Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Anak-anak Kabur


__ADS_3

Malik akhirnya meminta Jofan untuk tidak pergi dengan dirinya. Meski melawan dan sampai keduanya berdebat hebat, Malik tahu apa yang harus dirinya lakukan demi kenyamanan semua orang. Terutama Sandra yang begitu syok saat akhirnya tahu jika Ayu sedang ada dalam tangan Baskoro.


Perutnya sempat kram dan mengalami nyeri yang membuat Sandra harus di suntik penguat kandungan. Malik takut hal buruk terjadi, dirinya bisa menangani Baskoro. Jofan bisa tinggal dan mengurus Sandra dan yang lain agar tetap aman.


Saat tahu semua yang menimpa Ayu karena Baskoro, Sandra begitu kecewa. Mata nya menatap sinis pada Hanum yang baru saja Malik bangun kepercayaan dirinya untuk tidak menyalahkan dirinya.


Tidak ada yang bisa menyalahkan sikap Sandra, mereka paham betul bagaimana perasaan Sandra yang begitu menyayangi Ayu selama ini. Sandra hanya sedang terbawa emosi karena masalah silih berganti tidak juga reda.


Sandra sedang dalam keadaan tidak stabil, emosinya mudah sekali naik meski hanya tersulut sedikit saja ucapkan yang menyinggung hatinya. Saat ini tugas Jofan untuk membuat Sandra tetap damai dan nyaman dengan dirinya. Rasa nyaman bisa membuat tubuh Sandra sehat, dia harus terus bahagia dan jauh dari pikiran-pikiran sedih yang mengganggu.


Jofan tentu saja Malik paksa untuk tetap stay, menjaga Sandra dan yang lainya bersama anak-anak. Malik yakin sudah cukup banyak orang yang ikut degan dirinya menjemput Ayu. Dirinya cukup mengandalkan orang-orangnya yang cukup terlatih dan berlisensi di bidangnya. Malik mendidik mereka dengan baik agar bisa Malik andalkan di situasi seperti saat ini.


"Tidak bisakah aku ikut saja? Aku ingin menjemput adik ku Kak." Malik menghela nafasnya panjang. Masih saja belum menyerah.


"Sandra membutuhkan mu Fan, percayalah padaku, Rey, Adam dan Riyan. Kita akan bawa Ayu dalam keadaan baik dan tidak kurang apapun." Ucapnya kini dengan suara yang cukup lembut. Padahal perasaan Malik cukup berkamuk, tapi dirinya harus tetap waras agar keadaan tidak semakin mencekam.


"Baiklah. Aku mohon jaga adik ku." Malik memeluk Jofan dengan erat. "Aku tidak mau lagi kehilangan adik ku." Malik mengangguk paham.


Jofan punya luka yang cukup dalam tentang kehilangan. Dia berulang kali kehilangan orang-orang yang sangat dirinya sayangi. Malik tahu sekali bagaimana Jofan selama ini selalu menjaga adik kesayangannya yang sudah banyak mengubah hidupnya.


Kehadiran Ayu mengobati rasa bersalahnya yang tidak bisa menjaga Arumi. Dia kehilangan pelita hidupnya karena mempercayai pria jahat yang hanya membawa keburukan pada Arumi.


Kehadiran Ayuna memang begitu punya pengaruh besar dengan kebahagiaan yang saat ini Malik dan keluarganya rasakan. Ayu mengajarkan kasih sayang, cinta kasih, kebersamaan dan saling perduli dengan tulus. Cinta nya besar sekali sampai semua orang tidak bisa membalas dengan perasaan yang sama dengan dirinya.


Dia menciptakan keindahan di setiap lembaran hidup yang dilaluinya. Malik tahu artinya berkorban, berjuang, mengalah dan masih banyak lagi hal baik lain yang Ayu ajarkan dengan segala macam tindakannya.



Jofan kembali ke dalam kamar setelah mengantar semua orang yang kini bergerak melakukan misi penyelamatan. Langkahnya lemas tapi dirinya harus menyembunyikannya. Ada wanita yang kini tengah berjuang mempertahankan buah hati mereka dengan kondisi tubuhnya yang sedang mengalami banyak kesakitan.


Sandra tertidur, Jofan kini duduk di sisi Hanum yang wajahnya sembab terutama bagian mata. Jofan menatap sendu wajah cantik Hanum yang tetap indah meski kondisi tubuhnya sedang demam.


"Han...." Hanum menengadah, menatap Om Jofan yang menatapnya dengan ramah. "Aunty Sandra jangan di hiraukan ya sayang, dia hanya sedang merasa sedih." Hanum mengangguk.


"Hanum tahu Om." Meski terseyum, Jofan tahu jika hati Hanum begitu sedih.


Hanum tahu sekali kondisi semua orang. Dirinya tidak akan keberatan jika di salahkan, memang semua terjadi karena hadirnya.

__ADS_1


Jofan meraih tangan Hanum, membelainya lembut. Hanum tidak pantas di salahkan. Dia hanya korban, Hanum bahkan tidak bisa memilih jalan hidupnya. Dia yang di pilih melalui semua dengan begitu berani. Jofan sangat paham kenapa Hanum mudah sekali di sayangi. Dia sangat baik, penurut dan membawa bahagia untuk keluarganya.


"Jangan meragukan kami Han, terutama Mommy. Dia rela lakukan apa saja demi anak-anak nya. Mommy mencintaimu sebesar itu dan Hanum harus yakin." Hanum mengangguk.


Hanum tertidur, Anna meminta Jofan mengikutinya keluar untuk bicara. Jofan terlihat begitu tersiksa dan membuat Anna tidak nyaman.


Brakkkk.....


Sarah membuka pintu begitu kencang. Dirinya kehilangan Mahesa dan Ranu saat terlelap beberapa saat karena matanya begitu lelah.


"Anak-anak tidak di sini?" Pertanyaan yang membuat Anna tersedak ludahnya sendiri. Beruntung Melan, Sandra dan Hanum tidak mendengar nya karena Jofan yang ada di depan ruangan menghentikan langkahnya dan segera menutup pintu kembali.


Anna dan Jofan sedang berada di luar ruangan, mereka sedang bertukar cerita untuk menghilangkan penat di kepala mereka. Terutama Jofan yang diharapkan dengan keadaan yang begitu membingungkan.


"Maksud mu anak-anak tidak ada di ruangan mu?" Sarah terlihat limbung. Sarah meremas bajunya, dadanya sesak sekali. Dia takut anak-anak nekat.


"Hubungi Malik, Adam.....hhmmmmm....atau siapa saja. Cepat.!" Jofan menarik Sarah agar duduk di kursi tunggu yang ada di lorong. Dia kalut dan bisa saja melakukan hal buruk tanpa sengaja.


"Tenang Dok, aku coba hubungi yang lain." Anna juga mencoba menghubungi mereka.


Satupun ponsel mereka tidak ada yang aktif. Jofan ingat jika Malik meminta semua anak buahnya mematikan ponsel mereka agar tidak mudah di lacak. Mereka menggunakan alat komunikasi jarak dekat yang tidak mudah terdeteksi jika di cari.


"Mereka tidak bisa di hubungi." Ucapnya lemas. Jofan masih terus mencoba menghubungi mereka.


Jofan mencoba segala cara menghubungi mereka. Tapi nihil, tidak satupun nomor yang merespon pesan dan panggilannya. Masuk pun tidak di ponsel mereka.


Jofan terpaksa meminta para pengawal yang bersiaga untuk mencari keberadaan anak-anak. Jofan juga mengecek CCTV beberapa menit sebelum mereka hilang.


Dengan sabar Jofan mengecek semua CCTV rumah sakit yang cukup banyak, dibantu para pegawai yang Jofan minta membantunya.


Akhirnya ketemu. Mereka menyamar, keluar dengan pakaian perawat agar tidak di kenali. Anak-anak memang sangat pintar, mereka nekat melakukan semua demi Mommy nya. Padahal di luar sana sangat berbahaya.


Mereka Masuk ke dalam mobil salah satu pengawal Malik yang turut serta ke lokasi penyekapan yang sudah di deteksi oleh anak buah Malik. Sudah di pastikan mereka pasti saat ini berada bersama Daddy nya. Jofan mengusak rambutnya sampai berantakan.



"Bagaimana?" Tanya Sarah dengan raut ketakutan. "Anak-anak tidak ke sana kan Fan? Jawab!" Sarah menarik-narik baju Jofan. "Katakan kalau aku tidak salah. Katakan kalau mereka aman Fan." Jofan meraih tubuh Sarah, membawanya kembali duduk agar tidak berbahaya.

__ADS_1


Gemetar di tangan Sarah begitu hebat. Dirinya merasa hancur melihatnya. Anak-anak kekuatan, mereka juga bisa jadi kelemahan dalam waktu yang sama. Jofan memeluk Sarah dengan lembut. Dia terisak di pelukan Jofan.


"Ku mohon tenang Dok, aku akan memastikan mereka aman. Sekarang kembali ke ruangan Sandra yah. Tapi jangan katakan situasi kita saat ini. Ku mohon." Sarah berjalan sedikit goyah. Sedang tidak bisa berpikir dengan jernih.


Anna menahan tangan Jofan, menggeleng meminta Jofan tidak membawa Sarah ke dalam. "Apa Kak Anna bisa menjaga Dokter sebentar?" Anna mengangguk.


"Biar aku bawa ke ruangan nya. Kau pergilah Fan, cari anak-anak Fan." Jofan menyadari tangan Anna juga gemetar.


"Sorry Love.....sorry kalian harus menanggung sakit seperti ini." Anna meraih tangan Jofan, menepuknya lembut. Jofan mengantar ke duanya ke ruangan Sarah. Anna hanya mencoba sekuat tenaga untuk tetap terlihat tegar.


Jofan keluar setelah meminta Anna untuk tetap tenang di sisi Sarah yang sedang mencoba mengembalikan kewarasannya. Jofan bergerak setelah meminta Melan menjaga Sandra dan Hanum.


"Jofan!" Suara yang membuat Jofan menghentikan langkahnya. "Dimana?" Oji terlihat terengah engah.


"Darimana kau tahu?" Tanya Jofan penasaran.


"Kak Anna tidak sengaja menghubungiku tadi, dia panik karena anak-anak tidak ada di sini. Mereka kabur." Oji masih belum paham.


"Untuk apa? Maksud ku kenapa kabur? Apa mereka melakukan kesalahan?" Jofan tersenyum.


"Mereka ingin menjemput Mommy nya." Oji menyipitkan matanya. "Baskoro menculik Ayu, dia di culik Ji." Wajah Oji berubah begitu penuh raut kekesalan.



"Dimana mereka? Sudah ku bilang untuk menghabisi mereka sampai bersih. Lihat akibatnya!" Oji meraih ponselnya.


Saat kejadian Mahes dan Ranu di keroyok anak buah Baskoro, Oji sudah hampir melenyapkan mereka jika Malik tidak bersikeras meminta dirinya berhenti. Menganggap Baskoro bisa berubah demi Putri yang saat ini ada di asuhannya. Malik sangat berharap Hanum bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah yang sesungguhnya.


Geram sekali, Oji menggertakan gigi nya berulang kali karena kesal. Jantungnya berdegub begitu keras mendengar Ayu saat ini bersama orang gila seperti Baskoro.


"Ikut aku! Aku tidak akan memaafkan Malik kalau Ayuna ku sampai lecet sedikit saja." Jofan tersenyum, Oji mencintai wanita yang tepat. Tapi cintanya tidak terbalaskan karena hati Ayuna sudah dimiliki Ayuna.


Dengan gagah berani Oji mengalah, demi kebahagiaan wanita yang selama ini dirinya sayangi. Meski dahulu Jofan sangat marah, karena Oji sudah menghancurkan Arumi. Kini dirinya menyadari, apa yang terjadi pada Arumi tidak semua kesalahan Oji. Mereka masih sama-sama muda dan belum bisa mengendalikan hawa nafsu mereka.


Arumi meninggal karena obat-obatan terlarang yang tidak seharusnya dia gunakan.


"Kau mau terus senyum-senyum sendiri seperti orang gila! Cepat naik." Jofan segera naik ke mobil sedan hitam yang di kemudikan oleh Oji.

__ADS_1


__ADS_2