Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Bukan Salah Mu


__ADS_3

Hanum sedang merenungi masalah yang saat ini keluarganya tanggung karena hadirnya. Hanum menyalahkan dirinya karena Baskoro tidak akan pernah ada dalam catatan hidup mereka jika bukan karena dirinya.


Tidak ada warna cerah sedikitpun semenjak hadirnya, kelam. Hanum hanya merasa hadirya membawa keluarganya dalam kehancuran dan kesulitan. Hanum merutuki segala yang terjadi, bayangan Mommy nya yang sudah tidak ada ikut membayanginya.


Dia harus menderita begitu lama melawan penyakit yang begitu menyakitkan. Lagi-lagi Hanum merasa penderitaan yang Mommy nya alami karena dirinya. Tangannya meremat dengan kuat selimut yang menutupi tubuhnya.


Hanum menggigit tangannya, berusaha menyembunyikan suara isak tangisnya yang akan membuat keributan. Sakit sekali, dirinya hanya ingin merasakan bahagia tanpa membuat orang-orang yang dirinya sayangi kesulitan. Hanum ingin bahagia bersama orang-orang yang kini membawanya menjadi keluarga.


Ingin membalas setiap cinta yang sudah dirinya terima dengan lebih banyak balasan cinta, bukan kesakitan dan masalah seperti ini yang malah membuat kehadirannya malah menjadi kesalahan.


Hanum menahan isakannya yang kini terasa menyesakkan dadanya. Malik yang tengah berdiri tidak jauh dari tempat Hanum tertidur menyadari suara yang berasal dari Putri nya. Punggungnya bergetar, Putri nya sedang menangis sendirian.


“Boleh Daddy minta waktu sebentar? Daddy ingin bicara dengan anak gadis Daddy sebentar.” Semua mata tertuju pada Hanum yang masih berbaring. “Tolong berikan kami waktu berdua.” Sarah meraih tangan anak-anak untuk keluar dari ruangan.


Aldo, Riyan, Rey dan Jofan ikut keluar dari ruangan Sarah untuk memberikan mereka ruang. Malik mereka percaya untuk memberikan Hanum ketenangan, Hanum butuh meluapkan segala gundah di hatinya. Dia sampai demam karena banyak menyalahkan dirinya sampai membuat tubuhnya tidak bisa lagi menahan segala luapan emosi dari diri Hanum yang begitu kesakitan.


Malik berjongkok di depan tubuh Putrinya yang masih enggan menampakan wajah cantiknya. Tangannya dengan lembut membelai surai hitam milik Putri kesayangannya. Malik mencoba tidak memaksa Hanum untuk bicara pada dirinya, menunggu sebentar sampai Hanum nyaman dan mau bicara pada dirinya.



Hanum akhir nya bangkit duduk, mencari sosok Daddy yang akhir-akhir ini nyaman sekali menjadi tempatnya untuk bersandar dan pulang saat dirinya sedang merasa tidak baik-baik saja. Daddy nya tersenyum dengan lembut, Hanum membalas senyum malik dengan memaksakan senyum di sudut bibirnya.


Perlahan Malik mendekatkan tubuhnya pada gadis kecil yang menanggung begitu besar rasa sakit. Merengkuh perlahan tubuh kecil yang masih demam, Malik menepuk perlahan punggung Hanum yang kini terisak pilu di dalam dekapannya.


Sentuhan lembut Daddy Malik yang kini membuat Hanum nyaman untuk meluapkan segala perasaan yang menyakitkan dan menyesakkan. Hanum terisak, Malik membelai kepala Hanum penuh sayang, menciumi nya dengan lembut. Kasihan Hanum merasa begitu bersalah. Malik harus baik-baik saja agar semua bisa percaya diri bersandar pada dirinya.



“Sor...ry Dad, Mom...my mereka bawa karena Hanum. Seharusnya Hanum tidak hadir di tengah kalian. Ini salah ku Dad.” Suaranya tersenggal. Hati Malik hancur mendengarnya. Bagaimana bisa Putri nya menyalahkan dirinya atas kesalahan yang tidak dia lakukan.


“Ya Tuhan....Daddy sangat mencintaimu Nak. Jangan bicara seperti itu.” Malik mengeratkan pelukannya. “Mommy mu rela menukar apapun dengan keselamatan mu, dia juga mencintai mu sayang.” Hanum semakin terisak.

__ADS_1


“Sorry...seharusnya tidak ada Hanum. Jadi kalian tidak perlu berkorban. Sorry...Dad.” Hanum masih percaya semua yang terjadi karena dirinya.


Malik mengangkat dagu Putri manisnya, mengusap deraian air mata yang begitu menyakitkan. “Sorry Daddy tidak bisa menjaga kalian dengan baik, Daddy teledor sampai kalian harus mengalami semua ini. Maaf kan Daddy sayang.” Hanum menggeleng.


“Daddy tidak bersalah, Hanum yang membuat laki-laki itu muncul dan membuat masalah.” Malik sedikit tersenyum. “Daddy tidak bersalah, Daddy adalah pahlawan yang selalu menyelamatkan Hanum, selalu.” Ucapnya membuat Malik mengulas senyum di wajahnya.


“Benarkah?” Hanum mengangguk, bingung kenapa Daddy malah tersenyum. “Dengar Nak, Hanum itu hadiah dari Tuhan yang begitu indah. Daddy dan semua keluarga kita sangat mencintai Hanum. Apa Daddy masih di ragukan di hati Hanum?” Hanum menunduk. Mereka memang sangat tulus, Hanum merasakannya.


“No....Hanum juga sangat sayang kalian.” Ucapnya dengan wajah masih menunduk.


“Kita keluarga, kita harus saling melindungi. Tidak boleh Hanum menyalahkan diri Hanum sendiri dengan apa yang saat ini terjadi. Orang yang harus kalian salahkan adalah Daddy, Daddy yang salah karena tidak bisa menjaga kalian semua dengan baik.” Hanum terisak, Daddy nya tidak pantas di salahkan.


Cukup lama Malik mengembalikan kepercayaa diri Hanum. Dia benar-benar merasa jika kehadirannya yang membuat semua yang menimpa Mommy nya saat ini. Hanum akhirnya bisa mencoba menerima permintaan Malik untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri, meski sulit sekali tapi Hanum mencobanya.


Dirinya harus tenang karena fokus Daddy nya harus di kerahkan semua untuk segera menemukan Mommy nya.


Tok...tok...tokkk...


“Kami bawa makanan Dad.” Mahes mengangkat ice cream dan makanan lain di tangannya. Padahal Sarah sudah menyiapkan banyak makanan sebelumnya.


“Sini masuk sayang, Daddy memang sedang tunggu kalian. Sini ajak Putri Daddy makan.” Ranu dan Mahes masuk.


Wajah mereka sama sekali tidak berubah. Senyumnya masih setulus biasanya dan sikapnya masih begitu hangat pada Hanum. Padahal mereka bisa saja marah dan bersikap kasar pada Hanum yang sudah menyebabkan masalah. Hanum semakin percaya jika perasaan mereka pada dirinya benar-benar tulus.


“Ayo, Daddy juga harus makan sebelum jemput Mommy ku.” Ucap Ranu tanpa kesedihan di wajahnya.


“Tentu saja, Daddy akan jemput Mommy kalian secepatnya. Jadi bersikaplah yang baik dan makan yang banyak. Mommy pasti Sad kalau kalian terlihat kurus hanya ditinggal Mommy sebentar.” Mereka tertawa, seolah semua baik-baik saja. Hanum tersenyum, mereka sedang menghibur diri mereka sendiri agar tetap waras.



Anna dan Sarah sudah membawa Hanum ke ruangan Sandra setelah selesai makan. Kedua Putranya menolak ikut dengan alasan mereka juga punya kewajiban meyelamatkan Mommy nya, tidak mau lagi tidak dilibatkan apalagi berhubungan dengan keselamatan separuh nyawa mereka yang saat ini sedang kesulitan.

__ADS_1


Aldo, Edward dan beberapa orang lain tengah menjelaskan situasi yang saat ini mereka hadapi. Semua orang menyimak dengan serius, mereka saling berdiskusi mencari cara yang paling aman untuk menyelamatkan Ayuna.


Geram sekali karena Baskoro berani menyentuh wanita yang mati-matina mereka jaga agar tetap aman dan bahagia di sisi mereka. Berani sekali membuatnya ketakutan dan membawanya tanpa ijin dari mereka yang selalu berjuang untuk bahagianya.


Kali ini Malik dan yang lainnya tidak akan melepaskan Baskoro seperti sebelumnya. Malik mencoba memberikan Baskoro kesempatan untuk berubah demi Hanum. Malik sedikit longgar karena Baskoro satu-satunya keluarga yang Hanum miliki. Tapi ternyata langkahnya salah, dia laki-laki yang tidak pantas diberikan pengampunan. Baskoro harus Malik selesaikan sampai tidak bisa lagi menyentuh kelurga nya dengan tangan kotornya.



Mereka bergerak untuk melakukan rencana mereka, sebelumnya mereka kembali ke kamar rawat Inap Sandra untuk memastikan mereka dalam keadaan aman.


Ranu dan Mahes Malik minta tetap berada di rumah sakit menjaga para wanita yang tidak mungkin dirinya percayakan pada orang lain. Tentu saja melalui perdebatan sengit yang akhirnya tidak bisa mereka patahkan. Mahes dan Ranu menurut, mengikuti perintah Daddy nya yang tidak kalah penting dengan menyelamatkan Mommy mereka.


Adam Malik bawa, dia yang paling tahu kondisi Ayu setelah dirinya. Adam yang merawat dan menjaga Ayu. Adam yang membantu Ayu keluar dari traumanya yang begitu besar dan menyakitkan.


“Kenapa kalian terlihat sangat serius? Kenapa kalian meninggalkan Ayuna ku sendirian dan berkumpul di sini? Apa ada yang tidak aku tahu?” Tanya Sandra yang begitu penasaran, kenapa Ayuna belum mengunjunginya walau sebentar.


Ponselnya mati, pesan dan panggilannya tidak ada satupun yang di balas.


Sandra tidak percaya dengan ucapan mereka yang mengatakan jika Ayu saat ini sedang istirahat di rumah dan dalam keadaan baik-baik saja. Sandra hafal betul mereka, Ayu tidak mungkin dibiarkan sendirian.


“Aunty jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Mommy baik-baik saja, dia istirahat di rumah Aunt.” Ranu mencoba mencegah aunty nya berpikir terlalu berat.


“Abang orang yang paling tidak bisa berbohong. Katakan saja, aku tidak akan melakukan hal bodoh. Tapi aku perlu tahu dengan keadaan Ayu, jangan sembunyikan dari ku.” Semua diam, Sandra sudah yakin jika saat ini keadaan tidak baik.


Air matanya yang menggenag di pelupuk matanya menetes dengan bebas, Sandra mudah sekali menangis dan sedih. Dadanya sesak sekali. Melan meraih tubuh Sandra, memeluknya dengan erat.



“Semua baik-baik saja, jangan terlalu berpikir berat sayang. Ingat bayi kecil yang baru saja Tuhan percayakan untuk kau jaga.” Ucap Melan lembut.


Jofan bangkit dari duduknya. Mendekati Sandra yang masih terisak di pelukkan Melan. Tangannya membelai puncak kepala Sandra dengan lembut. Sedih dengan keadaan yang saat ini begitu sulit, tapi Sandra tidak boleh stress. Sarah bilang itu berbahaya karena kehamilannya masih sangat rentan.

__ADS_1


“Hey.....” Suara Jofan membuat Melan mendongak. Melan melepas pelukkannya. Kini Sandra ada di pelukkan Jofan. “Tenang sayang, katanya mau di panggil Bunda. Tenang yah, biarkan kami menyelesaikan semuanya. Kalian tenang ya sayang.” Sandra mengangguk meski isakan tangisnya masih belum bisa dirinya redam.


__ADS_2