Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Bad Girl Part 1


__ADS_3

"Aku takut sekali Al, Abang kehilangan banyak darah. Dia bahkan bisa saja tidak tertolong." Adam menangis, dirinya lega bisa menangani Ranu dengan baik dan kini Ranu sudah melewati masa kritisnya.


Tangannya gemetar hebat, meski dirinya sudah menolong ribuan pasien. Atmosfer sangat berbeda saat nyawa yang sedang dia coba selamatkan adalah Putra kecil kesayangannya.


"Tapi sekarang bagaimana? Dia sudah ok kan?" Adam mengangguk.


"Dia ok, dia kuat sekali. Anakku hebat."


"Anakku Dam.....Putra kita Dam." Mereka tersenyum dan saling memeluk.


Ayu mendengar semua percakapan mereka, banyak luka yang disembunyikan darinya. Ayu memutuskan berpura-pura tidak tahu dan kembali ke ruang perawatan Hanum. Perasaanya tidak pernah salah, dia selalu punya feeling kuat menyangkut anak-anak nya.


Ayu memang merasa ada yang tidak beres saat Malik mencegah tangannya menyentuh Putranya. Keringat juga mengucur hebat padahal Ranu terlihat baik-baik saja. Ada yang aneh, pasti ada yang Putra nya sembunyikan.


Setelah mengantar Mahes ke ruang perawatan Hanum, dirinya memutuskan turun kembali dan ingin memeriksa keadaan Ranu. Mereka tadi terlihat buru-buru menuju ruang perawatan saat dirinya sudah berlalu. Ayu melihat dari kejauhan.


Ayu mencari keberadaan Putranya yang tidak ada di ruang manapun yang dirinya lewati, mencoba mencari tahu pada suster yang bertugas di UGD dan mereka mengantarkan Ayu ke ruangan operasi yang ada di ujung lorong lantai satu.


Kakinya gemetar, kenapa sampai dibawa kesana, apa yang Anaknya alamai. Apa lukanya? kenapa di bawa masuk kesana?.


Kepalanya penuh pertanyaan yang jawabannya dirinya sendiri tolak. Tidak akan terjadi hal buruk, Putra nya berjanji akan menemaninya


“Maaf Bu, Ibu tidak diperkenan kan masuk ke dalam ya Bu. Tunggu di sini saja Bu, biar saya temani." Mata Ayu membola.


"Buka, atau aku akan catat namamu dan meminta Adam mengusir mu dari sini." Menakutkan sekali, selama ini dia selalu terlihat manis.


"Tapi Bu." Takut sekali.


"Sampai pintu sebelum ruang operasi saja. Saya tidak akan masuk ke dalam." Ayu mencoba bicara setenang mungkin. Menyesali ancaman yang baru saja dirinya lontarkan.


"Baik Bu, tapi aku bisa di pecat juga Bu." Menyalahi aturan. Kebingungan harus mengikuti aturan yang mana, meremas jemarinya.


"Kalau kau di pecat karena mengijinkan aku masuk, aku yang akan bertanggung jawab." Dengan kebingungan akhirnya suster membawa Ayu ke depan pintu ruang operasi.


Dari luar Ayu bisa melihat Adam sedang menangani Putranya, Malik duduk dengan tangan gemetar di pojok ruangan yang di lapisi kaca. Suara mereka bisa terdengar dengan jelas dari luar.


"Sus, apa operasi nya berjalan lancar?" Tanya Ayu pada Suster yang masih setia menemaninya.


"Sejauh ini lancar, bukan operasi besar Bu, ini bisa di bilang....."


"Pasien nya tidak kenapa napa kan Sus." Matanya kosong, pasti dia sedang menyembunyikan kekalutannya. Suster memilih untuk tidak melanjutkan penjelasannya.

__ADS_1


Suster tidak melanjutkan penjelasannya, percuma. Sepertinya Ibu Ayu sedang tidak bisa mendengarkan dengan baik. Suster mencoba menangkan dengan menepuk punggung tangan Ayu dengan lembut.


"Sepertinya sudah selesai Bu, Suster sudah mengenakan pakaian pada pasien Bu."


Ayu terduduk lemas, di dalam ruangan. Adam juga mengalaminya. Terjadi perdebatan keras yang menyadarkan Ayu untuk segera pergi dari sana.


"Ayo sus kita keluar, terimakasih suster sudah mau menemani saya."


"Sama-sama Ibu, mari aku antar ke ruang Dokter Sarah, Ibu diminta menunggu di sana."


"Tidak Sus, aku mau menemani Putraku. Dia ada di lantai 2." Segera Ayu menuju ke sana. Suster paham siapa yang Ayu maksud.


Dirinya tidak mau sendirian, tidak mau pikiran buruk memenuhi kepalanya. Tidak mau lagi terpengaruh dengan pikiran negative di dalam dirinya. Tidak mau sendirian.


Hancur sekali, mereka tidak terbuka pada dirinya. Tapi juga bingung karena mereka melakukan semua ini demi kedamaian hatinya.


Sedih sekali, Putranya tidak meminta perlindungannya padahal dirinya sangat membutuhkannya. Tidak meminta pelukkan hangatnya padahal dirinya bisa memberikannya.


Ayu memukul dadanya yang sakit. Dirinya benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.


Ayu memutuskan berdiam diri di dalam toilet saat masuk ruangan Hanum. Menyalakan keran agar suara tangisnya tidak keluar. Agar tidak ada yang dengar tangisnya.


"Yu ...kamu ok sayang?" Tanya Sarah dari balik pintu. Khawatir karena Sarah melihat Ayu terburu-buru masuk ke dalam toilet. Sarah yang merawat Ayu selama ini, dia paham.


"Ok, kalau pusing info aku ya." Sama saja, mereka hanya perduli pada dirinya.


Ayu semakin terisak, mereka semua menutup banyak luka agar tidak sampai pada dirinya. Padahal ini justru melukai perasannya. Ayu ingi tahu semua hal, jangan menutupinya dan jangan sembuyikan apapun darinya.


Mahes masih termenung, menatap sendu wajah Hanum yang masih terlelap di brangkarnya. Matanya sembab sekali.


“Abang, Mommy di dalam toilet. Coba Abang panggil, Mamih khawatir bang.” Mahes menurut. Mencoba mengetuk pintu kamar mandi.


Tok….tok…tok….


“Mom….Mommy ok kan? Abang boleh masuk Mom?” Pintanya di balik pintu.


“Mommy sebentar lagi selesai Nak, Abang tunggu sebentar.”


“Ok, Mommy ok kan?” Ayu menyahut dan menyatakan dirinya baik-baik saja.


“Tunggu ya Nak.”

__ADS_1


“Ok, Abang tunggu ya Mom. I love u Mom.” Manis sekali Putranya, Sarah saja jarang dapat ungkapan kasih sayang dari Putranya.


Mommy nya memang wanita special, Sarah tidak pernah cemburu karena Mahes belajar banyak hal dari mencintai Mommy sebaik Ayuna. Sarah beruntung, Putra nya tumbuh dengan sangat menakjubkan. Jika bukan karena Ayu, mungkin Mahes tidak akan semanis ini, sedewasa ini.


Sarah kembali menguping di balik pintu karena Ayu tidak kunjung keluar. Khawatir Ayu kembali kambuh dan melukai dirinya sendiri.


Baru saja ingin mengetuk pintu kamar mandi, pintu sudah terbuka.


“Kamu ok sayang?” Ayu mengangguk, memeluk Sarah karena dirinya butuh sekali pelukkan hangat. “Semua akan baik-baik saja Yu.” Sarah sendiri tidak tahu keadaan Ranu. Dia tidak mendapat informasi detail tentang keadaan Putra kecilnya.


Malik kini berada diruang perawatan, menemani Ranu yang baru saja siuman. Ada Adam juga yang masih enggan pergi dari ruangan Ranu. Mau memastikan tidak ada efek samping dari operasi yang baru saja dia jalani.


"Abang, masih sakit tangannya Nak?" Tanya Adam penasaran. Ranu mengangguk.


Daddy dan Papih nya menggemaskan. Ranu tidak pernah diperlakukan semanis ini. Mereka mendidik Ranu dan Mahes begitu keras, disiplin dan penuh tanggung jawab.


Manis mereka hanya untuk para wanita kesayangan mereka yang mereka jaga.


"Mommy tidak tahu Abang Luka kan Pih? Dad?" keduanya mengangguk. "Bagus, Mommy sudah sangat sedih lihat Kaka hancur. Kalau tahu Abang Luka, Mommy pasti akan semakin sakit. Abang tidak mau." Matanya berkaca-kaca mengingat kesedihan Mommy nya saat tiba di kantor polisi.


"Kau memang Putraku, tapi Mommy pasti nanti akan tahu Nak." Malik menggenggam tangan Ranu erat.


"Kan kita bisa katakan, kalau Abang hanya butuh istirahat saja." Malik dan Adam mengangguk setuju. Sepertinya lebih baik seperti itu.


“Kita benar kan Dam, aku juga tidak mau kalau Ayu sampai terpuruk melihat anak-anaknya sakit. Aku takut sekali Dam.”


“Kita sementara waktu jangan bicarakan apapun dengan Ayuna, kita bersikap senormal mungkin agar dia tidak curiga.” Adam juga takut Ayu kembali drop.


"Bos ....maaf ada yang harus saya sampaikan." Biru memecah kesedihan yang tengah mereka rasakan.


"Ayo kita bicara di luar. Sebentar ya Nak, Daddy temani dulu Om Biru." Mengecup kening Putranya sebelum beranjak.


Malik meneliti foto-foto yang berhasil Biru kumpulkan. Ada Aldo juga di sana, Aldo masih mencari tahu dengan Biru tentang segerombolan preman yang menyerang Bos mereka. Aldo merasa kecolongan dan lengah karena selama ini mereka baik-baik saja. Jadi melonggarkan penjagaan.


"Mereka hanya anak-anak jalanan yang sering melakukan pemalakan, sudah ada beberapa korban lain sebelum Abang dan Kak Mehes." Malik memeriksa foto yang di bawa Biru satu persatu.


"Kenapa mereka menyerang?"


“Saya juga tidak paham Bos, biasanya mereka hanya mengancam dan pergi setelah merampas harta benda korbannya.” Jelas Biru.


"Gadis ini sepertinya yang memicu, namanya Hanum." Malik ingat percakapan mereka di group beberapa bulan lalu. Aldo yang kebetulan ada di dalam group meski hanya sebagai pendengar sedikit bisa menganalisa keadaan.

__ADS_1


Gadis nakal yang saat ini terbaring lemah di jaga oleh Mahesa, Putranya. Malik mengusap wajahnya frustasi.


__ADS_2