Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Babak Belur


__ADS_3

“Mommy siang nanti ke rumah sakit ya kid’s. Sudah waktunya Daddy cek keadaan Baby yang sebentar lagi lahir.” Anak-anak nya menatap wajah Daddy nya sedih. Mereka diam-diam mencari tahu tentang proses melahirkan.


Mahesa bahkan tidak bisa berkata-kata. Dirinya sibuk mengirimi Mamih nya pesan-pesan manis saat tahu melahirkan begitu mengorbankan banyak hal dari tubuh Mamih nya. Mahes selama ini sedikit cuek pada Mamih nya yang selalu terlihat tangguh di matanya.


“Daddy please jadi laki-laki yang setia pada Mommy ya Dad. Abang menyesal jika selama ini tidak memperlakukan Mommy dengan baik. Abang janji akan bersikap lebih baik kedepannya.” Malik menaikan satu alisnya heran.



“Nonton apa kalian semalam? Daddy kok curiga?” Malik duduk menatap kedua Putra nya yang malah membuang muka. Wajah mereka benar-benar emosional pagi ini. “Gak mau kasih tahu Daddy habis lihat apa?”


“Ayo Bang, Mamih sudah di parkiran. Kita jalan ya Dad. Tolong cium pipi Mommy untukku.” Mahes melenggang duluan ke luar.


Ranu menghela nasfanya cukup panjang sebelum beranjak pergi. “Bilang pada Mommy, Abang mencintainya seluas jagat raya ini.” Malik ingin tertawa melihat tingkah kedua Putra nya yang suka sekali bertingkah aneh tiba-tiba seperti ini.


Malik membuka laptopnya setelah kedua Putranya pergi, ada beberapa email yang harus dirinya cek meski sudah satu minggu ini absen dari kantor. Malik tidak mau meninggalkan Ayu sampai Baby lahir, dirinya ingin ada di sisinya.


Menjaganya dengan segenap jiwa raga dan memastikan Ayuna nya aman.


Malik kembali masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan pekerjannya, mendapati wajah istrinya yang tertidur dengan begitu nyaman. Semalaman bergadang karena perutnya tidak nyaman membuat dirinya masih terlelap meski waktu sudah cukup siang.



Malik membelai lembut wajah cantik istrinya meski tanpa riasan, dia cantik natural. Membangunkannya karena jadwal kunjungan sudah hampir tiba, Malik juga tidak mau membiarkan Ayuna melewatkan jam makan sarapannya yang sudah terlampau telat ini.


“Bangun Baby.” Malik mengecup pipi bulat istrinya. “Bangun sayang, kasihan...... masih ngantuk yah?” Ayuna mengucek matanya yang lengket sekali. “Sudah waktunya kita ke rumah sakit sayang. Mau Kakak gendong kah?” Ayu menyandarkan tubuhnya malas sekali. Sekujur tubuhnya terasa sakit.


“Aku lemas Kak.” Ayu kembali merebahkan tubuhnya. “Beri aku lima menit lagi.” Malik mendekat. Memeriksa kening Ayuna yang memang terlihat kurang sehat. Efek bergadang semalaman karena tidak bisa tidur.


“Daddy ambil makanan Mommy ke sini yah. Tunggu sebentar.” Ayuna hanya mengangguk, sungguh tubuhnya kesulitan sekali saat ini. Otot-otot tubuhnya kian hari kian terasa tidak nyaman. Langkah kakinya tidak bisa secepat dulu, bergerak sedikit saja tubuhnya terasa berat. Beruntung sekali Malik selalu memperlakukannya dengan begitu baik. Ayu tidak pernah dibiarkan sendirian.


Bukan menyambar makanan yang Malik suapkan ke mulutnya, Ayu malah mendekat dan mengecup pipi Malik dengan lembut. Menyandarkan kepalanya di dada Malik yang selalu menjadi tempat nyaman untuknya bermanja.


“Makan dulu sayang.” Malik ingin melempar piringnya dan membalas tingkah gemas istrinya. Tapi kesehatan Ayuna yang paling utama, dia harus makan. “Kak Malik bisa memakan mu loh Mom kalau gemas-gemas begini.” Ayu segera beringsut.


“Aku makan sendiri ya Dad. Daddy bisa selesaikan pekerjaan Daddy, kasihan Aldo.” Malik menyipitkan matanya.


“Jangan memperhatikan laki-laki lain. Hanya boleh nama ku saja yang membuat Mommy memikirkan sesuatu, selebihnya tidak usah.” Ayu ingn terbahak.


“Daddy ini lah, kan Aldo sudah seperti Kakak ku juga Dad. Dia loh paling sigap kalau aku kenapa-napa Dad.” Malik mengecup bibir istrinya yang tidak mau berhenti dan mengalah. “Daddy....” Kecupan kembali mendarat.


“Aku tidak akan berhenti mencium mu sampai tidak ada lagi pria lain di pikiran mu Mom.” Ayu membungkam mulutnya, mengunyak dengan semangat suapan yang di berikan tangan suami kesayangannya.


“Anak-anak mana Dad? Sudah berangkat yah?” Malik mengangguk. “Kasihan mereka jadi jarang aku perhatikan kalau pagi, aku tidak kuat Dad. Berat sekali perutku ini.” Sedikit senyum hambar yang menggambarkan kesedihan hatinya.


“Ada aku, ada Sarah, ada Anna yang perhatikan mereka. Anak-anak juga tidak keberatan, mereka malah memintaku jangan mengganggu mu supaya bisa cepat istirahat kalau malam Mom. Mereka pikir Daddy nya ini orang mesum.” Ayuna terkekeh.


“Sudah tahu begitu anak-anak Dad?” Ayu sedikit kaget.

__ADS_1


“Anak mu itu sudah besar ya Mom, mereka tentu saja tahu kalau aku suka menggoda Mommy nya.” Ayu senyum-senyum sendiri, lucu sekali anak-anaknya.


“Tidak rela aku Dad, mereka kenapa cepat sekali besar sih Dad. Aku masih mau mereka manja-manja padaku.” Malik menggeleng tidak setuju.


“Tidak ya Mom, mereka sudah tidak pantas manja-manja. Biarkan Daddy menikmati mu lebih banyak. Anak-anak sudah cukup besar ya Mom.” Masih saja cemburuan dengan anak sendiri.


“Tetap saja mereka bayi-bayi ku, sampai kapan pun Dad. Mereka tetap kecil dimata ku Dad.” Malik menggeleng tidak percaya, padahal otot-otot Ranu saja sudah melampaui dirinya, bagaimana mereka di sebut anak kecil.


***


Ranu mendapat surat kaleng yang entah datangnya darimana. Berisi kata-kata remeh yang memancing emosinya. Ranu memutuskan tidak mau menanggapi, tidak mau membuat masalah tidak penting yang bisa membahayakan dirinya. Bisa membuat Mommy nya sedih jika melihat anaknya nakal.


Ranu membuangnya begitu saja ke tong sampah. Tidak penting dan tidak akan dirinya pikirkan. Pelajaran sekolah berjalan seperti biasa, selesai seperti biasa sampai waktu istirahat tiba.


Ranu berjalan menuju kantin sendirian, dirinya sudah janjian dengan Mahesa, Hanum dan Mamah Anna yang siang ini membawakan bekal sekolah. Tiba-tiba saja tangannya di cekal dua siswa yang tidak dirinya kenal. Ranu di tarik paksa ke belakang sekolah.



“Mau apa kalian?” Tanya Ranu yang masih di pegang erat dua siswa yang membawanya ke belakang sekolah. “Cemen sekali main keroyokan, di ring kalau kalian berani. Satu lawan satu.” Ranu tahu siapa yang menantangnya saat ini.


“Jangan banyak bacot ya! Lw bakalan kita habisin!” Ranu tidak sama sekali menutup matanya. Dia malah tersenyum remeh membuat lawan bicaranya merasa ditertawakan. “Hajar!”


Bug......


Pukulan mendarat dengan apik di pelipis Ranu. Berdarah karena pukulanya cukup keras. Ranu masih tegap berdiri.


Duugggg....


Ranu membenturkan kepalanya sampai lawan nya terhuyung.


“Hahahaha....lemah sekali kau! Satu lawan banyak dan kau masih kena pukulan ku. Malu kau!” Ucap Ranu membuat emosinya tersulut.


“Yaccchhhhhh.....!!!!!!” Teriaknya tidak terima merasa di remehkan.


Bug....bug.....Bugg.....


Mahesa datang dengan teman-temannya. Perkelahian tidak bisa terelakan, mereka saling menyerang. Seperti tawuran anak pelajar.


Mahesa tersulut emosi mendapati Adik kesayangannya terluka. Mahes hilang akal dan tidak berpikir panjang, dia sangat kesal adik nya di lukai orang lain.


Pritttttt......priiiittttt.....priiiiitttttt


“Berheti.....berhenti....berhenti.....” Satpam sekolah dan para guru-guru mencoba melerai mereka, tidak luput ada beberapa guru yang juga terkena pukulan.


Kini para Siswa yang berkelahi di amankan di ruang kepala sekolah. Kacau sekali, wajah mereka babak belur terkena hantaman. Mahes memegang tangan Ranu agar tetap percaya diri. Mahes tahu jika Adik nya tidak bersalah.


__ADS_1


“Tenang saja, Kakak akan melindungi mu.” Ranu tersenyum. “Jangan tersenyum, bibir ku sakit jika harus tersenyum.” Ranu memukul paha Mahes. Lega sekali adik nya bisa tersenyum lagi.


“Aku takut pulang. Bagaimana menghadapi Mommy Kak.” Mahes langsung ciut. Dirinya juga takut melihat wajah Mommy nya sedih. “Ahhhh......aku ingi sekali berteriak.” Mahes memeluk Adik nya yang tengah gundah, sama seperti dirinya.


Brakkkkkkk.....


“Dimana....” Malik berdiri tidak percaya melihat anak-anaknya babak belur.


Duduk dengan tenang di samping para wali murid lain yang juga sudah datang. Matanya tidak berhenti menatap kedua Putranya yang menunduk takut.


Mereka melakukan kesalahan fatal dan membuat Malik banting stir menuju sekolah setelah mendapat kabar anak-anaknya berlekahi. Dirinya sampai membohongi Ayu dan membawanya ke tempat Anna sebelum ke sekolah.


Setelah semua wali murid sampai, kepala sekolah duduk di depan anak-anak.


“Ada yang mau menjelaskan pada Bapak apa yang terjadi sampai kalian pesta di belakang sekolah?” Ranu mengangkat tangannya.


“Ranu menantangku! Dia mengirimi ku surat kaleng dan menyuruhku menemuinya di belakang sekolah.” Ucapnya penuh kebohongan. Mahes menahan tangan Adiknya yang sudah emosi.


“Benar Ranu?” Ranu menggeleng. “Lalu apa bantahannya?” Kepala sekolah mengenal baik Ranu dan Mahesa, mereka anak-anak yang cukup taat dan penuh prestasi.


“Aku di seret mereka berdua ke belakang. Mereka memukulku tiba-tiba. Aku sendiri tidak tahu apa kesalahanku sampai mereka serang.” Ucap Ranu dengan tenang.


“Bohong Pak, dia yang memicu kemarahanku. Dia yang membawaku ke belakang sekolah.” Ucapnya menggebu-gebu membela diri.


Tok...tok..tok...


“Maaf Pak, ini rekaman CCTV yang sudah saya copy.” Kepala sekolah membuka layar besar di ruanganya. Mencoba mencari tahu bersama apa yang terjadi agar tidak ada kesalahpahaman dan semua bisa mencari solusi bersama atas apa yang terjadi.


Malik lega, anak-anaknya tidak memicunya duluan. Setidaknya hukuman mereka tidak akan seberat anak-anak yang dengan sengaja membuat keributan.


Tapi wajah Malik masih menakutkan, anak-anak masih tidak mau menatapnya.


Selesai dengan urusan mereka, Malik membawa anak-anak untuk makan siang.


Ranu sudah bisa bicara dengan tenang, Mahesa yang masih menunduk tidak berani menatap Daddy nya. Dia merasa bersalah tidak menjaga Ranu dengan baik.


“Kakak merasa bersalah?” Mahes mengangguk. “Daddy tidak salahkan Kakak sepenuhnya, Abang juga salah karena tidak melawan saat di bawa ke belakang. Seolah Abang ingin tahu siapa pelaku yang melakukanya.” Malik tahu persis bagaimana Putranya.



“Sorry Dad. Kakak tidak tahu kalau hari ini ada yang ingin sakiti Adek.” Malik menarik kursi Mahes mendekati tempatnya duduk. “Sorry.” Mahes akhirnya menangis, hatinya sakit sekali melihat Ranu terluka. “Sorry Abang terluka Dad.” Malik bahagia sekali melihatnya.


“Jangan menangis Kak, sorry Kakak juga terluka karena ulahku.” Ranu ikut memeluk Mahes yang sedang terisak di pelukkan Daddy nya.


“Berjanjilah kalian akan selalu saling menjaga seperti ini.” Bangga sekali denga kedua Putranya. Anna yang baru sampai ikut memeluk anak-anak nya yang sangat manis.


Dirinya di buat bingung karena anak-anak yang di tunggunya tidak kunjung datang, dirinya baru tau jika anak-anak berkelahi setelah mencoba mencari mereka ke dalam kelas yang sudah sepi. Anna terlalu fokus dengan ponselnya sampai tidak memperhatikan jam makan siang anak-anak yang sudah kelewat jauh.

__ADS_1


__ADS_2