Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Terimakasih Mommy


__ADS_3

Ayu meraih ponselnya yang berbunyi, ada pesan yang baru saja masuk. Senyumnya mengembang saat tahu siapa yang mengiriminya pesan.


Jofan : Sedang apa cintaku? Mas rindu tapi masih belum bis mampir sayang. Tunggu pekerjaan Mas tidak terlampau banyak ya sayang.


Ayuna : Tiduran dengan Baby, tadi dari rumah sakit.


Jofan : SAKIT?! Mas ke sana yah. Sakit apa sayang ku?


Ayuna : Bukan Mas, Aleta sudah melahirkan. Anaknya perempuan, cantik seperti Aleta.


Jofan : Sandra sampai bengong aku ajak pulang, padahal kita baru sampai. Kau baik-baik saja kan sayang?


Ayuna : Sedang di luar kah? Jangan pulang terlalu sore Mas, nanti Sandra kelelahan. Aku baik-baik saja Mas, kalian juga baik-baik yah. Jaga kesehatan kalian, aku juga rindu bumilku.


Jofan : Dia yang ingin makan rujak buah di taman sayang. Katanya ingin menikmati udara sejuk sore ini, mumpung Mas sedang bisa pulang lebih awal hari ini.



Jofan mengirimkan foto. Ayu tersenyum melihatnya, mereka sudah mulai menemukan kenyamanan satu sama lain. Percekcokan tentu saja akan ada sesekali, tapi kalau sudah ada chemistry yang menyatu seperti ini alangkah baiknya.


Ayuna : Bahagia sekali aku Mas, kalina juga bahagia yah. Jaga cinta kalian jangan sampai berubah. Aku akan tenang kalau kalian semua berada di tempat yang tepat. Dengan wanita yang tulus pada kalian tidak berpamrih.


Jofan : Nanti mas peluk yah sayang. Jangan menangis saat sedang sendirian, Mas tidak ijinkan. Nanti di pundak Mas saja sayang.


Ayuna : Aku tidak menangis, Baby sedang menatap wajah Mommy nya.


Jofan : Kalau begitu sebaiknya Mommy nya tersenyum.


"Mom....ayo makan sayang." Malik mendekat, mengulurkan tangannya setelah mengambil Baby dalam gendongannya. Ayu meletakkan ponselnya dan menyudahi berbalas pesan dengan Mas Jofan kesayangannya. “Ayo sayang.” Ajaknya lagi karena Ayu hanya menatapnya dengan sendu.


"Kak Malik capek tidak?" Ayu merasa kasihan, Malik membantunya padahal dia punya pekerjaan yang begitu banyak. Malik bisa saja sibuk dengan semua pekerjaannya, tapi dia memilih terus ada di sisinya. Menemaninya, membantunya, memastikannya selalu dalam kedadaan baik-baik saja.



"Kenapa sayang?" Malik duduk di depan Ayu, menatap wajah wanita yang selalu membawa damai dalam hidupnya dengan lembut. "Sini sayang." Malik merentangkan tangannya. Ayu bergeser, memeluk Malik dengan erat.


Dirinya merasa sedang cengeng sekali, suasana sepi menyadarkannya bahwa suatu saat anak-anak akan segera punya kehidupan sendiri dan tinggal mereka berdua saja saling menguatkan.


Dirinya juga sedang bahagia, Kakak dan Adik nya sudah menemukan cinta di wanita yang tepat. Ayu tahu mereka saat ini sedang bahagia, dirinya sudah tenang. Sudah siap melihat babak baru yang harus dirinya lalui.

__ADS_1


“Kenapa Mom? Jangan sedih sayang, katakan apa yang membuatmu resah sayang?” Ayu hanya menggeleng. Dia hanya sedang merasa begitu bahagia sampai ingin menangis karena sulit mengungkapkan kebahagiannya.


"Nanti anak-anak sudah besar dan berkeluarga jangan berubah ya Kak, tetap jadi Kak Malik yang seperti sekarang ya Kak." Malik mengecup puncak kepala Ayu.


“Memangnya Daddy ini power ranger bisa berubah Mom? Tidak bisa Mom, sudah habis cintaku untuk mu sayang.” Membelai surai hitam yang wanginya begitu indah di penciumanya.


“Aku bahagia Kak, terimakasih sudah mengurus ku dan keluargaku dengan begitu baik Kak. Maaf karena aku tidak memberikan balasan apapun selain menjadi istrimu Kak.” Malik senang sekali Ayu bersikap begitu manis padanya.


"Kita akan terus bersama Mom, sampai maut yang memisahkan kita. Daddy dulu saja kalau boleh minta, Daddy tidak akan bisa tanpamu Mom." Ayu mengeratkan pelukannya.


"Jangan bicara begitu Dad, semoga kita diberi umur panjang. Supaya nanti bisa lihat anak-anak kita bahagia dengan pasangannya Dad." Malik mengangguk, mau sekali seperti itu. Tidak mau meninggalkan anak-anak sebelum mereka bisa mengurus diri mereka sendiri.


"Kenapa tiba-tiba kepikiran begini Mom? Ada yang membuat Mommy sedih kah? Hmmmmmm? Coba bilang pada ku, apa yang membuat Mommy melankolis seperti ini?"


Ayu malah tersenyum. "Tidak ada sayang ku. Mommy hanya sedang berpikir jauh saat kita tua nanti.” Malik mencubit gemas pipi kesayangannya. “Aku beruntung punya laki-laki yang tepat seperti mu Dad."


"Daddy yang beruntung sayang. Kalau bukan kamu, tidak akan pernah Daddy sesempurna ini sayang. Kamu mengajarkan ku banyak hal. Terimakasih Mommy. Terimaksih sudah mau menjadikan ku pilihan mu sayang."


Setelah mengungkapan rasa cinta mereka satu sama lain, mereka makan malam bersama. Baby masih anteng di gendongan Daddy nya. Malik tidak tega menidurkan Daddy di boxnya, takut nyamuk yang masih berkeliaran menggigit kulit putihnya.


"Abang pulang...." Wajah tampan Ranu tertutup topi hitamnya.


Meletakkan semua peralatan yang tampak berat di tempatnya. Wajahnya sedikit tegang, entah apa yang sudah dia lalui sehari ini. Tapi tetap tampannya tidak memudar.



"Abang sudah makan cinta, Mamah ajak kita ke restoran Papah tadi." Ranu mendekat pada Baby. Mencium gemas pipi bulatnya. Tidak terlalu dekat karena Ranu tahu badanya berkeringat.


"Jangan terlalu keras Bang, nanti bangun adeknya." Ranu tidak menghiraukan, dia suka sekali menggoda adiknya yang sedang tertidur pulas. Bibirnya sudah di cuci bersih jadi dia berani menciumi adik kesayangnnya.


"Tidak mau cium Mommy kah?" Ayu mengerjapkan matanya, Ranu mendekat. Hanya tangannya yang membelai lembut puncak kepala Mommy nya.


"Jangan cemburu, aku belum mandi dan belum mau peluk kamu Mom. Abang mandi dulu." Ranu beranjak ke kamarnya.


"Tumben sekali, biasanya saja main sosor tidak tau tempat." Ayu menatap Malik yang juga heran. Biasanya Ranu peluk-peluk saja, dia kana berhenti saat Daddy nya berteriak.


"Apa dia punya pacar? Apa mungkin tidak mau lagi peluk-peluk aku Dad? Bosan dengan aku kah?" Penasaran sekali.


"Mana mungkin, dia itu bucin padamu. Tapi kalau benar Daddy sangat senang, tidak akan ada lagi yang mengganggu kita." Ayu menggeleng heran, tidak serius sekali saat dirinya benar-benar tengah khawatir.

__ADS_1


"Gak mungkin ya Dad? Abang kan cinta aku sekali kan Dad?" Malik mengangguk. Tahu jika saat ini Ayu sedikit khawatir.


Setelah makan malam, Ayu duduk di ruang kelurga. Menunggu Putra nya yang belum juga keluar dari dalam kamarnya. Matanya berulang kali melihat pintu kamar Putra nya yang tertutup rapat. Tidak tenang sekali hatinya.


Malik masih sibuk berbincang lewat ponselnya. Klien bisnisnya menghubunginya dan Malik memutuskan untuk menerimanya, Ayu juga sedang menonton drama kesukannya.


Tok....tokkk...tokkk.....


“Abang....Mommy boleh masuk kah?” Ayu tidak tahan, kakinya dengan cepat melangkah dan kini sudah berdiri di depan pintu kamar Putra nya. Perlahan Ayu membukanya, melangkah masuk dan mencari keberadaan Ranu.


Ayu menatap jam tidak percaya, Putranya sudah terlelap begitu nyaman memeluk gulingnya berselimutkan kain tebal. Mendekat perlahan, menempelkan punggung tangannya memastikan suhu tubuh Putranya. Dia tidak sakit, mungkin hanya kelelahan karena seharian banyak kegiatan di sekolah. Ayu mengecup keningnya lembut, sudah besar saja anak kecilnya ini. Sudah tidak pernah merengek semenjak punya adik perempuan.


Malik berdiri di ambang pintu, dia menyudahi panggilan telponnya saat melihat Ayu memasuki kamar Ranu. Dia tidak mau Ayu menghadapi anak remajanya sendirian, Ranu mungkin sedang punya masalah pribadi dan bisa saja tidak mampu menahan emosinya. Tapi khawatirnya tidak terbukti, Putranya tertidur dengan nyaman.


“Tumben Kak, Abang pasti sedang tidak baik Kak. Besok tolong tanya ya Kak. Aku tidak mau Abang sakit sendirian, Kakak harus tanya Abang kenapa ya Kak.” Malik mengangguk, merangkul pinggang Ayu membawanya keluar.


Malik membawanya ke dalam kamar bersama Baby, membujuk Ayu dengan sentuhan lembutnya agar istirahat dengan tenang. Berhasil, tangan besar Malik membuatnya terbuai dengan nyaman. Ayu sudah tidur pulas di dalam pelukkan Malik.


Malik tentu saja tidak tinggal diam, dia meraih poselnya meminta Biru melaporkan apa saja kegiatan Ranu sampai Putra nya kelelahan saat sampai di rumah. Tidak biasanya bersikap cuek dan tidur begitu saja sebelum menyapa Mommy nya dengan benar.


Malam sudah berganti pagi, malam mereka di tutup dengan tenang meski Malik harus ekstra memperhatikan Ayu yang tengah gundah. Malik sudah berdiri di depan Putra nya yang masih terlelap. Ranu perlahan membuka matanya, ternyata hari sudah pagi dan dirinya tertidur padahal belum sempat menyapa Mommy nya semalam.


“Ahhhh....Dad, sorry, Abang tertidur.” Malik duduk menggelengkan kepalanya. “Mommy marah kah Dad? Sedih kah cintaku Dad?” Tanyanya khawatir.


“Mommy loh yang datang ke sini semalam, jangan ulangi lagi Bang.” Ranu mengangguk paham. “Om Biru bilang Abang datang ke Agency pengorbit artis, ada urusan apa ke sana?” Tanya Malik serius sekali.


“Abang bertemu dengan salah satu pemiliknya dan ditawari menjadi model. Belum Abang terima, ingin tanya pendapat Daddy dan Mommy dulu.” Malik masih belum dapat alasan yang bisa membuat dirinya memberikan ijin.


“Apa ini yang membuat Abang berpikir begitu keras semalaman dan lupa dengan Mommy nya?” Mata bulat Ranu terlihat sedih, di pasti sangat menyesal. “Tidak akan Daddy ijinkan kalau nanti bisa menyita waktu Abang menjadi lebih sibuk di luar.”


“Bolehkan bicarakan dulu dengan Mommy, Abang ingin punya pengalaman. Nanti Mommy dan Daddy yang tentukan pekerjaan mana yang boleh Abang ambil.” Malik menatap wajah Putranya yang terlihat begitu tulus. Dia berhak mencoba apapun yang dia inginkan.


Hmmmmm....hmmmmmm....


Ternyata Ayu sejak tadi sudah berdiri di ambang pintu mendengarkan percakapan dua laki-laki kesayangannya.


“Mommy ijinkan, asal Abang bertanggung jawab kalau sudah benar-benar yakin.” Ranu turun dari ranjangnya memeluk wanita yang selalu memberinya bahagia selama ini.


“Mommy wanita terbaik yang selalu Abang sayangi. I love you Mom. Terimakasih suah melahirkan ku ke dunia ini sayang.” Ayu mengangguk, Putranya dewasa sekali.

__ADS_1


__ADS_2