
Dalam perjalanan Malik menerima pesan dari Rey jika anak-anak sudah dirinya jemput dan kini mereka berada di restoran miliknya. Keduanya tidak sabar ingin belajar masa spagethi yang sudah Rey janjikan.
Hanum tidak suka memasak, dia lebih memilih belajar menyelesaikan tugasnya yang menumpuk.
Malik memutuskan berhenti di kedai cemilan untuk membeli beberapa makanan, teman mereka mengobrol. Hari ini pasti akan panjang. Ditambah Ayuna jarang sekali makan jika Malik perhatikan. Dia hanya makan sedikit dan minum vitaminya. Tidak banyak makanan yang dirinya makan seperti biasanya.
"Kakak beli banyak sekali, apa kita akan lama di sana?" Ayu antusias sekali ingin berlama-lama dan belajar menu baru. Pasti Kak Rey tidak akan diam saja saat di dapur, dia akan berkreasi dengan bahan-bahan makanan yang menggoda matanya.
"Ingat Mom, tidak di ijinkan hari ini belajar memasak. Daddy hanya ijinkan Mommy menonton anak-anaknya belajar masak." Memberi kecukupan sayang di punggung tangan Ayuna.
Sebelum sampai di sana, Malik ingin memastikan agar Ayuna tidak memaksa untuk berdiri di dapur. Hari nya sudah cukup melelahkan, Malik tidak mau Ayuna kelelahan.
"Iya, sudah berapa kali di peringatkan. Aku ingat Kak." Ayu tidak mau terus membuat suaminya dan yang lainya khawatir. Harus nurut.
"Good girl. Mommy tahu semua yang Daddy lakukan demi kebaikan kalian semua. Daddy tidak mau kalian terluka Mom." Mengelus perut Ayuna yang sudah mulai terlihat.
"Ok Daddy, percayalah pada kita Dad." Menirukan suara bayi.
"Sekarang pilih mana yang Mommy dan Baby mau makan." Ayu berjalan perlahan. Memperhatikan satu persatu Snack yang tertata rapi di etalase. Tidak ada satupun yang menarik minatnya. Melihatnya sedikit mual.
Ayu bergidik, tubuhnya suka aneh-aneh jika melihat makanan yang tidak sesuai dengan seleranya.
"Aku tidak tau Dad, bingung. Perutku juga jadi kenyang melihat itu semua." Ayu menutup mulutnya, tidak mau orang lain memperhatikan nya. Tidak sopan juga mual di depan makanan.
"Hmmmmmm......kenapa napsu makan Mommy akhir-akhir ini terus berkurang. Adakah yang bisa Daddy lakukan supaya kalian bisa menikmati makanan kalian?" Malik khawatir dengan kesehatan keduanya.
Malik membelai perut Ayu dengan lembut, buah hatinya yang kedua ini lebih banyak maunya. Malik terus merasa khawatir Ayu tidak bisa menanggung nya.
"Aku makan kan Kak. Meski tidak banyak, tapi aku tidak muntah hari ini." Malik memeluk Ayu, menenangkan dirinya sendiri yang khawatir berlebihan.
"Aku bisa belikan apa saja yang kalian ingin makan Mom. Jangan ragu memintanya Mom." Ayu sedikit mendorong dada suaminya yang tidak tahu tempat. Mereka jadi pusat perhatian.
"Malu, cepat ambil makanan yang anak-anak suka Dad." Malik tersenyum saat sadar. Banyak pasang mata yang melihat dan tersenyum gemas melihat mereka berdua.
Dengan cepat Malik memenuhi keranjang belanjanya, sesekali membiarkan anak-anaknya makan jajanan tidak sehat. Malik tidak mau anak-anaknya ketinggalan jaman hanya karena larangan nya yang berlebihan.
Meski tetap saja, Malik memperhatikan setiap takaran saji yang tertera pada tiap bungkus makanan yang dipilihnya.
Tring..... tring.... tring...
Ayu mencari anak-anak nya dan Kak Rey yang tidak ada di sana. Mereka pasti sudah masuk dapur. Tidak sabar melihat anak-anak memakai celemek.
"Ayu ...." Ayu melambai pada sahabatnya yang sampai saat ini masih bekerja di tempat Kak Rey. "Anak-anak ada di dapur Pak Rey." Ayu memeluk hangat Nayla.
"Mereka masak apa Nay?" Penasaran sekali.
"Dari yang kulihat sepertinya sejenis spagethi. Tapi tidak tahu juga karena ada beberapa bahan lain. Naiklah, pastikan sendiri Yu."
"Nayla gemukan sekarang. Aku lebih suka lihatnya. Terlihat lebih segar." Nayla mengarahkan tangan Ayu ke perutnya. "Benarkah?" Nayla mengangguk.
"Selamat Nay....." Penantian setelah hampir tiga tahun pernikahannya.
"Terimaksih Yu, berkat doa orang-orang baik yang tulus padaku. Aku sangat bahagia. " Nayla membelai lembut perutnya sendiri.
__ADS_1
"Tentu saja, aku juga sangat senang mendengarnya Nay." Ayuna tidak berhenti mengucap syukur.
"Aku akhir bulan ini berhenti Yu, aku diminta suamiku untuk fokus pada mereka saja." Ayu mengangguk ikut bahagia.
"Ahhhhh.....akhirnya Nay. Akhhhhh.....aku tidak bisa berhenti menangis." Ayu mengipas matanya yang terus berurai air mata.
Nayla ikut mengusap matanya yang juga basah. Bahagia punya sahabat yang tidak berubah meski hidup mereka jauh sekali berbeda bagaikan langit dan bumi. Nayla terharu.
Jika gadis lain mungkin Nayla sudah di lupakan, tapi Ayuna masih tetap manis dan hangat padanya. Tidak ada yang berubah, dirinya malah di sambut hangat layaknya saudara oleh semua orang.
"Hey gadis nakal. Berani sekali membuat istriku menangis." Tegur Malik yang baru masuk. Ayuna menggeleng, melarang Malik marah. "Kenapa kalian menangis?" Malik mendekati keduanya.
"Aku kembali ke belakang ya Yu. Maaf Pak, temanku ini memang cengeng sekali." Nayla sudah masuk ke dapur. Tidak sanggup dan takut Ayuna semakin menangis.
"Mendengar kabar bahagia kenapa menangis?" Kau seharusnya tersenyum." Malik yang tersenyum saat ini. Ayu menyeka air matanya. Bahagia sekali sampai air matanya tidak mau berhenti.
"Tidak mudah untuk Nay Kak. Dia mengalami banyak kesulitan. Aku tahu bagaimana Nay melewati semua ini." Malik tidak mau melanjutkan, yang ada istrinya akan semakin terbawa perasaan.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Rey bilang menunggu kita di atas. Dia sudah bawa alat-alat masaknya di sana." Ayu meraih tangan Malik yang terulur padanya.
Keduanya fokus membaca setiap instruksi dari lembaran resep yang sudah Rey siapkan untuk mereka berdua.
"Hay mom. I love you Mom." Sapa Mahes mewakili adik nya. Kembali fokus pada bahan makanan.
"Kakak dan Abang belajar yang benar. Nanti masak untuk Mommy." Anak-anak nya tersenyum.
"Tentu saja." Ranu menjawab penuh percaya diri.
"Don't say that cantik. Abang marah kalau Mommy bicara buruk tentang diri Mommy." Ayu tersenyum, anak-anak nya menatap menakutkan.
"Sorry...." Malu sekali kena omel Putranya.
"Diman Anna Rey?" Menatap Malik dan Ayu ragu. "Katakan saja, tidak apa." Malik meyakinkan agar Rey bicara.
"Anna di Bangkok." Malik menatap meminta penjelasan. "Melani ada pameran dan tidak mau absen. Anna khawatir jadi memutuskan untuk ikut." Wajah Rey juga sedih.
"Gadis nakal itu. Kenapa dia tidak berhenti sebentar saja padahal lukanya belum membaik." Malik merasa kesal. Melan tidak menurut padanya kali ini.
"Adam mengijinkan. Sepertinya Melan butuh ruang lebih besar agar tidak terfokus pada kesakitan ya. Adam membiarkannya, pekerjaan dan kesibukan yang membuat Melan bertahan Al." Ayu menggenggam tangan suaminya erat.
"Kita biarkan mereka dulu Kak. Jangan paksa, nanti mereka bisa semakin patah." Ayu mencoba membujuk Malik agar tidak memaksa kan kehendaknya.
"Akan aku tahan, mereka kalau sudah keterlaluan siap-siap saja berhadapan dengan ku." Malik mengepalkan tangannya.
"Coba percaya pada mereka Al, kita harus yakin agar mereka mengambil keputusan dengan percaya diri." Rey yakin keduanya harus merenung.
"Mom....coba masakan kita." Panggil Ranu penuh antusias.
"No.....Daddy pastikan dulu aman untuk Mommy makan." Malik memakai celemek. Sedikit tidak yakin tapi tetap ingin menghargai kerja keras keduanya.
__ADS_1
"Enak Dad?" Tanya Mahes penasaran.
"Lumayan lah, hidangkan. Biar Mommy coba." Keduanya melakukan tos mengapresiasi diri mereka sendiri. Tidak lupa mencoba juga hasil jerih payahnya.
"Ternyata tidak sulit Dad. Abang akan terus belajar." Malik mengacungkan jempolnya.
"Makan ya Mom, banyak cinta Abang dan Kakak di sini. " Ucap Ranu malu-malu, Mahes tersenyum dari tempatnya berdiri.
"Dimana Hanum?" Tanya Malik yang tidak melihat Hanum di dapur khusus milik Rey.
"Hanum sedang kerjakan tugas di rootrof Dad." Jawab Mahesa mewakili. "Tugasnya banyak."
"Sini Daddy antar spagethi untuk anak perempuan Daddy yang rajin belajar." Malik senang dengan kehadiran Hanum. Rumahnya jadi berwarna.
"Dia pendiam, tidak banyak bicara seperti Mahesa." Ejek Rey yang tahu Mahes naksir Hanum. Hanya sedang menggoda Putranya.
"Tidak yah, Kakak tidak bawel." Mencoba membela diri.
"Tapi Kakak memang lebih cerewet dari Mommy sekarang." Ranu jahil, biasanya dirinya yang kena bully.
"Daddy naik yah. Mommy habiskan makannya." Ayu mengangguk, perutnya masih terasa penuh.
"Sudah yah......jangan isengin anak Mommy." Ranu merengut, kalau dirinya pasti tidak dapat pembelaan. Ayu tertawa dibuatnya.
"Cantik ya Han?" Hanum berdiri dari duduknya. Menyambut Malik dengan pelukan hangat. "Masih banyak tugasnya Nak?" Hanum menggeleng.
"Sedikit lagi, Hanum hanya sedang menikmati udara sore yang sejuk." Malik melihat air mata di ujung mata Hanum.
Dia menyembunyikan semua lukanya, enggan merepotkan orang-orang yang saat ini membuatnya menjadi gadis paling beruntung di atas muka bumi ini.
"Hanum kangen Mommy?" Ingin menggeleng, tapi akhirnya mengangguk. Senyum indahnya sedikit pudar. Ada sakit yang tergambar jelas di wajahnya.
"Rindu sekali, Mommy pasti bahagia di sana." Mengusap sudut matanya.
"Bilang pada Mommy, Hanum sangat senang di sini. Jadi tidak perlu khawatir." Hanum tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya sakit menahan sesak di dada nya. Kehilangan satu-satunya keluarga yang dirinya miliki adalah mimpi buruk sepanjang hidupnya.
"Thanks Dad." Malik mengangguk. Membelai lembut puncak kepala Hanum. Membubuhkan kecupan di sana.
"Daddy yang berterimaksih karena Hanum percaya pada Daddy." Malik membawa Hanum kembali duduk.
"Aku lengkap saat ini. Ada kalian semua yang mencintai Hanum dengan tulus." Malik menghela nafasnya.
"Belajar yang benar, kelak kaki dan tanganmu akan memikul beban besar. Daddy yang sekarang urus semua. Kalau sudah waktunya tiba, Hanum harus bisa menerima semuanya." Meski tidak paham, Hanum mengangguk saja.
"Kak Rey, ada apa? Kenapa sedih begitu?" Rey tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Pandangan matanya kosong.
"Anna sebenarnya juga sedang kabur dari kesedihannya." Ayu menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa berbuat apa-apa Dek."
__ADS_1
"Masalah apa Kak? Apa Kak Anna sakit?" Rey menggeleng kan kepalanya.
"Bahagia Nay, Anna tidak benci. Dia hanya merasa tidak kuat jika harus menyaksikan Nay dengan mata kepalanya." Rey sedih Anna masih menyalahkan dirinya.