Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Mengingat Masa Lalu Part 2


__ADS_3

“Aww….” Pelipisnya tergores pulpen milik seseorang yang ingin meminta tanda tangan.


“Maaf….aku tidak sengaja.” Ayu hanya mengangguk tidak bisa menyalahkannya.


Ayu meringis karena luka goresannya ternyata melukai pelipisnya. Sedikit berdarah namun tidak dalam, hanya goresan. Tapi di mata Malik lukanya bisa menjadi sangat menyeramkan meski hanya sebuah goresan kecil.


Tiba-tiba saja sekitar 10 orang berseragam serba hitam memecah kerumunan, Biru yang paham mereka orang suruhan Malik segera mendekat dan membawa Ayu keluar dari kerumunan. Tentu saja dirinya jadi pusat perhatian.


“Kau mengadu yah?” Ucapnya penuh ketakutan. Biru mengangguk. Rasanya riwayatnya akan tamat hari ini.


“Maaf Nona, aku tidak punya pilihan lain.” Ayu semakin takut. Biru segera membawa Ayu ketempat yang diminta.


Malik kini sudah duduk di kedai kue milik Jofan bersama Ranu. Raut wajahnya bagaimana? Tentu saja sangat kesal. Ayu masih memegangi pelipisnya yang terasa perih. Mencoba menghapus noda pulpen di kerudungnya namun tidak berhasil.


Ayu menatap Putra nya penuh sesal. Sungguh dirinya lepas kendali dan tidak sadar jika perbuatannya sungguh berbahaya. Ranu juga terlihat marah, dia sama saja dengan Malik saat Ayu membahayakan dirinya.


Dua orang yang pasti Malik salahkan adalah Melati dan Biru, bodyguard pribadi yang di percaya oleh Malik untuk menjaga Ayu selama dirinya tidak ada di rumah.


Ayu tidak berani mengelak atau bahkan mencari alasan atas perbuatannya yang sudah menyalahi aturan pemilik dirinya.


Berjalan perlahan. Menurut, mengikuti permintaan Malik yang meminta dirinya duduk di sampingnya. Suaminya masih tidak membuka suara, hanya sibuk memeriksa setiap inci bagian tubuh Ayu yang terjangkau mata.


Takut sekali Malik menyadari luka di pelipis Ayu yang tertutup hijab. Tapi ada coretan panjang bekas pulpen yang sangat jelas. Benar saja Malik menyibak dan seketika tangannya mengepal.


Marah, tentu saja. Dirinya bahkan sudah berulang kali membuat peringatan keras agar menjaga Ayu dengan baik, tidak boleh teledor yang membuat Ayu terluka dan sakit. Malik rela mengorbankan dirinya demi semestanya baik-baik saja.


"Kalian bukan pernah aku peringatkan untuk menjaganya. Kalau lecet sedikit saja aku akan habisi kalian. Kalian ingat!" Biru dan Melati tidak berani membantah. Malik terdengar sangat marah pasti.


"Kak...." Panggilnya dengan suara gemetar. "Maaf Kak..."


"Jangan coba-coba membela mereka. Aku sudah katakan pada kalian untuk tidak membiarkan Ayu sendirian. Sekarang bisa-bisa nya Ayu lepas dari jangkauan dan terluka." Mendengar nya Melati menatap Ayu penuh penyesalan. Dirinya teledor sampai Ayu dalam bahaya.


"Maaf Bos. Salah saya yang tidak fokus." Biru menyadari kesalahannya juga.


Dirinya malah menerima telpon dari mantan pacarnya yang terus menghubungi nya minta balikan. Sampai tidak melihat Ayu pergi dan baru sadar setelah Ayu masuk dalam kerumunan.


"Kalian aku bayar untuk pekerjaan yang tidak bisa kalian sepelekan. Paham kan kalian ini." Ayu menghampiri Malik. Dirinya sungguh menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Kak....jangan salahkan mereka Kak, aku yang nakal. Aku yang tidak menuruti permintaan Kak Malik..." Bicara sambil menangis. Kini dirinya memeluk Melati sambil menangis cukup keras.


Seharusnya Nona memeluk Bos Non, biar dia tenang dan berhenti mengomel. Batin Melati mencerca tindakan Ayu yang bisa menimbulkan cemburu pada Bos nya.


"Tenang Non." Bisik Melati yang tidak tega mendengar tangisan Ayu.


“Aku mohon….aku tidak akan nakal lagi Kak. Aku akan ikuti semua peraturan dengan baik, aku mohon.” Suaranya mulai terdengar sakit. Malik tau Ayu sangat tulus menyayangi Melati dan Biru yang selalu setia menjaganya.


"Sudah-sudah." Malik menyudahi marahnya. Mendengar Ayu menangis dirinya lemah. Padahal Ayu sedikit berakting agar Malik mereda. Meski takut ketahuan.


Malik memeluk Ayu agar tidak larut. "Jangan ulangi lagi. Aku marah sekali karena kau sampai terluka.”


“Ini tadi tidak se…sengaja kena orang Kak.” Jelasnya dengan suara terbata-bata.


“Abang ayo kita Pulang." Ranu yang sudah biasa melihat Daddy nya marah seperti itu tidak kaget. Dirinya santai selama Mommy nya aman di depan matanya.


Sekarang Ranu hanya merasa marah karena Mommy nya hampir saja terluka. Dirinya sama seperti malik jika menyangkut keselamatan Mommy kesayangannya.


"Jangan ulangi kesalahan yang sama Mom. Abang juga takut Mommy luka." Ayu mengangguk, Putranya sudah bisa marah.


Ayu mematung saat Jofan ternyata baru saja sampai di kedai miliknya. Jofan terlihat berkeringat dan nafasnya tersenggal. Ayu tiba-tiba saja lari ke pelukkan Jofan, menangis. Dirinya menyesal membuat semua orang khawatir.


Malik membiarkan Ayu menumpahkan kesedihannya. Mereka kakak beradik yang dipertemukan lewat keajaiban persahabatan. Mereka dahulu sahabat yang memang selalu bertukar cerita suka dan duka. Ayu bisa lebih terbuka pada Jofan dari pada Malik saat hatinya tidak baik-baik saja.


“Sudah bisa Mas bicara?” Ucapnya penuh kelembutan. Ayu mengangguk. Jofan membawanya duduk karena tubuh Ayu sedikit goyah. Sepertinya tangisannya bukan main-main. Dia benar-benar ketakutan.


“Maaf ya Mas. Kau pasti khawatir.” Menunduk. Suaranya nyaris tidak terdengar.


“Mas cuma sedikit kaget sayang. Tadi Aldo bilang kamu ketemu actor kesukaan mu sampai lupa jalan pulang yah?” Bercanda agar adik perempuannya tidak sedih lagi.


Ayu tertawa, wajahnya yang sayu memaksakan senyum yang sedikit mengobati kesedihannya. Dirinya masih tidak menyangka membuat masalah tanpa sengaja yang merepotkan banyak orang.


“Aku terpesona.” Mengingat kejadian lucu yang sempat menghebohkan keluarganya.


“Selama tidak terjadi hal buruk Mas tidak apa. Jangan terluka sayang, Mas tidak akan rela.” Jofan bicara lembut hanya dalam keadaan tertentu, dan hanya pada Ayu dia bicara selembut dan semanis itu, selebihnya dingin seperti gunung es.


“Yacchhhh…..Ayuna.” Teriak Sandra yang baru saja sampai. “Kau baik-baik saja?” Sandra memeluk Ayu erat, wajah Sandra bahkan masih belepotan tanah liat. “Bagaimana bisa kau melakukan hal bodoh seperti itu! Kau mau apa? Mau bertemu siapa? Katakan, Kak Malik pasti akan mengabulkannya.” Marahnya yang kesal jika sampai terjadi hal buruk pada Ayu.

__ADS_1


“Sandra…..” Malik menarik Ayu ke pelukkannya. “Mana boleh bicara sekeras itu pada istriku. Pelan-pelan San.” Pinta Malik yang sudah tidak tega dengan kekalutan hati Ayu.


“Maaf Kak, aku tidak marah kok. Aku Cuma takut.” Ayu tahu betul semua orang sangat menyayanginya.


Tidak boleh dirinya terluka, banyak hati yang harus dirinya jaga.


“Abang, you ok Bang.” Sandra memeluk pangerannya yang mematung di sisi Malik. “Abang pasti takut yah?” Ranu nya mengangguk. “Mommy ok kok, tenang ya sayang.” Ranu memeluk Sandra sebagai ungkapan rasa terimakasih.


“Everything will be ok.” Ranu mencium pipi Aunty cantiknya.


“Putra ku sudah besar sekali.” Gemasnya dengan sikap manis Ranu.


***


"Dam.....tanya kan pada Sarah, Ayu sejak kejadian sore tadi diam saja." Mengirim pesan teks pada Adam.


"Mungkin dia capek Al. Jangan terlalu khawatir."


"Beda, diam nya berbeda. Tapi aku cek suhu tubuh nya masih normal." Memperhatikan wajah Ayu yang damai dalam tidur nya.


"Jangan memikirkan yang tidak-tidak, dia pasti baik-baik saja." Adam mencoba menghibur Malik agar tidak ketakutan.


"Dia banyak menangis hari ini, luka di pelipisnya juga masih basah Dam. Pati sangat sakit Dam." Jika sudah seperti ini Adam harus datang.


"Aku ke sana, buka pintu." Adam ingin memastikan sendiri kondisi Ayuna.


"Bagaimana? Apa Istriku baik-baik saja Dam?"


Adam menelan salivan nya, melihat keringat di kening Ayu menggambarkan kondisi Ayu yang tidak baik-baik saja. Adam ternyata salah menilai sahabatnya, Malik sangat peka dengan keadaan semestanya.


"Bawa saja ke rumah sakit. Aku yang akan pantau perkembangannya sendiri." Adam bersyukur Malik segera menghubunginya saat di rasa ada yang tidak beres.


Setelah kejadian itu Ayu berada di rumah sakit selama tiga hari.


Bukan fisiknya yang sakit, jiwanya yang masih trauma dan belum bisa melupakan semua kejadian yang menimpanya di masa lalu. Terlebih Ayu tidak bisa mengungkapkan perasaanya, rasa sakitnya menumpuk menggerogoti jiwanya semakin sakit.


Dia menjadi sangat ketakutan bahkan hanya dengan hal-hal kecil sekalipun yang berbahaya.

__ADS_1


__ADS_2