Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Berdua


__ADS_3

Sejak pagi tadi Ayu masih saja melakukan banyak aktifitas, bahkan setelah anak-anak nya pergi ke sekolah dirinya masih saja sibuk dengan benang wol, Ayu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang bisa mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal positif. Tidak mau terfokus pada sakit hatinya yang begitu menyiksa sampai Ayu terkadang merasa tidak berdaya melawannya.


Tangan terampilnya yang tidak di ijinkan Malik melakukan banyak hal berhasil membuat pernak pernik lucu dengan berbagai warna cerah. Malik yang memperhatikannya dari meja kerjanya tersenyum melihat Ayu sudah cukup tenang.



Malik hari ini bekerja di rumah, meminta waktu pada pekerjaannya untuk dirinya bisa menenami istrinya beberapa hari kedepan. Malik tidak mau lagi menjadi ceroboh dan membuat Ayuna nya dalam bahaya. Beruntung Aldo bisa di andalkan Malik, dia menggantikan posisinya untuk mengisi berbagai meeting meski ada beberapa yang harus dirinya refisi karena tidak sesuai dengan keinginan Malik.


Ayu tersenyum mendapati tubuh Malik bergelayut di pundaknya. Menciumi tengkuknya yang wangi nya membuat candu di indra penciuman Malik. “I love you Mom.” Malik menciumi Ayu dengan lembut.


“Daddy mau makan tidak?” Ayu menatap sendu jam dinding yang tergantung di dinding ruang keluarga.


Ayuna sedang memikirkan anak-anak nya yang saat ini pasti tengah makan siang. Biasanya dirinya yang datang kesana menemani anak-anak makan siang.


Malik meraih tangan Ayu, mengecupnya cukup lama. “Kita makan di luar mau? Sudah lama kita tidak makan di luar berdua Mom.” Ayu menggeleng. “Daddy akan jaga Mommy. Jangan khawatir sayang.”


“Aku penakut ya Kak? Hehehehe.....” Terkekeh merasa dirinya lemah sekali punya ketakutan yang begitu besar.


“Tidak apa sayang, Mommy boleh merasa takut. Wajar sayang, tapi Mommy jangan lupa kalau Daddy selalu ada di dekat Mommy. Daddy akan lindungi Mommy sekuat tenaga Daddy sayang.” Malik menarik tubuh Ayu dalam dekapannya.


“Anak-anak makan siang apa Dad?” Tanya Ayu penasaran.


“Kita call Kak Anna yah, dia ada di sekolah sekarang.” Malik menuju mejanya, meraih ponselnya dan segera menghubungi Anna yang saat ini menemani anak-anak makan siang menggantikan Ayuna yang masih dalam proses pemulihan.


Malik : Love, anak-anak masih dengan mu? (Malik menyalakan spekar ponselnya)


Anna : Iya Al, tunggu sebentar, aku baru selesai dari kamar mandi.


Malik : Pelan-pelan saja sayang jalannya.


Anna : Nak...Daddy.


Mahes meraih ponsel Mamah Anna dan mengalihkanya pada panggilan video, Malik menerimanya. Tentu saja Ayu antusias mendengarkan.


Mahes : Mom...cantik sekali Mommy ku. Sudah makan Mom? Aku dan adik-adik sedang makan Mom.


Ranu : Abang nanti pulang bawakan cemilan yang dulu Mommy mau yah, Abang dan Kakak sudah berhasil temukan.

__ADS_1


Mahes : Kan kejutan Dek, kenapa kasih tahu Mommy. (Ranu tertawa dengan muka penuh rasa bersalah, tapi tidak tahan menyembunyikanya).


Ayu : Makan yang banyak ya sayang-sayang nya Mommy. Hanum makan yang banyak sayang, pipinya kurusan loh Han.


Hanum : Hanum makan banyak Mom. Love you Mom.


Ayu : Kangen Hanum ih....


Anna : Pulang sekolah nanti kita ke sana. Kak Anna dan Kak Rey mau masak di rumah yah. Aku sudah belanja banyak.


Malik : Sudah yah, Daddy mau jalan berdua dengan Mommy. Bye....


Malik menutup panggilan telponya. Senang Ayu terlihat sudah lebih baik dari semalam. Jika dilihat seklilas, Ayu seperti orang sehat pada umumnya. Tapi di dalam dirinya ada ketakutan dan kesakitan yang begitu besar yang bisa muncul dan sangat menyiksa Ayuna. Malik tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa dirinya gantikan dengan apapun. Malik hanya berusaha selalu menjadi tempat nyaman untuk Ayu bersandar.


“Gantung di tas Kakak yah, warna nya cantik.” Malik menutup mulutnya tidak percaya. “Cantik kan?” Malik mengangguk. Meraih gantungan yang istrinya sodorkan.



“Nanti Kak Malik tempel di tas yang cocok dengan warnanya.” Ayu merengut mendengarnya.


“Tas kerja Kak Malik loh, yang warna hitam Kak.” Malik membulatkan matanya tidak percaya.


“Nanti Kakak pasang yah, sekarang ayo kita turun sayang.” Ayu masih malas beranjak.


Keinginanya masih belum di penuhi oleh Malik. “Kakak malu yah, sini kembalikan saja, aku pasang di tas ku saja.” Ternyata sudah terpasang juga di tas miliknya.


“Lihat sudah ku pasang. Ternyata cantik sekali kalau sudah di pasang loh Mom.” Ayu tersenyum, lebar sekali senyumnya. Malik termakan lagi wajah lugunya yang sering membuat dirinya berbuat konyol seperti saat ini.


“Couple Kak.” Malik mengangguk. Biarkan saja orang lain menilai dirinya aneh, dia hanya ingin Ayuna nya bahagia.


***


“Kenapa harus sembunyi? Kita buka pelaku kejahatan, aku tidak mau lagi menyembunyikan hubungan kita.” Riyan sedang tidak mau merendah pada Melan, dia sedang tersulut amarah karena terus diminta bersembunyi.


“Bukan seperti itu Yan, kita tunggu sampai semua mereda Yan. Aku mohon.” Pinta Melan memelas karena takut Riyan akan terancam bahaya.


“Aku hanya meminta mu menemaniku makan malam, aku hanya ingin makan malam berdua seperti pasangan-pasangan pada umumnya Mel.” Melan menghela nafasnya panjang.

__ADS_1


Sepertinya Melan kali ini harus mengalah, sudah beberapa jam dan Riyan entah kenapa yang biasanya lemah lembut kini begitu berapi-api. Seperti ingin sekali membuktikan pada dunia kalau hubungan mereka benar-benar nyata.


Melan memijat pelipisnya yang cukup pening, berdenyut, harus berbuat apa dirinya saat ini. Sedangkan peringatan sudah beberapa kali sampai dari Malik dan dari perusahaan yang masih mau menjalin kontrak dengan dirinya. Melan harus berhati-hati, jangan dulu muncul dan membuat publik memanas.


Banyak fans yang di luar nalar yang bisa saja mencelakai mereka berdua. Mereka semua hanya berusaha menjaga Melan dan Riyan tetap aman. Mereka sebaiknya menepi sejenak agar sama-sama nyaman.


Riyan menyandarkan kepalanya pada meja, kesal sekali karena sekalipun dirinya belum pernah berjalan dengan bebas bersama Melan berdua. Tatapan penuh kesedihan yang membuat Melan tidak tega.



“Mau makan dimana?” Tanya Melan pada akhirnya. Riyan yang tidak percaya menatap Melan penuh tanda tanya, takut jika dirinya salah dengar.


Masih di posisi yang sama Riyan menjawab pertanyaan Melan. “Di restoran yang pernah aku ceritakan.” Jawabnya ragu-ragu.


“Aku ganti baju dulu kalau begitu.” Riyan berdiri dan meraih tangan Melani. “Kenapa?” tanya Melan heran karena langkahnya di hentikan. Wajah Riyan masih mendung.


“Apa terpaksa?” Melan menatapnya tajam. “Jangan lakukan kalau terpaksa Mel, aku juga tidak mau jika semua ini terpaksa.” Melan tersenyum, melepaskan tangan Riyan dan melanjutkan langkahnya.


“Kau cuci muka sayang, wajahmu kusam.” Jawab melan sambil lalu. Riyan mengartikannya jika Melan melakukannya tanpa keterpaksaan.


Langkah kaki nya yang penuh bahagia segera memasuki kamar tamu, mencuci wajahnya dengan penuh semangat dan berganti pakaian yang cukup layak untuk berjalan besama Melani. Riyan memang sering bolak balik apartemen Melani hanya untuk sekedar menemaninya, jadi ada beberapa baju miliknya di sana.


Riyan laki-laki lugu dan punya keteguhan Agama yang baik. Dirinya bahkan tidak pernah menyentuh Melani di luar batas. Riyan hanya berani menggandeng tangannya dan memberikan pelukan jika Melan sedang terpuruk. Selebihnya Riyan menjaga Melan dengan aman di sisi nya.


Melan sudah keluar dari kamarnya, cantik sekali dengan gaun putih yang melekat di tubuh tinggi semampainya. Riyan tidak berkedip melihat makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Indah sekali sampai tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.


“Lihatnya biasa saja Yan, nanti ileran mulutmu itu.” Riyan menutup mulutnya malu-malu ketahuan melihat Melan genit.


Melan menautkan tangannya di lengan Riyan. “Ayo, pamerkan pacarmu ini pada seisi dunia. Katakan kalau aku ini milik mu.” Riyan mengangguk, keduanya berjalan beriringan. Serasi sekali.


Riyan dan Melan berusaha tidak gugup dan bersikap biasa saja. Meski mereka tahu banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Riyan menggenggam jemari Melan dengan lembut, membawanya melangkah mengikuti kemana pelayan restoran membawa mereka untuk duduk.


“Kau gugup Mel?” Tanya Riyan setelah mereka duduk. Matanya tidak bisa berbohong tapi kepalanya menggeleng. “Kau jangan membohongi ku sayang, aku akan menjagamu Mel.” Bisik Riyan yang membuat Melani bergidik merasakan terpaan nafas Riyan di tengkuknya.



Mereka berada di restoran dekat apartemen Melani. Apa perlu saya amankan Bos?

__ADS_1


Isi pesan yang Malik terima saat dirinya tengah menikmati waktu bersama Ayuna dan anak-anak yang baru saja tiba di apartemen.


Awasi saja dari kejauhan, jangan membuat keributan dan pastikan mereka kembali ke Apartemen dengan aman. Biarkan mereka menghabiskan waktu mereka dan bertanggung jawab dengan konsekuensinya.


__ADS_2