hidup-hidup dari sini!"


Oji dan Hans menuju gudang tanpa rasa takut, mereka dengan gentle berjalan menghampiri laki-laki yang tidak asing berdiri seolah menunggu kedatangan mereka.


"Bukankah dia di penjara?" Hans merasa bingung melihat orang yang seharusnya mendekam di dalam penjara saat ini ada di depan matanya.


"Sepetinya mereka bersaudara." Hans menatap Oji tidak percaya. "Kembar." Oji berdiri dengan percaya diri. Dirinya melarang Malik dan yang lain mendekat sampai dirinya tahu kondisi di dalam sana.


"Siapa kalian! Aku tidak ada urusan dengan kalian dan jangan ikut campur urusanku!" Ucapnya menghardik. Berbalik ingin melangkah meninggalkan Oji dan Hans.


"Kau baru di dunia ini?! Tidak mengenal siapa diriku!" Oji menarik ujung bibirnya tersenyum meremehkan. "Kembalikan sekarang atau urusan kita akan menjadi panjang."


"Tidak akan! Langkahi dulu mayatku kalau kalia mau berurusan dengan ku." Bicara menantang lawannya.


Pertempuran tidak bisa di elakkan. Oji dan Hans memukul anak buah yang menjaga Bos mereka, tidak lama anak buah Oji yang bersembunyi berdatangan, melawan dengan jumlah yang seimbang. Anak buah Oji yang terlatih cakap cukup mudah mengalahkan anak buah lawannya. Malik dan yang lain datang membantu padahal sudah Oji larang.


"Kenapa ke sini!" Tanya Oji di tengah perkelahian.


"Tentu saja membantu mu Ji." Jawab Malik yang juga sedang mencoba melawan musuhnya. Tidak mau diam saja dan menunggu, dirinya harus bergerak agar musuh cepat kalah dan bisa segera menyelamatkan Melani.


"Jangan terluka. Atau aku akan buat perhitungan." Kesal Oji yang malah membuat Malik tersenyum. Cinta nya seluas samudra. Dia bahkan menjaga dirinya yang menjadi bahagia wanita kesayangannya.


Perkelahian bisa Oji dan anak buahnya kendalikan dengan mudah. Lawannya belum terlatih melawan kekuatan pasukan yang Oji miliki. Mereka tidak sebanding, Oji Mengikat semua musuhnya menempatkan mereka di ruangan yang sama.


Jangan di tanya lagi bagaimana keadaan mereka, babak belur tentu saja. Bos yang semula begitu gagah berani kini juga meringkuk di antara anak buahnya yang sudah tumbang, kini mereka fokus mencari keberadaan Melani.

__ADS_1


__ADS_2