
Selesai bicara dengan Daddy nya, anak-anak duduk di ruang tamu bersama dengan kedua sahabat Mommy nya yang tetap di mata Ranu masih menyimpan banyak tanda tanya. Dirinya masih tidak nyaman meski pemandangan di depan matanya mengatakan sebaliknya.
Entah apa yang membuat Ranu berpikir jika wanita dan laki-laki yang saat ini menjelma seperti malaikat tetap tidak baik di matanya.
"Abang, sini sayang." Ayu menepuk sofa di sebelahnya yang masih kosong. Di sisi kirinya sudah ada Mahes yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Langkahnya lemas, kepalanya masih berdenyut hebat, luka yang tadi siang baik-baik saja terasa agak nyeri setelah makan malam tadi.
Ranu memeluk erat kesayangannya. "Kenapa bisa luka Bang? Tidak hati-hati yah main basketnya?" Ranu tidak menjawab, hanya pelukkannya saja yang terasa semakin erat.
Mahes mengecup tangan Mommy yang sedang dirinya genggam. Mommy nya tidak sekali dua kali melihat anak-anaknya terluka, tapi tetap saja wajah khawatirnya tidak pernah berubah. Masih sama sejak dulu, mata cantiknya semakin cantik saat sedang khawatir pada anak-anaknya.
"Sorry ya Mom, Kakak lupa ingatkan Adek untuk hati-hati." Ayu mencubit gemas ujung hidung mancung putra nya.
"Mommy tidak pernah salahkan Kakak sayang. Adek mungkin sedang tidak hati-hati saja tadi." Ranu mengangguk. Memang salah dirinya yang melamun sampai tidak lihat ada bola menghampiri tubuhnya.
"Mommy....Ayu mencoba duduk dengan tegak. Tubuh kedua Putra nya berat sekali. "Temani Abang bobo boleh tidak?" Ayu mengecup kepala Putranya yang masih memeluknya, tumben sekali.
Malik merasa Putra nya sedang aneh. Sudah sangat lama tidak manja seperti itu. Entah karena sakit di kepalanya atau memang ada hal lain yang sedang dirasakanya.
Malik berdiri dari duduknya, menghentikan obrolan nya degan Karang untuk memeriksa kening Putra nya. Ranu mengernyit kan dahinya. Aneh sekali Daddy nya ini.
"Abang oke kah Bang? Apa kepalanya masih sakit Nak?" Ranu tersenyum. Sudah lama dirinya tidak diperhatikan seperti bayi.
"Abang cuma ingin tidur di peluk Mommy. Nanti pasti waktunya banyak tersita dengan Baby." Ternyata Putra nya sedang cemburu. Ayu dan Malik saling menatap. Mahes juga tersenyum mendengarnya.
"Nanti kan Abang juga yang jaga Baby. Mommy akan lebih dekat dengan kalian justru. Dan jangan heran kalau suara Mommy akan sering tinggi nanti yah. Hehehehe ......"
"Kasih sayang Mommy dan Daddy tidak akan berubah, jangan punya pikiran begitu Nak. Kita sudah berjanji akan saling menjaga." Malik gemas pada Putra nya yang bertingkah sangat manis malam ini.
"Baby juga akan sangat sayang Kakak dan Abang nya." Ayu menirukan suara bayi.
"Ya sudah, istirahat dengan anak-anak Mom. Ajak Hanum juga Kak, dia masih ada di depan tadi, ijin ke Daddy ingin baca novel di teras depan." Mahes segera beranjak dari duduknya.
Hanum suka menyendiri dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca, dia sedang gemar membaca kisah-kisah cinta romantis di daftar bacaan novel nya.
"Abang bawa Mommy masuk ya Tante. Sorry, tapi aku sedang butuh Mommy ku." Iin mengangguk. Putra sahabatnya sangat manis, pantas saja Putri nya jatuh hati.
"Sorry ya In, ini memang jam nya anak-anak In. Nanti kita bertemu lagi ya In." Ayu sudah di tarik-tarik Ranu yang tidak sabaran.
"Tante juga sebentar lagi pulang Nak. Selamat istirahat ya Yu." Iin memeluk Ayu. Ranu masih merasa ada yang mengganjal di hatinya.
Ayu paham Putra nya masih belum bisa percaya jika sahabatnya sudah berubah, sudah memaafkan masa lalu pahit yang pernah terjadi di antara mereka. Semudah itu dia berubah, Ranu masih belum yakin.
__ADS_1
"Han....hey....kenapa menangis?" Mahes mendapati Hanum menangis, wajahnya langung di tutupi dengan buku saat Mahes mengejutkan nya.
"Pelan-pelan Kak, nanti Mommy dan Daddy dengar." Pintanya dengan suara terbata-bata. Perlahan membuka buku yang menutupi wajah cantiknya.
"Kenapa sayang? Kenapa menangis sendiri? Kan Kak Mahes sudah bilang jangan sendirian." Hanum meremas tangannya sendiri. Emosinya masih berantakan.
"Aku rindu sekali. Biasanya aku menemaninya makan malam Kak." Mahesa tahu, luka Hanum begitu dalam. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, atau bahkan sekedar menyamarkan bekas lukanya.
"Kak Mahes mohon Han, jangan sendirian saat sedih seperti ini. Ada kak Mahes, ada Daddy dan ada semua orang yang bisa jadi sandaran. Mengerti?" Hanum mengangguk, Mahes mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi Hanum.
"Aku takut kalian kerepotan menghadapi ku." Mahes memeluk Hanum dengan hangat.
"Bicara seperti itu akan menyakiti kita, Daddy sudah pastikan akan mengurus kita semua Han. Percaya ya pada kita Han, Daddy pasti akan mencintai Hanum seperti Aku dan Abang." Hanum mengangguk. Dirinya memang sangat bersyukur punya mereka semua.
"Aku mungkin tidak akan sanggup jika kalian semua tidak ada di sisi ku. Aku utuh tidak kurang apapun saat ini." Mahes senang mendengarnya.
"Hanum....masuk Nak, di luar dingin." Teriak Malik yang bisa di dengar jelas oleh keduanya. Hanum bergegas membereskan barang-barang nya.
"Iya Dad." Jawab Hanum segera mengusap air matanya sampai kering. "Ayo Kak, nanti keburu Daddy yang keluar." Hanum tidak mau merepotkan perkara hatinya yang sampai saat ini masih terasa sakit.
"Kakak....masuk Nak, Daddy tidak mau kalian sakit yah." Teriakan kedua kalinya. Mahes sedang menikmati raut wajah panik dari Hanum. Lucu sekali di matanya.
"Kak ayo....." Hanum menarik paksa tubuh Mahes yang mematung di tempatnya.
"Masuk kamar sayang. Sudah malam, cepat istirahat." Hanum mendekat dan mengecup pipi Daddy nya lembut. "Good night girl." Hanum melambaikan tangannya.
Malik menahan tangan Mahes, anak nya tahu Daddy nya sedang ingin bertanya.
"Tomorrow Dad, Kakak mau istirahat juga." Malik merengkuh Mahes ke pelukannya. "Good night Daddy." Mahes mengecup pipi Daddy nya.
"Jagain Mommy sampai Daddy jemput ya Nak." Mahes mengangguk.
Kedua Putranya akan memeluk Mommy nya semalaman jika sedang manja seperti ini. Ayu tidak menolak karena dirinya juga senang saat anak-anak nya begitu mencintainya.
Pemandangan yang sangat indah, Iin sampai tertegun melihat keharmonisan keluarga sahabatnya. Malik dan Ayu membesarkan anak-anaknya dengan begitu baik. Mereka penuh cinta kasih.
Pintu kamar sedikit terbuka saat Mahes baru saja menutupnya. Ada Hanum di depan pintu.
"Sini sayang, masuk. Peluk Mommy sini bobo nya." Hanum senang sekali mendengarnya, dirinya rindu pelukkan Mommy nya yang sudah tidak ada.
Pelukan tangan Mommy Ayu tidak kalah hangat, bisa mengobati rindunya yang tentu saja menyakitkan.
"Apa malam ini Kakak harus mengalah lagi?" Mahes pura-pura kesal.
__ADS_1
"Bisa kok, masih muat kasurnya Kak." Hanum tidak menghiraukan, dirinya memeluk erat wanita yang sudah beberapa bulan ini mencintainya dengan tulus. Mahen menjatuhkan dirinya di samping Hanum. Mengalah untuk wanita yang dicintainya.
Tamu Malik sudah pulang, membicarakan bisnis memang butuh banyak waktu, dirinya senang karena kali ini klien nya sahabat dari istrinya. Mereka jadi bisa sambil bercengkerama membicarakan bisnis di rumah Malik.
Indah sekali pemandangan yang mata nya lihat. Malik mengecup kening Ayu yang memintanya jangan berisik, anak-anak bisa saja terbangun.
Malik memindahkan Hanum ke kamarnya, menggendong tubuh kecilnya yang terlelap dengan nyaman di pelukkan istrinya. Ayu tersenyum menatap keduanya, manis sekali perlakuan Malik pada anak gadisnya.
"Ayo Mom, kita pindah juga. Mereka sudah nyenyak."
Ayu merentangkan tangannya, dengan hati-hati Malik mengendong istrinya yang tengah berbadan dua, beratnya sedikit bertambah. Malik mulai merasakannya, dirinya sempat khawatir karena nafsu makan Ayuna akhir-akhir ini sangat buruk.
Plakkkkk....
"Kau gila! Kenapa menamparku?!" Iin memegang pipinya yang terasa panas.
"Kenapa kau berani sekali menyentuh istri Malik. Jangan sampai kerja kerasku selama ini hancur karena kebodohan mu!" Karang geram dengan apa yang terjadi.
"Hyachhh...kau pikir aku sengaja melukai tangan Ayu? Kau gila!" Teriaknya merasa kesal di salahkan tanpa sebab.
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kau masih membencinya sampai saat ini!" Ucap Karang pelan tapi penuh penekanan.
Brukkkkkk......
Iin membanting pintu mobil cukup keras. Turun dari mobil yang baru saja dirinya naiki. Matanya sudah basah dan dada nya terasa begitu sesak.
Berjalan sangat cepat meninggalkan Karang yang masih ada di parkiran apartemen. Iin kesal suaminya menyalahkannya tanpa tahu apa yang terjadi. Bertanya saja tidak, dia langsung menghakimi dirinya.
Tin....tin...tin
Klakson bersautan meminta agar Iin kembali masuk ke dalam mobil.
Tapi tidak di indahkan dan dirinya sudah keluar parkiran dengan berjalan kaki. Karang yang kesal meninggalkan Iin begitu saja.
Langkahnya gontai, alih-alih merayu, Karang justru meninggalkannya begitu saja. Sesak di dadanya semakin besar. Suami macam apa yang dirinya miliki, secuil saja tidak ada kebahagiaan yang dirinya miliki. Semua yang dirinya punya palsu.
Menangis, tentu saja. Sesak sekali dengan perlakuan laki-laki yang menuduhnya melakukan kejahatan. Ada tawa mengejek dirinya sendiri yang bahkan tidak mendapat percaya dari laki-laki yang menjadi suaminya saat ini.
Cukup lama dirinya berjalan, langkahnya sedikit melambat karena tumit kaki nya terasa nyeri. Sepatu yang dia kenakan bahkan melukai dirinya. Iin berjongkok mencoba menetralkan emosinya.
Tidak lama saat dirinya berjongkok mobil Karang kembali muncul. Kini laki-laki yang sedang sangat dirinya benci berdiri di depannya. Mengulurkan tangan yang tadi menamparnya dengan cukup keras.
"Maaf kan aku, tidak seharusnya aku kasar seperti tadi." Karang memeluk tubuh Iin degan gemetar, dirinya kini menangis menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Lagi-lagi mudah sekali Iin luluh dengan perlakuan manis Karang. Tidak bisa marah meski hatinya sangat sakit mendapat perlakuan buruknya. Kalah, benci nya kalah dengan cinta nya yang begitu besar.