
Malik masih mendekap Putranya yang kebingungan, kabar yang dirinya dengar begitu mengejutkan sampai Ranu benar-benar tidak siap menghadapinya.
Kesal, marah yang saat ini memenuhi otaknya. Tidak rela jika terbagi lagi kasih sayang Mommy nya nanti. Entah perasaan apa sebenarnya, yang jelas Ranu kebingungan.
Selama ini Ranu merasa sudah mengalah dengan banyak orang, Mommy nya tidak punya banyak waktu untuk dirinya. Bagaimana jika sampai ada lagi anak bayi yang menyita waktunya, Ranu sungguh masih belum bisa menerima.
"Bawa aku ke rumah Eyang. Aku tidak sanggup bertemu Mommy."
Malik menelan kenyataan pahit, dirinya saja sesakit ini mendengarnya. Bagaimana dengan Ayuna, dia pasti akan hancur. Pagi nya selalu di warnai tawa Putranya, bagaimana jika tiba-tiba dia pergi begini. Mommy nya pasti kehilangan sekali, sepi.
"Kau yakin? Tidak menyesal kah membuat Mommy mu akan sesedih apa kalau dengar ucapan Abang tadi?" Ranu tidak menjawab, dirinya padahal paling tidak bisa menyakiti Mommy nya.
"Sebentar saja, beri Abang aku ruang." Pintanya dengan lebih lembut.
"Daddy yang tidak akan kuat menghadapi pertanyaan Mommy mu Kid. Pikirkan lagi." Malik membawa Ranu masuk, masih mencoba membujuk Putranya. "Kau juga masih sakit, belum bisa pulang." Ranu menggeleng.
"Tidak, Abang ingin pergi dari sini sekarang Dad. Kalau Daddy tidak mau ijinkan, Abang akan pergi dengan memaksa." Keras kepala nya persis dirinya.
"Daddy tidak bisa biarkan Abang sendiri, jangan paksa Daddy Nak, Daddy mohon. Daddy mohon." Malik ingin semua kesayangannya aman.
"Kalau begitu jangan biarkan Mommy ke ruangan ku." Baru juga ingin bicara Putra nya sudah berdiri. "Tidak ada lagi penolakan. Aku belum siap." Ranu pergi begitu saja kembali ke ruangannya.
Malik hanya bisa pasrah, memaksa Putranya saat ini akan percuma. Malik mengikuti Ranu memastikan Putra nya kembali dengan selamat.
"Istirahat ya Sayang, Daddy harus temani Mommy dulu. Abang sama Papih Adam sebentar yah. Daddy balik lagi nanti malam Nak." Panjang lebar ucapannya tidak di balas. Putranya sibuk dengan pikirannya sendiri.
Suasana di ruangan Ayu sudah tenang, Malik masih melihat mata istrinya sembab. Dia pasti pura-pura baik-baik saja. Wajahny cantik meski air matanya banyak sekali tumpah.
"Aku dan Mahes ke ruang Abang yah. Adek jangan menangis lagi, Mas nanti ke sini lagi." Ayu mengangguk mengiyakan.
Malik duduk di samping Ayuna nya, menciumi punggung tangan kesayangannya yang pucat. Khawatir sekali sakitnya akan lama, tapi Malik tau sekali istrinya sosok yang kuat. Melebihi dirinya.
"Abang ok kan Dad? Marah sekali anaknya ya Dad? Aku bodoh sekali kan Dad? Sungguh bukan ingin ku Dad." Malik tersenyum, kenapa imut sekali wajahnya.
"Sejak kapan anak mu bisa marah, dia tidak akan tahan bersikap seperti itu dengan kesayangannya." Melik mengusap lembut perut rata istrinya.
"Tapi Dad, anak nya tidak di kasari kan Dad. Jangan terbawa emosi Dad, dia sedang bingung." Tahu benar bagaimana perasaan Ranu saat ini.
__ADS_1
"Mana mungkin Daddy kasar sayang, anak nya saja selembut itu, Daddy mana bisa emosi." Lembutnya mirip degan Ayuna. Meski tinggi, Ranu masih bisa menahan suaranya agar tinggi nya tidak keterlaluan dan kurang ajar. Sopan sekali anaknya.
“Tolong jaga in ya Dad, sepertinya Abang akan tidak bisa menatap wajah ku beberapa hari kedepan. Sedih aku Dad.” Malik membaringkan tubuhnya yang lelah, memeluk Ayuna nya dengan erat.
“Semua ok Mom, jangan banyak memikirkan yang berat. Kasihan anak kita yang masih sebesar cebong. Abang nya akan sayang sekali dengan dia, tenang sayang.” Ayu tersenyum. Lucu sekali ungkapannya.
“Aku baik kok Dad, cuma kasihan Abang belum siap. Aku juga berkecil hati sekali setelah lihat marahnya Abang Dad.”
"Sudah jangan pikirkan kekesalan Abang, lihat saja dia akan lebih sayang padamu setelah kesadarannya kembali."
Ayu mencoba menenangkan hatinya yang kacau, kesayangannya sedang tidak baik. Dirinya jadi tidak tenang. Masih teringat sorot mata marah Ranu yang baru pertama ini dirinya lihat.
"Bagaimana jika Abang tidak menerima dia." Menatap perutnya sedih. "Aku harus apa Kak?" Tumpah juga air matanya, sedih sekali berandai-andai yang penuh kepiluan.
"Ayuna....."Ayu menatap lekat bola mata Malik. "Percaya padaku, bahagia aku dan Abang ada di kamu sayang. Kau harus percaya itu." Ayu mengangguk. Selama ini memang dirinya yang paling di sayang semua orang. "Marahnya pasti tidak akan lama".
"Aku percaya, Kak Malik selalu menepati janji. Aku yakin Abang juga tidak mungkin sakiti aku. Aku percaya kalian semua." Malik senang sekali di sanjung.
Sementara itu di ruangan Abang Ranu.
Adam menghela nafasnya pelan. "Dia kasihan sekali jika berjuang tanpa dukungan kalian orang-orang kesayangannya. Terutama Abang, Mommy bisa apa kalau Putra kecintaannya tidak di sisi nya."
"Pih.....please diam. Abang tahu tanpa kalian bicara." Adam membungkam mulut nya seketika. Galak sekali persis Malik. “Sorry Pi, tapi hatiku masih sakit sekali Pi.”
“Papih tau Nak, tapi kenyatan menuntut mu menerima Nak. Pelan-pelan saja, tapi jangan diami Mom mu terlalu berlebihan. Dia akan sakit, Abang tau dampaknya tidak baik jika Mommy terlalu banyak pikiran.” Adam mencoba mengingatkan sakitnya wanita kesayangan mereka semua.
“Abang ingat Pi. Sorry.” Ucapnya, rasa bersalah mulai memenuhi jiwanya.
Melihatnya Adam membiarkan Ranu merenungkan dirinya.
Sungguh takdir kali ini sangat indah, hanya saja sepertinya semua orang begitu terkejut karena datang tiba-tiba. Adam saja sangat bahagia, sudah sangat lama mereka menantikan hadirnya kembali buah hati. Namun Tuhan memberikannya pada rahim Ayuna, tidak terduga. Adam tenggelam dalam pikirannya.
Krekkk......
Adam memberikan tanda agar kedua nya tidak berisik dan mengganggu Ranu.
"Abang tidur, ayo kita tunggu di depan." Mahes menolak. Hanya Jofan yang mengikuti Adam, mereka tahu Ranu butuh bicara dengan Kakak tertua nya.
__ADS_1
“Kak, pelan-pelan ya sayang. Abang mungkin masih belum siap bicara.” Mahes mengangguk paham. “Om dan papih tunggu di depan ya Nak.” Adam bangga sekali mereka tumbuh dengan sangat baik.
Mahes duduk di sisi adiknya yang memunggunginya. "Kaka tahu Abang tidak tidur." Mahes menepuk pundak Ranu penuh sayang. "Ada malaikat kecil di perut Mommy. Hmmmmm......" Senyum Mahes begitu membuat Ranu merenungi sikapnya.
Ranu berbalik, membuka matanya yang memang tidak bisa terpejam. Ranu duduk menyandarkan kepalanya yang berdenyut. “Kak.....” Sapanya sopan.
"How do you feel?" Ranu mengedikkan kedua bahunya.
"Bisa kah jangan bahas kehamilan Mom. Aku benar-benar bingung. Kasih waktu." Pintanya agar otaknya tidak terus-terusan memikirkannya.
"Apa orang-orang tua memaksamu menerima?" Ranu menatap tajam Kaka nya. Jawaban apapun tidak akan bisa di benarkan karena sikapnya kekanakan.
"Aku bukan tidak menerima, ini aneh sekali. Abang bingung." Membuang kasar nafasnya.
"Kaka tahu, awalnya juga aku berpikir seperti itu, kita sudah remaja dan tiba-tiba saja Mommy hamil." Mahes tertawa kecil. Ranu jadi ikut tersenyum.
"Aneh sekali." Ranu juga merasa lucu dengan keadaan ini.
"Tapi Dek...." Suara nya melembut. "Salah Mommy kah?” Menatap adik nya yang tengah berpikir keras. “Jawabannya No, ini takdir. Mommy hamil di usia nya yang bisa di bilang tidak muda. Fisiknya akan terkuras, energinya akan banyak habis karena kelelahan." Sejak kapan Kaka nya ini cerewet.
"Hmmmmm.....Abang tau sekali Kak." Mahes memeluk Ranu yang terlihat bingung. Menepuk punggunya memberikan kekuatan.
"Boleh kecewa, boleh marah. Tapi ingat Mommy kita ini Dek, dia loh gak bisa kita diami meski cuma berapa detik. Peka nya sangat tinggi." Ranu menunduk.
Ranu menyimak betul apa yang Kaka nya bicarakan, tentang ketenangan hati kesayangan mereka. Ranu bersikeras menolak tapi tidak ingin menyakiti kesayangannya. Meski kesal sekali dalam dirinya, Ranu tidak ingin menyakiti semestanya.
"Kaka ke kamar Mommy lagi ya Dek, tadi Mommy kaget sekali kamu teriak sedikit kencang. Kaka minta jangan ulangi."
"Sorry...." Lirih Ranu membenarkan apa yang Mahesa ucapkan.
"Bilang sendiri ke Mom, Kak Mahes juga kesal." Ucap Mahes sebelum menutup pintu ruangan Ranu. Tapi tidak ada marah, Mahes mengucapkan nya dengan penuh cinta.
"Berhasil Kak, gimana Abang? Masih kesal kah?"
"Papih rewel sekali tumben. Ternyata kalian juga sangat care ke Mommy ku."
"Tentu saja Kak, dia itu kesayangan kita. Jangan sampai marah nya Abang ganggu kesehatan Ayuna. Dia juga adik kesayangan ku. Kau akan sangat lebih mencintainya kalau tau cerita kami di masa lalu." Adam menghentikan langkahnya.
__ADS_1