
"Pak Malik, semua harus di selesaikan dengan cepat. Jangan sampai saham kembali turun dan perusahaan gulung tikar."
"Bagi Pak Malik mungkin tidak masalah kehilangan satu perusahaan, tapi bagaimana nasib kami."
"Tolong pikirkan Pak. Kami butuh sekali perusahan tetap berdiri kokoh."
"Tenang, saya harap semua tenang karena duduk permasalahan sedang kami selidiki." Aldo mencoba mencegah terlalu banyak komentar buruk dan menyudutkan yang akan memancing emosi Bos nya.
Malik masih menganalisa data, mencoba mencari bersama akar masalah yang dirinya hadapi.
"Ini tidak akan selesai dalam waktu dekat. Data yang kami analisa cukup banyak dan saya harap semua memberikan waktu lebih pada saya untuk menyelesaikan nya." Malik meninggalkan ruangan meeting, di ikuti Aldo dan Sandra di belakangnya.
"Kenapa bisa kecolongan begini Al. Apa team analis tidak mengeceknya?" Malik selama ini jarang terjun langsung karena para pegawainya begitu handal.
"Sedang saya selidiki Bos. Saya sedang menyelidiki orang yang bertanggung jawab atas pergerakan saham." Malik memijat pelipisnya merasa pening.
"Kenapa masalah ini harus muncul sekarang Al, Ayuna di rumah sendirian. Aku meninggalkannya demi semua ini." Malik kesal sekali. Isi kepalanya terbagi-bagi.
"Kan ada Mas Jofan Kak. Santai sedikit, Mas nya juga bisa menjaganya dengan baik Kak." Sandra bicara lembut agar Malik bisa menerima.
"Tetap saja, apa aku lepaskan saja Al? Adakah yang sedang mengincar perusahaan kita ini Al."
"Tidak Bos!" Enak sekali mengeluarkan kata menyerah. Pegawainya menjaga dengan peluh keringat. "Berjuang sampai akhir Bos. Aku akan segera temukan akar masalahnya." Malik tahu Aldo akan menjawab demikian.
Tidak seperti dugaan Malik, tidak lama Malik mendapat beberapa laporan tentang kebocoran data yang perusahaanya miliki. Entah kenapa data yang seharusnya tidak mudah keluar, tersebar di jejaring internet dan banyak yang menarik kepemilikan sahamnya menyebabkan harga saham perusahaan nya anjlok.
Hal semacam ini seharusnya bisa di atasi sebelum sampai ke publik, tapi entah apa yang terjadi. Malik merasa ada orang dalam yang mencoba menghancurkannya.
"Bos." Malik mengangguk karena Aldo mendapatkan email yang sama dengan dirinya. "Akan saya bereskan."
"Jadi aku bisa masuk kembali ke ruang meeting, mereka pasti khawatir menunggu jawaban kita Al."
"Silahkan Bos, beri aku 10 menit menyelesaikannya." Ucap Aldo penuh percaya diri. Hal seperti ini tidak sekali dua kali terjadi, Aldo sudah sangat mahir menyelesaikan berbagai macam masalah.
"Uwahhhh....." Sandra mengacungkan jempolnya. "Kak Aldo keren sekali." Aldo menyisir rambut dengan jari-jarinya, tersenyum sombong.
Akhirnya setelah cukup lama menganalisa, masalah bisa diselesaikan dengan baik. Malik mendudukkannya dirinya yang lemas sejak datang tadi. Masalah sudah di atasi dengan cepat.
"Mikirin apa Kak? Makan dulu." Sandra menyodorkan kotak makanan yang sudah Ayuna siapkan untuk mereka makan siang.
"San, istriku minta jalan ke tempat anak-anak nya. Tapi Adam bilang dia tidak boleh banyak melakukan kegiatan yang membuatnya lelah." Sandra masih menyimak sambil membuka kotak makanan. "Kalau naik helikopter berlebihan ya San?" Sandra ingin sekali tertawa dengan keras.
"Sudah tanya Dokter Sarah?" Malik menggeleng. "Coba tanya, lebih aman mana?" Sandra sudah mulai makan, tidak mau menunggu Malik yang sedang galau. Malik tidak akan bisa membiarkan istrinya sedih.
"Mereka bilang di rumah saja, nanti Malam mereka akan datang ke rumah." Nafasnya terdengar berat. Malik tidak tega melihat wajah istrinya yang kecewa berat ingin berlibur dengan anak-anaknya.
"Makan dulu, nanti kalau pulang kotak makannya masih penuh, aku akan kena omel kesayanganku." Malik duduk di depan Sandra. Memakan makanan buatan istrinya yang selalu enak.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak naik heli, coba tanya dokter Sarah. Aku juga mau ikut kalau di ijinkan." Malik menajamkan matanya. Dirinya bingung harus bertanya atau tidak. Penasaran tapi takut kalau nanti malah berbahaya.
"Seru pasti ya San, masalahnya aku takut. Bagaimana kalau ternyata Sarah mengijinkan?" Sandra memicingkan matanya bingung.
"Bagus Kak. Kenapa kamu malah bingung?" tanya Sandra yang tidak tahu kecemasan Malik dengan semua tindakannya.
"Aku yang takut San, bagaimana kalau Ayuna kenapa-napa?" Sandra memutar bola matanya. Lagi-lagi Malik bersikap berlebihan padahal Ayu sangat tidak suka dengan sikap nya ini.
"Ihhhh.....pikiran nya selalu jelek saja." Memang begitu mereka, selalu khawatir jika tindakan mereka malah membahayakan Ayu.
“Jadi bagaimana San? Aku tanya atau tidak usah ya San? Tapi aku tidak tega melihat wajahnya San, sedih sekali San.” Sandra malas menanggapi, dia akan mengambil keputusan sesuai keinginanya. Sarannya tidak penting.
Yang ada dalam ingatannya.
“TERSERAH!” Sandra menutup kotak makannya. “Aku serahkan semua keputusan pada anda yang mulia.” Tersenyum sambil keluar dengan senyuman penuh ledekan.
Malik mengangat sendoknya kesal, Sandra selalu saja bertingkah meyebalkan, tapi Malik cukup terhibur. Butuh orang-orang seperti Sandra untuk hidupnya yang penuh drama. Sandra semakin melebarkan senyumnya merasa puas. Malik hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan ke unikan sifat Sandra yang selama ini sering memberikan tawa di bibirnya.
Jofan yang ingin mengalihkan perhatian Ayu meminta Riyan datang meramaikan rumah. Sandra mengiriminya pesan kalau keadaan kantor sedang kacau dan Malik pasti membutuhkannya. Sandra tidak mungkin pulang cepat hari ini.
Manager Melan menginformasikan kalau saat ini Melan sedang ada pekerjaan. Dirinya diminta membuat sketsa gambar sebuah bangunan di luar kota. Dia tidak mungkin datang.
"Mbak....ih...duduk Mbak. Gak bisa diam dari tadi. Mondar-mandir aja, nanti Baby mabok Mbak." Bawel Riyan yang melihat Mbak nya tidak bisa diam.
"Ih....bawel adek. Aku mau ke villa." Masih saja kekeh dengan keinginannya. "Mbak kayaknya ngidam dek." Riyan menahan senyumnya. Alasan ngidamnya jadi senjata.
Memukul lengan Riyan merasa di tertawakan.
“Jangan cari ribut dong Dek, ihhhh...bukannya bantuin.” Riyan mengusap lengannya yang tidak sakit. Mbak nya memukul dengan pelan, dia tidak punya tenaga menyakiti adiknya. Tetap saja Riyan pura-pura kesakitan.
"Jangan ngledek adek ku ya Yan. Sini sayang, Mas suapin. Belum makan apa-apa dari tadi." Jofan menarik lembut tangan Ayuna. Membawanya duduk di ruang makan. Jofan menuangkan nasi ke dalam piring Ayu.
“Harusnya aku yang masak. Tapi aku kangen masakan Mas.” Ayu senang menikmati sup hangat yang wangi menggoda.
"Riyan....sini makan. Mas sudah buat sup iga kesukaan mu." Riyan yang sedang duduk bersilah menatap Kakak laki-laki nya kegirangan.
"Kan aku yang hamil Mas, kenapa Riyan yang di masakin makanan enak. Ihhhh.....curang...." Teriaknya kesal. Padahal dirinya sedang ikut menikmatinya.
"Kan bisa makan sama-sama adek." Mencium pipi adiknya gemas. “Ini juga spesial untuk adik ku yang paling cantik sedunia.”
"Duduk dut. Cepat makan." Mata Ayuna membola, kesal sekali kalau Riyan sudah memanggilnya gendut.
"Gak gendut ya aku, perutku saja masih kecil." Balasnya bertolak pinggang memamerkan tubuh kurusnya.
"Gendut juga cantik kok Dek." Jofan menimpali bercandaan adiknya. Yang di ajak bercanda menganggapnya serius.
__ADS_1
Ayu lari mencari kaca besarnya. Jofan di buat ngilu dengan kelincahan kaki adiknya. Sedang hamil tapi larinya tidak sedikitpun hati-hati.
"Mas sudah bilang pelan ya dek, pelan. Jangan lari-lari begitu!." Tersenyum merasa bersalah. Mas nya sudah marah-marah sejak tadi karena dirinya tidak bisa diam.
"Ribut apa sih.....kok rame sekali di dengar dari luar." Ayu menghambur ke arah Sarah yang baru datang.
"Dokter tumben sudah pulang." Ayu senang sekali bertemu Sarah yang super sibuk. Susah sekali punya waktu seperti ini dengan mereka.
"Hallo cantik....." Adam membubuhkan ciumannya di puncak kepala Ayuna.
"Wah....kalian mau makan siang di sini yah? Kok tumben sekali?" Kak Malik tidak ada info apapun membuat Ayuna sungguh terkejut.
"Ayo kita makan dulu." Sarah membawa Ayuna duduk di sebelahnya.
"Bagaimana Baby? Ada yang dirasa tidak nyaman?" Ayu menggeleng. Senyumnya indah sekali karena hatinya sedang merasa sangat bahagia.
"Dia sehat, aku sudah tidak muntah-muntah lagi. Dia suka makanan manis." Banyak sekali bicaranya, Sarah sampai terkesima. Sudah kembali membaik suasana rumahnya.
"Lihat saja perutnya gendut." Ledek Riyan yang mendapat tatapan tajam dari mata Ayuna. Sarah hanya senyum-senyum mendengarnya.
"Adek....sudah...sudah. Cantik, adek nya Mas paling cantik sedunia." Ayu menjulurkan lidahnya.
"Kalian seperti anak kecil." Adam senang sekali melihat mereka bersenda gurau.
Suasana seperti ini harus dipertahankan. Ayuna butuh nyaman agar tidak lagi mengingat traumanya, dan bisa menjalani kehidupan normalnya.
Sarah memilih menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit, bekerja membuat dirinya lupa akan goresan luka yang membekas di pikirannya. Tidak mau menghabiskan waktu berharganya untuk lukanya yang begitu membekas. Dia begitu kuat, berbeda dengan Ayuna yang lebih rapuh dari dirinya.
Malik : Dam....
Adam : Iya
Malik : Dam
Adam : sinting ya Al, mau bicara apa? Bertele-tele sekali.
Malik : Mengumpat Dam..... ku beri tahu Sarah, habis kau.
Tidak ada balasan karena Adam kesal dengan isi pesan Malik yang tidak jelas maksud dan tujuanya.
Malik : naik Helikopter aman untuk Ibu Hamil Dam?
Adam : Aman. Kenapa memang?
Malik : Berangkat Dam. Kita susul mereka ke Villa.
Adam : Kurasa kau memang sinting Al. Jangan bercanda. Aku ada operasi besok, begitu juga dengan Sarah.
Malik : Bisa di atur. Sekarang kemasi barang-barang kalian. Aku jemput di atap apartemen. Bawa cintaku dengan aman ya Dam.
__ADS_1
Semua mata menatap bingung pada Adam yang senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Adam menunjukkan isi chat di ponselnya dengan Malik. Ayu kegirangan, senang sekali akhirnya dirinya bisa jalan-jalan. Lebih tepatnya menyusul anak-anak nya.