
"Janji ya Mom, jangan pikirkan yang tidak-tidak, Kak Malik tidak mau lihat lagi air mata." Ayu menyandarkan kepalanya di bahu Malik. Mengangguk setuju dengan syarat yang suami nya minta.
Segera Malik mendatangi kantor polisi yang Biru arahkan. Ramai sekali, benar-benar seperti kelompok gengster besar yang baru saja di tangkap.
"Mom.....Dad." Ranu memeluk Mommy nya begitu mereka masuk. "Abang ok, Kak Mahes juga ok. Tapi...." Ragu berucap, takut sekali Mommy nya bertambah sedih dan khawatir.
"Jelaskan Abang.” Ranu tidak tahu harus bicara apa. Ayu paham Putra nya hanya takut salah bicara dan menyakitinya. Ayu memeluk Ranu hangat.“Sekarang katakan dimana Kak Mahes, Mommy perlu lihat sendiri Nak."
Ranu membawa Ayu ke ruangan kesehatan yang ada di kantor polisi.
Malik mengikuti mereka dari belakang, Biru juga berjalan di belakang Malik.
Setelah memastikan Mahes baik, Malik memutuskan menemui petugas kepolisian yang menangani kasus anak buahnya.
Anak-anaknya mulai besar, ini sebagian kecil perjalanan hidup mereka yang kelak akan menjadi cerita. Malik tersenyum hangat, selama mereka semua baik-baik saja Malik lega. Sekarang tugas nya menyelesaikan perkara yang mereka buat.
"Abang jaga Mommy, Daddy selesaikan ini dulu sebentar." Ranu mengangguk, Malik meminta Biru menjaga mereka. Fokus Malik terpecah belah karena bingung.
Aldo juga sudah sampai di sana begitu mendapat kabar dari Oji. Malik lega karena semua urusan sudah Oji dan Aldo selesaikan.
“Al, tolong segera bawa mereka ke rumah sakit. Obati sampai sembuh, beri mereka libur untuk pemulihan.” Laki-laki yang sangat Malik benci namun dia berulang kali menyelamatkan orang-orang terkasihnya.
Malik menghampiri Oji yang duduk tenang di kursi panjang sambil memainkan ponselnya. “Oji…. Maaf kau harus terlibat.”
“Tidak masalah, aku pamit. Sepertinya semua sudah selesai.”
Oji memang memutuskan membuka bisnis sendiri karena dirinya sakit setiap melihat senyum bahagia Ayu bersama orang lain, bukan dirinya. Sudah lama mereka tidak berjumpa.
Oji sudah lama bekerja di luar Jakarta, kembalinya untuk mengurus pembukaan kantor cabangnya yang memaksanya pulang dan memastikan sendiri tempat yang sudah anak buah nya pilih.
Meski begitu, Oji sangat dekat dengan Ranu dan Mehes. Dia menjadi guru bela diri keduanya, tidak di ragukan kemampuan bela diri Oji selama ini. Malik mengijinkan anak-anaknya belajar ilmu yang bermanfaat meski dengan Oji, saingannya dulu.
“Sekali lagi terimaksih. Abang dan Kak Mahes baik-baik saja. Terimakasih.” Oji melangkah enggan menanggapi.
Sekilas melihat Ayu baik-baik saja sudah membuat Oji lega, mencintai wanita sebesar ini sampai tidak ada celah lagi untuk wanita lain masuk. Sudah habis cintanya untuk Ayuna, Oji memutuskan menjaga cintanya sampai nanti.
“Dia masih sama seperti dulu, dingin sekali.” Aldo menggeleng masih merasa heran, padahal Malik sudah berbesar hati memaafkan Oji dengan semua kesalahannya. Malik tidak mau lagi berseteru dengan Oji karena kebahagiaan Ayu yang utama.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan lain.
"Kak...." Tatapan matanya kosong. Ayu memeluk nya erat. "Anakku sayang."
Setalah menyadari suara wanita kesayangannya, Mahes tersentak, kesadarannya kembali.
"Mom....Kak Mahes takut, aku mohon tolong Hanum. Aku ingin menemuinya. Mom please Mom." Tangannya gemetar, ketakutan sekali Putranya ini.
"Tenang sayang, pelan-pelan. Mommy tidak paham."Membelai lembut surai putra nya. "Hanum siapa Nak, dimana? Dimana Mommy bisa menolongnya. Mommy pasti akan bantu Kaka." Mehes menggenggam erat pergelangan tangan Mommy nya. Menangis seperti Bayi tanpa rasa malu, sudah lama sekali tidak seperti ini Putra nya.
"Sekarang Mom, ayo kita kesana. Please Kakak mohon. Kita harus selamatkan Hanum." Ayu mulai tahu Putranya sedang tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Dia sepertinya mengalami pukulan besar.
"Tenang sayang ku, Mommy mohon tenang dulu Nak. Kita bicara dengan Daddy yah, tenang sayang."
"Kaka." Suara Malik yang baru saja masuk ke ruang kesehatan membuat Mahes lari kepelukannya. Erat sekali, Malik sampai takut Mahes tidak pernah seperti ini. "Hanum nya sudah sadar, dia masih harus di rawat, tapi sekarang sudah lebih baik. Daddy antar kesana." Mahes rasanya lega sekali. Dia tidak sadar Mommy nya masih kebingungan.
Selama ini Mahes sering membahas Hanum di group para lelaki. Hanya para Mommy nya yang tidak tahu Putra nya sudah mulai suka dengan wanita, dia sudah mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Mereka semua menyembunyikan karena tidak mau ada keributan dan menyebabkan Mommy nya jadi banyak berpikir.
Ayu duduk di kursi belakang memeluk Putranya yang masih menangis dalam diam. Sedih sekali sampai ayu merasakan tubuh nya bergetar. Ayu jadi deg deg an akan kenyataan siapa Hanum, sesayang ini sampai Mahes tidak bisa berpikir dengan logis seperti biasanya. Terpukul sekali dia, Mahes bahkan tidak pernah sehancur ini.
"Mommy ok." Malik nya sadar Ayu terlihat murung. Dia hanya tersenyum. "Kalau Mommy pusing beritahu ya Mom." Ayuna nya mengangguk. Dia masih belum sadar betul dengan keadaan anak-anaknya. Kacau sekali, isi kepalanya penuh, berantakan.
Ranu berkeringat hebat, tubuhnya menggigil dalam tidur. Malik yang sadar ada yang tidak beres menepikan mobilnya. Memeriksa kening Putranya yang ternyata demam.
"Abang....Abang!" Ayu mendongak. Apa lagi ini ya Tuhan. Tidak berani bertanya, takut sekali. Hanya doa yang terus terucap dari bibirnya.
"Ya Dad, Abang ok." Jawab nya singkat masih memejamkan mata, suaranya sangat lirih. Malik mengusap keringat dengan tissue, lembut sekali membuat Ranu tidak terganggu.
"Ya Tuhan Abang, Daddy kira. Ya sudah, Abang tidur ya Nak, Daddy sebentar lagi sampai. Sabar sayang." Memegang kening Ranu, Malik tahu Putra nya sedang menyembunyikan sakitnya. Dia pasti tidak mau Mommy nya semakin sedih, Kak Mahes sedang butuh Mommy. Bijak sekali Putranya.
Sarah dan Adam sudah menunggu mereka di depan pintu masuk UGD.
Melihat anak-anaknya baik saja Sarah lega. Lagi-lagi dirinya tetap harus berada di tempatnya karena banyak pasien yang harus segera mendapat perawatannya.
Sarah membawa Mahes dan Ayuna ke ruangan perawatan Hanum. Sedangkan Malik menemani Ranu untuk melakukan pengecekan bersama Adam. Mereka membagi tugas.
__ADS_1
"Abang, tidak apa kan Mommy tinggal sebentar?" Ranu yang menyandarkan tubuhnya di pelukan Malik mengangguk. Menjaga kesadarannya agar Mommy nya tidak tahu lukanya.
"Abang ok, Mommy bisa temani Kakak." Malik mencegah tangan istrinya yang ingin meraih tangan Ranu. Putra nya tersenyum agar Mommy nya percaya.
"Cepat Mom, kasihan Mahes. Dia pasti ingin segera memastikan keadaan Hanum.” Ayu mengangguk setuju permintaan Malik.
"Adam cepat bantu Abang." Adam segera membawa Ranu ke ruang perawatan.
Terkejut sekali saat Adam membuka jaket Ranu, darah sudah membasahi jaket kulitnya yang tidak tembus keluar. Menyerap ke seluruh kaos putih yang dia gunakan sampai warna nya berubah menjadi merah. Kuat sekali Putranya menahan luka, pasti tidak mudah. Dia harus menjaga kesadaran dengan keadaannya yang sungguh mengerikan. Adam berpeluh, bisa-bisanya lengah seperti ini, Putranya bisa saja tidak selamat.
Adam memeriksa menyeluruh, luka nya berasal dari bahu belakangnya yang terkena pukulan benda tajam, pantas saja dia demam. Pasti Ranu menahannya sekuat tenaga.
"Bagaimana Dam, anakku baik-baik saja kan Dam.” Adam dibantu beberapa suster masih membersihkan luka Ranu.
Fokus sekali, anak nya tidak boleh terluka. Anaku harus sehat. Air matanya menetes, dirinya kalut. Ranu kehilangan begitu banyak darah. Adam meminta suster membawa beberapa kantung darah untuk membantunya.
Malik gemetaran, menunggu dengan fokusnya yang sudah berantakan. Ranu sehebat itu menutupi lukanya, sebesar itu dirinya tidak mau melihat Mommy nya khawatir. Anaknya tumbuh sehebat ini. Malik tidak akan bisa tanpa Ranu, dia tidak akan bisa berdiri dengan percaya diri jika Putranya sampai terluka.
"Al duduk, istirahat. Kau bisa melukai dirimu sendiri." Pinta seorang dokter yang sudah cukup lama kenal Malik. Malik menggeleng. Tetap ingin sadar dan menemani Ranu sampai baik-baik saja.
"Dam.....bagaiman Abang Dam. Tidak bahaya kan Dam? Jawab Dam, dia tidak terluka parah kan Dam." Adam mengangguk. Malik percaya, Adam tidak mungkin membohonginya.
"Sekarang kalau kau ingin Putra kita selamat, keluarlah Al. Aku harus fokus."
Malik duduk dengan cepat di kursi tunggu, berharap tidak di usir. "Di sini saja, aku mohon." Adam tidak menghiraukan dan kembali menjahir luka Ranu.
Cukup lama Adam menjahit luka Ranu yang cukup dalam, 13 jahitan yang berhasil menutup semua luka di bahu Ranu. Lukanya cukup lebar dan dalam.
Adam terduduk lemas, kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Malik yang terkejut lari ke arah Ranu yang sudah terlihat lebih baik. Lukanya sudah terbalut perban dan sudah mengenakan pakaian pasien.
"Dam....kenapa? Abang ok kan?"
"Kau tidak bisa menjaga mereka! Kau bilang mereka akan selalu aman. Kenapa bisa seperti ini, bagaiman kalau mereka tidak selamat." Teriak Adam di depan semua orang meracau menyampaikan kekesalannya.
"Kau kira aku tidak takut! Makanya aku selalu bilang jangan ikuti kemauan mereka, lihat akibatnya." Malik menyesal, longgar, dan tidak mau mereka di jaga dengan ketat.
Hasilnya hal buruk seperti yang dirinya takutkan terjadi.
__ADS_1