
Malik yang sedang kebakaran jenggot langsung lari memasuki gedung apartemen, ingin segera menemui Ayuna, hatinya gundah gulana sepanjang perjalanan. Bagaimana tidak, Malik meninggalkan Ayu dalam keadaan sedih dan benar saja dirinya mendapatkan kabar kesayangannya sempat tidak sadarkan diri.
Ayu sedang menyelesaikan kue coklat buatan sahabatnya yang belum selesai. Yang lain nya tertidur di ruang tengah. Mereka kelelahan setelah melakukan berbagai adegan konyol demi menghibur kegalauan hati Ayuna.
"Mom...." Ayu menoleh mencari sumber suara. "Tidak bisa tidur yah." Ayu mengangguk, Malik menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Ayuna. Nyaman sekali. “Apa baby masih rewel?” Ayu menggeleng.
“No Dad, baby very smart today.” Ayu menirukan suara anak kecil. Malik mengeratkan pelukkannya. Kenapa Ayuna terlihat baik-baik saja seolah tidak terjadi apapun pada dirinya hari ini.
“Apa ada yang Ayu pikirkan?” Ayu menyipitkan matanya. “Apa semua baik-baik saja?” Ayuna menebak jika Malik tahu kondisinya. Ayu hanya tersenyum, enggan sekali bicara yang membuat suaminya semakin khawatir.
"Baby suka sekali bergadang. Mataku tidak bisa di paksa merem Kak." Masih bertingkah seolah semua baik-baik saja.
"Apa perutnya sakit?" Ayu menggeleng. Ayu membalikkan tubuhnya.
“Kenapa semua pertanyaannya membuat aku kesal. Aku tidak mau bicara hal tidak menyenangkan.” Ucapnya lembut. Matanya berbinar memohon agar Malik tidak mencari tahu lebih jauh.
"Ok, Daddy tenang kalau cintaku merasa nyaman. Makan apa hari ini sayang?" Malik masih sibuk menatap kesayangannya yang mengaduk kembali adonan cake di dalam wadah. “Apa Baby masih mogok makan?”
"Makan kue coklat, Baby dengar kata-kata Kakak nya supaya tidak memuntahkan makanannya." Ayu menunduk menatap perut ratanya. Teringat perlakuan hangat semua orang padanya.
"Syukur kalau ada makanan yang Baby mau makan. Boleh istirahat sekarang? Hmmmm..." Pinta Malik mengambil alih adonan kue yang sudah tertata rapih dan memasukkanya ke dalam oven.
"Aku seharian hanya tidur Kak. Pegal." Meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. “Hanya mengaduk adonan kue tidak akan membuatku kelelahan.”
"Ayo istirahat, aku pijat perlahan. Aku sudah belajar pijat." Tetap saja permintaan Ayuna tidak akan di dengarkan. Waktu sudah malam dan dirinya tidak Malik ijinkan melakukan pekerjaan apapun.
Malik membawa Ayuna ke dalam kamar. Wajah Malik terlihat sekali tidak nyaman. Ayu menyadarinya dengan sangat jelas.
"Bicara Kak, kenapa menahannya. Wajah Kakak sampai merah. Hehehehe......" Malik kikuk mendengarnya.
“Apa sangat kentara Mom?” Ayu menganggukan kepalanya yang sudah bersandar di dinding kasur dengan nyaman. “Mommy istirahat saja. Daddy mau bersih-bersih.” Malik takut membuat Ayuna nya tidak nyaman. Malik yakin senyumnya palsu.
“Bicara saja Kak, aku akan baik-baik saja. Aku tidak selemah itu Kak.” Menunduk, takut Malik menyadari kecewanya.
"Lemah.....Apa maksudnya Mom. Daddy tidak suka Mommy punya perasaan yang tidak-tidak.” Malik mengecupi punggung tangan Ayuna.
__ADS_1
"Hanum?!." Dada Malik bergemuruh. Bagaimana Ayu bisa mengucapkan nama gadis yang sedang menunggu dirinya di bawah. "Aku sudah tahu. Tidak apa, kalau semua memang harus seperti ini. Hanum anak yang baik, Kak Malik sudah menyelidikinnya kan." Malik merengkuh Ayuna ke pelukkannya.
"Bagaimana semua ini....apa yang sudah Ayuna tahu? Hmmmm...katakan." Malik mengangkat dagu Ayuna agar menatapnya. “Darimana Mommy tahu?”
"Sekarang sudah malam, ajak yang lainya masuk dan suruh mereka istirahat, kamar nya sudah aku siapkan dibantu Melan, Sandra dan anak-anak ku tadi." Ayu menarik selimutnya. Asam lambungnya seolah naik saat menatap mata Malik.
"Mom ...Daddy akan jelaskan semuanya." Ayu memunggunginya. Memejamkan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Hmmmmmm....jangan sekarang, aku tiba-tiba ingin tidur. Biarkan Baby istirahat Dad." Ayu memejamkan matanya. "Jangan lupa matikan oven ku ya Kak." Malik mengecup kening Ayuna sebelum beranjak.
Masih tidak percaya bagaimana semua ini bisa Ayuna ketahui. Kini Malik merasa sakitnya kesayangannya siang tadi ada kaitannya dengan semua penerimaannya saat ini. Malik mengusak rambutnya merasa tidak berdaya.
Malik menelpon Rey agar segera membawa Hanum naik. Hanum melangkah penuh ketakutan, bukan bangunan kumuh seperti dulu, kini bangunan megah dan indah yang ada di depan matanya.
"Ayo Han." Rey menggandeng tangan Hanum. Jofan dan Adam sedang membeli makan malam yang tertunda, perut mereka keroncongan.
“Istirahat ya Han, pelan-pelan supaya tidak membangunkan yang lain. Kasihan mereka pasti kelelahan.” Hanum mengangguk setelahnya masuk ke kamar yang di tunjuk Malik tadi. Langkahnya bahkan tanpa suara.
“Ayuna sudah tidur juga?” Tanya Rey yang tidak mendapati adiknya di ruang keluarga bersama yang lain yang sudah terlelap.
“Dia tau Rey.” Rey menatap penuh tanda tanya. “Hanum....Ayuna tahu soal Hanum.” Rey menyesali yang sudah terjadi, namun tidak ada yang bisa dirinya lakukan.
Malik menatap Ayu yang kini benar-benar sudah tertidur dengan nyaman di bawah selimut. Berulang kali menciumi kening Ayu yang tidak terganggu dengan ulahnya. Setelah puas, Malik membenahi kembali selimut yang berantakan karena ulahnya. Matanya membulat melihat lebam di jari jempol kaki Ayuna yang membuat lingkaran cukup besar di kuku Ayuna mengejutkan matanya.
Bagaimana bisa kesayangannya mendapat luka di kakinya, tidak ada laporan dari mawar ataupun biru jika Ayuna terpentok atau jatuh. Hanya ada pesan dari Melan yang itupun ditarik kembali oleh Melan.
Malik segera meraih kotak P3K yang ada di laci nakasnya, mengoleskan salep di sekujur jempol Ayu yang terluka. “Apa yang kau lakukan sampai terluka seperti ini sayang.” Bicara sendiri.
“Aaahhhhh.....pergiiiii!!!!!!!” Suara teriakan Hanum berhasil membangunkan seisi rumah. “Jangan, aku mohon.” Pekik Hanum yang masih belum sadar dari mimpinya.
“Han bangun Nak, Hanum.” Menepuk pipi Hanum pelan. Adam mencoba membangunkan Hanum dengan lembut, takut Hanum terkejut dan semakin takut.
“Kenapa Dam?” Malik sudah ada di kamar Hanum, mata-mata penuh tanda tanya menatapnya. Mereka pasti sedang menunggu penjelasan darinya. “Daddy minta kalian semua tunggu di ruangan kita. Daddy akan jelaskan.” Melan menuntun Mahesa dan Sandra berjalan masih memeluk Ranu yang pasti bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“Mom.....” Sapa Ranu merentangkan tangannya. Ayu bergabung dengan yang lain karena tidurnya juga terganggu. Terlebih dirinya juga sudah ingin mendengar penjelasan dari suaminya tentang Hanum.
__ADS_1
Ayuna duduk di antara Mahesa dan Ranu, keduanya langsung menempel seperti perangko. Ayu senang keduanya selalu menyayanginya begitu besar.
Setelah Hanum tenang, Malik dan Adam segera keluar menemui semua orang yang sudah menunggu. Masih pagi-pagi buta, bahkan waktu subuh pun belum datang. Mereka sudah berkumpul. Malik menepuk pahanya, meminta Ayu mendekat padanya.
"Biarkan Mommy di sini Dad, jelaskan bagaimana Hanum ku....maksud ku Hanum, kenapa bisa ada di sini." Ayu terlihat sedikit tersenyum.
"Gak papa Kak, hati Kakak sudah nyaman yah sama Hanum." Mahes hanya memeluk erat Mommy nya. Bingung harus bicara apa.
"Jadi, Mommy nya Hanum adalah teman Daddy dan Papih saat kita kuliah dulu. Kita cukup dekat." Mahesa menegakkan duduknya. Aneh sekali yang Daddy nya bicarakan. "Sebelum meninggal, Mommy nya Hanum menitipkan Hanum pada kami." Mahes menatap penuh tanda tanya.
"Serius Dad, apaan sih.....orang tua gak asik kalau bercanda." Mahes bersmirk merasa dipermainkan.
"Sorry kid, Daddy sedang tidak bercanda. Hanum akan tinggal bersama kita." Ayu menggenggam erat tangan Putra tertuanya yang mengepal.
"Ckkkkk.....apa aku bukan orang yang pantas kalian ajak bicara masalah sebesar ini." Nadanya sedikit tinggi dan suaranya bergetar.
"Mom....bicara ngaco. Mana mungkin Daddy seperti itu." Malik sudah berdiri ingin meraih Ayuna, tapi di tolak karena Ayu masih sangat kecewa.
"Mahesa Putra ku, dia minum air asi ku meski tidak lahir dari rahim ku. Dia anakku, kenapa kalian bahkan tidak melibatkan aku dalam mengambil keputusan sebesar ini. Why Dad? Aku tidak lagi bisa di ajak bicara? Apa kalian sudah merasa tidak nyaman pulang padaku kalau sedang ada masalah? Hmmmmmm....." Ayu tidak pernah bicara sekerasnya ini selama hidup bersama.
"Mom.....stop it." Ranu memeluk erat tubuh Mommy nya yang gemetar. Ayu paling tidak bisa marah, sekujur tubuhnya akan gemetaran saat dirinya meluapkan emosinya. "Calm down Mom." Ranu mengusap punggung tangan Mommy nya penuh sayang.
"Aku tidak berarti tanpamu sayang. Aku hanya takut semua ini menyakitimu. Aku takut sehatmu terganggu karena terlalu banyak berpikir." Malik mendudukkan tubuhnya di bawah kaki Ayuna. Rasa bersalahnya menggunung. Kesayangannya sedang sangat kecewa. "Jangan menangis Mom."
"Aku tau kalian semua menjagaku dengan baik, tapi aku mau jadi rumah kalian, aku mau kalian bicarakan apapun dengan ku. Aku ingin tahu keadaan kalian yang sebenarnya. Please...." Ayu sesenggukan.
"Enough Mom, Daddy akan perbaiki semuanya. Mulai sekarang kita bicara dan cari jalan keluar bersama. Please jangan merasa kami tidak menyayangimu. Kamu mengisi hatiku paling besar Mom." Ayu memeluk Ranu erat. Tubuhnya masih menolak uluran tangan Malik yang ingin mendekapnya.
“Jangan sedih Yu, kita semua selalu ada di sini buat kamu Yu.” Sandra sudah mendengar banyak keluh kesah Ayu sejak sore tadi. Lega karena akhirnya Ayu mau jujur mengungkapkan isi hatinya.
"Malik tidak bersalah sendirian sayang, kami juga melarang Malik bicara banyak tentang Hanum. Kami khawatir dengan sehatmu Dek." Rey tidak tega melihat Malik bahkan mengurus banyak hal seorang diri.
“Benar sayang, maaf kalau ternyata keputusan kami tidak bicara dulu malah menyakitimu Love. Mas selalu ingin pulang ke rumah Mas saat terluka.” Jofan menyadari sedikit sekali waktu yang dia luangkan untuk Ayuna. Menyesal sekali melihat Ayu menangis karena sikap mereka yang tidak memikirkan bagaimana Ayuna ingin mereka juga nyaman dengannya.
Malik banyak berkorban demi keluarganya selalu bahagia, aman dan merasa selalu nyaman di sisinya. Malik selalu waspada demi keselamatan orang-orang yang di sayanginya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini. Baby tidak bisa di ajak banyak berpikir, perutku keras sekali." Ayu mengatur nafasnya. "Tapi aku juga menyayangi Hanum kalau kalian semua juga sayang padanya." Ayu mencoba terlihat baik demi semua orang yang sudah banyak berkorban untuk nya.
"Jadi Hanum akan jadi anak Daddy?" Pertanyaan Mahesa yang di angguki Malik dengan cepat. Wajah Mahesa sedikit memerah menahan amarah, Malik masih tidak paham kenapa Mahesa terlihat tidak senang dengan keputusannya.