Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Serpihan Kaca


__ADS_3

Hari ini Malik memutuskan untuk mengikuti kemauan Ayuna yang memintanya bekerja tanpa beban pikiran atas bagaimana kondisi dirinya. Ayu meminta waktu agar bisa menjalin lagi hubungan persahabatnnya yang sempat renggang dengan Iin. Sahabat masa kecilnya yang kini menjadi kolega bisnis suaminya.



Malik selepas subuh masih memeluk Ayuna yang belum melepas mukena nya. Suaminya bertingkah seolah akan meninggalkannya dalam waktu yang lama. Padahal pekerjaannya hanya sampai sore dan bisa kembali lagi ke Apartemen.


Tetap saja Ayu harus meladeni tingkah kekanakan suaminya yang membuatnya merasa begitu di cintai.


Bayi di dalam perutnya juga seolah tahu jika Daddy nya akan pergi. Merasa nyaman dengan Malik yang memeluknya padahal biasanya pagi-pagi Ayuna akan bolak balik kamar mandi memuntahkan isi perutnya.


Baby sangat bersahabat dengan keadaan, membuat Malik tidak ada alasan untuk tidak pergi meninjau pembangunan proyeknya yang dikerjakan dengan Karang. Malik sudah memastikan CCTV di setiap sudut rumahnya berfungsi dengan baik. Tidak mau kecolongan meski ada Biru dan Mawar yang Malik minta tidak lengah menjaga Ayu selama dirinya pergi.


“Mommy kenapa yakin sekali meminta Daddy pergi. Padahal Aldo saja sudah cukup loh Mom. Daddy tidak perlu sebenarnya datang ke sana.” Ayu menatap wajah Malik yang begitu nyaman di atas pangkuannya.


“Karang meminta Kakak yang menilai kinerjanya. Mungkin dia akan yakin jika sudah mendapat penilaian dari Kak Malik. Aku mendukung permintaan Karang, toh tidak merugikan mu Dad.” Pandai sekali meyakinkan Malik.


“Siapa bilang aku tidak rugi? Rugi besar Mom, aku harus melewatkan seharian penuh waktuku dengan wanita paling cantik di dunia.” Ayu tersenyum, tersipu malu mendengarnya. “Mommy kenapa sangat cantik? Apa rahasianya Mom?” Ayu menutup wajahnya malu-malu.


“Jangan mulai ya Kak, aku malu. Cepat bangun, aku mau siapkan sarapan dan bekal untuk Daddy makan siang di sana, dan untuk anak-anak ku.” Malik bukannya bangun malah mengeratkan pelukkanya di pinggang Ayu.


“Tidak perlu masak Mom, aku sudah meminta Anna antarkan bekal ke sekolah dan untuk makan siang di rumah. Santai Mom, jangan membuat ku enggan untuk beranjak.” Ayu menegakkan duduk nya.


“Kak.....apa Kak Malik kenal dengan sahabat Kak Anna yang kemaren datang ke kantor?” Tanya Ayu tiba-tiba karena merasa penasaran.


Malik menghindari tatapan mata Ayu yang penuh selidik. “Daddy tidak kenal.” Jawab Malik dengan malas.


“Ihhhh bohong, dia bilang teman SMP Kakak dulu. Kenapa? Gak ada yang salah kalau teman datang berkunjung Kak.” Malik ingin mengigit pipi bulat istrinya yang menggemaskan. Bisa-bisanya tidak menaruh curiga sedikit pun pada wanita asing yang datang.


“Kau tidak cemburu?” Ayu sedikit berfikir. Menggeleng pada akhirnya membuat Malik sedikit kecewa.


“Apa aku perlu cemburu? Apa dia wanita yang baik? Aku penasaran, aku merasa ada yang aneh dengan nya Kak.” Malik terbahak, kenapa istrinya bertingkah seperti sedang menyelidiki wanita asing yang masuk di hidupnya.


“Kau takut dia macam-macam dengan ku?” Ayu menggeleng. “Lalu apa yang cintaku ini takutkan?” Ayu mendekatkan duduk nya. Serius sekali tatapan matanya.


“Agak lain sikapnya.” Ayu ingat bagaimana dia tahu nama panjang Ayu yag baru pertama bertemu dengannya. “Dia baik kan?” Malik mengedikkan bahunya. Dirinya juga sudah sangat lama tidak bertemu dengannya.


“Sebaiknya jangan terlalu dekat jika Mommy merasa dia kurang beres sayang.” Ayu mengangguk. Memang dia tidak nyaman, ramahnya berbeda dengan manusia normal pada umumnya.


“Ya sudah, jangan terlalu di pikirkan. Aku hanya akan lebih hati-hati, dan semoga saja ketakutan ku tidak benar. Dia terlihat manis.” Ayu mencoba membangun rasa percayanya yang terkikis karena sikap dan keramahannya mengingatkan dengan masa lalu kelamnya yang sangat menyakitkan.


Tok...tok...tok....


“Mommy....Mom. Ini Abang, kenapa belum turun juga Mom.” Ranu sudah menunggu sepuluh menit setelah siapkan sarapan dan Mommy nya belum juga turun, rasa khawatirnya muncul saat Mommy nya tidak beraktifitas seperti biasanya.


“Masuk sayang, sini Nak.” Ranu membuka pintu. “Ohhh....jadi karena Daddy Mommy ku tidak turun-turun ke bawah?” Ayu mengangguk. Senyum nya cantik sekali sambil melebarkan tanganya minta di peluk Ranu.

__ADS_1


“Apa sih Bang, Daddy kan hari ini pergi sampai malam. Jadi Daddy sedang isi daya supaya full.” Ucapnya dengan nada memelas.


“Tapi Mommy melewatkan sarapannya Daddy! Ayo turun Mom, Abang sudah buatkan nasi goreng kesukaan Mommy.” Mata Ayu berbinar, sudah lama sekali tidak mencicipi nasi goreng buatan Putra nya yang enak sekali di lidahnya.


“Ayo.....Abang tahu saja Mommy lapar.” Ayu mengulurkan tangannya. Malik akhirnya bangun melihat Ayu begitu senang di buatkan nasi goreng oleh Ranu.


“Daddy di buatkan gak Nak? Daddy juga laper loh.”


“Hmmmm....cepat turun. Cuci muka Dad, Daddy kucel sekali.” Ledek Ranu yang mendapat tatapan tajam oleh Daddy nya.


“Kalian duluan, Daddy mau mandi dulu dan siap-siap jalan.” Ayu mendekat pada Malik yang berdiri tidak jauh darinya.


“Mau Mommy temani kah?” Malik menggeleng. Mencium kening Ayu yang kini sudah melepas mukena nya. Ranu membantu Ayu melipat dan menyimpannya di lemari.


“Semua barang-barang Daddy sudah siap. Mommy makan saja temani anak-anak sarapan ya Mom. Mommy juga makan yang banyak.” Ayu menganguk. Berjalan di gandeng Ranu menuruni tanggan menuju ruang makan.


“Abang......enak sekali nasi gorengnya.” Ranu tersipu mendengar makanan buatannya di puji Hanum. “Nanti ajari Kak Hanum ya Dek.” Ranu mengangguk.


“Nasi goreng buatanku tidak kalah enak, nanti aku buatkan.” Mahes tersenyum melihat Hanum malu-malu menatapnya. “Tidak bohong Han, sungguh enak makanan buatanku.”


“Mereka berdua pandai memasak. Mommy saja suka masakan Kakak dan Abang, punya cita rasa yang berbeda dan punya kelebihan masing-masing.” Mahes tersenyum, Mommy nya sedang melerai. Padahal Mahes tidak sedang kesal, dia sedang menggoda Hanum.


“Sungguh Mom? Tapi Mommy pernah muntah karena makanan buatan Kakak.” Isengnya membuat Ayu membola.


"Serius sekali cantik ku ini." Mahes membelai lembut tangan Mommy yang ada di genggaman nya.


“Ihhhh....Kakak goda in Mommy yah! Mommy laporkan Daddy yah.” Mahes tertawa mendengarnya. Lucu sekali Mommy nya yang bertingkah menggemaskan.


“Kak.....suka sekali goda in Mommy ku.”


“Mommy ku juga.”


“Mommy Hanum juga.”


Hahahahaha........


Mereka terbahak melihat Hanum ikut dalam perdebatan sengit yang mereka lakukan untuk memulai pagi mereka yang akan penuh warna. Seru sekali sampai suara tawa mereka terdengar oleh Adam yang baru saja masuk ke dalam Apartemen.


“Seru sekali....” Adam duduk ikut tersenyum meski tidak tau apa yang sedang mereka tertawakan bersama.



“Kita makan nasi goreng sama-sama ya Pih. Abang yang masak.” Ucap Ranu dengan bangga. Adam menatap nasi goreng yang begitu terlihat lezat.


__ADS_1


“Dokter tumben sekali pagi-pagi ke sini?” Adam mengerutkan dahinya. “Maksud ku, biasanya sibuk sekali di rumah sakit sampai tidak sempat berkunjung.” Ayu tersenyum dengan manis.


“Mau cek kondisi bayi kecil yang ada di perut mu sayang. Vitamin dan suplemen juga sudah jadwalnya aku cek.” Ayu mengangguk paham, selalu saja berhubungan dengan dirinya.


“Papih memang terbaik, Kakak love banyak sekali Pih.” Adam tidak menanggapi. Anak nya pandai sekali berkata-kata manis jika menyangkut wanita kesayangannya. “Tidak di balas love nya Kakak? Aku adu Mamih ya Pih.” Ancam Mahes yang tidak mempan. “Benar loh Pih.” Adam mengusak rambut Putra nya yang menggemaskan. “Aku adu nih yah, Papih jangan menyesal.” Adam hanya menggeleng tidak mau terpancing.


Tidak lama Iin datang setelah anak-anak sudah sekolah dan rumah hanya tinggal dirinya dan Mawar. Mereka sedang nonton film korea di ruang santai dengan di temani cemilan kesukaan Ayu.


“Mau masak apa untuk makan siang Yu? Aku kemarin buat sup iga dan rasanya enak sekali, Putriku dan Karang makan sampai nambah Yu.”


“Benarkah?” Iin mengangguk. "Mau buat di sini? Kebetulan di kulkas ada bahan-bahannya. Kak Malik belanja kemarin.” Iin mengangguk setuju.


Belum juga beranjak, bel rumah nya kembali berbunyi. Kali ini yang datang Anna dengan sahabatnya yang membuat Ayu menarik nafasnya cukup panjang.


"Pagi......makanan datang." Teriak Anna penuh semangat.


"Hay semua." Sapa Alana ramah.


“Aku siapkan makanan nya ya sayang. Setelah itu makan yah.” Iin beranjak meraih tentengan di tangan Anna.


“Biar aku saja. Kak, aku ingin membantu.” Anna tidak enak hati namun akhirnya melepaskan dengan ramah.


“Apa tidak merepotkan?” Iin menggeleng. “Baiklah. Terimakasih banyak ya Iin.” Iin mengangguk senang.


Iin menata semua makanan dengan rapih di atas meja makan. Indah di pandang mata.



Dada Iin berdegub kencang melihat Ayu berjalan cukup kencang menghampiri ke arah nya. Dirinya di kuasai rasa iri melihat Ayu dikelilingi begitu banyak orang yang selalu ada dan mencintainya dengan sangat tulus.


Iin mengalihkan pandangan matanya. Menetralkan rasa kesalnya yang begitu besar sampai rasanya ingin melemparkan piring yang saat ini ada dalam genggamannya.


Awwww.......


Suara teriakan Alana berhasil membuat semua orang berlari dengan cepat ke arahnya, terutama Mawar yang melindungi Ayu dari bahaya.


Alana terlihat jatuh terduduk, memegangi kakinya yang saat ini mengeluarkan darah cukup banyak. Anna lari tergopoh ke arahnya. Mencoba meraih kaki yang Alana pegang dan melihat apa yang ada di baliknya.


“Ya Tuhan....bagaimana bisa ada serpihan kaca di atas lantai! Kau pasti kesakitan ya Al, tunggu sebentar.” Iin mendekat ke arah Alana dengan langkah ragu-ragu. Menyodorkan tissu yang mengharuskannya berjongkok di dekat Alana.


“Mawar cepat telpon dokter Adam. Kak Alana bisa infeksi kaki nya.” Mawar meraih ponselnya, tangan Ayu gemetar melihat darah yang keluar cukup banyak dari kaki Alana.


Alana menarik tangan Iin yang sedang mencoba membantunya membersikan darah di kaki nya. Tangan Iin terlihat sekali gemetaran.


“Bukan begini cara membalas luka hati mu bodoh. Kau bisa saja tertangkap sebelum berhasil membalas sakit hatimu!” Bisik Alana di telinga Iin yang sontak menatap tajam wanita di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2