
Sarah dengan berlinang air mata mencoba bersikap setenang mungkin mengobati tangan Malik yang berdarah. Terluka karena memukul tembok dengan cukup keras, darah nya sudah tidak mengucur. Tapi punggung tangannya kini bengkak dan kehitaman.
Sakitnya sudah tidak terasa, dirinya sedang di kuasai khawatir yang begitu menyakitkan. Malik terlihat duduk dengan pandangan mata yang kosong. Entah sampai dimana dirinya bisa bertahan tanpa semestanya.
Malik takut sekali Ayuna mengalami trauma yang sudah degan susah payah dirinya coba lawan. Takut sekali kekuatannya runtuh mengingat kondisi kehamilan besarnya yang juga tidak mudah dirinya lalui.
Sudah sangat lama Sarah tidak melihat Malik sehancur ini. Dia hanya mampu menangis dalam diam, merasa tidak berdaya. Memikirkan bagaimana keadaan wanita yang dengan trauma nya yang masih begitu besar mengalami hal yang sama.
Malik termenung tidak bergeming sedikit pun. Sarah merasa gusar karena Malik tidak bicara satu kata pun. Dia hanya diam dan tidak protes dengan apapun yang dirinya lakukan. Malik laki-laki yang cukup berisik semenjak menemui semesta yang mampu merubah dirinya.
Hilang sikap dingin nya berubah menjadi laki-laki hangat yang penuh cinta. Sarah memeluk Malik dengan erat. Menpuk punggung laki-laki hebat yang sudah merawat dirinya dan keluarganya dengan sangat baik.
Sakit sekali sampai Sarah merasakan tubuh Malik yang kini bergetar. Sarah semakin mengeratkan pelukkannya. Malik butuh kekuatan besar untuk menumbuhkan percaya dirinya melalui semua ini.
Membiarkan Malik menangis dan menumpahkan sedihnya yang pasti cukup menyesakkan dada nya.
“Jangan sakiti dirimu Al. Ayu pasti baik-baik saja.” Suaranya parau, Sarah sudah begitu banyak menangis. Di tahan juga percuma, air matanya deras sekali mengalir tidak mau berhenti.
Cukup kewalahan Sarah hari ini. Dirinya harus menangani Sandra yang tidak sadarkan diri dan ternyata kondisinya saat ini tengah berbadan dua. Bahagia sekali, tapi mendengar Ayu di culik dan belum di ketahui keberadannya karena ponsel Ayu yang Malik beri pelacak di buang di tengah jalan membuat suasana begitu mencekam.
Anak-anak juga sangat terlihat hancur, mereka tidak banyak bicara seperti biasanya. Mereka anak-anak yang cukup manis, Sarah melihat mereka hanya termenung dengan linangan air mata yang sama pedihnya dengan yang dirinya rasakan.
Semua orang tengah berusaha mencari dengan berbagai cara. Mulai dari nomor kendaraan yang membawa Ayu yang mereka berhasil temukan di pinggir jalan dengan keadaan kosong. Ponsel yang di buang di pinggir jalan tidak jauh dari mobil yang mereka temukan, penculik sepertinya sudah sangat terlatih.
Mereka sudah menyiapkan semua begitu matang. Malik tidak bisa melacak dengan cepat seperti yang biasanya bisa dirinya lakukan. Lamanya kali ini punya banyak pengalaman, melihat bagaimana rapih dan apik nya pekerjaan mereka sampai Malik tidak bisa melacak keberadaan mereka.
“Aku harus apa? Bagaimana jika Ayuna tidak bisa bertahan, dia sakit Sar. Dia masih sering sakit jika mengingat kejadian dulu. Tapi sekarang.....” Malik mengusak rambutnya kesal. Kesal karena tidak bisa menjaga Ayu dengan baik. Malik banyak menyalahkan dirinya.
“Tenang Al, aku yakin Ayu akan baik-baik saja. Dia akan kembali pada kita dalam keadaan sehat tidak kurang apapun.” Malik hanya diam, memandangi ponselnya yang sedang dia tunggui kabar tengang Ayuna yang masih dalam pencarian.
Anak-anak masih duduk menunggu perkembangan pencarian Mommy mereka di temani Riyan yang juga sudah sampai. Rumah sakit ramai sekali, terutama ruangan Sarah. Untung saja ruangan miliknya besar, Sarah tidak bisa meninggalkan Sandra dan ingin tetap mengawasi anak-anak.
Sarah dengan segala kesibukan pekerjanya mencoba tetap fokus menjaga anak-anak agar tetap dalam kondisi baik meski keadaan pasti sangat menyiksa mereka.
__ADS_1
Mereka pasti sangat terluka, bingung dan menyalahkan diri mereka. Mommy nya di culik saat sedang mengantarkan makan siang untuk mereka. Hanum yang terisak sampai tertidur di sofa setelah Sarah beri obat penenag, wajahnya begitu kuyu dan sedikit demam.
Hanum menyalahkan dirinya karena semua terjadi karena Mommy berusaha menyelamatkannya. Hanum terpaksa Sarah beri obat penenang agar bisa istirahat. Sarah tidak mau Hanum kelelahan dan bisa membekas menjadi trauma panjang yang tidak akan mudah di sembuhkan.
Sarah mencoba tenang dan kuat demi mereka semua. Meski linangan air mata tetap tidak bisa dirinya tahan mengingat bagaimana dulu dirinya dan Ayu melawan Kala saat menculik dirinya.
Ayu sangat kuat berusaha tegar melawan kondisi mereka mengingat kondisi Sarah yang saat itu tengah mengandung Mahesa. Ayu banyak berkorban, Sarah sedih mengingat Ayu yang dulu berkorban banyak untuk dirinya.
Sarah menyelimuti tubuh Hanum, mencium kening anak perempuan yang kini mengisi keluarganya dengan kehangatan sikapnya. Baik sekali sampai semua orang begitu mudah mencintai Hanum dengan mudah.
“Nak....boleh tidak bantu Mamih. Kalian makan ya sayang, Mamih sudah siapkan. Mommy kalian akan sedih jika kembali nanti kalian belum makan.” Sarah mencoba meminta mereka tetap berpikir positif, meski sulit sekali.
Tidak ada yang menjawab, sekelam ini dunia yang dirinya huni jika wanita kesayangan yang orang-orang yang dicintainya sedang tidak baik. Sarah tidak memaksa, wajar sekali sikap mereka yang seperti ini. Ayuna begitu besar mencintai mereka sampai dirinya saja tidak bisa mengantikan posisinya di hati anak-anak.
Mereka bilang ketiganya punya tempat berbeda dan tersendiri di hati mereka. Porsinya tidak bisa di samakan, tapi mereka mencintai ketiganya dengan tulus.
Besar sekali sampai tidak bisa dibandingkan antara Mommy, Mamih dan Mamah mereka. Tempatnya istimewa di setiap cinta yang mereka sudah terima.
Kondisi kehamilan nya masih sangat rentan. Sandra harus istirahat beberapa hari di rumah sakit, Sandra bahkan belum di beri tahu kondisi mencekam yang tengah mereka hadapi. Dia harus tenang, Sarah tidak mau ada lagi kesedihan jika sampai Sandra tau dan mengganggu kehamilannya yang masih sangat rentan.
Tring.....
Nomor tidak dikenal yang masuk, Malik membuka pesan yang begitu mengejutkan.
Kirim uang ke rekening atas nama Baskoro nomor 0873728191 sebesar 10 M jika ingin dia selamat.
Malik menekan penuh emosi ponsel yang ada di genggaman tangannya. Menghubungi nomor yang mengiriminya pesan. Jantungnya berdegub sangat kencang.
“Kau berani sentuh ujung bajunya saja habis kau Baskoro.” Ucapnya setengah berteriak. “Jangan menyentuhnya atau aku akan memberimu perhitunga, brengsek Kau!!!.”
“Hahahaha......santai, kirimkan apa yang aku minta dan aku akan melepaskannya.” Suara Baskoro begitu membuat Malik naik pitam.
“Sekarang akan aku kirimkan, tapi serahkan dulu istriku.” Semua mata tertuju pada Malik yang tengah bicara dengan orang yang menculik Mommy kesayangan mereka.
__ADS_1
"Lakukan kesepakatan, kau pasti akan membodohi ku. Bisa saja kau tidak mengirimkan uang yang aku minta setelah aku melepaskanya. Beri aku penawaran yang masuk akal." Ucapnya panjang lebar.
"Aku akan serahkan semua hartaku. Kembalikan istriku sekarang juga dan jangan membuatnya ketakutan, kau dengar Baskoro!" Malik bicara penuh emosi.
"Dia sudah aku urus dengan baik. Uang yang aku minta tidak ada nilai nya kan di mata mu." Baskoro masih saja belum yakin.
"Ya....kau benar, tidak ada artinya. Sekarang katakan dimana kalian. Aku akan serahkan uangnya setelah aku menjemput Istriku." Malik mencoba meredam emosinya.
"Tidak semudah itu. Jaminan apa yang bisa kau berikan? Kau bisa saja menipuku." Malik meremat rambutnya kesal.
"Baskoro....kau tahu aku punya banyak sekali uang. Aku tidak akan menukar istriku dengan uang yang tidak ada artinya. Jadi serahkan dia dengan aman, aku akan berikan dua kali lipat dari yang kau minta." Mencoba meyakinkan Baskoro.
"Aku akan letakkan dia di suatu tempat. Kirimkan aku uangnya sebelum kau menjempunya. Nanti aku akan info tempatnya."
"Tunggu....aku ingin bicara dengan istriku, toling berikan ponselnya." Baskoro menimang.
"Lima menit." Baskoro menempelkan ponsel pada Ayu yang di paksa duduk di pinggir jurang.
"Sayang....Mom...." Terdengar isakan yang tertahan. "Sayang, bertahan sebentar lagi ya sayang. Daddy sebentar lagi jemput." Malik bicara begitu lembut.
"Mmmmhhhh.......Aku tunggu Dad. Tolong bilang anak-anak Mommy baik-baik saja." Suaranya terdengar bergetar.
"Anak-anak tahu Mommy nya kuat. Tunggu ya sayang, Daddy pasti datang. Percaya pada Daddy sayang."
"I love you Mom." Mahes bicara dengan penuh sayang.
"Abang tunggu ya Mom, Mommy kuat ya Mom."
"Cukup. Aku akan infokan lokasinya." Baskoro menutup panggilan.
Malik tersungkur di lantai. Lemas sekali kaki nya yang dia coba untuk tahan demi menjaga semua orang tetap kuat. Mendengar suara Ayu yang begitu pilu mengiris hatinya.
"Daddy....you must be strong." Mahes dan Ranu memapah Daddy nya agar duduk dengan percaya diri di kursi. Mahes mengusap air mata yang membasahi wajah tampan Daddy nya.
"Abang butuh Daddy yang kuat untuk menjemput Mommy. Kuat Dad." Malik memeluk keduanya Putranya yang begitu hebat.
"Bos......" Suara Aldo menyita perhatian semua orang. "Kami sudah berhasil menemukan lokasi mereka." Malik tersenyum, ada harapan menemukan Ayu lebih cepat.
__ADS_1