Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Terjerumus


__ADS_3

"Hyacchhhhh!!!!!!!!.......kalian tidak bisa kah kerja dengan benar. Bagaimana kalian mau makan kalau setoran kalian tidak seberapa seperti ini." Baskoro ngamuk. Anak buahnya tidak becus bekerja. Melempar kan tumpukan uang yang anak buahnya kumpulkan dengan susah payah.


“Maaf Bos. Kami tidak bisa banyak bergerak saat ini.” Baskoro menampar pipi laki-laki yang berani menjawabnya.


"Sekarang sedang banyak patroli Bos, susah sekali mencari mangsa." Kilah salah satu anak buah lainyang berdiri di depan Baskoro.


"Kalian malas memang, kenapa kalian bisa memalukan seperti ini. Tidak malu kalian. Pikirkan bagaimana caranya agar penghasilan kalian besar!" Baskoro meninggi. “Untuk apa uang recehan seperti ini, pikir pakai otak kalian!” Bentaknya kesetanan.


Sudah dua bulan ini Baskoro mengalami kemerosotan dalam bisnis gelapnya. Dirinya kesulitan mencari mangsa karena ketatnya patroli yang akhir-akhir ini Polisi lakukan di daerah tempat dirinya menjalankan pekerjaan gelapnya.


Baskoro melempar barang-barang ke sembarang arah. Kemarahanya membabi buta pada anak buahnya yang hanya pasrah mendapat tamparan keras dari tangan besarnya.


"Bos, kita sebenarnya butuh umpan yang bisa memuluskan pekerjaan kita Bos." Baskoro menyenderkan kepalanya di kursi. Memijat pelipisnya degan cukup keras.


“Bicara dengan benar, jangan putar-putar. Langsung ke intinya!.” Marahnya karena anak buahnya berbelit-belit.


“Kita bisa gunakan anak perempuan untuk umpan Bos. Lagi pula dia akan aman kita jaga Bos.” Ucapnya lagi, kali ini berhasil membuat Baskoro berdiri dan berjala ke arahnya.


"Siapa? Kalian kenapa tidak eksekusi saja yang penting setoran lancar bo*oh.!" Bentaknya kesal.


"Kita harus ada agen perempuan Bos, dia bisa jadi umpan dan mempermudah kita mencari mangsa Bos." Hanya ada laki-laki di sekitar dirinya. Mana ada anggota perempuan.


"Apa anak kecil itu bisa bekerja?" Anak buah Baskoro mengangguk. Akhirnya Baskoro paham tanpa anak buahnya menyebutkan nama siapa yang dirinya bicarakan, siapa yang dia maksud. Dengan begini pekerjaan mereka akan lebih mudah. Lebih gampang mengelabuhi para korban jika menyangkut keselamatan anak perempuan.


"Bisa Bos, kita paksa saja supaya dia mau Bos." Baskoro menyeringai. Ada gunanya juga punya anak perempuan. Dirinya baru saja menyesal Nikita memiliki anak perempuan dan bukannya anak laki-laki. Tapi kini, Baskoro akan memanfaatkan nya.


"Kalian harus bisa jaga dia, jangan sampai terluka atau kalian aku habisi." Baskoro duduk dengan wajah lega nya.


Tanpa pikir panjang anak buah Baskoro mencegat Hanum yang baru saja akan masuk ke kamarnya. Memaksa Hanum mengenakan pakaian penuh noda darah. Wajahnya juga di poles dengan make up seperti orang babak belur.


"Apa yang akan aku lakukan Kak? Kenapa make up seperti ini Kak?" Tidak ada yang menjawab. Setelahnya Hanum di tarik dengan kasar ke dalam mobil.


Kegelapan malam menemani Hanum yang di seret paksa, matanya di tutup dan dirinya di gendong paksa oleh anak buah Baskoro. Hanum ingin berteriak namun ancaman mereka terngiang di teling Hanum.


"Menangislah cantik, kalau kau berhenti bersuara. Aku akan menggorok lehermu." Hanum mengikuti saja perintah orang yang menempatkan ya di pojokan gang yang sangat gelap. Merintih seolah kesakitan karena semua lukan tidak nyata yang ada di tubuhnya.

__ADS_1


Tidak lama ada laki-laki paruh baya yang menghampirinya. Seketika hal mengerikan terjadi, penyerangan yang sudah terkonsep, mereka merampok laki-laki yang mencoba menolongnya.


Hanum sangat terkejut, dirinya tidak tahu kalau akan di jadikan umpan kejahatan seperti ini. Sungguh Hanum tidak menyangka mereka tega menghabisi korannya.Tangisan Hanum memenuhi rumah susun yang begitu usang saat mereka kembali. Masih belum bisa menerima dengan akal sehat melihat kejadian mengerikan yang baru saja dirinya alami.


Plakkkkk.....


Hanum mengompres pipinya yang bengkak, sudut bibir nya bahkan mengeluarkan darah segar bekas pukulan tangan Baskoro yang besar.


Hanum ketakutan, tidak tahu harus bagaimana agar dirinya bisa kabur dari penjara yang menyiksa batinnya. Dirinya dituntut mengikuti setiap perintah yang Baskoro minta, atau kematian datang dengan cepat karena dirinya membantah.


Paginya seperti biasa Hanum di antarkan di halte dekat tempat tinggalnya. Kakinya melangkah degan pasti kali ini, Hanum tersenyum ingat sosok Mahesa yang menemaninya dua hari yang lalu.


"Astaga...!!!!" Hanum tersentak saat kotak makanan tiba-tiba muncul di depan wajahnya.


"Sorry Han....." Merasa bersalah. Mahes mengusap pundak Hanum menenangkan, Hanum nya terkejut setengah mati.


"Enggak papa Kak, Hanum cuma kaget. Kak Mahes kok di sini." Hanum memang pergi lebih pagi hari ini, dirinya bingung sepagi ini Mahes ada di halte mereka bertemu.


"Aku kira kau hilang lagi Han, dua hari ini aku mencari mu tapi tidak juga ketemu." Memanyunkan bibirnya.


"Maaf Kak, Hanum....." Hanum enggan menceritakan apa yang terjadi padanya. "Ini untukku?" Mata Hanum berbinar. Mencoba mengalihkan fokus Mahesa.


Hanum menggeleng, tidak mau melibatkan orang sebaik Mahesa dalam kepelikan hidupnya. Tapi pertanyaan yang terlontar dari Mahes meremas hatinya, ingin sekali memeluk Mahes meminta perlindungan.


"Hanum jatuh Kak." Kilah nya menyembunyikan fakta. Mahes yang tidak bodoh menyeringai. "Sungguh Kak, Hanum naik tangga dan tidak hati-hati. Terpeleset Kak." Suara terakhir lirih membuat Mahes yakin Hanum menyembunyikan sakitnya.


"Ayo ikut Kak Mahes." Menggandeng tangan Hanum dengan hangat.


"Kemana Kak...." Tanya Hanum pasrah. Mahes yang ditanya menjawabnya dengan senyum manisnya yang jarang sekali dirinya perlihatkan pada orang lain.


Mahes membawa Hanum duduk di kursi taman dekat sekolah Hanum. Mengeluarkan kotak putih kecil dari dalam tasnya. Mengoleskan obat luka yang selalu ada di tas nya yang Mamih nya siapkan.


"Sudah...." Ucapnya setelah selesai mengoleskan krim di bibir hanum. "Jangan lagi teledor Han, sekarang makan roti buatan Mommy ku." Hanum mengangguk.


Mahes ternyata cukup baik, dia tidak mendesak untuk meminta penjelasan.

__ADS_1


Perutnya memang keroncongan, sedari malam Hanum tidak napsu makan karena mata dan hatinya masih mengingat jelas pekerjaaan Ayah kandungnya.


Mereka kumpulan orang-orang jahat. Hanum ingin sekali lari, ingin sekali meminta pertolongan. Ingin sekali mengadu pada Mommy nya, tapi dirinya tidak sanggup. Mommy nya sudah cukup menderita. Dia sudah cukup kelelahan menjalani sakitnya.


"Kaka juga makan yah, Hanum sudah habiskan satu potong." Menyodorkan ke mulut Mahes. Meraih tangan Hanum agar lebih benar-benar sampai. Hanum malu-malu.


"Rasanya lebih enak Han." Hanum tersipu. "Adikku sebentar lagi datang, aku kenalkan yah. Dia manis." Hanum mengangguk.


Suara langkah berisik Ranu berhasil memecah fokus Mahes. "Kak....jauh sekali." Teriak Ranu yang sudah ada di depan mereka. Ada biru juga tidak jauh di belakang Abang Ranu.


"Hay...." Sapa Hanum dengan ramah. "Aku Hanum."


"Ranu, Kak Hanum ingat aku tidak?" Mahes mencubit perut Ranu.


"Awww.....kenapa kau ini." Menggosok perutnya yang terasa sedikit nyeri.


Mahes menggeleng. Mendekatnya bibirnya di telinga Ranu.


"Jangan ingatkan, dia tidak tahu siapa kita." Berbisik. Ranu mengangguk paham.


"Kak Hanum, Mommy ku bawakan bekal. Makan yah, masakan Mommy delicious." Cerewet sekali Ranu pagi ini. Mahes tersenyum melihat Hanum juga sepertinya suka.


"Merepotkan, apa tidak apa-apa aku menerimanya." Mengambilnya dengan sungkan. Matanya berbinar senang sekali, sudah lama tidak makan dengan baik.


"Mommy ku paling suka kalau masakannya Abang bagi ke teman-teman Abang." Bangganya memamerkan kebaikan Mommy nya.


"Baik sekali seperti Mommy ku." Menunduk. Mata Hanum berkaca-kaca. "Aku rindu sekali Mommy." Memeluk erat tas bekal yang dirinya terima.


"Everything ok Han." Hanum mengusap matanya. Menyembunyikan kesedihannya.


"Kak, Abang Ranu, Hanum masuk yah. Sebentar lagi bel masuk sekolah berbunyi. Bye....sampaikan terima kasih ku pada Mommy yah." Menyisakan banyak pertanyaan di benak Mahes.


"Lihat tidak dek, Hanum sedang tidak baik Dek." Wajah Mahes murung dengan sempurna.


"Kau sedang memikirkan perasannya saat ini?" Mahes mengangguk.

__ADS_1


"Pipinya bengkak Dek. Sepertinya Hanum di pukul seseorang. Kasihan sekali Dek." Mahes sangat khawatir.


“Kalau begitu kita minta Daddy saja cari tahu. Siapa tahu Hanum memang butuh bantuan Kak.” Mahes setuju, masalah seperti ini tidak bisa dirinya selesaikan sendiri. Butuh campur tangan orang tua nya yang lebih paham bagaimana menyelesaikan masalah yang Hanum hadapi.


__ADS_2