
Tiba-tiba saja Malik terfikirkan tempat indah yang ingin dirinya kunjungi malam ini juga. Seperti ngidam yang tidak bisa di tunda, harus segera di lakukan karena Malik tidak tenang sebelum bisa melakukannya.
“Apa anak-anak tidak akan marah kita pergi diam-diam Kak?” Ayu senang tapi tidak tega meninggalkan anak-anak sendiri.
Malik membantu Ayu melepaskan mukenanya. Dirinya baru selesai shalat malam dan Malik tiba-tiba mengajaknya mengunjungi tempat indah yang dirinya juga ingin ke sana sebenarnya.
“Ada Om nya sayang, Adek pasti bisa jaga anak-anak tetap aman dan damai sayang.” Malik seolah tidak perduli. Yang ada dalam pikirannya hanya ingin segera mengunjungi villa miliknya yang ada di puncak.
“Adek suka sih main sama mereka, tapi nanti anak-anak macem-macam dan cari-cari Mommy nya bagaimana Dad?” Ayu masih ragu melangkah pergi meninggalkan istananya. Anak-anak pasti marah dirinya pergi tanpa ijin.
“Mereka sudah besar Mom. Daddy sedang ingin berdua dengan Mommy.” Ucap Malik dengan sedikit nada kesal. Mendengarnya Ayu merasa tidak tega. Ayu menautkan tangannya, mencium sudut bibir Malik yang menggemaskan.
“Ya sudah, kita berangkat ya Dad. Mommy ganti baju dulu sebentar.” Malik masih mematung tidak bergerak. Istrinya baru saja dengan berani menciumnya. Biasanya dirinya yang melakukannya.
“Daddy tidak sedang mimpi kan Mom?” Malik mencubit tangannya sendiri dan sakit. “Coba ulangi Mom.” Ayu cepat-cepat masuk ke ruang ganti. “Mom....ulangi Mom.” Malik memegangi sudut bibirnya, tumben sekali Ayu berani menciumnya duluan. Ahhhh....manis sekali.
Mereka menjalin rumah tangga sudah cukup lama, tapi sikap malu-malu Ayuna masih sama seperti pertama mereka bertemu. Malik yang sekarang tidak tahu diri dan suka membuat Ayuna merasa dicintai dengan berlebihan. Malik melarang segala kegiatan yang menyita waktu dan membuat Ayu sulit ditemui. Hanya dirinya yang boleh membuat Ayuna nya sibuk.
Mencoba melakukan pekerjaan apapun tidak berhasil karena Malik tidak mengijinkan siapapun memarahi Ayu. Hanya menyebabkan pertikaian yang sangat Ayu benci dan akhirnya membuat dirinya berhenti mencoba banyak hal.
Ayu menyibukan dirinya mengurus Malik dan anak-anak saja. Sepertinya memang dirinya hanya di perbolehkan sibuk dengan mereka saja, selebihnya Ayuna menempel dan tidak pernah Malik ijinkan pergi tanpa dirinya.
Malik menjaganya seketat itu karena sering kali Ayu di jadikan terget kejahatan untuk menjatuhkan dirinya. Malik tidak akan bisa memaafkan dirinya jika sampai Ayuna nya terluka. Tidak akan sanggup bertahan jika kekuatan yang dirinya miliki menderita, Malik tidak akan rela.
Aldo dengan muka bantalnya ikut dengan Malik yang tiba-tiba ingin di antar ke puncak. Mereka naik helikopter milik Malik yang landasannya tidak jauh dari villa miliknya. Menyetir di suasana pagi yang sejuk dan masih cukup gelap.
Aldo membuka kaca mobil, merasakan terpaan angin sejuk yang belum tercampur polusi. “Tumben sekali Bos, ke puncak pagi-pagi.” Tanya Aldo memecahkan keheningan. Malik sibuk memeluk Ayuna yang duduknya kepayahan. Perut besarnya sudah cukup sulit untuk tubuh kecilnya.
“Bos mu ngidam Kak Al. Hehehe....” Malik mencium gemas wajah cantik istrinya yang sedikit berisi. Pipinya tembem membuat wajahnya terlihat begitu menggemaskan. “Malu Kak.” Ayu mencoba mendrong Malik tapi tidak berhasil.
“Sudah sampai Bos, silahkan bucin sepuas mu Bo.” Malik dan Ayu turun, Aldo meninggalkan keduanya untuk mencari bahan makanan karena mereka pergi begitu mendadak, tidak ada persiapan.
“Tunggu di sini ya sayang. Pelan-pelan.” Malik membantu Ayu duduk dengan nyaman. Ayu terdengar menghela nafasnya lega. Menaiki beberapa anak tangga saja membuat nafasnya sedikit berat.
Malik membawa segelas susu dan kopi untuk mereka nikmati di pagi yang indah dan sejuk ini. Malik menarik Ayu pelan ke pelukkannya, menyandarkan kepala Ayu di dada bidangnya. “Thank’s Mom. Aku selalu bersyukur bertemu dengan mu Mom. Aku mencintaimu Mom.”
“Kenapa tiba-tiba begini Dad?” Malik membelai perut besar Ayuna. Dirinya sedang merasa khawatir karena hari kelahiran semakin dekat. Malik punya trauma besar melihat Ayuna kesakitan di depan matanya dan dirinya tidak berdaya.
“Sorry sayang.” Ayu tau maksud dari ucapan suaminya.
__ADS_1
“Aku tidak menyesal, bahkan jika Tuhan kasih aku lebih dari dua, aku akan dengan senang hati melahirkan mereka ke dunia. Aku dengan senang hati mencintai mereka yang mau lahir dari rahimku.” Malik mengeratkan pelukkannya.
“Daddy yang pengecut Mom, Daddy yang tidak tahan melihatmu melahirkan mereka Mom. Dua saja Mom, Daddy cukup dengan mereka. Ada Mahesa dan Hanum yang juga anak ku Mom.” Ayu mengangguk paham, suaminya hanya merasa sakit karena tidak bisa berbuat apa-apa menggantikan kesakitannya.
“Sepertinya akan banyak wanita iri jika tahu suamiku sebaik ini. Aku tidak akan ceritakan pada siapapun, takut ada yang tahu dan mereka mengambil mu dari ku Dad.” Ayu mendusel di dada Malik. Tangannya melingkar di pinggang Malik.
Tidak terasa matahari sudah mulai naik, Malik dan Ayu tengah beristirahat di kamar utama yang cukup indah. Ponsel Mommy nya terus berbunyi namun tidak Malik hiraukan, dirinya tahu itu pasti anak-anak yang heboh mencari Mommy nya.
“Sini Dad ponsel ku, itu pasti anak-anak heboh cari aku Dad.” Malik bukannya memberikannya, malah menaruhnya di laci. Ayu tidak di biarkan bergerak.
Obrolan Group Chat Keluarga
Riyan : Mbak, anak-anak mu ngamuk. Serem Mbak......
Rey : Memang Adik ku kemana Dek?
Riyan : Liburan, berdua. Jahat!
Rey : Anak-anak aku yang masakin. Tenangkan mereka ya Dek. Kak Rey hanya mampir antar makanan, ada pesanan besar hari ini di resto Dek. Jadi tidak bisa bantu jaga mereka.
Riyan : Tugas sulit Kak.
Jofan : Aku tidak bisa temani Dek, meeting harus aku hadiri karena Adek harus jaga anak-anak.
Sandra : Aku sedang tidak boleh bergerak, jadi tidak bisa kesana Dek.
Anna : Kakak di luar kota antar Hanum lihat universitas Dek.
Ranu : Daddy dimana? Mommy ku kenapa menghilang?
Mahes : Harusnya tanya kita Dad, kita mau ikut atau tidak. Kenapa diam-diam?
Ranu : Daddy jahat sekali tinggalkan anak-anaknya.
Mahes : Aku kesal ya Dad.
Riyan : Tolong aku....siapapun.
Sandra : Sabar Dek, nanti ajak mereka ke pantai saja. Dekat rumah saja mereka sudah senang Dek.
__ADS_1
Riyan mengirim foto pada Malik karena nomor nya di blokir di ponsel Mbaknya. Tapi tidak ada balasan apapun dari Malik. Anak-anak benar-benar uring-uringan membaca note besar yang di tempel di depan kulkas yang membuat mereka sedih. Pergi sebentar saja membuat hati mereka sesedih ini.
“Ayo sarapan. Om Riyan sudah susah payah masak ini loh.” Padahal dirinya masih mencoba masa apa yang dirinya pelajari dari ponsel pintarnya.
“Abang bisa, sini Abang bantu Om.” Mereka tidak tahu saja sedang di awasi dari CCTV oleh Daddy nya. Sudah besar pun Malik tetap memastikan mereka dalam keadaan baik-baik saja.
“Ya Tuhan....dapur ku Dad.” Malik sedikit terkejut Ayu muncul tiba-tiba dan melihat kekacauan rumah. “Buat apa mereka itu Dad? Kenapa tidak pesan saja Dad?” Malik mendudukan dirinya. “Adek kan tidak bisa masak Dad, dia nanti bisa rusakin barang-barang di dapur ku Dad.” Malik tersenyum melihat istrinya begitu lucu. “Ih.....Daddy malah ketawa-ketawa. Aku loh lagi serius Dad, bilang sama Adek jangan masak yang susah. Goreng telor saja gitu Dad.” Malik menarik Ayu duduk di pangkuannya.
“Biarkan saja. Mereka akan bereskan dapur mu selesai masak Mom. Abang loh paling bersih di antara kita semua. Dia akan bereskan kekacauan yang Om nya buat.” Tetap saja Ayu sedikit kesal dapurnya berantakan.
“Aku kangen anak-anak Dad. Ternyata Mommy tidak bisa jauh dari mereka Dad. Rindunya sampai membuat otak ku susah berpikir Dad.” Malik membuat istrnya sedih meninggalkan anak-anak di rumah.
“Sore nanti kita pulang Mom.” Ayu mengangguk.
Riyan tengah mencoba membuat pancake yang sepertinya sangat mudah. Beberapa kali gagal sampai Ranu yang akhirnya berhasil membuat pancake dengan indah tapi tidak dengan rasanya. Kini mereka bertiga duduk di ruang makan.
Ting...tong...ting...tong....
Pintu terbuka, menandakan yang datang adalah keluarga mereka. Rey masuk dengan tentengan di tangannya. Riyan menepuk jidatnya, untuk apa dirinya susah payah masak padahal Kak Rey datang membawa sarapan untuk mereka.
“Makan apa kalian?” Mahes dan Ranu menatap Om Riyan nya tajam. “Oh sudah sarapan, ini Papah bawa lagi atau bagaimana?”
“Jangan Pah, kita makan pancake yang rasanya ambur radul buatan Om Riyan. Ini saja Abang yang panggang tadi. Om Riyan payah.” Riyan hanya tertawa di komplain keponakannya.
“Akhirnya makan makanan yang layak untuk manusia.” Mahes lega melihat makanan enak di depan matanya. Rey hanya tersenyum mendengarnya.
“Kita ke pantai ya Pah. Suntuk sekali tidak ada Mommy padahal kita libur.” Gerutu Mahes yang sangat lucu.
“hati-hati ya Dek, jaga anak-anak jangan sampai main yang berbahaya.” Riyan mengangguk. Dirinya hari ini menjadi pengasuh untuk dua keponakannya yang sudah sangat besar.
“Om, kita tidak akan macam-macam. Tenang saja.” Ucap Ranu dengan senyum mencurigakan.
“Nakal-nakal tak aduin ke Mommy.” Balas Riyan yang tahu anak-anak suka sekali iseng. “Cepat ganti baju dan kita jalan.” Riyan meninggalkan keduanya.
Dengan riyang gembira mereka menuju pantai yang berada tidak jauh dari rumah, hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit saja untuk sampai di sana.
“Dimana Dek? Kok rumah sepi?” Tanya Ayu yang mengirim pesan pada Riyan karena tidak mendapati anak-anak di rumah.
Malik terpaksa menuruti permintaan Ayu yang mau pulang, dia rindu anak-anaknya sekali sampai menangis. Malik tidak tega dan memutuskan pulang saja daripada sedihnya menjadi panjang. Pulang-pulang malah anak-anak tidak ada di rumah.
Dapur nya masih berantakan dan bekas makanan tidak mereka rapihkan. Malik menghela nafanya panjang, ternyata rumahnya sekacau ini tanpa Mommy mereka. Anak-anak tetap anak-anak yang selalu butuh Mommy nya sampai kapanpun, meski mereka sudah besar sekalipun.
__ADS_1
Riyan mengirim foto mereka yang tengah berada di pantai. Ayu kembali menangis sedih. Malik hanya bisa menenagkan istrinya yang mudah sekali menangis seperti bocah kecil.