
Kedua Putra nya berjaga, mata mereka mengawasi tanpa lelah wanita kesayangannya yang saat ini terlihat begitu menderita. Bukan inginnya, tapi keadaan membawa tubuh kecilnya menerima hadiah indah yang begitu dirinya cintai.
"Mom, yakin tidak mau hubungi dokter atau semacamnya?" Ayuna menggeleng. Rasanya bisan sekali terus datang pada mereka.
"Baby sepertinya hanya sedang ngambek Kak, jangan khawatir yah. Nanti juga baik kok." Mahes lemas mendengarnya.
"Tapi sudah semalaman Mommy terus mual Mom. Aku takut Mom." Ayu duduk di antara kedua Putra nya.
"Mommy tidak bisa bayangkan bagaimana nasib Baby jika dia perempuan. Kalian akan se protektif ini kah?" Gemas menatap mata kedua Putra nya yang sedang khawatir.
"Maybe....you is number one." Mahes mencubit gemas hidung mancung Mommy nya.
Ayuna tidak bisa istirahat, semalaman perutnya mual mengeluarkan semua isi makanan yang dirinya makan. Mahesa dan Ranu bergantian menemani nya ke toilet.
Ayuna melarang anak-anak nya merepotkan orang lain, mengancam kalau tidak akan dapat kiss darinya selama satu tahun.
Lemas sekali kelihatannya, tapi wajahnya masih segar meski muntah berkali-kali. Ayuna meminta anak-anaknya tidak memberikan info juga pada Daddy tentang kondisinya. Ayuna tidak mau Malik semakin kerepotan. Isi kepalanya saat ini pasti sudah sangat rumit, tidak mau menambahnya.
Beruntung ada Ajeng dan Anna yang membantu Ayu agar merasa lebih aman. Ayu merasa senang saat bercengkerama dengan mereka, meski keadaan perutnya tidak bisa dia pungkiri mualnya. Anna dan Ajeng sudah lebih santai melihat kondisinya, berbeda dengan para lelaki.
Setelah lelah bercerita kesana kemari tentang pengalaman hidup, mereka menunggu dengan sabar kesayangan mereka, Malik dan yang lainya sambil menonton film, Ajeng memilih menyiapkan makanan untuk bekal mereka di perjalanan nanti. Ajeng tahu anak-anak nya tidak makan dengan benar.
Kondisi seperti ini sangat beruntung ada Ajeng yang bisa terlihat begitu santai. Ayuna meski tidak menampakkannya, dia jelas sekali sangat khawatir. Anna lebih terlihat kepanikanya, wajahnya tidak berhenti berkerut dan senyum cantiknya hilang.
Kalau anak-anak sangat percaya Daddy nya akan kembali dengan aman, begitu juga Hanum. Dia tidak banyak bicara.
"Masih di mana katanya Bang?" Tante Ajeng pada cucu nya. Ranu meraih ponselnya.
Ranu : Dad. Masih butuh berapa lama sampai ke sini?
Malik : Tidak lama Bang. Tidak lebih dari lima belas menit.
Ranu : Ok
Malik : Everything ok Boy?
Ranu : off course.
"Anak-anak?" Tanya Rey yang di balas senyuman oleh Malik. "Mereka tumbuh sangat membanggakan. Aku bangga pada kalian yang mengurus mereka dengan baik." Ucap Rey dengan tulus.
"Mereka kuat, lembut, penuh kharisma karena tumbuh di tangan wanita-wanita yang sangat menakjubkan. Kau setuju?" Mereka saling bertukar tatapan.
Bagaiman tidak, Mahes dan Ranu punya karakter lembut dan penuh kasih sayang dari Ayuna. Mereka kuat dan perkasa seperti Sarah, langkah dan pembawaan mereka penuh kharisma seperti Anna yang Malik kenal. Mereka hebat karena wanita-wanita hebat yang membesarkan mereka.
"Aku tidak lagi khawatir Rey. Aku punya mereka dan kalian semua." Menatap Rey, Oji dan Hans yang ada di dalam helikopter yang sama dengan dirinya.
Malik terpaksa menggunakan kendaraan yang paling cepat demi keselamatan Melani. Tidak mau langkahnya lambat dan membuat Melani mengalami hal buruk. Dirinya sudah cukup teledor sampai kejadian seperti ini menimpa Adiknya.
Helikopter mendarat tidak jauh dari Hotel yang mereka tempati.
"Serahkan pada kami dari sini. Jangan ragu, kalian tahu bagaimana aku ingin menjaga bahagianya." Ucap Oji yang ingin Malik berbagi tugas dan segera kembali pada Ayu.
__ADS_1
"Aku tidak lagi ragu Ji, sudah lama hilang ragu itu. Sejak anak-anak mencintai mu dengan begitu besar, aku tahu sejak saat itu kamu sudah tulus pada kami." Oji menahan diri agar tidak tersenyum.
"Sekarang pergilah, tolong kabari perkembangan Melani setelah sampai di rumah sakit." Pinta Malik tulus. Oji hanya mengacungkan ibu jarinya. Sedikit memaksakan senyumnya, rasanya dirinya harus bisa sedikit melunak seperti yang lainnya.
Setelah memastikan mereka sudah terbang dengan selamat menuju Jakarta, Malik dan Rey meneruskan perjalanan yang tidak jauh menuju hotel dengan mobil. Lega semua bisa di lewati meski banyak kesakitan yang harus menimpa sahabat istrinya yang sudah Malik anggap seperti adik perempuannya.
"Melan pasti kuat. Kita harus terlihat baik-baik saja Al. Pastikan kita menyudahi rasa khawatir dan sedih seperti keinginan Melani Al." Malik melenturkan otot-otot mukanya sebelum turun dari mobil.
Berjalan beriringan dengan Rey menuju hotel dan menemukan semua kesayanganya ada di lobby hotel.
"Kenapa menunggu di luar! Dingin di sini Mom." Pelukan menyambut kedatangan mereka.
"Kalian baik-baik saja kan?" Ayu menelisik sekujur tubuh suaminya dan Kak Rey.
Rey membubuhkan kecupannya di puncak kepala Ayuna.
"Lihat wajah Kak Anna. Dia pasti seperti itu sejak tadi kan?" Bisik Rey membuat Ayuna tersenyum, dia baru sadar Anna terlihat begitu tegang.
"Tapi gemas." Bisik Ayu yang membuat Rey juga tersenyum.
"Aku baik sayang, tidak terluka." Rey memutar tubuhnya, mengundang tawa semua orang. Anna lega sekali melihat mereka kembali dalam keadaan sehat dan selamat.
"Omah mana Kak?" Tanya Malik yang tidak melihat keberadaan Ibunya.
"Mamih baru selesai Nak. Kalian mendadak sekali buru-buru ingin pulang." Mahes dan Ranu lari ke arah Omah dan Opah mereka yang baru sampai. Menuntun di kedua sisi. "Omah masih betah sekali di sini padahal."
"Lain kali kita datang lagi Mih." Malik menyesali liburan mereka yang berakhir kacau.
"Ok Nak, Daddy hanya suka lupa."
Mereka sudah berada di pesawat pribadi yang Malik miliki. Tidak mau mengambil resiko jika harus mengunakan helikopter. Mengingat kondisi Ayuna yang sedang berbadan dua. Malik memilih berkendara sedikit lama namun lebih terjamin keamanannya untuk kondisi Ayuna.
"Mom...." Ranu menyeka keringat di kening Mommy nya dengan lembut. Daddy nya sedang ke toilet. "Mommy merasa nyaman?" Ranu tahu kondisi Mommy nya saat ini sedang tidak baik.
"Mommy akan tahan sekuat tenaga Bang. Daddy pasti tidak akan tahu." Ayu takut Malik mengkhawatirkan kondisi nya. Tersenyum palsu pada Putranya yang begitu khawatir.
"Abang kira Daddy pasti akan cepat sadar." Memberikan pelukan agar Mommy nya nyaman. "Tidak apa Mom, kita semua bersedia dan dengan senang hati membantu Mommy."
"Tentu saja, terutama Daddy." Imbuh Malik yang hanya dengar ujung pembicaraan mereka saja. " Kalian bicara apa serius sekali?." Ranu terkejut Daddy nya tiba-tiba muncul.
"Tidak ada, hanya bicara hal biasa." Ayu mengedipkan matanya membuat tanda. Ranu mengecup pipi Mommy nya merasa gemas.
"Abang sana kembali, Daddy yang temani Mommy." Meminta Ranu kembali ke kursinya. Ranu akan tersingkir dari sisi Mommy nya saat Daddy nya di dekat Mommy. Tidak mau menjadi nomor dua Daddy nya. Anaknya saja sampai di beri peringatan agar tahu diri saat ada dirinya.
Pesawat sudah mulai terbang, tidak lama dari itu Ayuna merasa perutnya tidak nyaman. Keringat mulai membasahi keningnya yang sedang menahan mual. Tidak tega membuat orang lain kerepotan tapi tubuhnya tidak bisa bertahan lebih lama.
"Mom.....Mommy ok? Kenapa? Tidak enak badan?hmmm? Kenapa sayang?" Ayuna hanya menggeleng.
"Maaf, aku tidak tahan. Aku mual Kak." Mahes dan Ranu yang duduk dekat dengan mereka berdiri menghampiri.
__ADS_1
"Keluarkan saja Mom. Jangan di tahan." Ucap Mahes dengan lembut. Ranu hanya memperhatikan.
"Ke toilet saja, aku bisa jalan pelan-pelan Dad." Malik menggeleng. Bahaya menurut Malik.
"Pakai ini saja." Malik mengeluarkan makanan dari kantung plastik nya. "Ya Mom, di sini saja." Ayu nampak ragu.
"Nanti kotor, bau. Mommy tidak mau." Ayu menggeleng.
"It's ok Love. Daddy tidak keberatan. Apapun akan Daddy lakukan. Jangan merasa tidak nyaman Mom." Kedua Putra nya juga menatap merasa kasihan sejak tadi Mommy nya bolak balik muntah.
Setelah menimang akhirnya Ayu mau mengeluarkan isi perutnya yang hanya cairan dalam plastik yang ada di tangan Malik.
"Sorry." Tangan Malik menyeka sisa cairan dari mulut Ayuna.
"Mommy jangan pernah ragu untuk melakukan apapun Mom. Lakukan saja, Mommy boleh kotori baju ku dan tubuh Daddy. Jangan ragu Mom." Ayu masih merasa tidak enak perutnya. Tapi rasanya sudah tidak kuat lagi untuk muntah. Tubuhnya sangat lelah.
Malik memeluk erat tubuh istrinya. Kedua Putra nya sudah duduk dengan tenang di kursinya.
"Hmmmm.....Daddy wangi." Ayu kesulitan mencium leher Malik. "Mencium leher Kak Malik membuatku tidak mual."
"Benarkah?" Ayu mengangguk. Malik menepuk paha nya. Meminta Ayu duduk di pangkuannya.
"Bolehkah? Di sini?" Malik tersenyum merasa lucu. Mengangguk agar istrinya tidak takut.
Tanpa pikir panjang Ayuna naik ke pangkuan Malik, dirinya sudah sangat lelah merasakan mual di perutnya. Ayuna memejamkan matanya di pelukan Malik, nyaman sekali. Tidak butuh waktu lama matanya sudah terpejam.
Malik : Sejak kapan Mommy mual?
Mahesa : My Mom takut Daddy khawatir. Mual nya sejak kalian pergi.
Malik : Lama sekali Kak, kenapa tidak kasih kabar pada Daddy?
Ranu : Demi keselamatan kalian semua. Mommy ingin kalian di luar sana bekerja dengan tenang. Aku juga kesal ingin kasih kabar, tapi Mommy larang.
Rey : Kalian bersekongkol ternyata. Lain kali tetap kabari kami. Semua bisa di selesaikan tidak dengan korbankan Mommy boy's
Malik : Papah Rey benar. Kalian harus tetap beri kami kabar. Apapun, kita orang tua akan selesaikan.
Mahes : Sorry...,kita juga takut yang Mommy takutkan menimpa kalian.
Rey : Good, lain kali kami perlu tahu kabar apapun ya Nak.
Mereka saling bertukar tatapan.
Malik memeluk tubuh istrinya yang sudah sepenuhnya terlelap di pelukannya. Dia memang kesulitan tidur, apalagi jika mual nya sedang kambuh. Dia semakin menderita menahan kantuknya yang terganggu karena mual.
Malik tersenyum melihat tingkah konyol kedua Putranya.
__ADS_1
Malik menciumi Ayuna penuh syukur, dia selalu berusaha sekuat mungkin agar tidak menimbulkan keributan. Sakitnya bahkan di sembunyikan demi kedamaian orang-orang yang dia sayangi.
"Oji.... ngomong-ngomong para penculik Melan dan anak buahnya kau apakan?" Pesan Malik yang merasa penasaran dengan ganjaran yang Oji berikan pada mereka semua.