
Ayuna tengah tiduran saat ponselnya berbunyi. Pesan masuk yang membuat dirinya tersenyum simpul pada suaminya yang sedang menggendong Baby girl yang mereka beri nama Edelweis Jingga Saputra.
Senyum manisnya terpancar indah saat wanita kesayanganya menatap penuh ragu. Malik berjalan mendekat ke sisi Ayuna. membelai puncak kebanyakan dengan lembut.
"Kenapa sayang? Siapa yang kirim pesan?" Ayuna mencoba duduk dengan nyaman. Malik membenarkan posisi bantal agar sandaran punggung Ayuna terasa nyaman.
Pagi tadi bekas jahitanya terasa ngilu, Ayuna jadi tidak berani banyak bergerak karena jahitannya belum sembuh sempurna dan dirinya tidak boleh melakukan banyak pergerakan.
"Kak...Iin dan Karang menuju ke sini. Boleh kan Kak mereka masuk?" Malik terlihat berpikir. Sebelumnya Malik melarang Ayu berhubungan lagi dengan Iin, dia yang Malik tahu masih punya dendam di hatinya. Malik hanya mencoba menjaga Ayu dari bahaya.
"No Mom, Abang tidak suka dengan teman Mommy itu. Dia tidak baik Mom." Suara Ranu membuat Mommy dan Daddy nya menoleh ke arahnya.
Ranu yang menjawab dengan tegas. Hati Ranu yang sensitif mudah tahu mana orang yang tulus dan modus. Dia tidak mudah dekat dengan orang yang menurut hatinya tidak baik. Tidak mau orang yang punya niat jahat dibiarkan berkeliaran di sekitar Mommy nya.
"Tapi orang bisa berubah Bang, siapa tahu dengan Mommy lembut, lama-lama Tante Iin akan benar-benar berubah Nak." Ayu tercengang dengan pernyataan Putranya.
Sedih sekali padahal Ayu masih mau mencoba percaya pada Iin. Ayu sangat yakin kalau sahabatnya bisa menjadi baik seperti dulu. Mereka cukup dekat untuk bisa kembali lagi, tidak ada keraguan sedikitpun di hati Ayu.
"Tapi Abang benar Mom, terakhir kali Alana sampai menginjak pecahan beling yang datang nya entah dari mana." Ucap Malik mencoba mengingatkan. Tidak mau Ayu terus memberikan kesempatan pada orang yang tidak pantas.
"Itu aku tidak yakin Iin yang melakukannya, dia tidak mungkin melukai aku Dad." Ranu berjalan mendekat pada Mommy nya. Duduk di sisi Mommy nya yang terlihat sedih karena semua orang tidak mau percaya pada dirinya.
"Kenapa Mommy bersikeras ingin memberikan kesempatan? Apa yang ingin Mommy buktikan?" Ranu hanya takut Mommy nya terluka.
"Mommy dulu sahabat baiknya sayang, Mommy tahu Tante Iin orang yang sangat baik sayang. Dia pasti bisa kembali." Ranu menarik Mommy nya dalam dekapannya. Kasihan Mommy nya berharap sahabat nya kembali.
"Apa Mommy yakin?" Ayu mengangguk degan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kalau begitu Daddy kasih kesempatan, Abang juga pasti setuju." Ranu menatap tajam mata Daddy nya. "Daddy akan pastikan dia tidak akan muncul di hadapan kita lagi kalau masih tidak berubah juga." Ranu akhirnya mengangguk.
"Ingat ya Mom, kita kasih kesempatan demi buktikan hatinya baik atau tidak. Kalau sudah tidak ada harapan, Abang minta Mommy menyerah berharap Tante Iin bisa berubah dan kembali seperti dulu." Ayu mengangguk. Ranu mengusap lembut air mata yang jatuh membasahi pipi bulat Mommy nya.
Ayu bersiap menyambut sahabatnya, mereka menunggu di ruang tamu. Tidak lama Karang, Iin dan Salina sampai. Dengan tentengan besar di tangannya.
Hadiah untuk baby girl dan buah-buahan segar.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu Yu? Anak mu sangat cantik." Ayu tersenyum melihat kondisi Iin yang sepetinya sudah membaik.
"Aku baik, Baby juga sehat In. Kamu apa kabar? Lama sekali tidak main ke sini." Iin menatap Karang yang tersenyum manis padanya.
"Aku baik, aku ingin menemui mu tapi malu Yu. Aku sudah banyak melakukan kesalahan." Iin menelan salivanya susah payah. Tanganya sedikit bergetar.
"Kan tinggal datang saja loh In, kenapa malu. Kita sahabat jangan lupa In." Iin menunduk mendengar Ayu bicara begitu baik. Berbeda dengan dirinya yang selalu menaruh benci di hatinya.
"Aku sebenarnya ingin minta maaf. Ternyata bahagia ku bukan dengan melihat mu hancur Yu, aku ketakutan dengan pikiran ku sendiri." Ayu mendekat, memeluk sahabatnya dengan tulus.
"Bicara apa sih In, kita kan sahabat. Aku tahu kau tidak pernah punya niat jahat padaku." Karang senang istrinya mau berubah, mau berfikir positif dan hidup dengan nyaman.
"Kau pasti bukanya tidak tahu kalau aku pernah mau mencelakai mu Yu. Aku dibutakan dendam. Padahal semua berasal dari diriku sendiri." Iin terisak.
"Lupakan ya In, ayo kita seperti dulu saat di sekolah. Aku juga rindu sahabat baik ku." Iin mengangguk, mereka sepatutnya saling menyayangi layaknya sahabat baik.
"Tapi aku yang membuat semuanya menjadi berantakan. Aku beruntung Karang mau menyembuhkan ku." Karang mengangguk bangga, bangga sekali Iin mau mengakui kesalahannya.
"Kita sahabat kan In?" Iin mengangguk. Mereka akhirnya bisa mengakhiri perang dingin yang sudah cukup lama terjadi. "Kalau begitu ayo kita mulai lagi dari awal. Mau?" Iin mengangguk.
Iin tidak mau dan merasa harus menarik diri dari posisinya. Tindakan nya salah, dia bukan bahagia tapi semakin merasa hidupnya tidak nyaman. Semakin berantakan dan semakin banyak masalah. Hari-harinya dipenuhi niat jahat yang tidak ada habisnya, dirinya kelelahan. Tidak mau lagi dikuasai pikiran-pikiran jahat yang membuat dirinya terjebak.
Setelah beberapa kali konsultasi dengan ahli agama, Iin akhirnya bisa mengendalikan dendam dalam dirinya dan rasa sayangnya pada orang lain semakin bertumbuh. Sedikit demi sedikit perlahan namun pasti hatinya dipenuhi semangat untuk berubah menjadi baik.
Menghapus semua dendam yang entah sejak kapan mengotori pikirannya. Hidupku jauh lebih berharga, dia punya anak cantik yang tentu saja butuh dirinya yang sehat lahir dan batin. Iin yang saat ini sudah baik seperti yang Ayu kenal.
Ranu beranjak dari duduknya setelah mendapati Tante Iin meminta maaf degan tulus. Kali ini Ranu bisa merasakannya. Mommy nya berhasil membuktikan semua ucapannya. Semua manusia berhak diberi kesempatan untuk berubah menjadi baik.
Siang hari mereka di tutup dengan momen indah yang selama ini Ayuna dambakan. Punya sahabat yang bisa dirinya ajak bicara saat butuh untuk bercerita.
Rumah sedang sangat tenang, anak-anak tengah di ruang game, Malik sedang mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk dan Baby girl nya tengah tertidur pulas. Iin juga sudah pulang, kedatanganya hanya sebentar saja karena tahu Ayu butuh banyak waktu untuk istirahat.
Ayu meraih ponsel nya yang juga sangat tenang hari ini. Entah kemana perginya orang-orang yang suka membuat kebisingan. Semenjak Baby lahir, dirinya jarang sekali mereka ganggu.
"Dimana Dek?" Bosan melanda, Ayu rindu Adiknya. Riyan mengirim foto gemas Mas nya.
__ADS_1
"Mas BT tapi tetap mau di foto dengan bunga di kepalanya." Balas Riyan membuat Ayu penasaran.
"Yang mana Dek? Foto yang adek kirim tidak ada bunganya. Riyan mengirim lagi foto Mas nya.
"Aku benar-benar tertawa puas sekali Mbak. Mas kesal tapi tidak berkutik. Keinginan Ibu hamil yang keramat. " Ayu ikut tersenyum.
"Foto Adek mana? Jadi kan foto prewedding nya?" Riyan mengirimkan potret dirinya malu-malu.
"Adek tampan kan Mbak?" Lucu sekali melihat dirinya sendiri yang di dandani seperti pangeran berkuda putih.
"Gemes, Adek nya aku sudah gagah sekali." Ayu membuat Riyan senyum-senyum sendiri. "Melan nya mana sayang?"
"Melan nya masih di ruang ganti, belum selesai makeup." Ayu sedikit merasakan haru, bahagia sekali Riyan sudah mau serius dengan pilihan hidupnya.
"Semoga lancar ya Dek, maaf Mbak tidak bisa bantu." Kondisinya masih sangat lemah.
"Kak Malik sudah banyak membantu Adek sejauh ini. Sudah berlebihan bahkan bantuannya." Ayu menyeka sudut matanya yang basah. "Jangan cengeng, Hari-hari seperti ini harus di lalui dengan bahagia, jangan menangis Mbak."
Riyan tahu sekali kalau Ayu pasti menangis saat ini. Mbak nya mudah merasa haru dan menangis.
"Mom...kenapa sayang? Sakit lagi yah?" Tanya Malik yang baru saja masuk kamar dan melihat Ayu menangis.
"Hug me please." Malik menghambur memeluk Ayu, membelainya dengan lembut.
"Tenang sayang, mau ke rumah sakit? Hmmmm.....?" Malik mengecup puncak kepala Ayu dengan lembut.
"Aku sedang menangis bahagia Dad. Adek akhirnya mau menikah." Lega nya Malik mendengar Istri nya baik-baik saja, rupanya dia tengah terharu.
"Kita antar Riyan sampai ke rumah nya ya sayang. Kita pasti bisa gantikan peran Ibu dan Bapak untuk mengantar Riyan menuju rumah bahagianya." Ayu mengangguk. Malik sangat bisa dirinya andalkan.
__ADS_1
Selama ini dirinya dan Riyan tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian. Malik selalu bisa menjadi sosok yang mereka butuhkan. Malik selalu bisa mendorong Riyan dan dirinya menjadi kuat dan percaya diri.