
Ayu sedang memperhatikan wajah manis Putranya yang seharian ini tidak mau meninggalkan dirinya sedetik pun. Memanjakan Mommy nya melakukan segala hal konyol yang membuat Mommy nya tertawa. Mengukir kenangan indah bersama sebelum jarak memisahkan keduanya berjauhan sementara waktu.
Mereka kelelahan, keduanya sedang duduk di tepi danau menikmati pemandangan sejuk yang membuat tubuh mereka nyaman. Menghirup udara sejuk yang tidak terpapar polusi, semerpak dingin angin sesekali menerpa tubuh mereka berdua yang begitu nyaman duduk berduaan di sana.
Suara kicau burung sesekali terdengar menyeruak dari balik pepohonan yang rimbun. Menambah suasana menjadi terasa lebih asri dan menyejukkan. Sungguh nyaman sekali menikmati semuanya bersamaan.
Mahes menjatuhkan kepalanya di pangkuan Mommy nya. Meraih tangannya untuk di peluk sedemikian erat nya. Ayu merasa Putra nya akan berat jika melihat dirinya tidak baik-baik saja, Ayu mencoba menggambarkan dirinya sangat bahagia agar Mahesa bisa melangkah dengan percaya diri.
"Mommy yakin kan bisa melewati semua ini? Tetap tersenyum seperti hari ini bisa kan Mom?" Ayu membelai surai Mahes lembut. “Kakak khawatir tidak bisa melihat lagi senyum Mommy yang seperti hari ini loh Mom.”
"Kita masih bisa telpon an Kak, bisa ketawa-tawa lewat panggilan telpon sayang." Meyakinkan dirinya sendiri kalau bisa dengan cara lain memperhatikan anaknya ini. "Kakak juga pasti bisa kan di sana tanpa Mommy?" Mahes mengangguk.
“Kalau tidak bisa apa Mommy mau temani Kakak di sana?” Ucapnya sambil tersenyum. Daddy pasti akan marah besar jika dengar permintaan Mahesa yang mustahil.
“Kakak jangan bicara begitu sayang, Mommy selalu ada di hati Kakak dimanapun Kakak berada.” Mahes menganggukan kepalanya. Sudah harus bisa melangkah ke hal baru, tidak boleh terlalu banyak pemikiran hal tidak perlu yang tidak penting.
"Kita belajar berjauhan dulu ya Mom, selesai nanti Kakak akan selalu ada di sisi Mommy." Ayu senang mendengarnya. Setidaknya Putra nya selalu memperdulikan perasaanya. Beratnya perlahan akan terbiasa.
"Kakak lapar tidak? Yang lain sudah tunggu kita pasti Kak." Mahes tidak mau bergerak dari tempat nya. Masih nyaman bermanja dengan Mommy nya yang sebentar lagi akan dirinya tinggal jauh.
"Sebentar lagi, Mommy ingat yah! Cuma perhatikan aku saja dua hari ini." Ayu tersenyum mendengarnya, anak-anak banyak belajar dari Daddy nya. Mereka selalu saja punya cara aneh saat meminta dirinya perhatikan.
"Iya sayang, aku milik mu." Mahes tersenyum senang mendengarnya. Kapan lagi mendengar Mommy nya bicara manis seperti ini, dia paling tidak bisa berkata-kata romantis.
"Akankah ada wanita seperti Mommy di hidup Kakak nanti?" Mahes membelai lembut pipi Mommy nya. Sorot matanya begitu tajam, memperhatikan setiap inci wajah wanita yang akan sangat dirinya rindukan dalam waktu lama.
"Ada ...." Mata Mahes membulat. "Hanum...dia pas sekali." Mahes tersenyum tersipu malu. Sudah lama Mahes mencoba menganggap Hanum adalah adik nya, dia sudah masuk menjadi anggota keluarganya.
"Masih boleh Kakak dekati Hanum?" Ayu menyipitkan matanya. Pertanyaan macam apa yang di lontrakan Putra nya ini.
"Kenapa tidak boleh? Daddy protect she because you, Kakak. Berawal dari Kakak yang sangat ingin melindungi Hanum." Mahes ingat, dia tersenyum dengan bangga. Semua orang begitu perduli satu sama lain.
Bahkan memperjuangkan yang mereka tahu akan menjadi bahagia untuk Putranya. Mahes lagi-lagi merasa tidak mau punya keluarga lain selain keluargaya saat ini. Mereka semua mengajarkan dirinya menjadi manusia sebenarnya dan seharusnya.
__ADS_1
"Boy....bukan berati Mommy melewatkan makan siang ya Nak, cepat masuk dan makan siang sama-sama. Yang lain sudah menunggu." Ayu menatap Malik yang berdiri di belakang mereka, menyilangkan tangannya dengan raut wajah sedikit keras.
Ayu paham betul suaminya tengah cemburu, dirinya tidak punya waktu sedikitpun memperhatikan suaminya.
"Iya Dad, tadi juga sudah mau ke sana kok. Ehhh....Daddy keburu ke sini." Ayu mencoba mencairkan suasana. Tersenyum semanis mungkin agar rahang suaminya sedikit melemas, dia tidak suka saat rahang suaminya sekeras saat ini.
"Come on Mom." Ayu meraih tangan Mahes yang terulur padanya. Berjalan melewati Malik yang masih menatap tajam pada keduanya. Ayu sampai merinding melihat tatapan matanya. Meski sering terjadi entah sudah berapa banyak suaminya seperti ini.
Ayu menengok ke belakang. "Calm down Dad. I love you." Ucap Ayu tanpa suara. Suaminya tersenyum, mana bisa marah dia dengan semestanya.
Ayu dan Mahes di susul Malik masuk ke ruang makan, suasana cukup ramai namun tidak ada sosok perempuan di sana.
"Mana yang lain, kok cuma ada kalian? Dokter, Kak Anna dan yang lain mana Dad?" Tanya Ayu yang tidak melihat yang lainnya. Biasanya mereka akan selalu saling menunggu untuk makan bersama.
"Mereka bawa Baby ke paviliun belakang Mom. Ingin melihat keadaan pengantin baru." Jawab Malik santai. Malik menarik kursi di sebelahnya, Mahesa sedang sibuk menyendokan beberapa makanan kesukaan Mommy nya ke dalam piring.
"Aku mau...." Ayu menutup mulutnya melihat Suminta sedang tidak bersahabat. Matanya begitu tajam menatap dirinya yang terlihat gusar.
"Setelah makan, sekarang makan dulu dan jangan biarkan perutmu kosong." Ayu mengangguk. Duduk dengan tenang menuruti permintaan suaminya.
"Daddy senyum kok Bang, dalam hati." Ucap Ayu membuat Ranu tersenyum. “Ayo makan sayang.” Ranu melanjutkan makannya.
"Sejujurnya aku kesal Mommy bersama Kakak seharian. Tapi ya sudahlah, daripada dia menangis nanti." Ucapnya lemas.
"Aku dengar ya Dek, kalian harus bisa punya rasa iba. Aku akan pergi lusa dan aku butuh banyak waktu dengan Mommy, aku butuh banyak asupan energi." Ayu mengangguk, dia hanya minta hal sederhana. Tidak mungkin dirinya tidak menurutinya.
"Iya Nak, dan Daddy sudah kasih ijin.” Suaranya tidak sekaku tadi, sudah lembut seperti biasanya. “Sekarang biarkan Mommy makan." Malik sedikit khawatir dengan kondisi tubuh Ayu yang semakin hari semakin kurus. Dia takut Ayu sakit tapi tidak mau jujur padanya.
"Enak Mom?" Ayu mengangguk, bahkan makan saja dia di suapi Putra nya. Ayu terus merasa begitu beruntung. "Nanti main-main aku kalau sedang libur Mom. Kita jalan berdua ya Mom." Ayu hanya mendengarkan, tidak ada bantahan. Sungguh hatinya semakin sakit saat mencoba melepaskannya.
Malik mencium puncak kepala Ayu, suami nya tahu dia sedang menahan gejolak emosi yang tengah menguasai dirinya. "Setelah ini bawa Mommy istirahat. Mommy capek Kak." Kali ini Mahes mengangguk, dia setuju kalau Mommy nya pasti kelelahan mengikuti dirinya seharian ini.
__ADS_1
“Daddy jadi kita main di danau?” Ranu mengikuti Daddy nya yang mematung tidak paham dengan ucapan Putranya. “Kan tadi kita sudah janjian Dad. Ayo! Bye Mom.” Ranu mengecup pipi Mommy nya yang merasa di cueki Abang Ranu.
“Apa sih Bang? Apa maksudnya?” Ranu menarik Daddy nya keluar dengan cepat.
“Aku tidak akan sanggup berada di antara mereka. Aku sedih Dad, Kakak juga pasti sedang menahan diri agar tidak menangis seperti bayi.” Malik tertawa mendengarnya, benar sekali yang Ranu katakan. Mereka selalu bersikap seperti bayi saat dekat Mommy.
“Mel....cepat keluar! Sedang apa sih di kamar mandi lama sekali.” Sandra sudah kesal menunggu sejak tadi bersama yang lain. Padahal yang lain santai-santai saja menikmati pemandangan indah yang di suguhkan alam semesta.
“Sabar sayang, jangan teriak-teriak nanti Baby kaget. Dia sedang bobo sayang.” Ucap Jofan yang tangannya sedang memangku Baby yang terlelap. Para wanita sedang bersantai menikmati pemandangan indah dari kamar Melan bersama teh hangat.
Sandar tersenyum. “Sorry Mas, aku kesal dia tidak keluar-keluar.” Sandra bicara sedikit berbisik karena suaranya memang cukup kuat. “Baby maaf kan Aunty ya Nak.”
Tidak lama Melan dan Riyan keluar, Melani malu-malu berjalan di belakang Riyan dengan mantel tebal yang menyelimuti sekujur tubuhnya kecuali kepalanya.
“Kau gila! Siang bolong begini kenapa pakai mantel?” Semua mata tertuju pada Melani yang berdiri malu-malu di belakang Riyan. “Pasti ada yang kau sembuyikan ya Mel! Mengaku lah kalian!” Riyan melindungi tubuh Melan dari Sandra.
“Jangan Kak, dia kedinginan memang.” Sandra tidak lantas percaya, sahabatnya jelas-jelas berkeringat. Matanya sudah menjelaskan semuanya tapi Sandra belum puasa jika belum melihatnya sendiri.
“Kau tidak lihat keningnya, itu keringat atau apa Dek?” Riyan segera menghapusnya. “Ketahuan kalian.”
“Melan tadi cuci muka, aku lupa membersihkan wajahnya.” Riyan malu setengah mati meladeni Kakak nya yang ingin tahu. Padahal dia seharunya tahu apa yang mereka lakukan sebagai pasangan pengantin baru.
“Lihat....Kakak mau lihat Dek......ahhhh.......coba sedikit saja.” Yang lain tertawa melihat Melani malu-malu di goda Sandra yang ingin melepas Syal dari leher Melani.
Riyan mencoba menghalau agar tangan Sandra tidak sampai pada leher Melani yang berdiri di belakangnya.
Awwwww......
Teriak Sandra yang sontak membuat semua orang menatap dirinya, dia hanya bercanda karena ingin Riyan memberikanya ruang meraih syal yang Melan gunakan.
“San....jangan bergerak, kenapa? Perutnya kena sayang?” Sandra malah ketakutan melihat sorot mata Jofan yang menganggap bercandaannya serius. Sandra sampai menelan salivannya merasa takut. “Apa yang sakit sayang? Katakan!”
“Maaf.....tapi aku hanya bercanda Fan. Maaf.” Jofan menggeleng tidak percaya.
“Shitt.........Jangan semua di jadikan bahan bercanda Sandra. Tidak lucu!”
__ADS_1
Jofan keluar dari ruangan dengan penuh amarah, dia benar-benar ketakutan terjadi hal buruk pada Sandra yang ternyata hanya lelucon.