
Ayu sedang duduk di atas kasurnya. Di sisi nya ada tumpukkan baju milik nya dan milik Suaminya yang sedang Ayuna pilah untuk di sumbangkan karena masih layak pakai namun sudah jarang sekali mereka gunakan.
Ada beberapa baju yang mengingatkannya dengan Bapak dan Ibu nya yang sudah tiada. Ada air mata di sudut matanya mengingat keindahan kasih sayang keduanya saat masih hidup bersama dirinya.
Rindu sekali, sudah lama sekali tidak berkunjung ke makam mereka untuk sekedar melepas rindu. Anak-anak sulit meluangkan waktu karena jadwal belajar mereka yang sangat padat. Ditambah Mahes sudah akan ujian akhir, jadi Ayu tidak tega jika mengikuti egonya dan meninggalkan anak-anak sendiri.
Malik ke luar kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Menghampiri Ayu yang sedang serius dan membuat matanya membola. Malik menempelkan tubuhnya yang masih basah pada Ayu yang tidak bisa berkutik karena tangannya penuh dengan baju.
"Basah Dad. Pakai handuk nya Daddy." Malik malah terkekeh melihat wajah kesal istrinya. Tidak menyeramkan, malah membuat Malik gemas dan ingin semakin menjahilinya.
“Mommy kan belum mandi, biar mandi setelah ini.” Malik masih menyandarkan kepalanya di pundak Ayu sambil mengibaskan rambutnya dengan kedua tangannya.
“Daddy.....Basah bajuku. Lepas Dad.” Teriak Ayu yang merasa geli dengan terpaan nafas Malik yang begitu dekat. Di tambah tetesan-tetesan air yang membasahi bajunya membuat Ayu tidak nyaman.
“Malas Mom....” Masih saja iseng.
“Ku gigit ya Dad....Lepas Dad!” Malik menyudahi keisengannya. Kasihan istrinya sudah teriak-teriak minta di lepaskan.
"Tolong Mom." Ayu menahan tangan Malik yang mau melepas handuk nya. Malik tentu tahu apa yang ada di otak istrinya.
“No Dad.” Mata Ayuna mengerjap.
"Ihhhh.....Mommy ini pikirannya." Malik menghempas handuk nya. Ayu tertawa melihat celana pendek di balik handuk Malik. "Mommy berharap melihat yang lain?" Tanya Malik iseng. Ayu mengibaskan tanganya dengan kuat.
"Mommy sibuk Dad. Tidak sempat lihat-lihat Daddy." Malik merebahkan tubuhnya di sisi Ayuna.
“Dasar mesum. Pasti Mommy sedang bayangkan Daddy....” Ayu membekap mulut suaminya yang tidak berhenti menggodanya.
“Malu ih....Daddy cepat pakai baju. Mommy sudah siapkan di tempat biasa.” Malik mencium tangan istri nya yang msih menutup mulutnya. Ayu menarik tangannya yang di tahan Malik dengan keras, Malik melepasnya dengan lembut tidak mau Ayu terpental.
Perut Ayuna sudah cukup besar. Kehamilannya sudah memasuki bulan ke tujuh dan kesehatan Ayu sudah mulai stabil. Sudah tidak ada lagi drama muntah di pagi hari dan nafsu makannya sungguh membuat Malik bangga. Lega, meski semakin hari Malik semakin tidak tenang memikirkan proses melahirkan yang harus Ayuna nya lalui.
"Mau di apa kan baju-baju nya Mom? Kenapa tidak minta Bibi saja bantu bereskan?" Ayu menghentikan tangannya. Menatap suaminya yang sedang memperhatikannya. Masih malas beranjak untuk mengganti pakaian.
"Ini pekerjaan mudah loh Dad, Mommy sedang pastikan baju yang kita sumbangkan masih layak pakai." Malik mengangguk tidak mau lagi mengganggu Ayu.
Ayu menghargai setiap apa yang dirinya miliki, tidak mau membuang nya begitu saja meski Ayu bisa dengan mudah melakukanya. Malik banyak belajar bagaimana menghargai barang-barang miliknya yang berharga. Memanfaatkan setiap apa yang Malik miliki agar bisa bermanfaat untuk orang lain.
__ADS_1
Dulu Malik tidak pernah memikirkan hal-hal kecil seperti yang Ayuna pikirkan, kini dirinya sedikit bisa menyeimbangi berbagai kebaikan yang selalu Ayu luangkan untuk orang lain di tengah kesibukannya mengurus keluarga besarnya.
"Daddy tunggu di ruang kerja Daddy ya Mom. Tiga puluh menit lagi kita jalan ya Mom?" Ayu mengangguk. Sedikit lagi sampai selesai mengepak semua pakaian ke dalam paper bag besar berwarna merah.
“Mommy kalau masuk kamar mandi hati-hati ya sayang. Daddy sudah keringkan lantainya.” Ucap Malik sebelum keluar dari kamarnya. Ayu mengacungkan jempolnya tidak lupa senyum manis nya agar Malik tenang.
Awal-awal kehamilan, Malik tidak pernah keluar dari kamar sebelum memastikan Ayuna mandi dengan aman. Seiring berjalannya waktu Ayu merasa tidak nyaman. Ayu merasa terbebani jika langkah Malik sesulit itu selama dirinya hamil. Ayu meminta Malik lebih santai dan lebih memberikan dirinya kepercayaan untuk bisa menjaga dirinya sendiri.
Dan Malik setuju, hatinya butuh tenang dan Istrinya butuh di beri ruang untuk bergerak sendiri. Ayu selalu mandiri dan merasa terkekang jika Malik terus mengawasi pergerakannya. Meski demi kebaikan Ayu, Malik memutuskan menghargai apa yang menjadi nyaman bagi Ayuna. Dirinya tidak mau egois dan membuat Ayu merasa tidak nyaman berada di sisinya.
Malik segera turun ke lantai bawah. Malik mendapati ketiga anaknya sedang duduk di meja makan. Menikmati sarapan mereka yang hari ini tidak di temani Mommy nya yang sedang sibuk membenahi lemari pakaiannya.
"Hanum....." Hanum tersenyum dengan manis. "Makan yang banyak ya sayang. Nanti Daddy dan Mommy antar kalian setelah sarapan." Ketiganya mengangguk. Malik masuk ke ruangan kerjanya.
"Lihat Han? Daddy sesayang itu padamu. Kenapa masih ada pikiran tidak baik padanya. Kak Mahes Harap Hanum bisa lebih menerima ketulusan Daddy." Mahes sedang membujuk Hanum.
“Hanum hanya merasa menjadi beban Kak. Hanum tidan nyaman.” Hanum memang sudah bicara pada Mahes dan Ranu tentang keresahannya.
“Tidak kasihan kah kalau tiba-tiba Hanum memutuskan untuk mandiri? Tidak pikirkan bagaimana perasaan Daddy yang sudah perjuangkan Hanum ada di sini?” Hanum menundukkan pandangannya. Sedih sekali jika ingat bagaimana Malik memperjuangan dirinya sampai ada di titik ini.
"Bukan gitu loh Kak, Hanum cuma merasa merepotkan saja tinggal di sini. Kalian pasti terganggu kan dengan hadir ku. Hanum tidak mau menjadi langkah berat untuk kalian." Hanum takut mereka terluka karena hadirnya.
Ranu menaruh sendok dan garpu nya cukup keras. Jantung Hanum berdegup cukup keras melihat tatapan mata Ranu yang tidak tertuju pada dirinya tapi terasa sangat menakutkan. Terlihat dengan jelas adik nya sedang kecewa. Ranu hanya tidak bisa mengutarakan inginnya, dia takut menyakiti perasaan Hanum.
"Aku sudah selesai. Abang tunggu di mobil." Ada kesal, namun Ranu mencoba percaya pada Kakak nya untuk membujuk Hanum. Dirinya sedang di kuasai emosi yang tidak karuan, Ranu memilih menepi menenangkan dirinya.
"Abang marah ya Kak?" Mahes hanya tersenyum. "Sorry." Lirih Hanum yang kini menunduk.
"Adek sayang kamu Han, dia pasti sedih dengar kamu tidak nyaman karena merasa kami kerepotan." Mahes menepuk punggung tangan Hanum.
"Semangat ya Han, kita keluarga. Gak papa merasa tidak nyaman, tapi harus mencoba bertahan ya Han." Hanum masih menunduk di tempatnya. Enggan sekali menatap mata Mahes yang begitu hangat padanya yang sedang di rundung gelisah.
"Anak-anak....sudah siap sarapan Nak?" Ayu menenteng tas besar yang membuat Mahes lari ke arahnya.
__ADS_1
"Mommy ini bandel sekali, sudah Kakak bilang berulang kali untuk panggil Kakak kalau bawa barang berat." Ayu mengecup pipi Putra nya yang sangat protektif.
"Gak berat Kakak." Mahes semakin melotot.
"Apa nya tidak berat!" Ayu pasrah di marahi Putra nya. “Jangan lagi-lagi ya Mom, atau Kakak akan ada di rumah mengawasi Mommy dan tidak boleh protes.”
“Iya Kakak, Mommy nya kok di mara sih Kak. Kan Mommy sad Kak.” Mahes tersenyum, Mommy nya peluk-peluk anak nya supaya marahnya hilang. Mahes nya luluh, senyumnya sudah kembali mengembang melihat usaha Mommy nya.
“I love you Mom, Kakak hanya takut Mommy terluka sayang.” Ayu mengeratkan pelukkannya.
“Abang mana Kak? Sudah ke mobil yah?” Mahes mengangguk menggandeng Mommy nya menuju mobil. Malik dan Hanum mengikuti mereka berjalan beriringan.
Suasana cukup tenang, tidak ada kebisingan yang Ayu rindukan setiap paginya. Ayuna menyadari suasana mobilnya tidak seceria biasanya. Anak-anak sibuk dengan ponselnya masing-masing dan tidak ada canda tawa seperti biasanya.
"Mommy yang halu atau memang kalian yang sedang diem-diem an yah.....kok aneh rasanya." Mahes mengusap pundak Mommy nya lembut. Cukup lama tidak ada yang menanggapi pertanyaan Mommy nya yang sedang penasaran.
“Mommy nya tanya kok tidak ada yang jawab? Tidak dengar kah pertanyaan Mommy kid’s?” Malik agak menekan suaranya supaya anak-anaknya dengar.
"Kami sedang belajar Mom. Ada kuis pagi, jadi kami sedang mengulas pelajaran Love." Jawab Mahes mencoba mencairkan suasana. Mewakili adiknya yang masih diam saja dan mewakili Hanum yang juga entah sedang memikirkan apa.
"Ohhhh.....ok." Ayu masih sangat penasaran. "Tidak sedang berantem kan kalian? Mommy marah yah kalau berantam-berantam. Harus akur." Ayu membola kan matanya. Hanya di balas senyum manis dari Mahes, Ranu dan Hanum.
"Gak Mom. Kak Mahes benar, kita ada kuis pagi." Imbuh Ranu dengan senyum nya, menyembunyikan kesalnya sesaat.
“Ok anak-anak Mommy, belajar yang rajin yah. Sorry Mommy marah sedikit.” Ayu menyudahi prasangka tidak baiknya. Anak-anaknya memang terlihat sedang sibuk, dan semoga mereka tidak sedang berselisih.
Malik yang juga turun dari mobil menahan langkah anak-anak. "Bisa jelaskan pada Daddy sedang ada masalah apa kalian bertiga?”
“Tidak ada Dad.” Ranu bersuara mewakili.
“Kita ok Dad, sorry buat Mommy tidak nyaman.” Imbuh Mahes menyesali sikapnya.
“Sorry Daddy.” Hanum hanya menunduk merasa bersalah dengan sikapnya.
“Selesaikan kalau ada masalah. Kalau butuh Daddy, bicara saja. Jangan buat Mommy kalian tidak nyaman dan kepikiran."
"Iya Dad." Jawab ketigannya dengan kompak.
__ADS_1
Malik memeluk anak-anaknya dengan hangat. Mereka masih belajar menghadapi masalah dengan sikap yang baik. Belum sepenuhnya bisa, Malik masih harus melatih mereka agar memiliki sikap dan toleras yang tinggi satu sama lain.
Tapi Malik sangat bangga melihat ketiganya bisa begitu lembut pada Mommy nya. Meski marah, mereka tidak akan menampakan wajah kesal dan sedih mereka. Tidak meninggikan intonasi bicara mereka. Tetap ada kehangatan dari sikap dan tatapan mereka pada Mommy nya, wanita kesayangan mereka.