Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Pilihan Sulit


__ADS_3

Sandra sedang menikmati sarapannya sambil melihat keluar jendela tempat nya duduk. Dirinya sedang sangat nyaman dengan suasana rumah Kak Anna yang begitu sejuk.



Tubuhnya yang semula lemas saat ini terasa lebih segar. Udara segar yang dirinya hirup selama di sana punya banyak efek samping dengan kondisinya saat ini.


Sandra sangat menikmati waktunya, beberapa hari ini dirinya merasa lemas dan kurang enak badan. Malik yang melihat Sandra tidak sehat memintanya istirahat, cuti dua hari kedepan atau boleh lebih jika Sandra merasa masih kurang sehat.


Awalnya Sandra menolak, tapi Malik dan Jofan memaksa dirinya untuk istirahat sebentar saja. Dengan berat hati Sandra menuruti permintaan mereka, Sandra tidak mau berebat yang hasil akhirnya sudah pasti di menangkan Malik dan Jofan.


"San...." Sapa Melani yang baru turun dari lantai dua. Melan turun dengan baju tidurnya yang kusut. "Makan apa San, perutku lapar." Melan memamerkan perut rata nya pada Sandra.


"Jangan buka sembarang Mel." Melan segera menurunkan kaos nya yang terangkat dengan sengaja. Mata ngantuk nya tidak melihat orang lain selain Sandra yang sedang duduk di ruang makan.


"Ya Tuhan...." Melan terkejut ada Jofan di ruang tengah yang sedang duduk memandangi Sandra. "Anggap saja aku tidak pernah membukanya. Hehehehe." Melan segera duduk di ruang makan.


"Ada roti Mel, Jofan juga buatkan aku sup ayam. Cepat makan." Melan meraih roti yang paling praktis. Dirinya malas jika harus mengambil mangkok dan menyendok nasi ke dapur. Kakinya malas melangkah.


Prakkkk.....


Bunyi mangkuk berisi nasi dan yang satunya kosong. Melan yang baru mau menggigit rotinya menatap Jofan dengan wajah lugunya, matanya berbinar senang. Jofan paling tahu jika Melan bukan tidak mau makan sup, dia malas menyiapkan nya sendiri.


Jofan mengisi mangkuk kosong dengan sup ayam buatannya. Sesuai porsi yang biasa Melan makan. Dirinya sudah sangat hafal dengan kebiasaan makan sahabatnya. Wanita paling baik, lugu, lucu, ceria dan sangat ceroboh.



"Makan, jangan membantah." Melan meraih mangkok yang sudah terisi. Senang sekali Jofan meski dingin tapi selalu memperhatikan dirinya. Sandra tersenyum bangga dengan Jofan yang begitu manis pada sahabat mereka.


"Thanks Fan." Melan menikmati makanan nya. Sup buatan Jofan tidak kalah enak dari buatan Kak Rey yang memang jago sekali mengolah bahan makanan.


"Bagaimana pekerjaan mu Mel?" Melan mengedikkan bahu nya. Masih belum tahu kelanjutan kisahnya, Melan mematikan ponselnya sementara. Ingin tenang.


Banyak sekali pesan dan panggilan masuk yang membuat kepalanya mau pecah, Melan tidak tahan dan memutuskan menyerahkan semuanya pada Malik untuk urusan kontrak kerja dan pelanggaran yang sudah dirinya lakukan.


"Pelan-pelan saja Mel, Mas mu ini kaya. Jangan takut tidak punya apa-apa. Kau bisa mengandalkan ku." Sandra dan Melan tersenyum mendengarnya. “Jangan ragu kalian dengan ku.”


Melan menunduk, ada kesedihan yang menyesakkan dada nya. Bagaimanapun dirinya sudah berjuang keras untuk sampai di tempatnya saat ini. Ada rasa tidak rela jika harus melepaskan semuanya dengan begitu mudah.

__ADS_1


Sandar mendekat, membelai pundak Melan dengan lembut. Kasihan sekali, Melan pasti kesulitan mengambil keputusan berat seperti saat ini.


“Kau hebat sayang. Kau harus kuat ya Mel.” Melan membalas senyum getir yang memang dirinya rasakan.


"Semoga karyaku masih bisa di publikasi yah, aku akan sangat sedih jika berhenti begitu saja. Aku berjuang begitu gigih meraih semuanya." Suaranya terdengar getir. Bukan nada bicara Melan yang biasanya penuh dengan tawa.


"Semoga tidak terjadi apa yang kau takutkan. Karyamu di akui Mel, tidak akan hilang hanya karena hubungan mu dengan adik ku." Melan mengangguk. Jofan membuat hatinya sedikit berharap apa yang dia katakan bisa menjadi nyata.


"Aku akan memilih Riyan jika mereka memintaku memilih salah satu di antara keduanya. Aku sudah nyaman sekali." Ucap Melan malu-malu. Wajahnya bersemu merah saat mengutarakan isi hatinya.


Sandra memeluk sahabat yang akhirnya menemukan tambatan hatinya. Bahagia meski ada pengorbanan untuk meraih nya. Mereka sama-sama mencoba berkomitmen meski tidak akan mudah melaluinya.


Melan dan Sandra sedang bercengkerama di teras luar, Jofan yang membereskan semua bekas makanan dan meminta mereka berdua menikmati waktu santai nya. Jofan memanjakan sekali keduanya.


Fan, ajak Sandra dan Melan ke taman belakang. Bunga di San jika pagi seperti ini sedang mekar, sangat indah.


Pesan dari Anna yang sudah pulang lebih dulu. Jofan yang penasaran dengan keadaan taman belakang rumah Kakak nya segera bergegas keluar. Jofan segera melangkah ke teras depan, menemui dua wanita kesayangan nya.


"Mau lihat taman belakang tidak?" Melan dan Sandra mengangguk. “Ayo.” Jofan berjalan di belakang mereka berdua.


"Pasti indah ya Fan, Kak Anna semalam menyuruhku datang ke sana juga." Jofan mengangguk. Melan antusias sekali.


“Hati-hati Mel.” Tegur Jofan yang melihat Melan sedikit berlari.


"Seindah ini ternyata. Pantas Kak Anna menyuruh ku ke sini." Melan mendudukkan dirinya di rerumputan. Menghirup aroma embun yang begitu nyaman di penciumannya.


Sandra ikutan duduk, tubuhnya malah nyaman dan Sandra merebahkan nya di atas rumput yang hijau dan segar.



"Indah sekali Fan, aku nyaman sekali di sini. Rasanya tidak ingin pulang." Jofan duduk di sisi Sandra. Membelai dengan lembut surai indah yang wanginya memabukan jiwanya.


"Di sini saja kalau mau sayang." Sandra menggeleng.


"Aku bisa di pecat kalau cuti terlalu lama." Jofan tersenyum.


"Apa kita jadi pengangguran saja San? Nikmati harta kekayaan pasangan kita San. Hahahah......." Sandra dan Melan terkekeh. Menghayal menjadi pengangguran mengabdikan diri menjadi ibu rumah tangga.

__ADS_1


"Aku memberimu kebebasan sayang. Lakukan apa yang membuat mu nyaman." Sandra bergeser, menidurkan kepalanya di atas paha Jofan.


"Aku tidak suka berdiam diri, aku masih suka dengan pekerjaan ku Fan." Jofan mengangguk paham, Sandra memang sudah membicarakan semua mau nya sebelum menikah. Jofan tidak keberatan asal Sandra nyaman.


Mereka menikmati pemandangan dengan penuh canda tawa. Rumah Kak Anna cukup segar untuk beristirahat.


***


Ayu sedang bersiap-siap ingin keluar bersama Ranu menjemput Mahes yang sedang les berkuda. Ranu yang sekarang jadwalnya menjaga Mommy nya karena Daddy mereka sedang ada pekerjaan yang harus dirinya selesaikan.


“Mommy yakin jemput Kakak ke sana Mom? Dia sudah besar Mom, bisa pulang sendiri.” Ranu mendumal meski dirinya tidak keberatan mengantar Mommy nya kemanapun dia mau.


“Dady kasih ijin, dan Mommy ingin lihat Kakak berkuda Bang. Mommy penasaran.” Ranu tersenyum melihat Mommy nya begitu antusias.


Tidak lama mereka sampai, Ayu dengan suasana riang gembira menyaksikan Putra tertuanya menaiki kuda besar nya yang gagah berani. Mahes yang melihat Mommy nya sudah sampai langsung meminta pelatih menyudahi les nya.


Mahes tidak mau Mommy nya menunggu terlalu lama padahal masih ada beberapa menit.



Manis sekali senyumnya, Ayu melambaikan tangan menyambut Mahes yang sudah selesai dengan les nya.


“Kenapa repot-repot datang Mom? Kan Kakak bisa pulang setelah ini.” Ayu mengusap jas berwarna biru yang Mahes kenakan, membersihkan serpihan tanah yang menempel di pakaian Putra nya dengan lembut.


“Tidak suka Mommy datang yah?” Mahes sedikit menunduk, mensejajarkan tubuhnya menatap wajah Mommy nya yang cantik.


“Jangan bicara hal yang menyakiti ku Mom. I love you Mommy.” Mahes mengecup pipi Mommy nya.


“Mommy juga love Kakak, Mommy bosan dan ingin melihat Kakak berkuda.” Mahes mengangguk.


“Ayo ke kantor Daddy.” Mahes mengusap kepala Ranu yang dengan baik sekali menjaga Mommy mereka.


“Good job adek.” Ranu hanya tersenyum mendengar pujian untuka dirinya.


“Ckckkkkk....dunia sempit sekali. Aku hampir tidak bisa bernafas setiap melangkah ada kaudi mana-mana.” Matanya melotot penuh amarah menatap wajah Ayuna. Alana pergi dengan kesal. Membanting peralatan berkudanya kesembarang tempat.


Kata-katanya menyakiti perasaan anak-anak sampai wajah mereka meradang. Ayu yang menyadarinya meraih tangan keduanya, menahan amarah mereka yang sudah naik ke ubun-ubun. Ayu mengulas senyum mencoba membuat anak-anak nya nyaman agar bisa meredam emosinya.

__ADS_1


“Jangan membalas ya Nak, kita tidak boleh terpancing dan kesal dengan tante Alana.” Ayu takut sekali melihat wajah anak-anak nya saat ini.


Mereka paling tidak suka melihat Ayuna di remehkan dan di hina oleh orang lain. Mereka menjaga Ayuna dengan baik dan tidak akan membiarkan Mommy nya di sakiti orang lain.


__ADS_2