Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Ketakutan


__ADS_3

Malik menggendong tubuh Ayu ke dalam kamar setelah terlelap dengan nyaman. Anak-anak juga sudah masuk ke kamarnya. Tangan Malik tidak berhenti membelai dengan lembut wajah cantik wanita kecintaannya.


Wanita yang sabar, penuh cinta, lemah lembut dan mengajarkan banyak kebaikan dalam hidup Malik. Malik menciumi tangan Ayuna pelan, tidak mau menganggu tidurnya yang terlihat begitu nyaman.


Malik berulang kali mengusap sudut matanya yang berair, kesedihan berulang kali merundung dirinya karena harus menghadapi orang-orang jahat yang berniat buruk pada dirinya lewat Ayuna. Dia hanya wanita lemah yang seharusnya tidak dilibatkan dalam hal mengerikan seperti ini.


Sering kali Malik berfikir untuk berhenti, ingin hidup sederhana saja dengan banyak cinta bersama Ayu dan anak-anak. Tapi begitu banyak karyawan yang bergantung hidup pada perusahaannya, mana bisa Malik membiarkan mereka kehilangan pekerjaan setelah mendedikasikan banyak keringat dan waktunya untuk perusahaan.


Malik hanya bisa melawan, berfikir untuk melakukan cara yang lebih efektif agar kejadian seperti ini tidak lagi terjadi. Memikirkan banyak hal membuat kantuk di mata Malik hilang, tubuhnya sulit sekali di ajak istirahat.


Malik beranjak dari tidurnya, melangkah menuju dapur ingin membuat sarapan untuk orang-orang yang memilih tinggal menemaninya malam ini. Ada Sarah, Rey, dan Oji yang memilih tidak pulang karena ingin menemani Ayu yang baru saja pulang. Mereka istirahat di kamar tamu dan kamar anak-anak.


Malik membuka buku catatan resep yang sudah cukup lama tidak dilihatnya. Malik mencari beberapa referensi sup hangat yang baik dan sehat. Pastinya enak di nikmati pagi hari. Pilihannya jatuh pada Sop Iga dan beberapa sayuran yang menemaninya, kebetulan bahan-bahan sudah tersedia di dalam kulkas.


Malik dengan telaten memasak Sop, setelah daging cukup empuk Malik mulai memasukan sayuran dan tidak lama setelahnya kompor dimatikan. Malik mengambil sedikit ke dalam mangkuk untuk dirinya nikmati.



Baru saja dirinya duduk, Malik mendengar suara gaduh dari dalam kamarnya. Malik dengan cepat menghampiri Ayuna yang sudah duduk di atas lantai. Menundukkan wajahnya bertumpu di atas lutunya, tubuhnya jelas sekali gemetaran.


“Sayang, kenapa sayang.” Malik memeluk Ayu dengan erat. “Daddy di sini, tenang yah.” Ayu membalas pelukkan Malik, erat sekali karena dirinya benar-benar sedang sangat ketakutan. “Sorry sayang, Daddy tinggal masak tadi sayang.” Ayu masih berusaha dengan kuat mengembalikan kesadarannya.


Malik membelai lembut punggung Ayu yang masih gemetaran.


Malik menyesal sekali membiarkan Ayu sendirian, padahal dia sejak semalam sudah memberikan banyak isyarat jika tidak mau sendirian. Malik merutuki kebodohannya yang beranjak dan meninggalkanya tanpa siapapun yang menemani.


“Aku jangan ditinggal sendiri Kak, aku tidak kuat Kak.” Lirih sekali suaranya, Malik meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Mencoba menghubungi Sarah yang sedang istirahat di kamar tamu. Ponsel Sarah tidak aktif, sepertinya kehabisan baterai atau tertinggal di rumah sakit.


“Kakak di sini sayang, jangan takut. Hey....lihat, Ayuna....kendalikan isi pikiranmu. Kamu aman sayang, aku di sini.” Ayu perlahan menatap Malik dengan mata sendunya.


“Jangan tinggalkan aku Kak, aku mau ditemani. Aku takut.” Malik mencoba tersenyum, mencoba tenang agar Ayu bisa menguasai dirinya.

__ADS_1


“Kak Malik tidak pergi kemanapun, di sini. Aku sedang menjaga mu sayang.” Gemetar di tubuh Ayu perlahan mereda, Malik lega sekali bisa mengendalikan keadaan. Dirinya sudah sangat lama tidak melihat Ayu ketakutan seperti ini, kejadian kemaren sangat membekas di hatinya.


Bahkan berdiam sendirian saja Ayu merasa sangat tersiksa, dada nya sesak dan merasa jika orang yang menculiknya bisa datang dengan mudah dan kembali menyakitinya. Ayu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Malik sangat tahu Ayu butuh perawatan saat ini agar bisa melewati semua ini.


“Sorry sayang, semua salah ku sampai kau mengalaminya lagi. Aku yang bodoh sekali melepaskan manusia seperti Baskoro. Aku yang bodoh.” Ayu masih memeluk erat tubuh Malik, nyaman karena rasa takutnya perlahan sudah hilang.


“Dad....what happened Dad?” Tanya Ranu yang baru saja masuk ke kamar Mommy nya. “Mommy ok Dad?” Malik menggeleng, Ranu menghampiri keduanya. Ikut duduk di lantai memperhatikan Mommy nya yang memejamkan mata di pelukkan Daddy nya. Tubuhnya kembali gemetar, Ayu masih belum stabil.


“Nak, tolong bangunkan Mamih. Pelan-pelan ya sayang, takut Mamih terkejut. Bilang kalau Daddy butuh Mamih ya Nak.” Ranu beranjak dengan wajah sedihnya. Sakit sekali melihat Mommy nya tidak berdaya.


Tidak lama Sarah dan Ranu kembali masuk. Rey dan Oji juga terbangun karena Ranu meminta mereka untuk bangun. Ranu takut Mommy nya butuh bantuan banyak orang.


“Bawa Ayu kesini Al.” Malik menggendong Ayu naik ke atas kasurnya. Sarah memeriksa dengan hati-hati.


Detak jantungnya tidak beraturan, tubuhnya dingin dan tangannya tidak mau melepaskan genggamannya pada tangan Malik. “Sayang tenang yah, kita semua menjaga mu di sini Mom. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu Mom. Daddy janji Mom.” Ayu mengangguk. Dia berusaha tersenyum meski belum bisa mengontrol emosinya. Ayu merasa merepotkan sekali, tapi tubuhnya benar-benar kesakitan dan sulit di kendalikan.


Tidak banyak yang bisa Sarah lakukan, karena sakitnya Ayu bukan fisik. Dia sedang sakit di pikirannya. Sarah sendiri panik karena Ayu mengalami kembali trauma yang sudah berhasil dirinya tangani. Sudah beberapa tahun sakitnya ini hilang, sudah aman dan Ayu sudah nyaman sekali dengan hidupnya.


Dunia yang di tempatinya begitu jahat, Ayu tidak dibiarkan sebentar saja istirahat dan hidup bahagia. Dia selalu di selimuti ketakutan dan trauma sepanjang hidupnya. Sakitnya sampai membuat nafasnya sesak dan sulit mengendalikan tubuhnya. Sarah tau sekali bagaimana rasanya.


“Bagaimana? Apa sudah lebih baik?” Ayu mengangguk.


“Aku sedikit mual Dok. Kak, aku mau ke kamar mandi.” Malik berdiri dengan sigap. “Jalan saja Kak, aku sudah tidak lemas.” Sarah mengangguk, Ayu tengah mencoba meredam gejolak di dalam dirinya yang sulit dikendalikan dan Sarah paham.


Tidak ada yang keluar, Ayu mencoba untuk muntah tapi tidak berhasil. Malik takut sekali asam lambungnya yang sudah lama tidak kambuh kembali, Ayu stress dan bisa memicu asam lambungnya naik.


Ayuna menatap wajah suaminya yang tengah mengurusinya dengan telaten, Malik mengusap wajah Ayu yang basah begitu lembut dengan handuk kecil. Matanya penuh rasa khawatir, Ayu memeluk Malik. Menghembuskan nafasnya beberapa kali dengan lega.


“Kenapa sayang? Apa ada yang sakit?” Wajahnya bertambah khawatir. Ayu menggeleng. “Apa lemas? Mau Daddy gendong Mom?” Ayu lagi-lagi menggeleng.


“salanghaeyo Oppa.” Suaranya lucu sekali membuat Malik tertawa.

__ADS_1



Malik mengeratkan pelukkanya. “Maaf membuat kalian semua kerepotan. Aku akan baik-baik saja, aku janji.” Malik menciumi wajah Ayu dengan lembut.


“Jangan minta maaf, aku berterimaksih karena Mommy sudah bertahan. Terimakasih sudah pulang ke tempat mu seharusnya Mom. Oppa nado salanghaeyo.” Ayu tertawa, sejak kapan suaminya bisa bahasa korea.


“Tidak cocok Kak, lidah mu tidak cocok. Hehehehe......” Senang sekali Ayuna nya sudah bisa tersenyum.


“Sekarang kita makan ya Mom, Daddy sudah masak Sop Iga, kesukaan Mommy.” Ayu berjalan perlahan keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya, tapi semua orang ingin melihat dirinya baik-baik saja. Ayu harus berusaha lebih keras.


Saat Ayu dan Malik ke kamar mandi, Sarah menarik Putra kecilnya yang tengah berderai air mata ke kamarnya. Kasihan sekali, dia pasti tersiksa meliat Mommy nya kesakitan. Sarah memeluknya dengan erat, Ranu terisak menuangkan segala kesedihannya. Mahes yang baru bangun mendekat, mengucek matanya yang masih lengket.


“Abang, sayang.” Ranu mendongak menatap wajah Mamih nya. “Sakit yah?” Ranu mengangguk. “Perlahan semua akan baik ya Nak, sekarang kita harus buktikan pada Mommy kalau kita baik-baik saja sayang. Bantu Mommy sembuh ya Nak? Bisa sayang?” Ranu mengangguk meski sedih masih mendominasi hatinya.


Setelah tenang, Sarah membawa anak-anak ke ruang makan. Sudah ada Sup Iga, Sarah tersenyum dengan usaha Malik yang selalu menjadi suami siaga. Ranu mendekati Papah Rey yang tengah memasukan makanan ke dalam mangkuk. Nasi campur khas korea kesukannya Ranu dan Mahesa.



“Abang, kok makannya berdiri sayang. Sini Nak, duduk di samping Mommy sayang.” Ranu berusaha menahan air matanya. Senyumnya manis seolah hatinya baik, ingin membantu Mommy nya pulih.


Oji sejak tadi hanya memandangi Ayu, tangannya ingin sekali meraih Ayu dan merengkuhnya. Tapi apalah daya, cintanya hanya miliknya. Dirinya sudah melepaskannya dengan bangga.


“Kak, makan.” Oji tersenyum, wajah garangnya akan menjadi lemah lembut saat berhadapan dengan pemilik hatinya. “Habiskan ya Kak, ini masakan suami ku Kak.” Ucapnya lagi yang di balas senyum manis oleh Kak Oji.



“Akan aku habiskan sayang, kamu juga makan ya Love. Habiskan makanan mu, jangan Cuma memperhatikan kami tapi makanan mu sendiri tidak di makan.” Ayu mengangguk anggukan kepalanya.


Kak Oji paling cerewet saat sedang khawatir, selebihnya suaranya sangat mahal keluar dari mulutnya. Dia paling irit bicara, apalagi bicara hal-hal remeh yang tidak berguna. Sikapnya yang seperti itu membuat anak-anak sangat suka, mereka menganggap sikap Om Oji sangat keren sebagai laki-laki.


Malik sudah tidak keberatan Oji memanggil istrinya dengan panggilan sayang seperti keluarganya yang lain. Dirinya bahagia Oji melepaskan perasannya dengan damai, dia memilih mencintai sendirian dan melihat Ayu bahagia dengan keluarganya. Dia berjanji tidak akan melewati batas, selama Malik mencintai Ayuna dengan tulus.

__ADS_1


Menjauh tidak mengurangi rasa cintanya, dirinya malah tidak terkontrol dan beberapa kali berurusan dengan hal-hal buruk dan dunia yang tidak ada harapan untuk bahagia. Ayu memintanya kembali, berada di sisinya agar Ayu bisa tetap memperhatikannya lewat Malik.


Ayu tidak rela Oji yang sudah berusaha keras berubah baik kembali menjadi buruk, ayu tidak mau Oji tenggelam sendirian tanpa cahaya dan arah hidup yang jelas. Ayu ingin menjadi penerang untuknya, meski tidak bisa membalas cintanya.


__ADS_2