Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Sandra dan Jofan


__ADS_3

Jofan menginap di apartemen Sandra malam ini. Ingin menuntaskan rindu nya yang menggunung. Tidak bosan matanya mengagumi wajah kekasih hati yang sangat dirindukannya.


Setahun lebih rindunya tidak tersampaikan memenuhi relung hati dan jiwanya sampai tidak bisa lagi di gambarkan.


Duduk dengan tenang menunggu Sandra yang bolak balik tidak jelas demi menghindari tatapan mata Jofan yang mematikan. Tubuhnya masih gemetar dengan kenyataan yang dia hadapi. Bahagia yang berlebihan sampai otaknya tidak bisa berpikir dengan waras.


"San.....sejak kapan kau rajin beres-beres begini?" Tidak merespon. Masih sibuk dengan mesin blender yang tidak kunjung menyala.


Sandra mengumpat dalam hatinya, bisa-bisa nya tangannya gemetar dan otaknya tidak bisa berpikir selaras dengan keinginanya. Suara Jofan tidak terdengar, seluruh tubuhnya sedang tidak bisa Sandra kendalikan.


Jofan yang benar-benar masih sangat rindu mendekat, memeluk Sandra dari belakang dengan lembut.


“Tenang sayang, aku tidak akan lagi membiarkanmu lepas dariku.” Bisiknya membuat Sandra bergidik. Jofan segera mengambil alih blender yang bandel dari tangan Sandra yang masih gemetar.


“A…aku saja Fan.”


"Kau masih saja ceroboh, bagaimana bisa aku membiarkan mu hidup tanpaku." Sandra kehabisan kata-kata.


"Maaf Fan....." Suaranya sendu, Jofan tahu betul Sandra menyesali perbuatannya. "Aku egois, hanya memikirkan perasaan ku sendiri." Lirinya membuat Jofan berbalik setelah mematikan blender.


"Katakan dengan benar sayang, aku tidak dengar." Ledek nya yang suka sekali Sandra menyadari kesalahannya.


"Maaf...." Matanya berkaca-kaca.


"Aku yang harus minta maaf karena tidak memperhatikan mu dengan baik San. Ayo kita menikah, kita saling menjaga dan saling mencintai dengan benar. Kita mulai lagi dari awal dengan start yang benar." Sandra mengangguk.


Tidak bisa lagi menahan air matanya. Sungguh bahagia yang Sandra rasakan saat ini. Cintanya kembali, dunianya kini ada di depan matanya. Nyata, ini bukan khayalan atau mimpi.


"Aku sangat rindu Fan." Sandra menangkup wajahnya yang berderai air mata.


Memeluk wanita kesayangannya dengan hangat.


"Terimakasih sayang, terimakasih sudah bertahan sejauh ini."


Setelah cukup tenang Jofan mengajak Sandra bersantai di ruang tamu. Masih ingin berduaan menuntaskan rindu.


Tring…..ponselnya berbunyi.


Mamah Sandra : Menantu....benarkah kalian akan menikah????????


Jofan yang sedang menikmati jus di ruang tamu terkejut, cepat sekali berita menyebar pikirnya.


Jofan: Masih merayu Mah, Sandra nya masih ragu.

__ADS_1


Mamah Sandra : Mamah tidak ragu, kapan rencananya? Katakan.


Jofan : mana bisa Jofan tentukan kalau Sandra saja belum memberi jawaban Mah.


Mamah Sandra : Bulan depan yah, nanti Mamah dan Besan yang siapkan semuanya. Nanti kita Carikan tanggal yang cocok.


Jofan : ya Tuhan.....Mamah please tanya dulu ke anak nya.


Mamah Sandra : Tidak perlu menantu, Mamah yakin kok.


Jofan tertawa sendiri berkirim pesan dengan calon Ibu Mertuanya yang sangat antusias.


"San....kenapa masih ada keraguan?" Tanya Jofan penasaran.


"Aku bukan tidak percaya padamu Fan, aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku takut tidak bisa menjadi orang yang kamu inginkan." Sedihnya yang tahu betul wataknya.


"Kemari sayang..." Menepuk paha nya. Sandra mendekat, duduk di pangkuan Jofan, menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Jofan yang jenjang.


"Aku takut kamu kecewa Fan." Suara nya tenggelam.


"Aku sudah cukup mampu mengenalimu. Aku benar-benar hancur saat melepaskan mu San. Aku ternyata menggilai mu sebesar itu." Penuh penekanan.


"Aku takut perasaan itu berubah. Aku takut habis cinta mu Fan." Ucapnya ragu, beberapa kali Jofan tidak bisa menahan marah karena ulah dirinya.


"Mana bisa, kalau habis kau bisa mengisinya. Tapi aku yakin. Aku mantap dengan keputusan ku sayang." Rayunya yang masih belum mendapatkan jawaban pasti.


Sandra sudah setuju menikah, tapi di menit berikutnya masih terucap keraguan yang tidak ada habisnya. Ketakutan nya mengalahkan rasa percaya dirinya.


"Tapi aku juga menyadari, aku tidak ter arah satu tahun ini, aku hanya bertahan." Ingat bagaimana dirinya menahan rasa rindu yang menggebu.


"Terimakasih sudah bertahan sayang. Sekarang ijinkan aku menjaga mu seutuhnya. Mencintaimu selayaknya. Mau kan San?" Menunggu jawaban Sandra yang masih juga menggantung.


"Iya Fan.....aku mau. Aku yakin Fan, aku yakin kamu akan selalu bisa mengarahkan ku. Tapi aku mohon jangan habis cintamu untukku." Pelukkan tangan Jofan semakin erat.


Keputusan sudah di sepakati, Jofan bahagia Sandra mau mendengarkan permintaannya. Tentu tidak mudah, dirinya juga berulang kali melakukan kesalahan yang membuat Sandra ragu. Kekanakan karena sama-sama egois dengan kemauannya.


***


Tidak lagi Ayu merasakan kegundahan, lega melihat Sandra dan Mas Jofan kembali bersama bahkan memutuskan akan segera menikah. Hadiah yang sangat Ayu tunggu sejak lama. Pernikahan kedua sahabatnya yang menjalin cinta dengan indah.


"Mommy senang yah?" Ayu spontan mengangguk tanpa menoleh ke Ranu, tangannya masih sibuk melihat foto-foto lama di galeri ponsel nya.


"Lihat Bang, Tante Sandra cantik kan?" Pujinya. Menatap penuh cinta kasih.

__ADS_1


"Cantik, tetap Mommy yang paling cantik di mata Abang." Memeluk hangat lengan Ayu.


"Abang bisa aja, lihat ini. Kita dulu lucu ya Bang." Senyum-senyum mengingat kenangan saat foto di ambil.


"Mommy bahagia?" Mengangguk penuh bahagia. "Asal Mommy bahagia Abang lega." Mengeratkan pelukan nya.


"Abang.....jangan ganggu Istriku ya Bang. Cepat tidur sudah malam." Duduk di tengah-tengah tanpa permisi. Wajah Putranya yang kesal membuat Malik senang.


Malik paling tidak rela membiarkan siapa saja memeluk kesayangannya berlama-lama. Hanya dirinya pemilik Ayuna seutuhnya. Bahkan Putranya sendiri harus paham.


Ranu yang sudah biasa dengan sikap Daddy nya pasrah saja, memang tidak ada yang boleh memeluk Mommy nya lama termasuk dirinya. Kecuali keinginan Mommy nya sendiri. Berdiri menatap wajah Mommy nya yang masih terlihat sangat bahagia.


"Abang nanti ada kegiatan camping ya Dad. Minggu depan." Senyumnya Mommy nya memudar.


"Dimana Bang?" Tanya Malik yang belum menyadari perubahan raut wajah Ayu.


"Tempat biasa Dad." Ayu meremas jari tangannya yang tiba-tiba berkeringat.


"Mommy ok?" Tanya Ranu yang melihat Ayu tampak tidak suka. "Hey....Mom." Duduk di depan Ayu, menatap Ayu yang menunduk. "Bicara Mom, kalau tidak di ijinkan Ranu ok. Tidak masalah Mom." Mencoba meyakinkan Mommy, Putra nya tidak akan memaksa.


"Mom Ok Bang. Mom cuma kaget aja. Abang boleh kok ikut." Mencoba menutupi sedihnya. Tidak mau membuat Ranu kecewa. Tatapan matanya berantakan, tidak fokus dan Ranu tahu betul.


"Jangan ragu bicara kalau Abang tidak di perbolehkan pergi. Abang ikut apa mau Mom." Ucapnya bijak. Ranu paling tidak bisa melihat Ayu mengalah demi dirinya.


"Abang…….gak gitu loh, Mom ok. Mana mungkin Mom larang Abang ikut kegiatan sekolah. Abang ada-ada saja." Mencoba mengelak meski wajahnya tidak bisa berbohong.


Malik memberi isyarat agar Ranu tidak bersikeras dan berdebat.


"Ok, Abang ke kamar yah. Love u Mom." Ucapnya mengecup kening serta pipi Ayu. "Tidak boleh sad, Abang sayang Mommy." Ayu menatap wajah Putra.


"Mommy juga sayang Abang. Istirahat ya Bang, besok Mommy ikut ke sekolah Abang pagi." Memeluk hangat Putranya agar tahu dirinya baik-baik saja. “Mommy Ok.”


Salah Ayu tidak membaca dengan teliti undangan sekolah yang dia dapatkan. Hanya membaca tanggal dan waktu tanpa membaca rangkaian acara yang ada di halaman kedua surat undangan. Dirinya dibuat terkejut saat Ranu tiba-tiba membahas camping.


Malik tidak bicara apapun. Tidak sanggup mulutnya bicara, takut Ayu mengingat kejadian buruk beberapa tahun silam yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Mau tidur sekarang Mom?"


"Iya, aku sangat lelah Kak."


"Ayo istirahat, besok aku temani ke sekolah Abang." Malik tidak akan membiarkan Ayu menghadapi ketakutannya seorang diri.


Mengingatnya saja Malik tidak mengijinkan, apalagi membiarkan Ayu tertekan dan merasa terancam.

__ADS_1


__ADS_2