Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Hari Besar


__ADS_3

Hari ini semua orang tengah bersiap menyambut hari bahagia Riyan dan Melani. Mereka akhirnya melangsungkan pernikahan setelah perjuangan yang begitu panjang untuk bisa bersama dalam ikatan cinta. Banyak yang Melani korbankan, tapi dirinya rela demi bisa bersama laki-laki yang mencintainya begitu tulus.



Semua lelaki tengah menggoda Riyan yang tidak berhenti tersenyum bahagia hari ini. Indah sekali wajah tampanya yang begitu mempesona hari ini. Dia sangat bersinar. Senyumnya menambah sempurna penampilan tampannya siang ini.


“Sayang....” Ketujuhnya menatap intens pada Ayuna yang mematung, sedikit terkejut melihat mereka begitu kompak. “Kalian menatap ku semua sih...... Takut ihhhhhhh....” Ayu mendekat, sedikit menunduk karena pipinya tengah merona menahan malu.



“Yang mana Mom? Semua kan sayangnya Mommy.” Tanya Mahes membuat pipi Mommy nya semakin merona.


“Mommy panggil Daddy loh. Daddy kan yang belum selesai pakai bajunya.” Ayu memakaikan jas hitam milik suaminya yang baru selesai dirinya setrika.


Malik menjulurkan lidahnya pada Mahesa dan Ranu, keduanya memicingkan mata kesal. Kekanakan sekali sikapnya. Mereka sudah biasa jadi tidak ambil pusing.


“Mom rambutku berantakan.” Rengek Mahes yang saat ini menyandarkan kepalanya di bahu Mommy nya. “Mom....bantu aku rapihkan rambut ku Mom.” Ayu tersenyum meski anak besarnya ini bertingkah seperti bayi.


Ayu menyisirkan jari-jari tangannya perlahan, merapihkan sedikit rambut Putra nya yang berantakan tertiup angin sepertinya. “Tampan nya anak Mommy.” Ayu mengecup pipi Mahesa. Tangan Mahes sontak memeluk tubuh Mommy nya, lidahnya menjulur pada yang lainnya merasa menang. “Sudah Kak, nanti berantakan lagi rambutnya sayang.”


Mahes melepaskan pelukkannya. Mengecup pipi Mommy nya yang berwarna merah muda, cantik sekali dengan balutan make up tipis. “Cantik ku yang tidak pernah berubah sedikitpun.” Pujinya membuat Ayu memukul pelan lengan Mahes agar melepaskan tubuhnya.


“Abang, dasinya kok miring sayang. Sini Mommy rapihkan.” Ayu menyadari bibir Putranya yang cemberut tidak mau tersenyum.


Cuuuppppp.....


Rona pipinya terpancar, bibirnya terangkat malu-malu mendapat perlakuan manis dari Mommy nya. “Sudah hilang irinya?” Ranu mengangguk. Jemarinya meraih tangan Mommy nya, mengecupnya cukup lama melampiaskan kesalnya karena tidak dirinya dulu yang Mommy nya perhatikan. “Sudah yah Mommy kembali ke depan, Baby juga sudah siap di depan. Kasihan dia masih bobo cantik.”


Ayuna segera keluar sebelum yang lainnya juga bersikap menyebalkan dan membuatnya kerepotan. Ayu ingat Kak Rey belum memakai jas nya, Ayu meraihnya sebentar dan memakaikannya pada Kak Rey yang sedang serius dengan Jofan dan Adam.


Rey tersenyum, ternyata dirinya tidak di lupakan.


“Baby cantik.....sini sama Mamih sayang. Kangen Mamih loh Nak.” Sarah mengendong Baby yang sedang tertidur pulas di kasur nya.


__ADS_1


Sarah paling tidak punya waktu luang, dirinya memegang begitu banyak peran penting sebagai dokter di rumah sakit yang cukup besar yang selama ini dirinya mengabdikan diri. Sarah tidak mau membuat pasiennya menunggu lama untuk mendapatkan perawatan, alhasil waktunya sering Malik curi secara paksa jika keadaan mendesak.


“Ayo sayang kita turun, pengantin juga sudah siap. Sebentar lagi acara akan segera di mulai.” Malik mengambil alih Baby, tidak mau para wanitanya kerepotan karena harus menggendong Baby dengan gaun mereka yang cukup merepotkan.


Malik tidak tahan untuk tiak mengecup pipi istrinya yang begitu bersinar di matanya. “Kau cantik sekali Love.” Bisik Malik yang hari ini melihat Ayuna tersenyum begitu bagaia.


Tugasnya mengantarkan Riyan menemukan rumahnya sudah selesai, Ayu berbangga hati karena perjalanan panjang adik kesayanganya sudah berakhir dengan bahagia. “Daddy yang bisa mewujudkan ini semua. Aku tidak tahu harus membalas bagaimana lagi Dad.” Malik mengecup kening wanita kesayangannya.


“Cukup bahagia di sisi ku Mom. Daddy cukup melihat mu dan keluarga kita bahagia. Cukup sayang, Daddy tidak butuh apa-apa lagi saat ini.” Ayu menganggukan kepalanya, dirinya tengah menahan agar tidak menangis di momen bahagia ini.



Memukau sekali penampilan Melan siang ini, gaun putih pilihannya sungguh membalut tubuhnya begitu indah. Semua mata yang melihatnya merasa takjub dan terpesona. Wajah manisnya memancarkan senyum bahagia yang begitu indah.


“Gugup ya Mel?” Tanya Ayu yang di balas senyum. “Tarik nafas jangan lupa ya Mel, nanti kau pingsan.” Mereka berdua tertawa. “Ahhhhhh.....” Ayu memeluk Melan dengan erat. “Selamat sayang ku, tolong urus adik ku dengan penuh kasih sayang ya Mel.” Mata Ayu mulai panas.


“Terimakasih sudah percaya padaku. Aku akan berusaha belajar menjadi istri yang baik. Aku berjanji.” Ayu melepaskan pelukkannya, sebelum riasan yang sudah begitu cantik menghias wajahnya luntur karena tangisan mereka.


“Kalian berhak bahagia, aku suah berjanji tidak akan menangis sekarang. Kasihan MUA yang sudah mendandani ku penuh perjuangan. Repot karena Baby bolak balik maunya minum susu Mel.” Melan mengangguk paham.


Riyan menggenggam tangan Ayu dengan erat, Ayu membelai lembut tangan adiknya yang gemetar. Wajahnya tegang tapi penuh bahagia, sesekali menatap Kakak perempuannya dengan hangat.



Akad Nikah berjalan dengan hikmat, Riyan lancar mengucapkannya dan mendapat taburan do’a dari para tamu yang datang memenuhi undangan nya dan Melani.


Sudah lega, mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri sekarang. Perjuangan mereka berakhir dengan manis meski begitu banyak rintangan dan pengorbanan.


Ayuna duduk di ruang tunggu karena tubuhnya cukup kelelahan. Anak-anak asik dengan beberapa temannya yang juga hadir di sana, Malik sendiri sedikit sibuk karena rekan bisnisnya begitu banyak yang menjadi tamu undangannya.


“Sayang, sudah makan?” Tanya Anna yang melihat Ayu duduk hanya di temani Mawar di ruang tunggu. Dia mengangguk dengan lemas. “Dimana Malik?” Ayu tersenyum, menyandarkan kepalanya di kuris.


“Kak Malik banyak tamu Kak, aku sudah tidak sanggup lagi berdiri. Kaki ku kebas.” Ayu menyerah karena sudah sangat lama dirinya tidak melakukan kegiatan berat, berdiri cukup lama membuat kakinya pegal-pegal.


“Baby anteng sekali sayang, sini....” Ayu selalu di bantu banyak orang menjaga Putri nya. “Kamu istirahat yah, jangan kemana-mana dan jangan keluar sendirian.” Ayu mengangguk, pesta pernikahan cukup membuat dirinya trauma. Ayu bahkan tiak berani menatap para tamu undangan yang datang.

__ADS_1



“Hay....” Ayu tersenyum melihat siapa yang datang dengan wajah merona malu-malunya. Sudah sangat lama mereka tidak bicara berdua. “Boleh aku masuk?” Tany Oji yang tidak mau membuat Ayu merasa tidak nyaman.


“Sini Kak....Ayu menepuk sofa di sebelahnya.” Ayu merasa bersalah Oji memutuskan untuk tidak bersama gadis manapun, cintanya sudah dia habiskan untuk dirinya yang tidak bisa membalas perasaan Oji yang begitu tulus.


“Kau cantik seperti biasanya.” Oji sedikit kelepasan. “Maaf aku tidak bermaksud....” Ayu tersenyum.


“Bukan sebuah dosa Cuma memuji ku Kak.” Oji menggaruk tengkuknya. “Kakak sudah makan?” Oji mengangguk. “Datang dengan siapa?” Tanya Ayu lagi.


“Dengan Hans dan Istrinya.” Ayu menatap tajam mata Oji, dia tidak seharusnya terjebak dengan cintanya. Dia seharusnya bisa melepaskan perasaan yang tidak mungkin akan dirinya dapat balasannya.


“Kenapa tidak Kakak cari wanita yang bisa membalas cintamu Kak? Aku sangat merasa bersalah dengan semua ini. Kakak tidak boleh sendirian sampai akhir, cobalah untuk menerima wanita lain Kak.” Pinta Ayu yang membuat Oji menghela nafasnya.


“Jangan terbebani, bukan salah mu atas keputusan yang sudah aku ambil. Aku sudah cukup bahagia melihat dunia yang kau huni saat ini. Anak-anak yang manis, suami yang begitu mencintaimu dengan tulus, keluarga yang utuh dan penuh bahagia. Kau sudah tepat berada di sini.”


“Kenapa Kakak bertahan di tempat yang menyakitkan?”


Ayu menitikan air matanya. “Don’t cry Baby. You must be happy.” Ayu mengangguk. Dia pantas sekali bersanding dengan wanita yang baik, yang bisa membalas perasannya, yang bisa mencintainya dengan sepenuh hati.



“Everything ok sayang?” Malik terkejut mendapati Ayu menangis bersama Oji, ada Mawar di sana. Ayu mencoba tersenyum, wajahnya sudah terlihat kelelahan.


“Aku pamit Yu, jangan pernah memikirkan yang tidak penting, kau harus bahagia.” Ayu hanya bisa menatap punggung Oji yang menghilang di balik pintu.


“Mawar, kau boleh tunggu kami di depan.” Mawar segera beranjak. Menyisakan dua orang insan yang saling mendekap penuh kasih sayang.


“Aku jahat ya Kak? Aku bikin Kak Oji terjebak dengan perasannya, harusnya kan dia juga sekarang sudah punya anak, punya istri yang cantik, punya keluarga yang bahagia seperti kita.” Malik membelai lembut punggung Ayu yang semakin hari semakin kecil, tubuhnya kelelahan setiap hari menjaga dirinya dan anak-anak.


“Pilihan sayang, bukan salah mu. Dia yang memilih ingin seperti apa hidupnya di jalani. Kamu mana bisa menyentuh hati semua orang, mana bisa mengatur yang tidak bisa kamu lakukan.” Ayu mengeratkan pelukkanya, Malik selalu bicara lembut, dirinya merasa nyaman jika diperhatikan sebegini lembutnya.


“Tapi apa salahnya mencoba, Kak Oji tidak mau mencoba Dad. Dia terpaku pada persannya yang menyakitkan.” Malik paham, Ayu merasa bersalah karena dirinya alasan Oji tidak mau mengenal cinta lain.


“Selama dia nyaman. Kita tidak bisa memaksa sayang, biarkan saja. Tugas kita bantu mengawasi agar dia tetap di jalan yang benar, dia juga adik ku saat ini sayang. Dia sudah percaya padaku. Dia sudah berusaha sebaik mungkin menjadi orang yang layak untuk kita sebut keluarga.” Ayu mengangguk, beruntungnya. Malik selalu memberikan kesempatan pada siapa saja yang mau menjadi lebih baik.

__ADS_1


Belaian tangan Malik yang begitu nyaman membuat Ayuna terlelap. Tidak tahu tempat dan waktu kalau sudah kelelahan. Anna yang masuk dengan Baby akhirnya keluar lagi dengan tenang, membiarkan Ayu menikmati waktu istirahatnya di tengah pernikahan Adik laki-lakinya yag begitu meriah.


__ADS_2