Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Kesal


__ADS_3

Teduh sekali pagi ini, matahari enggan berbinar menyisakan mendung menyejukkan udara pagi yang sedang Ranu nikmati. Tidurnya tidak nyenyak, matanya terjaga semalaman dan kepalanya sedikit berdenyut.


Dadanya tidak berhenti bergemuruh seperti ingin meledak meluapkan kekesalan yang menyesakan. Ranu menghembuskan nafasnya berulang kali dengan tarikan yang berat. Berusaha memejamkan matanya yang sungguh semalaman ini tidak mau di istirahatkan.


Kacau


Obat mujarab yang ampuh menyembuhkannya sedang menjadi sumber sakitnya saat ini. Ranu tidak bisa berbuat apa-apa.


Ranu bingung sekali harus bersikap bagaimana, ada benci yang benar-benar ingin Ranu hapus dari pikirannya. Mana bisa dirinya tidak menerima apa yang Tuhan berikan pada keluarganya. Terlebih dirinya adalah kekuatan kesayanganya.


Bukan menolak, Ranu lebih tepatnya bingung. Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang di saat dirinya enggan berbagi kasih sayang pada anak kecil yang pasti akan merepotkan hidupnya. Bagaimana dirinya harus menerimanya? Bagaimana?


Sakit sekali hatinya, tapi entah apa yang sebenarnya ingin dirinya rasakan, bukan sakit, tapi juga bukan bahagia. Ranu mengacak rambutnya kesal.


Anna yang memperhatikan Ranu dari semalam sungguh ikut gundah. Dirinya ragu sekali melangkah masuk menemui Anak kecilnya yang sudah mulai remaja. Langkah ragu-ragunya membawa dirinya diam saja memperhatikan dari kejauhan.


Anna akhirnya duduk di ruang tamu menunggu Ranu sendiri yang keluar dari kamarnya, sampai matanya terpejam karena bergadang semalaman. Hatinya sempat sakit mendengar kabar bahagia ini, dirinya tidak bisa memilki kebahagiaan yang Ayu rasakan.


Dirinya terpilih menjadi orang yang tidak bisa memiliki keturunan. Anna sudah menerima, tapi sakit di hatinya masih belum sepenuhnya hilang. Masih suka timbul saat mendengar orang lain dengan mudahnya bisa memiliki keturunan.


Tidak tepat bersikap seperti ini, tidak tepat marah dengan kabar bahagia yang baru saja dirinya dengar. Harusnya dirinya berbangga hati dan ikut bahagia.


Anna meluapkan semuanya lewat keihklasan, banyak hal baik yang dirinya harus syukuri daripada merenungi apa yang dirinya tidak bisa miliki.


Air matanya sudah kering menangisi semua kemalangannya, sudah tidak ada lagi yang perlu dirinya risaukan. Hidupnya bukan di ciptakan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi nyata bagi semua yang mendukung dan mencintainya.


Anna merasakan pangkuan nya ditimpa kepala, tangan besar melingkari perutnya yang ramping. Anna membelainya dengan lembut, matanya masih terpejam nyaman menikmati udara pagi yang sangat sejuk.


"Abang mau sarapan sayang?" Gerakan kepala Ranu jelas sekali menolak.


Mengeratkan pelukan tangannya yang melingkar di perut Anna.


"Abang malas makan, Abang sad Mah. Abang kebingungan." Anna membuka matanya. Bingung harus bagaimana menenangkan Putranya.


"Abang hebat, sedih nya tidak apa-apa sayang, di luapkan. Jangan di pendam." Ranu semakin memeluk Anna erat. Anna paling bijaksana dan tidak pernah menuntut dirinya harus memahami inginnya semua orang.


"Aku tahu Mah, aku salah. Tapi aku kesal sekali."


"Gak papa sayang, wajar. Abang kan manusia, punya rasa itu wajar Nak." Ranu duduk memandang teduh bola mata Anna yang berwarna kecoklatan.


"Kenapa kalian tidak memarahiku. Marah saja, Abang ingin bangun dari kenyataan sialan ini." Umpatnya yang kini menangis di pelukan Anna.

__ADS_1


“Ih....Abang kenapa bicaranya begitu, jangan ah. Mamah tidak suka dengarnya. Kasihan mulut seksi Abang kalau bicara tidak baik.”


“Maaf Mah, marahi Abang tidak apa Mah. Abang tahu kesalahan Abang fatal kali ini. Abang menyakiti semesta Abang yang seharusnya Abang jaga.”


"Mamah mu mana bisa marah. Lihat dia malah ikut menangis seperti anak kecil." Rey berjongkok menatap keduanya. Mengusap air mata di pelupuk mata Anna.


"Maaf Pah, Abang tidak bisa di ajak bicara untuk masalah adik yang ada di perut Mommy. Beri Abang waktu."


Rey mengacak rambut berantakan Ranu. "Kau yang banyak bicara dari tadi Bang." Ranu tidak mau menanggapi.


"Bisakah kita sarapan? Mamah lapar Nak." Ranu menggeleng malas. "Sedikit saja sayang, Abang harus minum obat. Luka nya harus cepat sembuh." Anna sedih melihat lebam-lebam di wajah dan tubuh Ranu.


"Ok, Abang makan sup saja semangkok. Abang tidak mau makan yang lain." Anna tersenyum, ternyata aroma sup buatannya sampai di hidung Ranu.


"Apa saja asal Abang makan." Anna menggandeng Ranu ke meja makan. Rey mengekor di belakang nya.


"Pagi semuanya....." Jofan mencium dan mencubit pipi Anna. "I love u bidadari." Ucapnya setiap melihat senyum cantik Anna. "Cantik sekali cintaku pagi ini."


"Jangan menggombal pagi-pagi, cepat makan Fan." Jofan senang melihat Anna merona. Jofan segera duduk di sebelah Ranu, senang sekali rumahnya ramai pagi ini.


"Abang sudah ok kah?" Anna menggeleng, memberi kode agar Jofan tidak membahas perasaannya. Jofan yang paham segera bungkam.


"Abang ok, tapi masih kesal. Tapi rindu sekali Mommy." Matanya tidak bisa bohong.


Sarah segera menata makanan di bantu Anna.


Ranu yang melihat masakan buatan Mommy nya tersenyum, mana mungkin Mommy nya diam saja dan tidak memperhatikannya. Tertawa bahagia dalam hati.


"Sejak kapan Mamih bisa masak, Abang baru lihat." Sindir nya.


"Eh....ini be...ner Mamih masak Bang. Ih sepele sekali sama Mamih."


"Mommy bilang apa Mih, aku rindu sekali. Tapi Abang masih kesal." Lagi-lagi Ranu kebingunga harus bagaimana.


"Yah....ternyata Abang tahu ini makanan Mommy. Kak Mahes padahal sudah ingatkan tadi, Abang akan sadar. Hehehehehe....." Tertawa kikuk.


"Tentu saja, mana bisa masakan Mommy ku di tiru." Mereka semua tertawa. Ranu hanya butuh waktu, dia tidak punya benci, dia hanya bingung harus bagaimana.


"Pulang Bang, Mommy menunggu mu. Dia juga tidak bisa menarik nafasnya dengan lega. Dadanya pasti sesak." Pinta Rey merayu.


"Kak Mahes kemana Mih, kenapa gak kesini?" Ranu mengalihkan pembicaraan. Tidak mau menanggapi permintaan Rey.

__ADS_1


"Kak Mahes istirahat, dia lebam-lebam sama seperti Abang. Kalian jangan sekolah dulu, istirahat dulu sampai benar-benar baik." Ranu mengangguk.


"Abang ke kamar, sakit badan Abang." Anna berdiri menggandeng tangan Ranu dengan lembut.


"Abang ok Mah, mamah lanjut kan dulu makannya." Anna menggeleng dengan mantap.


"Mamah temani Abang minum obat dulu ya sayang, please jangan menolak Nak."


"Ok, ayo minum obat. Abang harus tidur, kepala Abang sakit." Ucapnya lirih sambil membawa Anna ke kamarnya.


"Mahes baik-baik saja Sar?" Tanya Rey.


"Mahes baik, tapi dia sedih dan menyesal meminta Ranu mengerti. Dia menyesal marahi Ranu malam tadi."


"Tapi Ranu banyak merenung, dia tidak akan lama bersikap seperti ini. Dia akan sadar dan bisa semakin protektif pada Mommy nya. Kalian akan lihat Malik versi muda dulu." Rey tertawa mengingat bagaimana Malik pada Ayuna dulu.


Malik yang sedang mengecek email tersadar istrinya melamun. Malik menutup laptop dan segera duduk di sisi Ayuna, membelai rambut panjangnya yang terurai.


"Pikirkan apa sayang? Abang yah?" Ayu mengangguk.


"Semarah ini ya anak nya Kak? Apa Abang akan benci dia?" Ayu menatap sedih perut ratanya.


"Mana mungkin, Ayuna paling tau sifat Putra nya. Ranu hanya butuh waktu. Tenang ya Mom."


"Iya, Mommy tenang kok Dad, cuma khawatir aja. Abang gak benci aku kan Kak?" Sedih sekali ingat tatapannya.


"Tidak, sekarang siap-siap yah, sebentar lagi kita ke rumah sakit cek Baby." Ayu segera berjalan menuju kamar mandi. Tapi tidak lama Ayu kembali keluar.


"Hey....kenapa sayang? Ada yang sakit?" Malik panik melihat wajah Ayu pucat. Malik membawa Ayu duduk di sofa di kamarnya. "Tenang sayang, bicara perlahan."


"Aku flek Kak, apa Baby tahu dia tidak diterima Abang nya?"


"Apa sakit? Apa perut Ayu tidak enak?" Ayu menggeleng


"Aku baik Kak, tapi kenapa ini, apa dia tidak mau bertahan? Apa aku tidak pantas hamil lagi kak?" Tanyanya yang mulai gemetar.


"Bicara apa sih Mom, sekarang tiduran. Adam bilang kamu tidak boleh banyak bergerak. Sekarang tenang, relaks, aku segera hubungi Adam."


Tidak lama setelah menelpon, Malik menyambar jaket Ayuna, hijab instan milik Ayu dan membawanya segera ke mobil. "Mau kemana?" Tanya Ayu bingung.


"Kita ke rumah sakit, memang sebenarnya Ayuna belum boleh pulang sayang." Ayu memeluk erat suaminya.

__ADS_1


Merutuki ego nya yang ingin pulang dan menyiapkan makanan untuk Putra nya.


__ADS_2