Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Perasaan Bersalah


__ADS_3

"Aku ke toilet sebentar ya Kak." Hanum merasakan nyeri pada perutnya. Sepertinya tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Perihnya luar biasa yang dirinya rasakan. Keringat mengucur membasahi kening Hamun.


"Mau Abang antar Kak?" Tawar Ranu yang tidak tega membiarkan Hanum jalan seorang diri. Kakak nya mematung entah memikirkan apa.


"Sendiri saja Bang, Kak Hanum cuma mau ke toilet sebentar saja kok." Hanum begitu manis, senyumnya masih tulus meski hatinya sungguh sedang tidak baik-baik saja dengan keadaan dunianya.


Langkah Hanum tertahan, Mahes mencekal tangan Hanum. Meski berperang dingin isi kepalanya, rasanya tidak rela jika Mahesa harus memperlakukan Hanum dengan dingin. Dia tidak bersalah atas apa yang menimpanya.


"Sama ku saja, Abang kembali ke kelas yah. Sebentar lagi bel masuk bunyi Dek." Ranu mengangguk menuruti permintaan Mahesa. Melambaikan tangannya meninggalkan dua orang yang masih saling bersikap seperti orang asing.


Keluar kamar mandi Hanum berkeringat cukup banyak, lebih banyak dari saat dirinya masuk tadi. Mahes merasa khawatir karena wajah dan bibir Hanum sedikit pucat. "Han, are you ok?" Menempelkan punggung tangannya di kening Hanum.


Mahes menuntun Hanum untuk kembali ke kelas. Hanum tersenyum menutupi rasa sakitnya. Mahesa sudah tahu Hanum akan menolak permintaanya jika memintanya pulang, Mahesa menahan diri. Dirinya sedang mencari cara agar bisa membawa Hanum ke rumah sakit tanpa penolakan.


"Aku baik-baik saja, cuma perutku sedikit tidak enak." Mencoba menjelaskan keadannya melihat wajah khawatir Mahesa yang tidak bisa di tutupi.


"Perlu ke UKS? Aku antar, ayo." Hanum menggeleng, rasanya sungkan sekali merepotkan banyak orang lain karena sakitnya.


"Istirahat di kelas saja Kak, Hanum gak papa kok. Sebentar lagi juga kita pulang." Meski merasa ragu, Mahes tidak mau memaksa kan kehendaknya. Takut Hanum risih dan tidak nyaman dengan sikapnya.


Selama pelajaran berlangsung, Mahesa tidak bisa fokus, matanya memperhatikan dengan tajam gerak gerik Hanum yang mencurigakan. Bohong sekali kalau dia bilang baik-baik saja, wajahnya sekarang sudah pucat pasi.


Hanum mencoba bersikap sewajar mungkin agar tidak menaruh curiga pada Mahesa yang tidak berhenti menatapnya. Bagaimana tidak, keringatnya bercucuran membasahi wajahnya. Sapu tangannya bahkan sudah basah.


"Pak maaf, aku ingin minta ijin bawa Hanum ke UKS. Hanum kurang sehat Pak." Mahes membuat kelas yang hening fokus pada dirinya dan Hanum.


Teman-temannya menatap keduanya dengan penuh rawa khawatir.


"Gak perlu Kak." Bisik Hanum sungkan sekali. Tidak enak di hari pertamanya sudah menyebabkan kegaduhan di kelasnya.


“Wajahnya pucat Sa. Cepat bawa ke UKS.” Ribut suara Cia yang memang cempreng.


Guru yang sedang mengajar mendekat. Memeriksa kening Hanum dan percaya jika Hanum sekarang sedang menahan sakit. Sedikit demam.


"Demam sedikit Sa. Kalau memang kurang sehat, boleh pulang Mahes. Sebentar lagi juga pelajaran Bapak selesai." Gurunya sangat perhatian.


"Baik Pak, kalau begitu saya ijin pulang ya Pak, terimakasih banyak atas perhatiannya." Ucap Mahes dengan sopan.


Mahesa berjalan menuntun Hanum perlahan, tangannya menenteng tas miliknya dan milik Hanum di kanan kiri bahunya. Teman-temannya tersenyum, ada yang saling berbisik melihat sikap hangat Mahesa.


“Bisa jalan Han? Mau ku bantu?” Mahesa merasakan jika saat ini Hanum sedang terseok, langkahnya terlihat sangat berat.

__ADS_1


“Masih kuat Kak.” Hanum sedikit mempercepat langkahnya. Di lobby utama sudah ada Pak Dodo yang Mahes telpon memintanya datang setelah istirahat tadi. Mahes sudah menduga Hanum tidak akan bertahan, dia harus segera mendapat pertolongan.


Hanum duduk di belakang bersama Mahesa yang wajahnya masih saja terlihat tidak bersahabat. Hanum sedang tidak ingin berdebat, perutnya bergejolak hebat. Mencoba bersikap biasa saja meski ada rasa tidak nyaman dan ingin bertanya apa kesalahan yang sudah dirinya perbuat.


"Pak, kita ke rumah sakit yah. Aku sudah bilang Papah Rey untuk bertemu di sana." Pak Dodo yang mengantar Mahesa ke rumah sakit.


"Baik Kak, Pak Dodo antarkan ke rumah sakit. Pak Dodo sudah kirim pesan juga ke Daddy." Mahes mengangguk.


“Terimakasih Pak. Tolong sedikit cepat ya Pak.” Pak Dodo hanya memperhatikan keduanya dari spion depan. Tersenyum ramah.


Hanum memejamkan matanya, sudah tidak sanggup menopang tubuhnya yang terasa sangat lemas. Perutnya terasa sangat perih seolah teriris benda tajam, keringat di wajahnya yang bercucuran cukup menjelaskan bagaimana rasa sakit yang dirinya rasakan saat ini.


“Tahan ya Han, kita sebentar lagi sampai.” Ucap Mahesa penuh perhatian, setelahnya Hanum tidak mendengar apapun lagi. Kesadarannya sudah sepenuhnya hilang.


Sesampainya di rumah sakit, Adam segera memberikan pertolongan pada Hanum. Dia pasien yang seharusnya istirahat lebih lama, Hanum bersikeras dirinya sudah baik-baik saja dan meminta Adam memperbolehkannya untuk istirahat di rumah.


Hanum muak dengan rumah sakit. Sejak Mommy nya sakit, dirinya harus bolak-balik hampir setiap hari ke rumah sakit. Baunya membuat kepala Hanum pening, rasanya sudah tidak mau lagi berurusan dengan rumah sakit apapun yang terjadi.


Tapi tubuhnya yang lemah tidak bisa sembuh dengan sendirinya, Hanum ternyata tidak bisa mengabaikan pengobatan yang tubuhnya butuhkan.


“Tenang Nak, Hanum hanya mengalami trauma. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, tidak ada luka yang serius. Calm donw kid.” Adam memijat pundak Putranya yang sejak datang tadi masih tidak bergeming. Matanya sendu sekali menatap Hanum penuh kecemasan.


“Serius Pih?” Adam mengangguk. “Dia berkeringat sangat banyak tadi Pih.” Mata Mahesa tidak fokus, dia hanya menatap Hanum penuh kesedihan.


“Tapi dia kesakitan, tangannya tidak berhenti memegangi perutnya sepanjang perjalanan tadi. Aku takut Pih.” Mata Mahesa berkaca-kaca.


“Mahes....Nak....” Mahes menatap wajah Papih nya. Spontan Mahes memeluk erat tubuh Papih nya. Adam merasakan tubuh Putra nya bergetar. Mahesa menangis.


“Mencintai memang semenyakitkan ini Nak, apalagi wanita yang kamu cintai se istimewa Hanum.” Adam membelai puncak kepala putranya.


Adam membawa Putra nya ke taman rumah sakit. Sepertinya mereka butuh bicara panjang lebar empat mata. Sudah sebesar ini dan Adam sudah harus ikut masuk ke fase Putra nya tumbuh, dia tidak boleh tertinggal.


"Sudah bisa bicara Nak?" Mahes masih setia menyandarkan kepalanya di pundak Papih nya, nyaman sekali. "Mencintai seseorang memang seberat ini Nak. Tidak akan mudah, apalagi wanita yang Mahes suka se istimewa Hanum.” Mengulang lagi kata-kata yang sudah di ucapkan tadi.


“Mahesa pantas kah menyayangi Hanum?” Adam menarik tubuh Mahesa agar duduk dengan tegak. “Aku kehilangan kepercayaan diriku.” Adam memeluk Mahes yang menunduk dengan erat.


“Kenapa bicara seolah Mahesa bukan laki-laki hebat, Mahesa tumbuh menjadi anak yang sangat Papih banggakan. Mahesa membuat kaki Papih berdiri sekokoh ini Nak.” Mahes tahu semua orang tua akan bicara hal menyenangkan tentang anak-anak mereka.


“Aku tidak cakap menjaga Hanum, dia hampir saja kehilagan nyawanya Pih.” Sifatnya turun pada Putra nya, Adam dulu juga pernah terpuruk. Melihat wanita yang paling dirinya sayangi terluka, Adam juga tidak akan sanggup. Tapi dirinya harus bisa menjadi kuat demi percaya diri Putra nya.


“Mahes harus ingat, kamu tidak sendirian. Andalkan Papih, Daddy atau Papah Rey. Kita semua bisa menjaga kalian anak-anak kami.” Adam bicara penuh penekanan.

__ADS_1


“Tapi aku merasa gagal Pih. Aku tidak berdaya Pih.” Mahes terisak penuh kepiluan, rasa bersalahnya teramat besar.


“Jangan lupa ada Papih yang selalu bangga dengan Mahesa, kekuatan Papih. Hanum juga pasti bisa tahu, bagaimana sayangnya Mahesa pada Hanum meski hanya tersirat.”


“Tapi.....apa Hanum merasakan hal yang sama? Aku tidak yakin. Aku merasa semakin kecil saat ada di sisi Hanum.” Hatinya masih sakit, bagaimana dirinya bisa melindungi Hanum, Mahesa merasa tidak bersaya.


Mahesa banyak menyalahkan dirinya sendiri saat melihat tubuh Hanum yang babak belur. Meski sudah mencoba memaafkan dirinya sendiri, Mahes benar-benar merasa tidak berdaya saat melihat Hanum begitu terpuruk.


Mahes sering memperhatikan Hanum saat sedang tertidur, bahkan dalam tidurnya Hanum masih sering bermimpi buruk. Mahesa sangat menyesal tidak menemukan Hanum lebih cepat, entah apa yang akan terjadi pada Hanum jika tidak diselamatkan oleh Daddy secepatnya.


“Apa Hanum bersikap dingin? Atau dia marah? Hmmmmm?” Mahes menggelengkan kepalanya. Dirinya yang bersikap demikian.


“Aku yang bersikap kekanakan, aku tidak bisa berpikir dengan benar Pih, sakit sekali Pih.” Mahes meremas bajunya penuh emosi. Melihat mata Hanum mengingatkannya akan ketidak berdayaannya menyelamatkan Hanum.


“Papih yakin Hanum tidak berpikir begitu, dia sudah melihat usaha mu lewat Daddy sayang. Hanum sangat percaya pada Daddy, dia bahkan memohon agar Daddy mau membantunya menemukan jati dirinya. Hanum ingin di bimbing, dia tidak mau sendiri.”


Mahesa menghela nafas beratnya, sedikit bisa Mengobati rasa kalutnya yang merasa dirinya tidak berdaya. Mahes mencoba melepaskan rasa bersalahnya. Tidak mau menyakiti dirinya yang berharga.


"Apa aku bisa memulainya lagi Pih? Aku masih tidak percaya diri bisa menjaga Hanum dengan baik." Adam menghapus lelehan air mata yang membuat wajah Putra nya kuyu.


"Mulai Nak, Papih, Daddy, dan semua orang akan selalu dukung apapun demi kalian selalu bahagia." Mahes memeluk Papih nya erat.


"Thanks Pih, aku tahu bisa mengandalkan kalian semua. Thanks Pih."


Setelah melihat Putra nya baik-baik saja, Adam membawanya kembali ke ruang perawatan. Meninggalkan Mahesa berdua bersama Hanum yang masih tidur karena obat bius.


Tidak lama Adam membawa Mahesa untuk pulang, Hanum tidak di ijinkan pulang karena tubuhnya masih belum pulih. Harus di rawat agar trauma pada tubuhny benar-benar hilang paska menerima banyak luka yang tidak ringan.



Lihat wajahnya


Adam mengirimkan foto Mahesa yang masih termenung memikirkan kebodohannya karena banyak menyalahkan dirinya sendiri.


Rey : Anakku menangis Dam? Kenapa? Aku sedang tunggu Abang di sekolahan.


Adam : Cinta dan air mata judulnya.


Jofan : Kalian juga pernah seperti itu. Jangan menggoda kesayanganku.


Adam : Rasanya tidak rela melihat dia secepat ini besar. Aku rindu anak bayi ku.

__ADS_1


Pesan Adam yang dikirimkan di group laki-laki tanpa Mahesa dan Ranu. Group nya di gunakan untuk pembicaraan dan informasi berat yang beresiko.


__ADS_2