
Malik tengah menenangkan Adam yang seperti tengah kehilangan arah. Adam tidak pernah membagi sedikitpun penderitaan yang dirinya alami. Menghadapi Adam yang seperti ini membuat Malik merasa tidak berdaya, bagaimana orang yang paling dekat dengan Adam bahkan tidak tahu penderitaan apa yang selama ini tengah sahabatnya alami.
Sakit sekali setelah mendengar bagaimana Alana dan Adam mengalami hal buruk yang membuat mereka akhirnya terpisah. Alana menghilang dan kini kembali pun hati Adam masih tidak bisa menerima kehadirannya.
Malik dulu hanya tahu Alana di adopsi. Jauh sampai dirinya tidak bisa menjangkau keberadan Alana. Rama bilang orang tua Alana yang sekarang membawanya cukup baik. Mereka bisa melupakan Alana yang sudah bahagia dengan kehidupan barunya.
Malik menyodorkan air mineral yang dibawakan salah seorang Dokter yang juga menyaksikan bagaimana kemarahan Adam meledak. Rumah sakit cukup gempar melihat Adam yang biasanya selalu sabar dan begitu manis marah-marah pada pasiennya. Kehangatan yang melekat pada dirinya hilang menjadi sosok yang begitu menakutkan.
Mereka benar-benar berdua saat ini, Malik sudah membawa Adam ke ruangannya yang lebih aman untuk Adam meluapkan emosinya. Hanya sisa isakan tangis yang Malik dengar, Adam masih belum bisa bicara setelah menceritakan kisahnya dengan Alana pada Malik.
Dadanya penuh sesak menceritakan bagimana melepaskan Alana, sahabat kecil yang sudah bersamanya cukup lama menjadi orang yang sangat Adam benci dalam hidupnya.
Malik sendiri memberikan waktu pada Adam meluapkan semua kemarahannya. Mungkin bisa membuatnya merasa lega meski sakitnya pasti tidak akan pernah bisa di hapus.
Adam kehilangan perempuan yang telah melahirkan nya ke dunia. Membuat dirinya hidup sebatang kara tanpa keluarga.
"Al..." Malik tersenyum. Menatap dengan hangat dan meraih tangan Adam menepuknya perlahan. "Alana mungkin tidak sepenuhnya melakukan kesalahan. Aku yang menutup mata dan tidak mau mencari kebenaran. Aku butuh orang yang bisa aku salahkan atas apa yang terjadi dalam hidupku." Malik menghela nafasnya panjang.
Malik tidak mengenal Alana sebaik Adam, dirinya tidak bisa memutuskan salah atau tidak Alana dalam hal ini. Tapi saat ini dirinya harus bisa menjadi penengah, Alana tidak begitu baik. Tapi dia gadis yang cukup jujur dan bisa di andalkan dulu. Malik merasa Alana tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan padanya.
"Mau kah bicara dengannya? Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Adam menunduk.
Aneh rasanya, bagaimana dirinya baru mencari tahu setelah sekian lama. Kenapa tidak dulu, masih pantaskah kisah mereka di perbaiki? Adam bingung. Bagaiman jika apa yang dirinya sangkakan salah, bagaimana selama ini Alana menangungnya sendirian?
"Mungkin Alana tidak akan memaafkan ku. Seperti aku Al, aku tidak bisa memaafkan Alana. Aku tidak bisa mengembalikan semuanya seperti dulu." Adam mengusak rambutnya kasar.
"Kau belum mencobanya, hati mu lembut Dam. Dan aku tahu kau bisa dengan mudah memaafkan nya." Malik mencoba mengembalikan Adam yang dirinya kenal. Yang selalu mudah memaafkan kesalahan orang lain.
"Aku tidak yakin Al, aku merasa pengecut sekali. Aku takut menghadapinya Al." Adam takut kesakitan Alana karena dirinya yang menutup diri.
"Sebelum terlambat dan kau menyesal Dam, mungkin Alana akan memberikan maafnya pada kita." Malik merasa ikut bersalah karena tidak ada untuk kedua sahabatnya.
***
"Aku mohon! Aku hanya ingin keluar dari sini. Aku tidak mau di obati di sini." Alana masih menolak diberikan pertolongan.
"Nanti infeksi Al, kau hanya kami obati sebentar dan setelah nya kau boleh pulang. Aku janji." Sarah masih berusaha membujuk Alana.
__ADS_1
"Jangan bersikap baik pada ku. Aku mohon." Sarah tidak tahu sepelik apa masa lalu mereka sampai keduanya saling menyakiti seperti ini.
Anna membawa Ayu bersama nya ke ruangan dimana Alana di bawa. Anna terpaksa karena Alana pasti butuh dirinya. Tidak ada orang lain yang Alana miliki.
"Tunggu di sini ya Yu. Kak Anna tidak akan lama." Ayu mencekal tangan Anna.
"Ayu ikut Kak, Alana juga tidak akan melukai ku." Anna mengandeng Ayu mendekati brangkar Alana yang tidak jauh dari pintu masuk. Alana bahkan menyelamatkannya dari pecahan kaca di rumahnya.
"Al..." Anna memeluk Alana dengan hangat, mencoba memberikan Alana ketenangan. "Maaf aku baru sampai Al, bagaimana kondisi mu?" Anna duduk di sisi Alana.
"Pasien menolak di obati An. Coba bujuk supaya mau An, lukanya bisa infeksi An. Harus segera diperiksa." Alana menggeleng, dia ingin segera pergi dari sana.
"Aku akan obati, tapi tidak di sini." Anna sedih sekali mendengar nya. Sakitnya membuat Alana yang dirinya kenal sangat ceria menjadi rapuh.
"Di obati ya sayang, tidak makan waktu la kok, cuma sebentar saja." Anna mencoba membujuk. Alana hanya sendiri, bagaimana Alana bisa membiarkan nya pergi begitu saja.
"Aku hanya ingin pergi An, aku tidak mau di sini. Aku sakit sekali setiap melihatnya." Anna mengusap sayang pipi Alana.
Ternyata sahabat kecil yang Alana ceritakan adalah Adam dan Malik. Anna tidak menyangka kesakitan Alana adalah kebahagiaan hidupnya. Anna mengusap sayang pundak Alana yang tengah bergetar. Memeluknya dengan hangat.
Sarah masih menunggu dengan sabar, dirinya duduk manis bersama Ayu yang juga ada di sana. Mereka saling menggenggam memberikan kekuatan.
"Kalian mungkin tidak akan bisa paham. Tapi aku minta untuk biarkan aku pergi. Biarkan aku tidak berhubungan lagi dengan kalian. Aku mohon." Alana tidak mau dibantu orang-orang yang mengenal Adam. Takut dirinya terikat dan semakin sering bertemu dengan Adam yang belum memaafkan nya.
"Kak...boleh aku memeluk mu?" Alana menatap Ayu dengan penuh tanda tanya. "Baby ingin peluk Kak Alana." Ayu membelai perutnya yang sudah sangat besar. Alana dengan ragu mengangguk.
"Sebentar saja." Ayu menghamburkan tubuhnya memeluk Alana.
"Aku ingin berterimakasih . Kak Alana menyelamatkan ku di rumah dulu. Kaki Kak Alana jadi terluka, maaf baru sempat ucapkan sekarang." Alana merasakan ketulusan dari sentuhan tangan Ayuna.
"Lupakan saja." Ucapnya pelan.
"Ku mohon ijinkan Dokter Sarah mengobati luka Kak Alana, sebagai ungkapan terimakasih ku Kak." Alana menatap Sarah, Anna dan Ayu bergantian. Mereka benar-benar tulus.
"Biar aku yang mengobatinya." Suara Adam membuat mereka semua menengok pada sumber suara.
Alana tidak bisa berkata-kata, manusia yang sangat dirinya benci tengah memegang peralatan medis dan perlahan mengobati lukanya. Alana sesekali melirik menatap wajah Adam. Sahabat yang sangat dirinya sayangi dulu.
"Aku tidak bersalah." Tangan Adam yang tengah sibuk mengobati Alana terhenti sejenak, melanjutkan lagi dengan sikap yang begitu tenang seolah tidak perdulu. "Kau harus tahu kalau aku tidak bersalah." Adam masih tidak menanggapi.
__ADS_1
Adam berpura-pura tidak perduli, padahal dada nya bergemuruh hebat. Adam beranjak, tangannya di cekal Alana yang merasa Adam harus tahu kebenaran nya. "Dam...ku mohon." Adam berbalik.
"Kenapa tidak dulu kau jelaskan! Kenapa menghilang! Kenapa pergi begitu saja brengsek!" Adam berteriak cukup keras. Alana melepaskan cekalan tanganya.
"Kau yang membuatku menjadi pengecut. Kau bahkan tidak berbalik dan mencari tahu kebenarannya. Aku kalian buang!" Alana terisak. Dirinya merasa di salahkan seorang diri.
"Seharusnya datang dan jelaskan! Kenapa malah mengambil keputusan sendiri dan membuat ku semakin membenci mu!" Alana hanya menangis.
Sungguh saat itu dirinya kebingungan, tidak ada tempat yang dirinya bisa tuju untuk meminta pertolongan. Alana menghilang karena tidak mau Adam semakin terluka.
"Aku hanya takut membuat mu semakin terluka Dam. Aku takut sekali." Alana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Adam menyadari kebodohannya menjadikan Alana pelampiasan kemarahannya. Tidak sepatut nya Alana mendapatkan luka dari perbutan Ayah tiri nya. Alana korban, dia menanggung kesakitanya sendirian.
Adam merengkuh Alana, sahabat yang dia tinggalkan karena keegoisan. "Maafkan aku Al, aku meninggalkan mu karena merasa kau sudah merusak hidup ku. Aku menganggap mu merenggut satu-satunya keluarga yang aku miliki Al." Alana semakin terisak di pelukkan Adam.
Malik lega melihat Adam dan Alana mau membuka diri untuk saling memaafkan. Sungguh Alana wanita yang baik, dia hanya suka memanfaat Malik dulu, mungkin karena Alana kecil ingin punya apa yang orang lain punya. Lewat Malik dirinya bisa mewujudkannya dulu dan Malik tidak keberatan.
Melihat keadaan sudah cukup baik, Malik membawa Ayuna dan Anna ke ruangan Sandra. Membiarkan Sarah mengenal Alana dan memberi ruang pada Adam untuk melepas kebencianya.
Brakkkkkk....
Adam sontak melepaskan pelukkanya, terkejut melihat kedatangan laki-laki asing yang membuat Alana tersenyum.
"Alana....maaf kan aku. Kau terluka? Apa benar kau tertabrak motor? Al....." Alana tersenyum. Atar merengkuh Alana ke pelukkan nya. "Kau membuat ku gila Al. Aku kira kau akan menendang ku jika muncul di hadapan mu." Atar lega Alana manisnya masih sama.
"Bawa aku pergi dari sini. Aku mohon." Bisik Alana.
Alana masih merasa canggung ada di tengah-tengah Adam dan keluarganya. Mereka bukan lagi sahabat kecil yang Alana kenal meski Adam sudah mau menerimanya kembali.
"Apa dia diperbolehkan pulang?" Tanya Atar pada Sarah dan Adam yang masih ada di sana dengan ragu-ragu.
"Kau siapa?" Atar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Siapa dirinya bagi Alana masih abu-abu. "Kau bisa menjaga sahabat ku minum obat nya dengan teratur?" Atar mengangguk.
"Aku akan pastikan luka nya cepat membaik." Jawab Atar penuh keyakinan.
"Kalau begitu bawa dia pulang, hubungi aku jika dia nakal tidak mau minum obatnya." Alana hanya tersenyum. Seperti itulah dirinya diperlakukan dulu oleh Adam dan Malik.
"Siap Pak Dokter." Atar membuat Sarah dan Adam tertawa.
__ADS_1